Rabu, 06 Maret 2013

Awet Muda ?

Sesungguhnya aku menikmati pekerjaanku saat ini. *lupakan peak season
Tanpa aku harus meninggalkan kursiku, aku bisa bersilaturrahmi dengan banyak orang. Dan ini  nyata.
Asyik kaaan ?

Aku bisa wawancara singkat dengan para pengusaha, terutama yang ibu-ibu, kiat suksesnya gimana, kiat cantik dan energiknya gimana..
Sesekali juga iseng semacam polling gitu, apakah dinas-dinas tempat mereka jadi rekanan itu udah bersih dari KKN apa belum.
Di kursi ini pula, aku dipertemukan dan baru kenalan dengan tetangga satu RT (lho !).  Ini ciyusss...
Eh, kok jadi ngelantur...

Nah di kursi ini pula, aku melayani dengan sepenuh hati ibu-ibu pensiunan yang sudah sepuh dan kebutuhan 'didengar'nya kadang tak tersalurkan, karena acucit #ehkokpakeistilahtetangga -anakcucucicit- udah pada nggak tinggal serumah. 

Nah yang paling senang adalah ketika ada diantara ibu-ibu itu yang bertanya :
"Neng, udah berkeluarga belum ?" *tuh, dipanggil 'neng' merasa muda banget
"Neng sudah punya putra belum ?"  *dan selalu pada kaget mendengar jawabanku

Lebih-lebih lagi bila ditanya :
'Neng sudah lama kerja ? Sudah, Ibu... sudah hampir 20 tahun. Wah sudah lama juga ya.. memang usianya berapa sekarang Neng ?'  *umpetinKTP
  
Eh, itu belum seberapa, yang paling membuat berbunga-bunga adalah ketika kemudian Ibu itu komentar :
"Ah masa..... nggak kelihatan lho ...." *yaeyalah Bu.. wong anak saya nggak diajak, ya nggak kelihatan
"Masa' sih Neng, Ibu nggak percaya usianya segitu. Memang ya, kalau badan langsing kecil itu enak. nggak kelihatan" :p

Baiklah, terlepas dari apakah para ibu pensiunan itu hanya beramah tamah menghiburku, tapi yang jelas kalau ketemu adik kelas pun banyak yang bilang "Ih, mbak Titi nggak berubah lho..., masih seperti yang dulu" *awet tua dong. 
Dan tentu saja bakal heran ada emak-emak, ngantor pake sandal jepit *udah insyaf  sepatu trepes dan backpack.
Backpack cuma ditinggal pas kondangan doang di saat aku pakai sendal berhak tinggi 5 cm .

Nah, jangan heran ya .. kalau aku seneng-seneng aja dengan komen komen di atas. Karena jiwaku memang masih muda.
Resepnya ? Aku jarang sekali bercermin. *timpuk Satu-satunya cermin yang selalu kukunjungi adalah cermin di masjid / toilet untuk membetulkan letak jilbab yang dipakai secepat kilat dari rumah. Tak pernah terpikirkan olehku ada kantung mata atau belum, mata panda atau tidak, sudut mata dan sudut mulut udah keriput atau belum, pipi udah 'jatoh' atau belum, (hihi, ini karena kemaren teman sebelahku ngaca sambil narik-narik pipi) dsb dsb. Jadi ya.. enjoy aja. Pokoknya tetap semangat. Nah kalau ada yang melihatku tampak lebih muda dari usia sesungguhnya.. itu rejeki nomplok aja kali ya... Alhamdulillah..


belakang kiri lebih muda 15 tahun, belakang kanan lebih muda kl 5 tahun, depan kanan lebih muda  kl 10 tahun.






Senin, 04 Maret 2013

Hari Pencoblosan

Tanggal 24 Februari kemarin masyarakat Jawa Barat menentukan 'nasibnya' untuk lima tahun mendatang. Kenapa menentukan nasib ? Karena di hari itu mereka memilih gubernur/kepala daerah.
Mungkin kesannya sepele ya.. hanya mencoblos selembar kertas. Namun kisah dibalik itu tidak sesederhana tampaknya.
Bisa dibayangkan seandainya dalam setiap kesempatan pemilihan semacam itu terjadi 'salah pilih', ternyata orang yang dicoblos tidak amanah menjalankan kewajibannya, waaah.. kalau aku sih bakal menyesal seumur hidup, minimal menyesal selama 5 tahun itu.
Kenapa aku bersemangat memilih pemimpin ? Terinspirasi sama novel Tereliye (Burlian) di salah satu bab ada yang bercerita tentang pemilihan kepala desa. Diantara sekian banyak calon-calon yang buruk menurut pandangan masyarakat, tetep ayah Burlian berpendapat  harus memilih satu yang terbaik diantara mereka. Kenapa ? Yah, karena memang kita perlu pemimpin.
Menurutku pemimpin inilah yang akan mengarahkan,  memutuskan, dan mengambil resiko. Jangankan manusia, hewan-hewan di dunia ini saja mempunyai pemimpin. Lihatlah bebek, selalu ada satu bebek yang berjalan terdepan. Burung-burung terbang membentuk formasi V, ada yang paling depan. Ketika yang terdepan kelelahan, maka dia mundur dan diganti oleh satu burung yang lain.
Rasulullah pun memerintahkan kita untuk memilih pemimpin dalam sebuah perjalanan hatta itu cuma diikuti oleh 3 peserta. Jadi memang pemimpin itu sangat urgen. Setidaknya aku pribadi termasuk yang meyakini ini.

Oleh karena itu, akupun tidak keberatan ketika diajak untuk ikut kegiatan semacam voter education. Untuk meningkatkan kepedulian tentang hak pilih ini. Supaya tingkat partisipasi dalam pemilihan makin tinggi.
Kebayang ya.. kalau satu orang berfikiran "Ah.. cuma aku ini yang nggak milih" . Eh, ternyata satu orang ini dikalikan sekian, terjadi di sekian daerah, akhirnya jumlahnya mencapai 20% dari seluruh daftar pemilih tetap. Banyak kaaann ? Oke kalau karena alasan ekonomi, misalnya buruh pabrik asal Garut, kerja di Bandung, gak bisa mudik 'sekedar' untuk nyoblos. Yang model begini aku masih agak maklum. Tapi kalau untuk yang kepikiran 'ah cuma aku ini yang nggak nyoblos' itu, aku belum bisa terima.
Kepikiran nggak ya.. sama mereka, berapa biaya negara yang 'disia-siakan' karena dia nggak milih. Biaya cetak kartu suara dia, biaya nglipet kartu suara dia, biaya transport dari KPU ke TPS, dsb. Itu kan pemborosan namanya..
Trus kepikiran nggak ya... kalau ternyata 'suara' yang seharusnya menjadi hak dia, karena dia nggak milih, eh malah disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertangggung jawab untuk menggelembungkan suara salah satu kandidat.
Trus yang lebih parah lagi, karena sekian orang yang berfikiran sama tadi enggak menentukan pilihan -padahal dia bisa- ternyata pemilukada harus berlangsung dua putaran maka akan lebih banyak lagi anggaran negara yang 'terbuang percuma'.
Mungkin ini terkesan lebay, tapi memang kenyataannya itung itungannya demikian.
Makanya KPUD juga udah ngeluarin ketetapan untuk memudahkan, siapapun yang namanya tidak ada di daftar pemilih tetap, asalkan punya KTP Jawa Barat, maka dia boleh mempergunakan hak pilihnya. Tinggal mau apa enggak.
Setidaknya aku telah 'mengambil resiko' mengamanahkan kepemimpinanku kepada seseorang. Kalau dia salah, aku berhak mengingatkan. Kalau di amanah, maka aku akan memberikan pujian.
Eh, kok jadi serieus gini ... hehe okelah itu tadi cuma pendapatku saja. Boleh setuju boleh juga punya pendapat lain. Monggo...

Jadi yang aku lakukan di hari pencoblosan kemarin itu ...

Pagi-pagi jalan bareng, sekeluarga ke pasar kaget di Pasir Jati, sekalian sarapan



Trus agak siang ke TPS deeh... nyoblos calon gubernur

Trus pulang nyoblos ada odong odong lewat, nemenin F5 naek odong-odong
Sisa hari itu aku isi dengan merajut sambil berdoa, mendoakan pilihanku tentu saja dan berdoa biar pemilu aman tentram damai, nggak pakai rusuh, yang kalah bisa legowo yang menang nggak usah bangga. Siapin aja kerja.  Sayang rajutannya gak sempat difoto, udah keburu habis. Buat jualan #eh.

Rabu, 27 Februari 2013

Anak Seorang Perantau Akhirnya Jadi Perantau

Bapakku asli Magelang. Ibuku asli  Temanggung. Bapak seorang PNS, Ibu seorang Guru. Kami semua tinggal di Pingit, Temanggung.
Tidak lama setelah lahir adik kelima,  Bapak dipindahtugaskan ke Cilacap. Kamipun akhirnya menetap Cilacap.

Semasa Lajang
Aku belajar merantau sejak SMEA. Waktu itu aku kos  berdelapan. Tiap hari kami bergantian menanak nasi dan membeli sayur / lauk karena ibu kos tidak menyediakan makan. Selain itu kami juga  mengatur jadwal mandi (kamar mandi ada dua dipakai 8 anak kos + 2 tuan rumah) dan jadwal mencuci pakaian, karena kalau semua mencuci, tali jemuran langsung penuh. Intinya, di dalam rumah kos itu, kami telah belajar bermasyarakat, saling menghormati dan bertenggang rasa.

Lulus SMEA aku masuk STAN. Kehidupan sebagai anak kos pun dilanjutkan. Aku bersama teman-teman  berkongsi  menyewa rumah. Selain lebih murah, kami juga belajar mengurus rumah. Maka jadwal piket pun dibuat. Siapa yang kebagian menyapu, siapa mengepel lantai, siapa memasak, siapa  mencuci piring, menyapu halaman, menggosok kamar mandi, dsb. Kami benar-benar belajar mandiri. Tapi kehidupan anak kos pastilah penuh warna. Misalnya ada yang mendadak ujian sehingga  tidak dapat menunaikan tugas sesuai jadwal, ada yang ingin belajar dalam diam, dan sebaliknya ada yang nggak bisa belajar kalau nggak sambil mendengarkan musik. Ada yang rajin merapikan, ada juga yang sembarangan.Di sinilah, lagi lagi kami harus belajar bertenggang rasa, saling memahami, dan akhirnya menumbuhkan sikap sepenanggungan sebagai satu 'keluarga' di perantauan.

Setelah Menikah
Selesai kuliah, tidak lama kemudian aku dilamar oleh seseorang. Desember 1996 kami menikah.
Suamiku ini ternyata seorang pujakesuma. Putera Jawa kelahiran Sumatera. Ayah mertua asli Jawa, Ibu asli Palembang. Tinggal di Lampung. Suamiku lahir-besar di Lampung, kuliah  ikatan dinas di Jakarta dan penempatan pertama sebagai PNS di Kupang.
Maka perantauanku tahap berikutnya pun dimulai. Aku kali ini merantau karena ikut suami.


Aku dan anak-anak (baru F1-F3) di ruang tamu rumah Kupang
Selama lima tahun tinggal di Kupang, banyak sekali kejadian yang sungguh memperkaya lukisan kehidupanku. Namun satu hal yang membuat kami berduka, ketika di Kupang itulah Bapak dan Ibuku kembali ke pangkuan Allah. Saat itu armada penerbangan belum sebanyak sekarang. Tahun 1999 Ibuku wafat. Karena tidak dapat pesawat di hari yang sama, kami tidak dapat mengantarkan Ibu ke peristirahatan terakhir. 
Sedangkan Bapakku, wafat akhir tahun 2001, dua minggu sebelum kami pindah tugas ke Bandung. Memang saat itu sudah packing-packing, bahkan sebagian barang sudah dipaketkan, tapi tetap saja kami belum siap berangkat dua minggu lebih awal karena terkait dengan pekerjaan kantor baik suamiku maupun pekerjaanku. Belum lagi masalah biaya pindah. Tidak memungkinkan juga misalnya saat itu pulang ke Jawa terus balik lagi ke Kupang lalu pindahan. Mau tidak mau, kami kembali merelakan tidak dapat mengantar Bapak ke peristirahatan terakhir.
Demikian juga setelah pindah ke Bandung, Ibu mertua meninggalpun kami tidak dapat menemui jenazah beliau. Waktu itu tahun 2003, satu satunya cara ke Lampung yang terjangkau buat kami adalah naik bis malam. Ibu wafat hari Ahad pagi , dimakamkan hari itu juga. Malamnya kami baru berangkat dari Bandung. 
Wafatnya ketiga orang tua kami inilah yang menjadi hal paling membekas selama di perantauan.

Hikmah Merantau
* Merantau itu menguatkan, melatih kemandirian, dan mendewasakan 
Merantau sejak remaja, alhamdulillah membuatku merasa siap ketika diajak suami merantau di Kupang.  Suka duka ditanggung berdua. Mengurus (sampai dengan) tiga anak balita, tanpa asisten rumah tangga. Kalau pagi semua berangkat, anak anak ke penitipan, Ummi dan Abi pergi ngantor. Malam anak anak tidur, Ummi dan Abi berbagi tugas rumah tangga cuci, setrika, ngepel, dsb. Ada masalah keluarga ? Dibicarakan berdua. Jauhnya kami dari keluarga besar, justru mendekatkan kami satu sama lain.
* Merantau itu menambah saudara. 
Ketika kita merantau, pengganti keluarga kita adalah mereka yang ada di sekitar kita, yang dekat dengan kita. Ibaratnya minta gula, garam nggak mungkin telpon ke kakak atau ibu di kejauhan, tetep aja yang dimintai tolong pertama dan bisa datang cepat adalah tetangga dekat. Maka ketika merantau kita harus pandai pandai menjalin tali silaturrahim.
* Merantau memperkaya pengalaman
Bertemu lebih banyak orang, melihat lebih banyak budaya, mengunjungi lebih banyak daerah tidak akan menjadi sia-sia untuk kita.
* Merantau membuatku lebih arif terhadap alam
Contoh ketika di Kupang, air PAM mengalir 3 hari sekali. Yah, jadwalnya memang 3 hari sekali baru ngalir, sedangkan di rumah ada tiga balita. Kebayang kan seberapa cucian pritilannya ? Tapi disitulah justru kami jadi lebih dapat menghargai air dan memakainya sesuai keperluan saja.
* Merantau membuatku makin cinta Indonesia
Jawa, Sumatera, Bali, NTT baru itu sebagian keindahan Indonesia yang kulihat. Masing-masing mempunyai daya tarik yang tidak ada di daerah lain. Semua membuat rindu untuk didatangi kembali.

Sedikit Tips untuk perantau 
* Terimalah keadaan. Penerimaan akan membuat kita tenang. Kalau dalam diri kita ada sedikit saja penolakan, maka kita tidak akan betah di perantauan
* Berbagilah dengan yang dekat.  Entah itu suami atau sahabat. Kalau kita berbagi dengan yang jauh, misalnya orang tua, apalagi kalau keadaan kita 'tidak enak', pasti orang tua jadi khawatir. Bahkan aku ada temen yang ikut suami ke luar Jawa, eh, sama ibunya disuruh pulang ke Jawa, ninggalin suaminya di sono. Kalau suami diambil orang gimana coba #eh
* Bertanya kepada yang lebih dahulu tinggal di daerah tersebut, bagaimana trik-trik menghadapi kesulitan di perantauan. Pasti senior kita dengan senang hati akan membagi pengalamannya, bahkan tidak mustahil akan membantu kesulitan kita.
* Bersabar dan bersyukur.
* Banyakin minta doa dari kedua orang tua

 -----------------------------

NB*hihi.. mau diikutkan GA mbak Milati tp gak sempat ngedit, telat deeh...lumayan ah, buat postingan