Rabu, 05 Januari 2011

Surat Cinta

Rupanya trending topic -nya masih seputar cinta.

Sambil membantu menyiapkan makan malam, mbak nanyain..
"Ummi pernah dapat surat cinta nggak, Mi ?"
Ummi yang kebat kebit dengar pertanyaan itu, (gak nyadar dah punya anak gadis) langsung mengalihkan perhatian. Menyanyi lagu Vina Panduwinata.  --- surat cintaku yang pertama, membikin hatiku berlomba -- sembari asyik cuci piring
"Ih... Ummi, serius atuh Mi..., pernah dapat surat cinta nggak ?"
"Nggak laaah" Jawab Ummi menyembunyikan kenyataan
"Kenapa Mi, nggak laku ya..?"
Ummi cuma menjawab dengan senyuman sambil menumis numis.
"Ummi.... mbak serius ini..." Mbak mulai merajuk
"Emang masih jaman gitu, surat-suratan ?" tanyaku.
"Kirim lewat email ajaaa... " adik cowok tiba tiba nyeletuk.
"Sama aja,  itu surat-suratan" kataku.
"Ummi kalau sekarang ada yang ngasih Ummi surat cinta, bagaimana ?" mbak masih usaha
"Ya nggak papa, Kan Ummi sering dapat surat cinta dari kalian... " jawabku (kapan kapan aku posting salah satu atau beberapa suratnya)
"Bukan itu... dari laki laki, misalnya..." kata mbak
"Itu laki laki gila, nggak mikir apa, Ummi udah punya anak dan suami" sambung Fikri
"Yup betul itu jawab Fikri. Ummi punya usulan mbak, bagaimana kalau surat cintanya di laminating, terus dipigura ?"
"Iya Mi, setuju Mi. Ide bagus" Fikri nyeletuk lagi.
(rupanya anak ini diam diam nguping, topik hangat ternyata, pura pura aja mondar mandir, tapi selalu masuk di saat yang tepat)
" Ummiiiiii maaaah...... " Mbak cemberut lagi sambil bawa piring masuk ke ruang makan.

Hhh..... untuk sementara pembicaraan kuanggap selesai. tenaaang... tenaanggg...

Selasa, 04 Januari 2011

Sang Pencerah


Karya : Akmal Nasery Basral
Aku belum nonton filmnya. Kupikir tadinya film diangkat dari novel, ternyata ini merupakan novelisasi film / skenario. Tapi dari komentar para ahli, katanya buku ini justru melengkapi film.

Tentang Darwis kecil, anak Kiai Abu Bakar, salah satu khatib dan amin (tibamin) di masjid Gede Kauman. Mungkin semacam Masjid Raya di suatu provinsi.
Darwis kecil yang penuh tanya, kenapa ada tradisi selamatan untuk orang meninggal di hari ke 7, ke 40, ke 100 dan keseribu. Keluarga yang berduka harus menyediakan makanan untuk para tetamu. Makanan yang nota bene mereka juga jarang atau nggak pernah menikmati dalam kondisi normal.
Kenapa ada tradisi padusan (mandi bersama di kali dekat Masjid Gede) untuk menyambut ramadan
Kenapa ada selamatan suran (di bulan suro/muharram)
kenapa ada sekatenan dimana rakyat sangat menderita.
Kenapa musti ada sesajen.

Darwis kecil hingga dewasa selalu penuh tanya. Itulah yang membuatnya tidak pernah berada dlm zona nyaman. Selalu ada pertanyaan membuatnya selalu bergerak, belajar dan belajar sehingga ditemukan jawaban.
Maka di usia 15 tahun, berangkatlah ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu agama kepada para ahlinya. terbukalah matanya. Terbukalah pandangannya. Ditemukanlah jawaban2 atas pertanyaannya.
Setelah lima tahun, Darwis kembali ke Tanah jawa dan berganti nama menjadi KH Ahmad Dahlan.
Maka dimulailah pergerakan itu. Bagaimana beliau berusaha untuk "menyadarkan" para Kiai bahwa tradisi yang selama ini dijalani, bukanlah berasal dari tuntunan/teladan Rasulullah.
Ingin rasanya ikut "menikmati" perjuangan beliau,
Bagaimana beliau berusaha meluruskan kiblat hampir seluruh masjid di pulau jawa yang sebelumnya hanya menghadap ke arah barat, tapi tidak lurus ke arah makkah/baitullah
Bagaimana beliau mengajak kembali ke ajaran Rasulullah yang tantangannya justru dari para Kiai sepuh
Bagaimana mengajarkan agama tanpa membosankan dan tanpa menghasilkan ketaklidan
Bagaimana belajar berorganisasi ke Budi Utomo dan beliau melahirkan muhammadiyah
Bagaimana belajar dari Kwekschool dan kemudian membuat madrasah yang seperti "sekolahan" / bentuk madrasah yang kita kenal sekarang

Senin, 03 Januari 2011

Faiz (hampir) Hilang

Kejadian ini berawal ketika Sabtu sore ada teman Abi yang datang bertandang. Namanya Ami Ray. Ami Ray ini yang nemenin anak anak waktu aku melahirkan Faiz. Sekaligus membelikan dan membayar makanan untuk anak anak berbuka puasa. Itu juga ditelpon mendadak gak ada pembicaraan sebelumnya. Jadi kebayang ya... kedekatan pertemanan kami.
Si AMi Ray ini udah lama banget gak main ke rumah. Jadi kemarin itu, dari abiz ashar sampai maghrib bahkan sampai menjelang jam 9 baru pamit pulang.

Nah ketika adzan maghrib, Faiz yang udah cukup kenal dengan Ami Ray, nurut aja pas digendong diajak ke masjid. Bareng sama Fikri. Abi menyusul belakangan.


Paaass maghrib banget, aku pikir yang shalat di masjid pasti belum selesai, anak anak yang di rumah juga masih bersiap shalat, tiba tiba pintu diketuk orang. Aku bergegas membuka pintu dengan waspada. Siapa gerangan, maghrib-maghrib gini.
Masya Allah, seorang Ibu yang wajahnya belum kukenal (ternyata masih tetangga juga) datang sambil menggendong Faiz. Aku terkejut dong....
"Ini saya lagi jalan, liat Faiz  jalan sendiri. Mau ke Ummi katanya...."
"Ya ampuun.... terima kasih Bu... terima kasih Bu...
" sampai aku bingung bagaimana berterima kasih. Sembari kupanjatkan syukur padaNya. Meski sekian menit bahkan detik, kalau Allah menghendaki, bisa saja ada kejadian yang tak diinginkan.
Segera kuambil Faiz dan kugendong dan kupeluk dan kuciumin.


Tak lama kemudian Abi datang lari - lari. Kebingungan di wajahnya segera berubah jadi kelegaan melihat Faiz udah dipelukanku.
Ibu itu -yang aku belum tahu namanya- segera pamit pulang.
Abi cerita, katanya ibu-ibu di shaf belakang yang cerita, Faiz berjalan ke arah luar masjid.
Jadi Abi berlari pulang.
Uhh.. kebayang kalau Faiz jalan sendiri dari masjid, dan "ditemukan" oleh entah siapa..
Mana rumah di pinggir jalan rame, mana maghrib mah, semua di dalam rumah... Ah, tak sanggup aku membayangkannya.
Abi pun, nggak akan lagi-lagi ngajak Faiz ke masjid, sampai dia mengerti bahwa shalat itu nggak boleh "kabur".

(Sungguh aku sejenak mensyukuri anak2ku yang suka teriak teriak "Umi datang.... Umi datang" di jalan samping rumah, suka berlarian kesana kemari, jadi meski para ortu ini belum pernah ketemu, tapi anak-anak udah pada tenar. Padahal sering banget anak2 ini aku larang berteriak di jalanan.

Sungguh, aku makin pengen aja ada arisan di RT-ku sebagai sarana silaturrahim. Uh, musti nempel bu RT yang baru nih..)



tampang 'tak bersalah'  :  F5 pas lagi shalat di rumah