Kamis, 17 Oktober 2013

4 Hari Libur Panjaaaang

Holiday kali ini enggak ada acara kemana-mana. Yah biasanya juga enggak kemana-mana sih... hehehe.. Tadinya keluarga Echi mau lebaran di Bandung, tapi berhubung Echi gak bisa cuti, dari awal bulan Mama Echi dah SMS kalau enggak jadi lebaran di Bandung.

Hari Sabtu anak-anak masih sekolah seperti biasa. Masih UTS malahan. Trus Abi dines sampai pagi. Jadi ya...enggak seru aja cuma berdua Faiz di rumah. Sore nanti ada ibu-ibu mau pada silaturrahim di rumah, aku masak bubur candil dan bubur sumsum yang udah terbilang sukses.
Abis zhuhur aku bekam sama Nenek Ranan. Waaah... asyiknya, bekam berbonus curcol hehe. Biasanya kalau bekam basah, darahku enggak banyak. Etapi kemarin banyak lhoo... kenapa ya.. apa karena lama enggak dibekam ? Trus sama Nenek Ranan titik yang dibekam banyak banget, punggung 2, pinggang 2, al kahil+leher 3, betis masing-masing dua jadi 4, trus di kaki dekat jari-jari 2, dan di punggung tangan antara ibu jari dan telunjuk 2, dada 2 ya Allaaah.... 17 titik. Biasanya aku 7 aja, paling banter gambah dua di kaki. Kirain bakal kenapa-kenapa, ternyata enak juga. Sementara aku dibekam, Mama Ranan bikin pancake, jadi habis dibekam aku disuguhin pancake rasa pisang. enaaakk...
Sorenya ada teman-teman datang ya gak kerasa aja tau tau maghrib.

Hari Minggu aku bikin ketan. Setengah kilo langsung tandas sbagian dibawa Abi ke kantor. Ihiirrr... senengnya. Jarang-jarang Abi mau bekal makanan dari rumah. Karena hari libur , dan biasanya anak-anak suka nyari cemilan, habis ketan terbitlah kacang ijo. Etapi nanti malem kan mau sahur puasa Arafah, sedang Abi nggantiin temennya dines. Yaah... enggak seru deh, sahur enggak ada Abi. Tapi Abi janji mau nelpon pas jam sahur. Abis makan malam aku masak lagi buat sahur pleus nyobain bikin oreo stick yang sangat membuatku penasaran.  Akhirnya bisaaaa..... berhasil laaah... meski sempat gagal dikiit.

Hari Senin full masak. Ini sibesar kesatu dan kedua malah sekolah, gak ada yang bisa membantu. Alhamdulillah F3-F5 ada semua. Hehe... mulailah aku mencuci 3 ekor ayam anteran tetangga. Trus aku ungkep. Ati ampelanya aku ungkep terpisah. Pun cekernya aku rebus buat kaldu. Sampai siang jam sebelasan baru beres. Alhamdulillah anak-anak puasa semua, kecuali Faiz. Cincaylah makanan Faiz mah sama ayam goreng atau telor ceplok-ceplok di wajan alias scramble egg.
Baru, siang itu pula aku berburu selongsong ketupat. Alhamdulillah dapat.
Jadi habis zhuhur setelah selongsong ketupat dicuci, ditiriskann dulu. Habis itu baru diisi. Tugas Ayuk dan Teteh untuk mengisi ketupat. Diisinya sekitar ¾ -nya. Ini mah resep mertua. Alhamdulillah ketupatnya jadi bagus. Trus habis itu baru kupas kentang. Abis ashar opor mateng, trus dianterin wafer tango sama bu dokter keluarga hahaha bukannya kita yang kirim parcel, kebalik ya ...
Trus buat buka puasa, bikin putu ayu, martabak tahu dan.... seblak. Sessuatu pokoknya... Malem takbiran Abi keluar beli susu ultra coklat. Yuhuuy.. alhamdulillah, besok gak perlu bikin susu coklat. Oh ya, minum susu coklat di pagi hari lebaran ini adalah kebiasaan dari Ibu Mertua alm.

Selasa pagi lebaran, kegiatan mulai lebih pagi. Anak-anak juga dibangunin lebih pagi, trus diingetin untuk mandi sunah hari raya. Kami berangkat shalat lebih pagi. Karena biasanya kalau Idul Adha shalatnya jam setengah tujuh. Sunahnya tidak makan minum sebelum shalat. Maka anak-anak gak ada yang makan minum. Kecuali Faiz aku kasih roti cream meises sisa sahur Abi, karena khawatir kelaperan :D dan rewel. Alhamdulillah, dua lebaran ini (Idul Fitri kemarin pleus sekarang) Faiz dah shalat sama Abi. Udah bukan balita ya Nak, jadi shalatnya di shaf depan aja :D
Overall lancaaar... anak gadis aku pesenin habis shalat dengerin kutbah, jangan ngobrol, ini sunnah juga. Semoga nanti besar mereka dapat memetik hikmah, biar lebih mantep. Meskipun sebenarnya lebih utama menjalani sunnah karena cinta Rasulullah SAW semata.
Abis shalat nggak ada foto official hehe.. gak ada yang motoin/gak ada kamera. *ikut kebawa maling tahun lalu*
Lagian, Abi juga buru-buru ganti baju karena mau nungguin air yang kemarin enggak ngalir.
Ya udew, para cewek pun lepas kerudung dan menikmati ketupat opor ala Ummi.

Pict : abaikan rendang yang kurang hitam ituh yah... enggak keliatan malah ya..

Minggu, 13 Oktober 2013

Awas : Pencuri di Tengah Hari

Oktober tahun lalu...

Jumat siang. Adzan telah berkumandang. Aku tengah sibuk karena menjelang tanggal akhir laporan, dan aku piket siang pula.
Kalau sudah sibuk begitu, boro-boro mengangkat telpon -dan memang enggak boleh tetelponan di saat melayani pelanggan-, membaca dan membalas SMS pun kadang terlupakan.
Biasanya aku membaca dan membalas SMS saat perlu ke toilet, jadi sekalian.
Terkecuali kalau lagi sedikit tamu, masih bisa laah balas-balas sms atau bbm-an.

Sebelum piket aku menyempatkan ke toilet. Betapa terkejutnya aku, ketika mendapati  miscalled berkali-kali dari nomor rumah, dari nomor teh Eva -penjaga toko kue samping rumah- dan juga dari berbagai nomor tak dikenal. Detak jantungku langsung berpacu cepat. ADA APAA ???

Langsung aku telpon nomor teh Eva. Betapa terkejutnya ketika telpon diangkat yang terdengar adalah suara Ayuk yang nangis nggerung-nggerung. (Bhs Jawa : menangis tersedu dengan suara keras)
"Ummmi..... cepet pulaaang.... Ayu takuuut...."
Begitu suara Ayuk.
"Kenapa ? Ada apa ?"
"Ada pencuri masuk rumah kita... "
"Innalillahi.... *aku menenangkan diriku sendiri* Kamu KETEMU enggak sama mereka ?"
"Engggaak... *alhamdulillaah, syukurku dalam hati*  waktu aku pulang sama Teteh, kamar ummi berantakan. Kirain Abi lagi beres-beres, aku panggil panggil enggak ada orang. Terus aku lihat kamarku, kamar Mbak, semua juga berantakan. Aku takuuut.. aku langsung lari keluar"
"Terus Teteh di mana ?"
"Teteh di rumah Nisa. " *alhamdulillah*
" Bibi sama Faiz di mana ?"
" Bibi belum pulang dari jemput Faiz" *alhamdulillah*
"Ya sudah, Ayuk berhenti  nangis. Malu sama Teh Eva ya.. Alhamdulillah Ayuk enggak ketemu sama orang jahatnya. Alhamdulillah semua selamet. Dzikir ya Nak, biar tenang. Ummi pulang sekarang"
"Laptop Abi sama Ummi diambil pencuri...." Ayuk masih bicara sambil menangis.
"Iya ... sudah. Enggak papa. Yang penting kalian selamat. Sudah ya... kalau takut pulang, di teh Eva saja dulu. Ummi pulang sekarang."

Ayuk menuruti kata-kataku. Kemudian aku  menelpon nomor yang tak dikenal, ternyata nomor Ayah Nisa. Kondisi Teteh sama, menangis dan ketakutan. Syukurlah si Teteh bawaannya agak lebih tenang. Setelah kubilang aku mau pulang, Teteh berhenti menangis.

Aku bergegas mencari pengganti piket. Minta izin pak boss, pinjem motor dan pulang. Percuma telpon Abi juga lagi Jumatan. Aku cuma sms : Ummi pulang, ada pencuri masuk rumah.

Sepanjang jalan aku bersyukur, alhamdulillah anak-anak selamat. Nggak terbayangkan kalau pas pencuri masuk, ada bibi dan Faiz... oh Noooo...... nau'dzubillahi min dzalik. Apalagi udah baca berita serem-serem *kayak ceritanya baginda ratu dan komen mbak tituk*'

Pas aku sampai rumah, Bibi dan anak anak sudah pulang. Jumatan sudah kelar. Sudah ada pak RW di halaman rumahku. Juga beberapa bapak-bapak sekitar.

Kemungkinan maling masuk lewat pintu belakang, dan keluar lewat pintu samping. Ada pisau dapurku tergeletak di tembok samping. 

Pak RW kemudian menelpon pak polisi yang biasa ada di kelurahan. Kami menunggu dan berusaha tidak merusak TKP. Tak lama kemudian Abi datang. Nggak bakalan tega deh melihat wajah Abi lama-lama.
Yang paling kehilangan tentu Abi. Di laptopnya ada data-data skripsi *sampai setahun ini belum ada progress berarti* dan pekerjaannya. Ada juga scan-an foto-foto masa kecilnya sampai selama hampir 10 tahun kami berumah tangga saat belum punya kamera digital.  Dan netbook second-ku pun hadiah dari Abi, *honor Abi ada proyek kerja sama dengan anak itb dan harus 2 minggu ke Cirebon dan pepanasan sampai kulit terbakar*

Tapi sampai pak RW pulang, pakpol tak kunjung tiba. Sampai mbak dan Fikri pulang, bahkan sampai maghrib pakpol enggak datang juga. Ya sudahlah, kata Abi beresin aja. Yang penting kita slamet semua.
Kamipun membereskan rumah. Pisau dapur yang di luar ya di bawa masuk. Udahlah ... enggak usah ngarep barang bakal kembali. Kecil sekali kemungkinannya. Insya Allah ada banyak hikmah yang tersembunyi dari kejadian ini. Semoga Allah mengganti kehilangan ini dengan yang lebih baik dan lebih berkah. Amiiin.


Sedikit tips aja buat teman-teman dari hikmah yang dapat kuambil atas kejadian ini
:

* tetap waspada, meski keluar sebentar/dekat, tetap saja kunci semua pintu dan jendela. intinya tutup akses orang asing masuk rumah.

*menjaga hubungan baik dengan tetangga itu perlu. Ada tempat 'pelarian' buat kita / anak minta tolong bila ada kejadian darurat. 
Tentu kita juga harus siap jika dimintai pertolongan yaa...

*tetap menjalin komunikasi sepanjang hari dengan anak-anak meski kita di tengah kesibukan pun. minimal sms-an pulang jam berapa, sampai di mana, dsb kalau anak-anak telat pulang / atau kita telat pulang.

*menyimpan barang berharga di tempat yang tidak mudah di tebak.

*tetap berdoa dan pasrahkan semua pada-Nya. 
Dia sebaik- baik penolong dan penjaga.


Semoga teman-teman jangan sampai mengalami kejadian sepertiku ini. Amiiin.

Jumat, 11 Oktober 2013

Mencoba Melobi

* Fathimah
Pada suatu sore, sepulangku dari kantor dan tengah istirahat sejenak ba'da shalat maghrib, F1 masuk kamarku dan ngelendot gitu. Aku usap-usap kepalanya.
'Tumben... ngapain peluk peluk Ummi?'
'Kangen, atuuuh'
'Haiyah.. kayak enggak ketemu berapa taun aja'
'Ummi, Abi ngijinin lho aku mbonceng temen aku'
'Udah punya SIM belum ?'
'Udahlaah, kan kata Ummi aku enggak boleh mbonceng anak yang enggak punya SIM'
'Lho katanya kamu paling tua di angkatanmu karena lahir (des) 97?'
'Kan SIM motor sekarang 16 tahun Mi...' (iya gitu ? Dalam hati doang sih... mau bilang nembak kali haduuh inget kata-kata Sondang soal stereotyping ituh)
'Masa sih ? Ummi ketinggalan info nih ...'
'Mi, nanti kalau aku 17 tahun beli motor matic ya....'
'Mmmmm kayaknya kalau buat dipakai Ummi atau kamu ... belum perlu deh mbaak.. Ummi kan masih searah sama Abi, kamu sekolah tinggal ngesot aja, jadi kita belum perlu motor'
Fathimah pun bangun kembalj ke kamarnya.
Ohh... jadi arti pelukan tadi......

*Fikri
Timingnya sama. Pas aku leyeh-leyeh bentar abis maghrib sebelum masak.
Dengan wajah cerah ceria full cengar cengir , pulang bimbel langsung tiduran di sampingku.
"Ngapain cengar cengir ?"
"Ummi, aku TO-nya tertinggi lho se-kota Bandung. Se-Nurul Fikri Bandung."
"Oya ? Hebat dong. Emang berapa nilai kamu?"
"Ummi telpon aja ke NF. Aku minta hadiah 50 rebu ya Mi..." sambil nyengir lebar.
"Ah, Ummi mah mau nunggu pemberitahuan resmi dari NF. 50 rebu mah keciilll (disaat enggak bokek, glek). "
Fikri enggak melanjutkan perjuangan semangat lima puluh ribunya, ganti asyik twitteran pake hapeku.

*Fadhila
Ini mah aku baru masuk rumah.
"Ummi ... aku punya kabar gembira. Aku dapat seragam lagi lho..."
"Seragam apa yang sekarang ?"
"Seragam batik."
"Alhamdulillah..."
"Ummi punya janji ya .. sama aku, mau beliin legging baru" - hihi legging 20 rebuan buat daleman rok sekolah. Aku memang selalu ribut kalau para gadis itu pura-pura lupa gak pakai celana panjang tapi malah pake celana selutut.
"Oh ya... insya Allah nanti besok dibeliin"

See..... yang paling murah dan memang perlu saja yang langsung mendapat persetujuan. Hahaha dasar emak pelit eh irit ya...