Sabtu, 28 September 2013

Soal Rejeki

Biar aja dibilang konservatif atau enggak masuk akal, atau malah sotoy . .... aku ini termasuk yang enggak percaya sepenuhnya sama aneka financial clinic, nasehat keuangan atau apalah istilahnya. Kubaca siih.. bukunya, kufollow juga beberapa twitter mereka, tapi ya sekedar tau aja hehehe dijalanin sebagian. Sebagian kutinggalkan karena enggak memungkinkan buat keadaanku saat ini.

Terus terang, aku masih percaya nasehat orang tua jaman dulu bahwa setiap anak ada rejekinya masing-masing. Orang tua cuma wajib ikhtiar kanggo lantaran alias buat wasilah / buat numpang lewat agar si rejeki sampai ke anak. Kadang memang suka itung-itungannya muncul, namanya juga manusia. Apalagi di ujung bulan seperti ini. Manusiawi kaaan.... tapi sisi yang sering jadi tameng ini, berulang kali  kena tampar  bahwa ternyata Allah punya itung-itungan tersendiri.
Akhirnya yaa.... mau enggak mau kaaan.... ikut itungan-Nya.
Kadang tiba-tiba ada pengeluaran tak terduga dan tidak dapat ditunda. Mana tanggal tua pulak. Terus nggrundel dalam hati. Tapi jadi malu... karena sangat mudah bagi Allah untuk kasih pemasukan tak terduga juga, kan kan kan ?

Sebagai pegawai yang terikat jam kerja dan konsekwensi turunannya  (penghasilan sesuai kehadiran, kepangkatan sesuai masa kerja, dll. ) rasa-rasanya semua pintu pemasukan itu 'sudah bisa diperkirakan'.
Nah makanya ketika tiba-tiba di pagi hari kita bangun telat atau de krucils tiba-tiba berulah yang bikin kerjaan rumah tertunda, atau di  tengah perjalanan ke kantor ada sesuatu yang mungkin bisa bikin terlambat, refleks di kepala langsung berhitung.. yah... sekian persen melayang. Apalagi Bandung ini kota besar, kadang karena asyik kerja kita kita nih jadi kudet soal event yang bakal mengganggu lalu lintas esok hari. Jalan ditutuplah, dibelokinlah... dsb...
Tapi sebaliknya, kadangpun kita bagai mendapat berkah ya... ketika karena sesuatu dan lain hal dari rumah sedikit terlambat, sampai-sampai udah pasrah dengan sekian persen potongan,  ternyata sepanjang jalan lalu lintas lancar jaya. Walhasil bisa sampai kantor enggak terlambat, meski mesin presensi menunjukan 07.30.50 hehehe... belum 7.31. Slamet... slamet...
Etapi masih ada lagi lhoo.. pintu kebocoran kehadiran lain adalah lupa absen, alias lupa setor jari ke mesin finger print, udah gitu pas kita lembur pula, udah gitu pulangnya lewat pintu yang CCTV-nya mati. Lengkap kaaan ???
Atau ada lagi problem yang lebih ekatrim,  mungkin ada yang naik pangkatnya terlambat, maksudnya sudah berhak naik pangkat tapi belum disetujui, atau sudah berhak menduduki jabatan tapi belum diamanahi, atau naik gradenya terlambat seperti aku ini.
Aku menyebut semua fenomena itu sebagai bagian dari takdir. Tak ada satu kejadianpun yang menimpa satu anak manusia melainkan sudah Allah ditetapkan terjadi padanya. Justru saat ada kejadian yang menurut kita buruk inilah, saatnya 'menengok ke dalam' kata Ebiet G. Ade.

Soal kenaikan grade ini dulu pernah ada kasus di kantor lama. Ada salah satu teman yang mempertanyakan kenapa dirinya enggak naik grade. Ternyata setelah lacak sana lacak sini sampai ke kepegawaian kanwil diketahui ada nilai cukup di salah satu  periode penilaian. Dan teman ini ngotot minta nilai cukup itu diralat. Karena dia merasa sudah bekerja dengan baik. Saat itu si atasan langsung yang menilainya sudah pindah kantor. Dikejarnya ke kantor yang baru. Padahal setahuku penilaian itu melibatkan atasan langsung/kasinya dan 2 kasi lain. Mungkin saking keselnya atau apa, eh si atasan langsung ini keceplosan sama anak buahnya : enggak malu apa ngejar-ngejar dinilai baik. Udah jelas-jelas beberapa kali kepergok bilangnya masih tugas ternyata mobilnya parkir di toko bahan bangunan, jemput anak sekolahlah, dsb. (Ya maklum aja waktu itu kebetulan jalur-jalur si teman itu dilewati pula sama si atasan langsung. Jadi gak heran juga kalau sesekali bertemu bila kejadiannya berulang) Nah, kalau kejadian kayak gitu, kan malu yaa... udah ajalah... serahkan penilaian sama pihak yang berwenang. Yah kalau penilaian para beliau itu menurut kita salah, toh kita punya Sang Penilai yang tak pernah salah. Kita serahkan saja urusan ini pada-Nya.

Dan semoga Dia limpahkan 'keberkahan' atas rejeki (tidak sebatas materi ya....) yang kita dapatkan, yakni meluasnya kemanfaatan. Suami makin cinta, semua anggota keluarga sehat jadi gak perlu biaya obat, bisa membantu kirim kirim ke keluarga besar, sahabat makin dekat, amanah-amanah terselesaikan, dsb. Amiiiin....
Dapet ini dari DP mbak Yulianti (temen kantor).

Kamis, 26 September 2013

Judulnya Termehek-mehek

Bukan, bukan, ini bukan tentang suami yaaa... tapi tentang si anak laki yang bikin termehek-mehek emaknya.
Kalau kemarin cerita Faiz dengan segala tipu daya eh rayuan gombalnya yang bikin orang ketawa dan hilang marah, klo F2 ini ke -cool-annya yang kadang bikin gemes...
Mau diuyel uyel kok ya udah lebih tinggi dari Ummi, mau diciwel-ciwel gak pantes juga da udah bujangan. Kelakuannya bikin perasaan  orang tua naik turun kanan kiri jumpalitan muter sekaligus.

Kapan tau itu, dia lalai mengerjakan tugas cuci piring di malam hari. Satu hari kubiarkan. Hari kedua kubiarkan. Lagi baik nih ceritanya... Hari ketiga, muntab eh.. enggak sih.. cuma nanya.. "kapan kamu mau cuci piring, nak ?" Perasaan aku ngomong biasa aja. Ealah... moodnya F2 lagi bad kali gegara bokek #eh, dia terus marah gitu. Cuci piring sembari gubrak gabruk. Ummi yang lagi masak di sebelahnya jelas doong sakit kuping. Jadi pengen naik darah deh...
"Ya udah, kalau gak mau cuci piring, tinggalin aja... "kataku berusaha ngerem emosi jiwa.
Trus dia diem gitu, kayak marah atau apa..tapi alhamdulillah suara piringnya gak keras lagi.
Eh, entah angin entah badai mana yang membawa hatinya berubah, pas mau berangkat dia salim dan nanya :
"Ummi ridho enggak, Mi.. aku pergi.."
"Ya ridholaah...masa mau sekolah enggak ridho" jawabku sambil masih sedikit kesel
"Bener ya Mi... soalnya, kalau Ummi enggak ridho trus aku kenapa-kenapa di jalan, nanti gimana...."
Ummipun cuma melengos ngelus dada.

Malem minggu kemarin, Fikri rencana mau nginep di rumah temannya. Udah minta izin Abi dan Abi pun memberi izin. Ummi tetep, masih menyeleksi dengan menanyakan alamat di mana, nomor telepon berapa, besok pulang jam berapa dll .
Eh Sabtu maghrib, pas mau ke masjid tiba -tiba saja Abi baru ingat kalau malam itu harus menggantikan anggota tim lain untuk dinas malam. Abi memanggil Fikri dan menyampaikan keadaannya. Terserah Fikri kalau mau nginep boleh, kalau enggak jadi nginep ya enggak papa, lebih bagus lagi. Bisa nemenin Ummi dan saudara-saudaranya.
Fikri iya-iya dan kelihatan berfikir *padahalgalaukaliya...
Trus sehabis maghriban sepanjang Abi belum pulang dari masjid, Fikri duduk di kamarku. Cerita kalau rumah temannya itu mewah *ukuranFikri.
"Kamarnya gede Mi, kayak kamarku. Kamarku kan kosong, kalau kamar dia banyak isinya. Ada laptop, ada PS, banyak deh
Fasilitasnya lengkap"
"Dia anak ke berapa?"
"Anak pertama. Adiknya dua, kelas lima dan TK. Di luar kamar dia, padahal ada komputer juga lho Mi...."
"Bapaknya kerja di mana?"
"Enggak tau Mi....kalau ibunya sih kayaknya di rumah. Soalnya pas aku ke sana, Ibunya ada."
Kami diam sejenak.
(Bagian ini asli aku bersyukur sekali cuma berhenti di situ, gak pake nyinyir ini itu bin su'uzhon pleus iridengki... Bukan karena shalihah, berkah aja topik itu berhenti sebatas tanya. Aduuuh Ndaang, kalau sampai aku komen dan terpatri di benak Fikri, aaaah... menyesal deh diriku karena kata-kata tak dapat ditarik kembali dan waktupun gak bisa diputar ulang).
Trus Fikri ngomong lagi:
"Mi, kayaknya aku nggak jadi nginep aja deh. Ummi bilang ke Abi ya..."
"Ih, kamu bilang aja sendiri. Emang kenapa gak jadi? Ummi berani kok, di rumah enggak ada Abi atau kamu"
"Ya masa' Abi pergi kerja untuk urusan keluarga, malah aku pergi seneng-seneng untuk kepentinganku sendiri...."
Ummi melongo sebentar. Biar gak keliatan bengong langsung ngeles;
"Yaaah.... itu keputusanmu. Bilang aja sendiri ke Abi klo kamu gak jadi nginep"
"Iya Mi... aku kan udah bisa mikirlah Mi.... aku udah 14 tahun lhooo...."
x_x
Ummi aja masih ingat jaman Fikri 2-3 tahun kalau minum susu pasti habis segelas dan minta nambah lagi nambah lagi.

Senin, 23 September 2013

Bokek Bokek Bahagia

Sebelumnya minta maaf, postingan sebelum ini kumasukin draft lagi karena khawatir menimbulkan efek negatif yang sebelumnya tak kuduga. Padahal udah think before posting, tapi ternyata pikiranku cupet. Xixixi... ya sudahlah.. memang aku lemot kok, syukurlah agak kreatif dikit.

Nah, mengiringi hari hari September yang tidak terlalu ceria karena akupun terjangkit wabah bokek, ternyata Allah punya penghiburan tersendiri bagi emak bokek sepertiku. Ini bokeknya bukan saja efek lebaran, tapi juga akibat libur panjang dua bulan kemarin, puncaknya di September ini.
Mari menarik nafas panjang-panjang supaya kesabaran juga makin panjang.

Di bulan September ini, ternyata  banyak hal bikin gembira yang datang bertubi-tubi. Baik yang soal duit maupun yang berimplikasi duit. Yang bikin sedih ada enggak? Adaaa... Tapi nggak perlu kaan... kuceritakan detail yang sedihnyaa ..... nanti membawa aura negatif. Kata Aa Gym, kalau kita dapat musibah/ujian, jangan cerita ke manusia, itu seperti mengadukan Sang Khaliq kepada makhluk-Nya. Jleb enggak siih???... jadi kalau lagi sedih, galau, dsb.. kembalilah kepada-Nya. *ish malah ceramah*

Apa sih kabar gembiranya ?
* setelah menunggu hampir 3 tahun, akhirnya aku naik grade.  Ada teman yang setahun, dua tahun sudah naik grade. Tadinya aku sudah pasrah soal ini. Tak ada kejadian yang terlepas dari takdir. Anggap saja ini impas-impasan sejam dua jam atau menit-menit dari jam kerja 7.30-17.00 yang aku enggak manfaatin untuk kerja. Etapi pas orang HRD-nya baru, dan kemudian nanyain nilaiku di awal Juli lalu, akupun ikhtiar. Kukumpulin semua kelengkapannya. alhamdulillah... akhirnya naik juga. Belum jadi duit, tapi akan berimplikasi duit dalam satu-dua bulan ke depan. *udahngitungrapelanbuatbayarkesiapadulu*

* ada yang beli buku Mizan.... inipun belum jadi duit. Tunggu bukunya terkirim baru dapat komisi. Etapi Allah Maha Adil, di Sygma, bulan lalu bukunya belum terkirim, tumben tumben komisi udah cair. Lumayan laah.. beras sebulan.

* Sepeda lipatku dataaaaanggg. Alhamdulillaah... Rasanya kayak apa yah..  Jebret banget pokoknya.
Ini sepeda hadiah dari Mizan seperti yang kuposting beberapa waktu lalu. Tanpa dikirimi email, tiba-tiba saja aku dapat kiriman sepeda. Lha tabletnya mana?  Enggak tau deh.
Apa pendapat teman teman atas kalimat 'nama - nama berikut ini masing-masing berhak mendapat sepeda lipat dan tablet' ?
Apakah semua mendapat sepeda dan tablet?
Ataukah ada yang mendapat sepeda dan ada yang mendapat tablet?
Soalnya temen sebelah dapatnya tablet duluan.
Yah, daripada pusing bagai mikirin soal pilihan ganda pelajaran bahasa Indonesia, mari kita bergembira naik sepeda. Putal putal Jakalta Ancol Monas, aduh aciknya belsepedaaah.... #lagujamankapantauk

* Aku terpilih mewakili kantor untuk lomba front liner tingkat kanwil.
Pas kutanya boss kenapa aku? Aku kan hanya anak SMA. Kata beliau ini berdasar masukan dari kasi-kasi lain. Kan enggak cuma ilmu aja, perilaku kepada pelanggan dan sesama pegawai juga dinilai. (Wkwkwkwk dah berasa miss-miss an aja, yang dinilai brain, beauty and behaviornya).
Berhubung Ibu boss mau dines 3 hari, di hari sebelum berangkat beliau berpesan 'pokoknya gue percaya ma elu Ti, lakukan yang terbaik.  Pesan gue cuma satu, besok pas lomba tolong PAKE BEDAK'. Gubrak enggak cobak. Lain ya... klo boss cewek maah...
Tim sukses pun menambahkan lebih banyak, jangan pake backpack, jangan lupa parfum, jangan lupa potong kuku, jangan biarkan rambut keluar dari jilbab, hahaha Baiklah kakak.... akupun make over tingkat dewa di hari ituh. Sampai sampai temen cowok  di front line ngakak- ngakak aku pakai sepatu bunyi tok tok dan menenteng tas kulit buaya imitasi hadiah dari oriflame.
Hasil tingkat kanwil gimana ? Menang ? Enggak eh belum tahun ini. Hihihi menghibur diri banget. Soalnya para finalisnya besok diundang ke rakorda dan aku gak dapat undangan.
Tapi aku tetep bahagia berkat tim sponsor tunggal yang kasih support dari sebelum pemilihan tingkat kantor, sampai support di hari H saat pelaksanaan masih nge-BBM teruussssss *peluk Sondang* .
Aku terima kok kekalahanku. Yang menang masih muda-muda, ganteng-ganteng dan cantik, lulusan diploma, pinter-pinter (iyah, bisa penempatan Jawa itu biasanya karena pinter), dan tentu saja mereka baik dan ramah serta disiplin. Presensi mereka clean.
Alhamdulillah, anggap saja aku dapat free day gak kerja sehari, berbonus dapat teman baru dan goodie bag. Berhubung kata orang HRD aku boleh enggak absen sore, habis acara aku ketemuan bentar sama Sondang dan Yayangnya  yang lagi pacaran di warung padang,  trus reunian sama temen-temen mantan se-seksi yang udah berpencaran dan aku dapat traktiran, trus lanjut kangen-kangenan sama Ika Dapurhangus di Baltos, mau ditraktir lagi tapi perutku udah full jadi cuma ngobrol aja. Puwaaass deeh. Bagaikan udah terima hadiahnya di depan.
Eh tapi dapat pelajaran berharga dari mas Doni yang terpilih jadi salah satu OB terbaik, pas aku sms kasih ucapan selamat, kata beliau,  ini adalah beban, amanah yang berat untuk menjaga perilaku ke depannya.
Oke banget kan?  Mas Doni ini OB di front line kantorku.
Toss Mas, setuju, semoga kita dapat menjaga amanah ini, tetap bekerja sebaik-baiknya dan melayani secara tulus, sebagaimana sebelum ada lomba-lombaan ini.

* bahagia berikutnya adalah ketika di hari libur aku bisa ke rumah mbak Ida tanpa attachment. Hihi.. memang sih, acaranya ngambil tong air yang Ida hibahkan. Enggak mungkin aku sambil ngebonceng F4 atau F5. Meski rencananya sebentar, tetep aja di apato Ida sempat makan berdua dan ngobrol sini sana. Lumayaaanlaah...

Tentu saja masih sangat buanyak berkat rahmat yang Allah berikan. Kita tidak dapat menghitungnya. Termasuk suami yang baik dan bertanggung jawab, anak anak yang sehat dan salih/salihat, teman-teman yang baik, baik yang di dunia nyata maupun dunia maya, tugas tugas yang terkendali -atas ijinNya- dsb. Intinya banyak jalan menuju bahagia dan mensyukurinya. (meski bokek di akhir bulan).
Soooooo.... teteup bahagia yukkk.......