Ternyata tidak mudah ya, mempunyai satu anak gadis yang menjelang
remaja. Memasuki masa puber pertama. (mangnya ada yah, puber selanjutnya
?).
Sesuai janji kami karena si Mbak udah SMP, udah sekolah yang
agak jauh dari rumah, kami memberinya hp untuk memudahkan komunikasi dan
perijinan sudah tentu.
Dari si empunya nomor hape (provider), nomor
mbak ini dapat gratisan sms entah berapa ratus, sampe dia bingung mau
ngabisinnya bagaimana. udah gitu tambah lagi dengan euforia hape baru.
Lengkaplah sudah semangat dia untuk mengirim sms.
Dalam suatu dialog makan malam, kami membahas hal ini.
Adik-adiknya protes, "Ummi, sejak punya hape, mbak jadi songong, kemanapun bawa hape".
"Iya, dipinjem juga enggak boleh" kata adik yang lain.
"Segala pun di foto" kata adik satu lagi.
Ummi pun menambahkan, "Semua temen yang sudah tau nomornya dikirimin sms."
si Mbak cuma senyum senyum.
"9ood Ni9th"
itu bunyi smsnya.
Abi tersenyum dan protes juga "Kok Abi nggak pernah dikirimin sms"
"Yah, soalnya takut Abi marah, ntar di bilang nggak penting!" sahut anaknya.
Abi yang diprotes balik cuma tersipu dan menutup mukanya.
Pernah
kutanyakan, kenapa siy, mbak ini seneng banget kirim sms buat temennya.
Kan sms gratisnya nggak pake expired, bisa dihemat untuk kapan - kapan
pas ada yang penting.
Mau tau, apa jawabannya ?
"Ummi sih.... nggak ngerasain sensasinya"
GUBRAKKKKKKKKKKK
Kamis, 15 Juli 2010
Jumat, 09 Juli 2010
Cinta di Dalam Gelas
Aduuuh... senangnya, tidak pernah sesenang ini, saat mendapat kan buku yang 'bersambung' dan sambungannya udah ada nempel di punggung buku pertama (si Padangbulan).
Walaupun sejujurnya agak su'uzhon sama Andrea, jangan jangan ini sebenernya satu buku kok. Habisan aku tidak bisa membedakan dimana titik pecahnya dua buku ini. hihihi...
Kisahnya masih tentang tokoh tokoh yang sama dalam Padangbulan, hanya dalam berbagai realita yang lebih pelik. Enong sang pahlawan, akhirnya menikah, tapi sayang pernikahannya tidak bahagia, bahkan dia jadi korban KDRT. Dan ternyata, lewat pertandingan catur, Enong 'membalaskan' berbagai penindasan yang dialaminya sejak anak-anak sampai dia dewasa. Dia membuktikan bahwa ternyata perempuan sungguh mempunyai kekuatan. apalagi kalau mereka telah bersatu padu. (dalam klub catur itu, dengan pelatih Grand Master Internasional).
Intinya, aku suka penggambaran Andrea dengan masyarakat Melayu dan berbagai kronik di dalamnya, misal tokoh Paman, atau satire mereka terhadap orang yang 'nggak bener' (dengan cara 'menerawang ijazah di jendela') atau kebiasaan mereka minum kopi di warung kopi.dan satu lagi, dengan membaca ini, kayaknya terobati tuh, kecewaku terhadap buku 'maryamah karpov' yg belum selesai dibaca, dan aku jadi pengen baca.
Padangbulan
Kalau nggak karena lagi libur, aku sebenarnya males baca lagi tulisan Andrea.(setelah patah hati dengan maryamah karpov). Berhubung aku nggak punya pilihan lain, jadi kubaca juga buku ini.
Pertamanya agak puyeng, memikirkan siapa Syamilah, siapa Zamzami, siapa Enong, dimana Ikal dan A LIng, ada lagi Tokoh M. Nur yang baru kukenal, dan bagaimana dimana posisi mereka sehingga Andrea memutuskan mengumpulkan tokoh tokoh itu dalam sebuah buku yang sama.
Pelan pelan akhirnya mulai ada pencerahan.Ikal menceritakan tentang Enong, asal mula dan perjuangannya menghadapi kerasnya kehidupan. Harus mencari nafkah karena sebagai anak pertama yang bertanggung jawab terhadap berlangsungnya keluarga, harus berkorban banyak hal (sekolah, cinta, waktu, perhatian, dll) tapi itu semua tidak membuat Enong lemah. Dan bersahabatlah si Ikal dan si Enong, dan juga si M. Nur detektif itu. dan mengalirkan cerita di buku ini. Sebagaimana Ikal yang terinspirasi oleh perjuangan Enong ini, akupun demikian. Sacrifice, honesty and freedom itu semboyan Enong.
Pantesan Andrea menjuduli tiap babnya dengan Mozaik. I luv this book.
Langganan:
Postingan (Atom)

