Ramadhan kali ini anak anak ku ajak membuat cita cita / keinginan dia yang akan diusahakan untuk mewujudkan di bulan ramadhan.
-ingin kuat puasa penuh satu bulan
-mudah memaafkan
-ingin menjadi lebih sabar
-mau berkata jujur
-melakukan hal yang baik
-setiap satu hari membaca Qur'an dua halaman
-Ingin bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW
-
Saat ramadhan umi atau abi membeli buku bacaan, biar aku gak bosan lagi
puas (yang ini pake pesan sponsor *tolong wujudkan ya ummi... abi...
soalnya ada peran umi dan abi di sini)
-setelah ramadhan : pengen memaafkan kesalahan orang lain dan tidak iri kepada orang lain yang mendapat THR lebih besar
-nanti-nanti : pengen jalan jalan ke hotel manapun. (hahahaha...mentang2 umminya pulang dari horison bawa pensil )
Kamis, 12 Agustus 2010
Rabu, 11 Agustus 2010
Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
*curhat dulu
Apa yang akan aku tulis ini sangat sangat subyektif,dan sayangnya aku sadar dari mulai huruf pertama kau eja.
apakah kau ingin tahu alasannya?
baiklah aku akan menuliskannya untukmu.
Pada suatu waktu, pada suatu tempat, aku merasakan sesuatu yang entah, terhadap seseorang.
Dalam nyamanku bersamanya, kuungkapkan semua perasaan2ku, pikiran2ku, keinginan2ku, bahkan mimpi mimpi konyolku padanya.
dan dia berkata "titi, kamu jatuh cinta".
Pernahkah kamu mencinta -kalau benar itu cinta- dengan kesadaran penuh, bahwa cinta itu tiada ujung selain perpisahan? hopeless love !
dan di suatu senja yang muram, ketika anginpun bertiup enggan, dalam perjalanan pulangku, kulihat selembar daun terbang dari rantingnya, melewati mukaku, dan akhirnya jatuh dekat kakiku.
aku merasa, itulah kiranya nasib cintaku.
sempurna nelangsa.
aku menulis :
sehelai daun berbisik pada ranting tempatnya bergantung,
setelah sekian waktu bersama
setelah sepanjang waktu itu berbagi makna
'selalu ada yang perih,
setiap kuingat saat perpisahan'
rantingpun memikirkan kata pelepasan
*masih selalu pengen nangis setiap lewat tempat itu dan atau membaca puisi itu
apakah kau ingin tahu alasannya?
baiklah aku akan menuliskannya untukmu.
Pada suatu waktu, pada suatu tempat, aku merasakan sesuatu yang entah, terhadap seseorang.
Dalam nyamanku bersamanya, kuungkapkan semua perasaan2ku, pikiran2ku, keinginan2ku, bahkan mimpi mimpi konyolku padanya.
dan dia berkata "titi, kamu jatuh cinta".
Pernahkah kamu mencinta -kalau benar itu cinta- dengan kesadaran penuh, bahwa cinta itu tiada ujung selain perpisahan? hopeless love !
dan di suatu senja yang muram, ketika anginpun bertiup enggan, dalam perjalanan pulangku, kulihat selembar daun terbang dari rantingnya, melewati mukaku, dan akhirnya jatuh dekat kakiku.
aku merasa, itulah kiranya nasib cintaku.
sempurna nelangsa.
aku menulis :
sehelai daun berbisik pada ranting tempatnya bergantung,
setelah sekian waktu bersama
setelah sepanjang waktu itu berbagi makna
'selalu ada yang perih,
setiap kuingat saat perpisahan'
rantingpun memikirkan kata pelepasan
*masih selalu pengen nangis setiap lewat tempat itu dan atau membaca puisi itu
*baru cerita buku
Tapi buat para pecinta sejati, tak pernah peduli apa nasib cintanya. Karena cinta itu memberi energi, energi untuk selalu memberi.
Sebagaimana tania, meski perih hati menahan cinta yang tak pernah sanggup ia ungkapkan dan tak pernah mendapat jawaban,
tapi dia tetap menjalani hidupnya, meneruskan kehidupannya,
dapat melanjutkan studi dengan hasil yang sangat bagus. sangat sangat bagus malahan.
meski membaca buku ini, berderai derai air mataku, tapi yang membuatku mencintai buku ini, adalah, karena tere dengan telak menuliskan segala perasaanku yang aku sendiri tak dapat melukiskannya.
terima kasih tere (bukan karena tanda tanganmu aja aku semangat baca buku ini)
Sebagaimana tania, meski perih hati menahan cinta yang tak pernah sanggup ia ungkapkan dan tak pernah mendapat jawaban,
tapi dia tetap menjalani hidupnya, meneruskan kehidupannya,
dapat melanjutkan studi dengan hasil yang sangat bagus. sangat sangat bagus malahan.
meski membaca buku ini, berderai derai air mataku, tapi yang membuatku mencintai buku ini, adalah, karena tere dengan telak menuliskan segala perasaanku yang aku sendiri tak dapat melukiskannya.
terima kasih tere (bukan karena tanda tanganmu aja aku semangat baca buku ini)
Senin, 09 Agustus 2010
Munggahan
Tradisi munggahan mungkin cuma ada
di sini, karena sudah beberapa kota dan beberapa pulau aku tinggali,
baru di sini kerasa sekali nuansa itu.
Munggahan adalah acara kumpul kumpul, biasanya disertai makan bareng, menjelang datangnya ramadhan.
Ada sisi positipnya jg siy,jk itu dijadikan sarana buat ishlah-memperbaiki hubungan, saling melapangkan dada maupun saling bermaafan,biar puasa nanti ngga ada lagi ganjalan rasa.
Entah karena itu ato karena emang udah jatuh tempo musti pergi bareng, eh si Abi ngajak keluarga makan di luar, full tim. Awalnya seperti gak sengaja, dari pagi2 si Abi ngajak Faiz potong rambut, ini udah ajakan kedua kalinya. MInggu lalu pas udah siap duduk di kursi, dan di depan cermin, udah dipakein koran buat nahan rambut, eh, pas liat gunting di belakang kepalanya, tiba tiba Faiz berdiri, dan lari .. ndak ndak ndak.... atuuut...
(Dia takut liat gunting).
Nah, pagi itu Faiz teriak "aco... aco" (bakso).
"iya" kata abi," kalau mau bakso kepalanya digundulin dulu seperti bakso".
Eh, ajaib, walaupun cukurnya dengan berbagai teknik dan gaya, akhirnya acara penggundulan berakhir sukses.
Daaan seluruh pasukan F pun ngebakso di Kepala Sapi Ujungberung.
Berhubung pengambilan gambar dicemberutin ama komandan, jadi acara jalan bareng ga ada foto yang di upload.
Cukup ini saja ya.. logonya si Bakso Kepala Sapi
Walaupun demikian, tetap bersyukurlah, bisa pergi semua... soalnya sussyyaaah banget cari irisan waktunya.
Munggahan adalah acara kumpul kumpul, biasanya disertai makan bareng, menjelang datangnya ramadhan.
Ada sisi positipnya jg siy,jk itu dijadikan sarana buat ishlah-memperbaiki hubungan, saling melapangkan dada maupun saling bermaafan,biar puasa nanti ngga ada lagi ganjalan rasa.
Entah karena itu ato karena emang udah jatuh tempo musti pergi bareng, eh si Abi ngajak keluarga makan di luar, full tim. Awalnya seperti gak sengaja, dari pagi2 si Abi ngajak Faiz potong rambut, ini udah ajakan kedua kalinya. MInggu lalu pas udah siap duduk di kursi, dan di depan cermin, udah dipakein koran buat nahan rambut, eh, pas liat gunting di belakang kepalanya, tiba tiba Faiz berdiri, dan lari .. ndak ndak ndak.... atuuut...
(Dia takut liat gunting).
Nah, pagi itu Faiz teriak "aco... aco" (bakso).
"iya" kata abi," kalau mau bakso kepalanya digundulin dulu seperti bakso".
Eh, ajaib, walaupun cukurnya dengan berbagai teknik dan gaya, akhirnya acara penggundulan berakhir sukses.
Daaan seluruh pasukan F pun ngebakso di Kepala Sapi Ujungberung.
Berhubung pengambilan gambar dicemberutin ama komandan, jadi acara jalan bareng ga ada foto yang di upload.
Cukup ini saja ya.. logonya si Bakso Kepala Sapi
Walaupun demikian, tetap bersyukurlah, bisa pergi semua... soalnya sussyyaaah banget cari irisan waktunya.
Langganan:
Postingan (Atom)
