Haha.. ini gak akan ngomongin bos dan keburukannya. Nggak solutif ya..
Susah kan sudah dewasa, sudah sepuh, biasanya susah mendapat masukan
karena sudah punya life style dan prinsip yang diyakini sekian lama.
Baiklah aku akan bercerita tentang boss ku yang sekarang. Hehe..
Sebagai
orang yang tanpa kelebihan, nrimo pula, (walaupun akan jadi sangat
cerewet di lingkungan yang telah nyaman) aku jarang berurusan dengan
para bos. Walhasil jarang sekali ada kepala kantor yang mengenalku. Ada
enaknya ada enggak enaknya ya..
Mungkin kalau kita dikenal, kita
bakal sering dapat tugas tambahan, yang itu berarti tambahan pengalaman.
Enggak enaknya ya ktia jadi bekerja lebih keras, tugas utama dan tugas
sampingan.
Eh, sekian lama gitu, kaget dong, di kantor yang baru ini.
Pertama : boss-ku hobinya keliling ruangan , kadang pagi kadang sore
Sering
aku menjumpai ngobrol dengan cleaning service di tempat mereka
nongkrong, petugas parkir (di parkiran) atau sama satpam (di pos
satpam).
Eh pas aku selesai cuti gara gara F5 sakit kemaren, pas ketemu si Boss nanya
"Gimana anakmu Ti ? udah sehat ?"
Gubrak.. berarti dia mengenalku dan mengetahui kondisiku.
Salut deh Pak !
Senin, 27 Februari 2012
Sabtu, 25 Februari 2012
Ayo Ke Perpustakaan
Kalau mendengar kata perpustakaan, yang ada di benakku adalah ruangan
kecil a la kadarnya, space kosong yang berada di antara gedung lama dan
gedung baru, kemudian tiba tiba dikasih atap dan ada beberapa rak buku
di dalamnya. Satu jendela menghadap halaman, sebuah meja kecil dan
sebuah dipan ! Kok ?
Yap ! Tidak salah, itu adalah perpustakaan SD -ku yang merangkap ruang UKS.
Tapi itu menjadi surga bagiku. Sebagai dokter kecil, aku bisa masuk ruang itu kapan saja. Dan sebagai penyuka buku, itu adalah kebahagiaan tiada terkira. Aku tak perlu lagi masuk ruang guru (yang menyeramkan itu) untuk sekedar baca buku.
Rasa-rasanya sudah hampir semua buku di perpustakaan itu aku baca. Bahkan aku juga minta ibuku meminjam dari sekolahnya. Ih, padahal sama sama SD Inpres. Pasti nggak jauh bedalah ya... Mana kutahu, jaman itu ya...
Akhirnya berlanjut sampai besar jadi suka baca. Walaupun sekarang membacanya banyak alasan ini dan itu dan sudah mulai pilih pilih. Gila euy... banyak banget bacaan. Jangankan mau lihat yang di luaran, buku yang sudah dibeli saja belum semuanya kebaca. Belum lagi e-book e-book donlot-an itu. Yah tapi nggak ada ruginya kok nyimpen buku. Ketika suatu saat kesepian, atau suatu saat perlu referensi .. Oh, tinggal ambil buku itu..
Yah syukurlah dapat suami juga yang lebih lebih suka buku dari aku. Prinsipku kan lebih baik meminjam dari pada membeli Klo suami sebaliknya, lebih baik membeli daripada meminjam (dan meminjamkan hehe) Akhirnya harta kekayaan terbanyak dan termahal sampai saat ini masih diduduki si buku itu. (soalnya rumah belum lunas qqq)
Daaaan... syukurlah... kebiasaan membaca itu menurun ke anak anak. Bukan menurun kali ya.. anak anak kan melihat lingkungan dia pertama tumbuh dan dibesarkan. Yah kalau malam malam rumahku sepi itu berarti bukan lagi pada pergi, tp lagi pada asyik dengan buku masing masing.. hahaha.. lebay ini mah..
Daaan.. syukur pula di sekolah anakku ada perpustakaan . Nggak baru sih, tapi kayaknya manajemennya baru atau baru diperbaiki. Dah banyak buku buku yang bener bener diinginkan anak anak model KKPK gitu. (Yang terus terang aku males belinya.... cepet banget beranak pinaknya). Jadi anak anak makin rajin ke perpustakaan. Makin rajin baca. Iyalah.. yang rajin baca ya Nak... biar terbiasa dengan budaya literasi, biar nggak jadi anak instan, biar ntar nggak nyontek kalau bikin skripsi... biar terbuka jendela informasi, biar terbuka ruang improvisasi.. ayo baca baca baca ...

*Ini Ayuk di perpustakaan sekolah. Gambarnya nyulik dari Grup sekolahan. hihi
Yap ! Tidak salah, itu adalah perpustakaan SD -ku yang merangkap ruang UKS.
Tapi itu menjadi surga bagiku. Sebagai dokter kecil, aku bisa masuk ruang itu kapan saja. Dan sebagai penyuka buku, itu adalah kebahagiaan tiada terkira. Aku tak perlu lagi masuk ruang guru (yang menyeramkan itu) untuk sekedar baca buku.
Rasa-rasanya sudah hampir semua buku di perpustakaan itu aku baca. Bahkan aku juga minta ibuku meminjam dari sekolahnya. Ih, padahal sama sama SD Inpres. Pasti nggak jauh bedalah ya... Mana kutahu, jaman itu ya...
Akhirnya berlanjut sampai besar jadi suka baca. Walaupun sekarang membacanya banyak alasan ini dan itu dan sudah mulai pilih pilih. Gila euy... banyak banget bacaan. Jangankan mau lihat yang di luaran, buku yang sudah dibeli saja belum semuanya kebaca. Belum lagi e-book e-book donlot-an itu. Yah tapi nggak ada ruginya kok nyimpen buku. Ketika suatu saat kesepian, atau suatu saat perlu referensi .. Oh, tinggal ambil buku itu..
Yah syukurlah dapat suami juga yang lebih lebih suka buku dari aku. Prinsipku kan lebih baik meminjam dari pada membeli Klo suami sebaliknya, lebih baik membeli daripada meminjam (dan meminjamkan hehe) Akhirnya harta kekayaan terbanyak dan termahal sampai saat ini masih diduduki si buku itu. (soalnya rumah belum lunas qqq)
Daaaan... syukurlah... kebiasaan membaca itu menurun ke anak anak. Bukan menurun kali ya.. anak anak kan melihat lingkungan dia pertama tumbuh dan dibesarkan. Yah kalau malam malam rumahku sepi itu berarti bukan lagi pada pergi, tp lagi pada asyik dengan buku masing masing.. hahaha.. lebay ini mah..
Daaan.. syukur pula di sekolah anakku ada perpustakaan . Nggak baru sih, tapi kayaknya manajemennya baru atau baru diperbaiki. Dah banyak buku buku yang bener bener diinginkan anak anak model KKPK gitu. (Yang terus terang aku males belinya.... cepet banget beranak pinaknya). Jadi anak anak makin rajin ke perpustakaan. Makin rajin baca. Iyalah.. yang rajin baca ya Nak... biar terbiasa dengan budaya literasi, biar nggak jadi anak instan, biar ntar nggak nyontek kalau bikin skripsi... biar terbuka jendela informasi, biar terbuka ruang improvisasi.. ayo baca baca baca ...
*Ini Ayuk di perpustakaan sekolah. Gambarnya nyulik dari Grup sekolahan. hihi
Market Day
Sore sore pulang kantor udah ditodong Teteh bikin bolu (tepatnya
brownies) untuk dijual di sekolah.Hmm... bikin napsu saja. Untung
bilangnya sambil minta maaf, karena dia lupa. Yah akunya juga enggak
kritis. Padahal si Ayuk udah minta minta dari hari Senin, pesen dibeliin
cup pop ice untuk jualan di sekolah.
Ya sudah, daripada marah-marah dengan santai aku jawab ya, dengan embel embel "klo nggak sempat ya nanti beli aja di teh Eva' (haloo.. teh Eva ini penjaga toko kue di samping rumahku selisih 2 gerbang, asyik kan ?)
Si Teteh berlalu. Cukup puas dengan jawabanku.
Tapi mana tega ya.. lagian sebagai emak emak yang pengen irit, langsung berhitung dong kalkulator di kepala. Akhirnya ketika Faiz tidur aku buat saja si brownies anti gagal itu. Sejam udah mateng. Lalu kusimpan di kulkas.
Besok pagi pagi si Teteh sudah bertanya, jadi enggak beli ke teh Eva. Aku hanya tersenyum dan mengeluarkan loyang dari kulkas. Oles oles mentega lalu kutaburi meises. Tada..... brownies yang biasa bertabur almond dan chocochip kini bertabur meises. Teteh terpesona. (Ah padahal itu itu saja ya.. betapa mudahnya membahagiakan anak anak, kadang para dewasa ini yang pelit melakukannya ).
Dan jadilah 24 potong kue yang mau dijual dan tentu saja beberapa potong yang ditinggal di rumah. Sampai di sekolah kuenya laris manis. Sebelum bel masuk berbunyi. Ajaib ya..Bahkan ada anak yang memborong sampai 6 potong. Pas kutanya teteh Firda apakah dia langsung beli 6 potong ? Katanya enggak, belinya dua dua. Nambah lagi nambah lagi.. Hihi.. berarti bener brownies bikinanku bikin ketagihan. hahaha
Sayang aku tidak sempat mengambil gambar kuenya.
Untunglah ada bu Ela sahabatku yang rajin mengambil gambar anak anakku bila ada momen khusus di sekolah. Terima kasih Teh Ela...

Ini gambarnya... wajah wajah ceria yang dagangannya sudah habis.
*Oya selain memang program pembelajaran, market day ini juga dalam rangka penggalangan dana pembangunan masjid At Takwa
Ya sudah, daripada marah-marah dengan santai aku jawab ya, dengan embel embel "klo nggak sempat ya nanti beli aja di teh Eva' (haloo.. teh Eva ini penjaga toko kue di samping rumahku selisih 2 gerbang, asyik kan ?)
Si Teteh berlalu. Cukup puas dengan jawabanku.
Tapi mana tega ya.. lagian sebagai emak emak yang pengen irit, langsung berhitung dong kalkulator di kepala. Akhirnya ketika Faiz tidur aku buat saja si brownies anti gagal itu. Sejam udah mateng. Lalu kusimpan di kulkas.
Besok pagi pagi si Teteh sudah bertanya, jadi enggak beli ke teh Eva. Aku hanya tersenyum dan mengeluarkan loyang dari kulkas. Oles oles mentega lalu kutaburi meises. Tada..... brownies yang biasa bertabur almond dan chocochip kini bertabur meises. Teteh terpesona. (Ah padahal itu itu saja ya.. betapa mudahnya membahagiakan anak anak, kadang para dewasa ini yang pelit melakukannya ).
Dan jadilah 24 potong kue yang mau dijual dan tentu saja beberapa potong yang ditinggal di rumah. Sampai di sekolah kuenya laris manis. Sebelum bel masuk berbunyi. Ajaib ya..Bahkan ada anak yang memborong sampai 6 potong. Pas kutanya teteh Firda apakah dia langsung beli 6 potong ? Katanya enggak, belinya dua dua. Nambah lagi nambah lagi.. Hihi.. berarti bener brownies bikinanku bikin ketagihan. hahaha
Sayang aku tidak sempat mengambil gambar kuenya.
Untunglah ada bu Ela sahabatku yang rajin mengambil gambar anak anakku bila ada momen khusus di sekolah. Terima kasih Teh Ela...
Ini gambarnya... wajah wajah ceria yang dagangannya sudah habis.
*Oya selain memang program pembelajaran, market day ini juga dalam rangka penggalangan dana pembangunan masjid At Takwa
Langganan:
Postingan (Atom)