Kamis, 05 April 2012

Mempersiapkan Nikah

Penantian 1
pernah
kupatahkan hati
tentang tambatan tidak pada tempatnya

pernah
kutanam harap
ketika diri beranjak hijrah
menata paruhan dien
ini

  :senantiasa
   kupintakan pada-Nya
   Qurrata a'yun

cilacap 070794

Puisi diambil dari sini.
Puisi di atas, kutulis jauuuuuuuuuhhhh.... sebelum aku menikah di akhir Desember 1996. Dan aku juga belum tahu siapa dan dari mana orang yang bakal menjadi suamiku.
Ceritanya waktu itu aku sudah mulai belajar agama, aku ikut mentoring di kampus.
Dari mbak mbak itulah aku tahu, bahwa tidak ada kamus pacaran dalam Islam. Karena Islam mengajarkan tentang kesucian. Suci hati, suci pandangan, suci lisan dan suci dalam segala urusan.  Sedangkan mereka yang pacaran sulit sekali untuk menjaga mata dari zina pandangan. Sulit sekali untuk menjaga hati tetap khusyu' mengingat ALlah dan mencintai-Nya dengan cinta yang paling utama.

Sebelum aku belajar Islam dengan lebih baik, sebenarnya aku sudah ada "some one spesial" (ehem ehem), dia adalah teman kakakku. Keluarga juga sudah setuju. Ketika aku akan melanjutkan kuliah jauh dari kampungku, keluarga si dia berkunjung ke rumahku. Meski belum membicarakan tentang pernikahan, menurut tradisi masyarakat di desaku, kalau sampai orang tua laki laki bertemu orang tua gadis, berarti hubungan sudah mulai serius.

Nah setelah aku tahu bahwa tidak ada kamus pacaran dalam Islam, maka sedikit demi sedikit aku berusaha menyampaikan apa yang aku fahami sama si Mas itu. Kebetulan beliaunya juga kuliah di Undip. Aku sarankan saja untuk belajar Islam. Ikut mentoring di kampusnya. Alhamdulillah akhirnya beliau juga belajar. Waktu terus berjalan. Sampai satu tahun kemudian ternyata tidak ada langkah nyata dari si Mas untuk meresmikan hubungan. Biar nggak jadi dosa. Biar tatapan tatapan menjadi halal. Biar surat suratan pun nggak ragu memilih kata-kata. Terus terang ada suatu perang dalam hatiku. Tampak luar aku adalah muslimah berjilbab rapi, rajin mengaji, tapi dalam hatiku masih menyembunyikan seseorang. Malu sama Allah yang selalu menyertai, malu sama Allah yang telah melimpahkan begitu banyak karunia dan nikmat.Dan tentunya, nikmat hidayah ini nggak ada duanya di dunia. Astaghfirullah..

Lelah berperang batin, akupun menanyakan kesiapan Mas untuk menikah. Karena nggak ada jawaban "Ya !" ,  dengan berat hati (sungguh !) aku tawarkan opsi, kalau nggak siap nikah, berarti kita putus saja. (Bukan putus dulu ya...) Putus ! Nggak ada relasi apa apa. Nggak ada "kewajiban" musti menjawab surat dan sebagainya.
Siapapun yang pernah jatuh cinta, pasti dapat membayangkan rasanya. Bagaimana berpisah tanpa suatu pertengkaran. Tanpa suatu "masalah". Tapi bagiku justru pacaran itulah masalahnya. 
Maka, walaupun dengan bercucuran air mata, resmilah kami berpisah. Aku berlari menuju Allah. Aku mohon kekuatan sama ALlah, memohon ketabahan, memohon keistiqomahan. Meski aku (sangat) mencintainya (saat itu), tapi bila aku berkata aku mencintai Allah, maka sesungguhnya Allah tidak suka dengan perbuatanku (pacaran itu). Aku memilih Allah. Kuhabiskan malam malam panjang dengan lantunan doa doa. Kuhabiskan hari hariku dengan berbagai aktivitas positif. Aku terbang dengan ghiroh / semangat yang menyala nyala. Alhamdulillah, pergolakan dalam hatiku pelan pelan terobati.

Akan tetapi, setelah aku berhasil menguasai pergolakan dalam diriku, muncul ujian baru. Si Mas ternyata tidak cukup tegar untuk menerima kenyataan. Beliau mogok kuliah. Ibunya menyuratiku. Kakaknya menyuratiku. Isinya hampir sama, tolonglah aku bersabar menunggu beberapa waktu sampai kami lulus kuliah baru menikah. Tolonglah kami balikan lagi. Tapi tekadku sudah teguh. Aku tak mungkin kembali. Satu keyakinan bagiku, jodoh itu tak akan lari ke mana. Semua sudah Allah pasang pasangkan dengan pasnya. Kata ALlah, wanita yang baik untuk laki laki yang baik. Aku sedang belajar menjadi baik, ku yakin Allah pun tengah menyiapkan "seseorang" yang tengah belajar menuju baik juga. Dengan permohonan maaf, akupun menyampaikan pendirianku kepada Ibu dan kakak si Mas.

Aku sedang mempersiapkan masa depanku. Masa depan di dunia dan di akhirat kelak. Bagiku, menikah hanyalah sekali seumur hidup. Dengan orang yang satu visi dan misi.
Kuberharap pada Allah, ketika aku menata separuh dien yang ada pada diriku, Allah akan menggenapkan dengan separuh lagi, suatu hari nanti.
Aku bersyukur sekali dengan keputusanku saat itu. Aku jadi lebih bebas melangkah. Tanpa perang batin. Tanpa beban dosa atas hubungan yang tidak diridhai Allah.
Aku bersyukur ALlah memberikan kekuatan dan ketabahan hingga saatnya jodohku datang.
Dan satu doa yang hingga kini tak lepas kulantunkan adalah :

"Ya Allah, karuniakanlah kepada kami, pasangan hidup dan anak anak yang menjadi penyejuk mata (qurrota a'yun) bagi kami, dan jadikanlah kami, pemimpin bagi orang orang yang bertakwa"
Amiin.

Selasa, 03 April 2012

Rejeki Bocah

Kamis atau Jumat lalu, aku terkesima lihat seorang bocah laki laki seumuran Faiz keluar dari toilet di tempat pelayanan terpadu.
Ada dua hal yang membuatku langsung melihatnya, pertama, anak itu cuma pergi berdua ayahnya. Kedua, anak itu pakai kaos merah. Eye catching !
Langsung dong, aku keinget Faiz di rumah. Aduuh.. emak emak banget ya.. kemanapun pergi dan lagi ngapainpun, tetap keingat buntut buntut itu..
Kayaknya Faiz cakep deh, dipakein baju merah. Terakhir dia punya baju merah, si piyama dino itu yang memenangkan kontesnya pasar pelangi. Walaupun masih muat, dia udah nggak mau pake karena lingkar leher sudah melebar, dan karet celana sudah melar gara gara disetrika pas masih basah.

Allahu Akbar  ! Allah Maha Besar. Walillahilhamd . Segala puji bagi-Nya
Hari Sabtunya, pas Faiz ikut aku ke kantor (sabtu itu aku lembur), temanku Ida SMS. "Mbak, aku ke rumah ya.. antar bajumu dan kaos buat Faiz"
Aku berterima kasih, Ida dah keduakalinya membelikan kaos buat Faiz.
Ternyata..... Saudara saudara.. kaos itu... berwarna ... M E R A H !!!
(mungkin karena seorang bocah yang polos belum banyak dosa, Allah langsung kirimkan hadiah buatnya)
Alhamdulillah !


Faiz senang sekali, karena ini pertama kalinya dia pakai baju karakter Cars

Senin, 02 April 2012

Panen Pertama

Alhamdulillah, pohon yang kutanam belum setahun sudah tumbuh tinggi, bercabang cabang dan  berdaun lebat. Dan hari Ahad pas long week end lalu aku kembali bersih bersih kebun. Merapikan batang batangnya yang sudah sampai ke jalan. Iiih.. senengnya.. ternyata sudah ada buah yang masak. Aku segera mencari galah untuk memetiknya. (Mau manjat malu soalnya... hehe)

Buah apa sih ? Halah, ini tentang buah kersen. Buah masa kecil. Tau kan pohon kersen ? Biasanya sih jadi pohon peneduh di pinggir jalan. Sebenernya tidak sepenuhnya buah masa kecil ya.. soalnya sampai sekarang aku masih suka kersen. Bahkan pas hamil Faiz, aku suka memetik kersen di halaman parkir Rumah Sakit Al Islam. MInta ijin aja sama satpamnya atau petugas parkirnya.

Dengan pohon kersen ini, halaman rumah kami sekarang jadi teduh sekarang.  Tanaman di pot juga tumbuh subur, karena nggak kepanasan lagi. Si Abi juga jadi suka duduk duduk di tritikan (pinggir rumah) buat baca koran atau baca Qur'an. Karena nggak semata mata kelihatan dari jalan raya yang jaraknya cuma 5 meteran.

Walaupun sempat dikerubutin ulat, dan nggak ada yang mau mendekat (selain yang nanem), alhamdulillah pohonnya dah serimbun ini sekarang
pohon kersen
Dulu Abi yang menghancurkan semen di halaman utk lokasi tanam ini. Huhu ..sampai Abi beli palu yang super besar dah tatah yang akhirnya patah. *senengbanget atas dukungannya (halamanku di semen semua sama pemilik rumah sebelumnya. Belum kami apa apain sampai sekarang. Pengennya ganti paving blok biar bisa nyerap air.)

Nah inilah kersen hasil panen pertama itu..


Sebenernya ada empat, mbak satu, Teteh satu, aku dua.. hahaha