Kamis, 17 Januari 2013

Hari Kedua Cuti : Taman Lalu Lintas

Sudah lama Faiz menyampaikan keinginannya naik kereta api. Terlebih setelah dia sekolah dan bisa menyanyikan lagu naik kereta api. Tapi sayang seribu sayang, Ummi dan Abinya belum punya kesempatan untuk mengajaknya naik kereta api.
Nah pas hari Sabtu lalu dia bilang lagi pengen naik kereta api, maka spontan aku menjawab Selasa ya.. kita naik kereta api.
Eh, bukannya naik kereta api beneran lho... bayanganku ya naik kereta api - kereta apian. Hehe.. padahal Faiz sudah semakin besar ya... harusnya aku berfikir bukan cuma kereta mainan. Tapi mau naik kereta beneran kok ya males gitu.. apalagi 'cuma' bolak balik misalnya kereta jurusan Bandung Cicalengka. Maka yang terpikir olehku langsung ke kereta mini di Taman Lalu Lintas. Kan udah mirip banget tuh, ada stasiun, ada loket tempat beli tiket, dan keretanya pun berjalan di atas rel. Lengkap dengan jembatan dan terowongan di 'sepanjang' perjalanannya. :)

Dah sepakat sama Faiz hari Selasa mau pergi berdua. Yah mungkin sudah takdir atau gimana, hari Senin sore aku pergi pengajian. Habis sholat maghrib lihat Abi jalan pincang pincang. Langsung kutembak : Abi jatuh lagi ya...?'  (jatuh dari motor), Abi cuma mengangguk. Biasalaah.. nggak mau cerita.
Trus malemnya aku pancing lagi, pas berangkat kantor atau pas pulang kantor ? Abi cuma menjawab pendek, pas pulang kantor. Jatuhnya udah di dekat rumah, karena ada yang mengerem mendadak.
Sempat ragu hari Selasa mau pergi apa enggak, soalnya Abi jadinya ijin nggak ngantor. Tapi berhubung sudah terlanjur janji dengan Faiz, aku pun tetap melanjutkan rencana. Eh, alhamdulillah, malah Abi mau nganterin. Iya sih, kebayang, Bandung sore hari hujan melulu, kalau naik angkot kapan sampainya :)

Akhirnya sekitar 11.30an kami berangkat bertiga. Jalanan relatif kosong. Maka sekitar jam 12 an kami sudah sampai di Taman Lalu Lintas. Sebenarnya taman ini bernama Taman Ade Irma Suryani Nasution. Alamatnya di jalan Belitung no. 2. Mungkin karena di dalamnya banyak unsur unsur pendidikan berlalu lintas, maka dinamakan taman lalu lintas.  Sempat heran, ternyata tiket masuknya masih 5000 perak. Anak di atas dua tahun harus bayar. Murce ya...

Karena tujuannya naik kereta, ditunjuki apapun Faiz tidak tertarik. Maka kami bertiga langsung jalan lurus menuju stasiun kereta. Namun sayang seribu sayang, mungkin karena sepi, keretanya tidak beroperasi.

keretanya sumbangan PT KAI dari tahun 1958 lhoo

Faiz menatap rel kereta dengan penuh harap
Di loket stasiun tidak satupun penjaga. Demikian juga di stasiunnya tidak ada satupun. Berhubung waktu
Karen zhuhur sudah tiba, maka kamipun sholat zhuhur dulu di mushola kecil yang cukup nyaman 
mempelajari situasi dari balik jendela mushola

Usai shalat berjalan lagi. Berharap bertemu kereta motor (kereta yang ditarik sepeda motor). Ternyata kereta inipun tidak beroperasi. Akhirnya perjalanan berhenti di tempat bermain yang pengoperasiannya pake koin. (Yaah... apa bedanya sama yang di Griya ya..)
Faiz nyobain trampolin. Masih dijagain Abi

Ahayy... ternyata robot dari jaman Fikri TK masih ada di sini.
Setelah bosan bermain main dalam ruangan, kuajak Faiz ke tempat penyewaan sepeda. Kebetulan dia kan lagi pengen sepeda yang agak besar. Dengan bersemangat Faiz berlari ke tempat sepeda.
Harga tiket sewanya 4000 perak untuk 15 menit main sepeda. Tapi berhubung kosong, jadi kayaknya si penjaga loket juga males mau nagih :P *alesan
Oya, untuk bersepeda ini disediakan trek khusus. Dibuat seperti di alam terbuka, ada jalan mendaki, ada jalan turun, berputar mengelilingi taman, bahkan masuk terowongan . Ada juga rambu rambu lalu lintasnya, seperti segitiga untuk menunjukkan jalan naik atau jalan turun, tanda halte bis, belok kanan/kiri, dsb.

mencoba sepeda

sudah berani bergaya, masuk terowongan segala
 
Ummi dan Abi

beristirahat sejenak setelah main sepeda
Karena sudah gerimis dan khawatir keburu hujan, kira kira pukul 14 kami pulang. Tak lupa foto dulu di pintu dekat gerbang, di depan papan rambu rambu lalu lintas yang menjadi ikon taman ini.


Sepertinya Faiz cukup puas dengan jalan jalan kali ini. Udah gitu diapun mendapat perhatian penuh dari Ummi dan Abi. Hanya saja masih punya satu hutang ; naik kereta !

Selasa, 08 Januari 2013

Hari Pertama Cuti

Di kantor ada kebijakan, bahwa akhir tahun tidak diperbolehkan cuti kecuali para pegawai yang merayakan hari besar agamanya. Jadi, meskipun anak anak liburan sekolah, aku nggak ngambil cuti. Malah bisa dikatakan jaga warung. Karena dari 3 petugas di depan cuti satu maka tinggal dua. Untunglah ada teman teman yang baik hati dan bersedia membantu pekerjaan melayani para customer *jiaaahh

Setelah temanku tadi cuti sampai akhir Desember, disusul teman satu lagi cuti di awal Januari. Walhasil aku memang benar benar tidak bisa cuti di masa masa anak liburan sekolah.
Anak anak protes nggak ? Pasti ! Mereka  protes liburan kok nggak kemana mana ..
Alhamdulillah Allah kasih 'alasan' kenapa enggak bisa jalan jalan. Pertama Bibi mudik di akhir tahun. Ini pasti akan sangat ngaruh terhadap kelancaran aktifitas rumah. Kedua, Abi sakit flu berat sampai sampai tiduran aja selama beberapa hari saking menahan pusing. Ketiga Ummi nggak bisa cuti.
Setelah diberi pengertian anak anak dapat mengerti. Untuk mengisi liburan mereka ada yang main ke rumah teman sekolah, ada yang hiking dengan teman teman eskul, ada yang sibuk ngabisin bacaan, dan tentu saja, nonton tivi serta maen game agak diberi tambahan waktu.

Nah, setelah dua temanku masuk, maka gantian aku yang ambil cuti. Nggak tanggung tanggung, langsung 5 hari cuti tahun lalu aku habisin.
Ketika teman teman bertanya heran, mau kemana ? yah kujawab di rumah saja. Nggak kemana mana. Paling banter nganterin Faiz sekolah hehe..
Pengennya sih, jawab mau umroh gitu ya.. kan pas tuh 9 hari. Tapi kok rasa rasanya masih seperti ngimpi ya.... Aih.. berdoa aja lah. suatu saat insya ALlah bisa ke tanah suci. Amin. *ngelantur

Dan .. ya memang itulah acaraku cuti. Antar jemput Faiz ke sekolah. Karena jarang sekali dia diantar oleh salah satu dari Ummi atau Abi. Nggak seperti kakak kakaknya dulu. Setiap hari diantar Ummi dan / atau Abi.
Hari pertama cuti : Nongkrong di sekolah. Nggak niat nongkrong sih awalnya. Sebelum liburan bu guru kasih pengumuman, katanya hari pertama bakal ada pemeriksaan kesehatan dari puskesmas terkait. Ibu ibu dah pada sedikit panik, takut ntar anak anak pada nangis atau gimana sehingga ibu Guru kerepotan. Tunggu punya tunggu.. udah ngabisin tahu sumedang, kerupuk, bahkan bakso yang mangkal, tetep si petugas kesehatan tidak muncul juga. Dan ibu ibu baru tahu kalau pemeriksaan di tunda minggu depan pas jam istirahat anak anak. Tanggung deh.... terusin aja kongkow nya . Ibu ibu membujuk. Kata mereka "kapan lagi mama Faiz, bisa nongkrong di sekolah" hehe iya sih.

Yah, tapi selama - lamanya nongkrong aku nggak betah juga kali ya, tiga jam gak ada kejelasan ngapain. Sedang anak anak baru pulang jam 11. Maka kuajak salah satu ibu ke rumah. Aku pamerin hasil craftingku, dan akhirnya dia tertarik untuk merajut. Yeay ! Satu orang 'teracuni'. Semoga bisa terus berlanjut, jadi pengisi waktu yang bermanfaat slama menunggu anak sekolah.

Nah, berhubung aku kurang narsis, jadi ya. aktivitasku bersama ibu ibu sekolah itu tidak terabadikan. Cuma ada foto F5 aja..
narsis sejenak

F5 baris



Minggu, 06 Januari 2013

Kota Ramah Anak



Sedang menghapus foto foto yang tidak lagi terpakai , rasa rasanya kok sayang membuang kenangan dua foto ini. Kedua foto di atas kuambil beberapa waktu lalu  ketika aku makan siang di sebuah warung tenda pinggir jalan di bilangan jalan Purnawarman. Aku lupa siapa nama kedua anak ini. Kalaupun  sekarang atau nanti ketemu lagi, mungkin juga aku tak akan mengenali mereka.

Entah kenapa, di hari hari liburan anak sekolah itu, tetiba banyak anak anak kecil yang menjual vitamin C. Karena mereka memandangiku terus selama aku makan bakso sementara aku tak hendak membeli barang yang mereka jual, maka kutawarkan kepada mereka makan dan minum bakso eh salah, minum dan makan bakso.
Untuk minumnya mereka minta teh botol, dan sejenak kemudian minta teh botol itu diplastikin aja. Trus baksonya pun demikian, dibungkus sajah.

Sementara menunggu pesanan mereka siap, iseng iseng aku wawancara sama mereka. Masih sekolah apa enggak, katanya masih. Sekolah dimana, katanya sih, di daerah Sukajadi (lumayan jauh lho... dari kantorku, walaupun cuma sekali pake angkot). Trus yang bikin aku ngenes adalah ketika kutanya bapak ibunya di mana kok mereka jauh jauh ke BEC, mereka bilang ibunya kerja nyuci di rumah orang, dan bapaknya tidur tiduran di rumah. #gubraks. hiks.
Untung aja aku nggak kasih mereka duit ya.. dan memang aku paling anti ngasih anak anak seperti ini dalam bentuk uang, karena aku su'uzhon, jangan jangan uang itu hanya akan jatuh ke tangan para dewasa di sekitar mereka.

Setelah pesanan mereka siap, mereka pun berlalu sambil berucap terima kasih dan ketawa ketiwi berdua dengan bakso kuah dalam plastik di tangan mereka.

Mengingat kejadian itu, entah kenapa ya ... aku tiba tiba ingat dengan istilah kota ramah anak. Apakah Bandung termasuk kota ramah anak ?