Sabtu, 09 November 2013

Cerita ABG : Jatuh Cinta dan Patah Hati

Meramaikan program PKK (Peduli Kata Kunci)-nya Warung Blogger, kali ini aku mau cerita satu aja tentang ABG-ABG di rumah yang jumlahnya ada tiga.
Aku suka iniih, membuat kecele para pengguna mesin pencari, yang mencari konten-konten negatif di dunia maya dengan kata kunci tertentu. Kalau para blogger udah menuhin dunia maya dengan konten positif yang mudah ditemukan mesin pencari, pastilah konten negatif itu akan terpinggirkan dengan sendirinya.

Cerita ABG, bukan cerita aku blogger gaul ya... kalau aku blogger gak gaul mah iya banget. Mainnya ke situ-situ aja. Yang komennya juga itu-itu aja. Hahaha... susah move on, aku kan type setia.... *tendangsampaiawang-awang
Hihi malah menceracau kacau, katanya mau nulis Cerita ABG. Iya deh.. iya... kita mulai.. begini ceritanya... sudah berlalu hampir setahun.

Buat men-temen yang udah jadi ibu, apa yang ibu pikirkan  ketika bangun pagi hari, anak yang menjelang gadis tiba-tiba memeluk dan berkeluh : "Ummi, sekarang aku tahu, kenapa orang patah hati bisa bunuh diri."
Jreng... jreng... jreng.... kemana Ummi waktu anak gadisnya nangis semaleman ? *ngringkukdikamar
Kemana Ummi waktu anaknya perlu teman curhat ? *asyikbikinpostingan
Kemana Ummi ? Di mana Ummi ? Ummi sibuk ? Ummi ngertiin anaknya nggak siih?

Tenang... tenang... Ummi ada kok.
Karena aku tahu type anak-anakku, enggak laju lebay gitu aku nanggepinnya. Masih dalam pelukku, dengan santai  kutanya balik :
"Trus kamu mau bunuh diri ?"
"Enggaklah.... kan dosa Ummi, rugi banget" jawab gadisku.
Alhamdulillaah. Berarti dia masih menganggap bahwa selain 'cinta monyet'-nya itu, masih buaaanyaaak hal berharga yang pantas dikejar. Dan karena secara normatif anak-anakku sudah tahu bahwa pacaran itu dilarang agama, aku tinggal masukin nilai-nilai yang diterima logika mereka.
Salah satunya aku  pakai resepnya mba Tri. Kurang lebih begini :
"Jangan terlalu mencintai teman-teman SD, nanti kalau kamu SMP banyak teman SMP yang lebih keren. Jangan juga terlalu serius sama teman SMP, karena di SMA akan lebih banyak lagi cowok yang lebih keren. Kalau mau serius pas kuliah. Karena kalian sudah semakin dewasa dan lebih bisa mempertimbangkan segala sesuatunya. "

Ya gitu deh... itu baru cerita satu anak ya... tapi seputar jatuh cinta dan patah hati aku masih pakai rumus yang ini. Alhamdulillah nampaknya berhasil untuk dua gadis pertama. Paling tidak, mereka nampak segera move-on dari para cowok-cowok CCP-nya dan segera beraktifitas yang lain atau dapet CCP baru. :p *mudahcintadanmudahlupa.
Kalau yang cowok belum kelihatan punya gebetan siih...

Dan untuk nasihat yang lebih serius aku bilang gini : (dapat dari tweet siapa ya, lupa. Kata-kata bijak atau nasehat Islam gitu ).
"Bila kau mencintai seseorang, lihatlah apakah dia dekat dengan Allah atau tidak. Kalau Allah aja dia tinggalin, apalagi kamu ?"

Memang awalnya buat telingaku rada-rada jengah mendengar cerita ABG versi anak-anakku. Mengingat jaman aku seumuran mereka dulu apa-apa kan dirasa sendiri. Paling nulis di diary.
Tapi kan mending anak-anak curhat sama kita kaan, dari pada curhat sama orang lain.
Minimal walaupun dia curhat sama temannya, dia curhat juga sama kita, jadi ada semacam second opinion.
Nah yang kulakukan sehingga anak-anak mau cerita adalah :
* ada sessi berdua -quality time- dengan masing-masing anak. Waktunya atur-atur saja.
* belajar bertanya tentang dunia mereka dan menyiapkan diri menjadi pendengar yang baik. Nggak mencela, nggak motong cerita, full attention.
* ikut baca buku/novel mereka
* sesekali stalking TL / akun socmed mereka spy enggak kudet. #eeeaaaa

Nah ini Cerita ABG-ku. Lain keluarga pasti lain cerita. Mana ceritamu ?

*postingan ini tidak dilombakan karena kesulitan teknis dalam pendaftaran* bilangajamalesngelink

Rabu, 06 November 2013

Selamat Milad, Teteh...

JTanggal 5 kemarin Teteh genap 10 tahun.
Masih jelas terbayang, Ramadhan 10 tahun lalu, di pagi hari. Aku sudah cuti sejak tanggal 1 Nov.Masih ngurusin mandi F1 dan F2 yang masih TK. Tumben keluar flek. Aku minta Mbak dan Fikri bergegas. Mungkin hari ini adik bayi akan lahir, kataku. Mereka nurut. Ayuk yang belum belum 3 tahun juga bersikap manis.
Setelah Mbak dan Fikri sekolah, dan Ayuk sudah sarapan pleus mandi aku berangkat ke Bidan dianter Abi naik motor. Ayuk di rumah sama Bibi.
Jam 8-an berangkat ke Bidan. Jam 10-an masih ditelpon pengurus DKM kantor nanyain penceramah ba'da Zhuhur :D  Kira-kira jam sebelasan Teteh lahir dengan selamat. Alhamdulillah...

Masih jelas juga terdengar, kata-kata Fikri di sore hari ketika datang : 'kenapa Ummi ngelairin adik perempuan lagi? Aku tambah nggak ada temen'.
Tapi nyatanya, Fikri tetap sayang sama adik perempuannya.

Farah Nada Firdausi.
Kabar kebahagiaan dan kesejukan Firdaus di rumah ini. Yang selalu bangga karena pindah dari rumah kontrakan ke rumah sendiri di tanggal ulang tahunnya.
Yang selalu bilang 'iya' ketika dimintai tolong apa saja dan oleh siapa saja penghuni rumah. Sampai-sampai yang enggak masuk akal - nemenin Ayuk cuci piring malam2, atau nemenin mbak belajar di kamarnya- tetep dijabanin.
Yang menurut Ummi kamu sudah 'dibully' kakak adikmu, kamu jalani santai -santai saja sampai Ummi harus mewakilimu untuk menolak dan bilang 'tidaaaak'.

Barakallah... selamat milad anakku. Segala doa kebaikan terkumpul untukmu. Semoga doa Abi dan Ummi dalam namamu pun mewujud dalam lakumu.
Sudah makin besar ya Nak... tangga kehidupan makin naik, tantangan ke depan makin besar. Berlakulah seperti orang besar. Dan peliharalah selalu jiwa besarmu.
Semoga Allah mengabulkan segala permintaanmu. Amiin.

Pict : kuenya rasa Mak Ika ... makasih share resepnya. Ada yang dulat dulit nggak sabar nunggh dipotong kuenya

Jumat, 01 November 2013

Lima Anak Lima Gaya

Seperti yang kusebut di postingan lalu soal LDR, tetiba aja kepikiran mau bikin postingan tentang gaya 'pamit' nya anak-anak kalau mau  keluar rumah.

Sebenarnya urusan exit permit ini adalah wewenang mutlak Abi. Artinya kemanapun anak-anak mau pergi di luar urusan sekolah, maka harus minta izin ke Abi. *lempartanggungjawab ke Abi.
Ya anak-anak pun kayaknya lebih suka pamit ke Abi, soalnya -ini opiniku- Abi lebih ngertiin dunia anak (kota). Aku kan tumbuh besar di desa, dan tipeku kayak yang  enggak punya keinginan pergi-pergi gitu. Bagiku buku-buku, alam,  craft dan makan kenyang, sudah cukup menjadi hiburan.  Jadi ya wajar kaan...  kalau sampai sekarang aku males jalan  ke mall-mall  sekitar kantor itu.
Itulah kenapa kalau anak-anak pamit untuk pergi main (yang menurutku enggak penting) ya aku gak bakal kasih ijin hehe.
Tapi syukurlah yaa... .. mereka izinnya ke Abi, bukan ke Ummi. Walaupun izin sudah keluar, tetep aja siih,  saat pamit ke
Ummi, masih di 'omat' (pesen) banyak hal.
Misalnya : sebisa mungkin enggak lewat waktu makan. Trus  aku juga  lebih galak eh lebih ketat dari Abi soal lamanya bepergian. Bahasaku enggak boleh lewat dua waktu shalat. Selain membiasakan anak agar menjadikan waktu shalat sebagai standar pengaturan waktu mereka, pengennya juga menjalankan ajaran Rasul, segera pulang kalau urusan sudah tersampaikan. Khawatir si empunya rumah mau ada urusan lain, jadi tertunda gegara kita.
Kesimpulannya, kalau pergi main jam 9 ya ashar sudah harus di rumah. Kalau perginya habis zhuhur ya sebelum maghrib udah di rumah. Tapi kalau perginya ashar, ya tetep aja maghrib sudah harus di rumah :p.  Masih konvensional ? Biarin aja. Ini bentuk ikhtiar kami menjaga anak-anak dari hal yang tidak diinginkan di luar sana.

Oh iya, jam malam ini berlaku juga untukku ya... maghrib sudah harus di rumah.  kan orang tua harus kasih contoh...
klo Abi sih dapat hak istimewa luar biasa, karena aku kan  bukan ibunya hahahahaha
Bukan, bukan itu, karena  Abi kan laki-laki, sudah dewasa, insya Allah sudah bisa menjaga diri. Trus kalau pergi juga, pasti urusannya memang penting.  
Walaupun prakteknya Abi juga jarang banget bepergian abis maghrib, kecuali ke pengajian bapak-bapak dan/atau urusan kantor kayak sekarang lagi kena shift, ada 2 hari yang pulang jam 8 malam.

Setelah aku ingat-ingat #haiyah -maklum, faktor U- seperti ini nih gaya pamitnya anak-anakku...

1. Fathimah
Kalau mau pergi ke rumah temen/kerja kelompok, SMS ke Abi langsung,  enggak di cc ke Ummi. Kalau Ummi ngecek sore-sore suka bingung ini anak kemana. Etapi satu dua kali begitu, lihat aja Abi kalau Abi tenang-tenang, berarti semua terkendali.
Kalau berangkat sekolah, pamitnya sambil lewat. Tau-tau udah senyap aja. Nggak ada suaranya.
Kadang aja kalau mau ulangan, suka ada permintaan khusus buat didoakan.

2. Fikri
Kalau dia ini, pamitnya bisa berkali-kali. Habis mandi ganti seragam trus sarapan, setelah sarapan sambil nggendong tas udah pamit. Kalau masih kepagian, dia duduk lagi. Pinjem hapeku dan twitteran. Atau ngelaba sisa sarapan yang kebetulan dia suka. Misal roti/pancake. Atau nggado lauk klo kelihatan banyak. Nanti baru pamitan lagi. Trus pakai kaos kaki, pamitan lagi. Kadang ditambah kata-kata : Ummi, ridho ya.. aku pergi. Ridho ya, kalau aku meninggal hari ini.
Si anak bujang ini masih nurut kalau dicium, enggak lari-lari kayak F1 dan F3 kalau mau dicium Abi.

3. Fadhila
Pamitnya es te de. Konsisten. Biasanya sih habis nyapu, mandi, ganti baju sekolah trus sarapan. Karena seragamnya pakai kerudung blong yang tinggal masukin, F3 ini suka santai - santai saat sarapan. Tapi bukan berarti sarapannya jadi banyak, tapi justru dia susumputan supaya bisa makan dikiiit. Nah habis sarapan, pake kerudung barulah dia pamit. Pamit di saat terakhir.

4. Firda
Firda agak istimewa ini. Mungkin karena belum puas jadi bungsu atau justru karena udah berasa 5 tahun jadi bungsu baru F5 lahir, jadi dia agak spesial. Jangan coba-coba pergi kalau dia masih di kamar mandi atau masih nutup kamar lagi ganti baju. Dia bakalan nangis. Sedih. Jadi kalau mau pergi ya harus dia lihat pleus salaman. Salamannya suka berkali kali. Dulu jaman masih searah aku nganter TK, bisa tuh salaman di rumah sekali, depan kelas sekali, trus pas aku balik ke motor dia ikut lagi ke parkiran dan salim lagi. Uff.. ummi kan udah pengen lari ngejar setor jari. ya tapi syukurlah, biasanya kalau kita tetep ridho gegara anak seperti ini, kok ya enggak telat. Ada ... saja kemudahan di perjalanan yang bikin kita cepet nyampe kantor. Kalau F4 ini suka kasih embel-embel : dadah Ummi, Selamat Bekerja ! Sampai jumpa nanti sore. Dan semacamnya.
Sampai gede sekarang ini, kebiasaan salam berkali-kali masih berlaku. Jadi kalau aku berangkat, sebelum keluar aku salimin anak²  yang masih ada di rumah. Eh nanti pas di luar ketika aku mau naik motor, si Teteh ini bakal minta salaman lagi.

5.Faiz
Faiz ini tepatnya bukan pamitan ya.. tapi dipamiti. Secara dia kan belum pergi-pergi sendiri. Faiz menjadi tempat berkumpul segala kehebohan kakak-kakaknya. Yang salim berkali-kali, yang nangis (kadang) kalau ditinggal, yang kasih ucapan bertubi tubi plus ciumannya juga yang musti pipikanankirijidatjanggut belum pelukannya. Katanya. "Selamat bekerja ummi, bawa oleh-oleh Ummi, semoga selamat Ummi,  sampai jumpang#. Asli pakai jumpang ini mah... bukan jumpa.
Awalnya mungkin karena  dulu belum banyak kosa kata. Asal mirip sama yang didengarnya aja.  Sekarang mah dah keenakkan, pakai kata jumpang itu. Kalau diingetin malah kayak sengaja nylelek gituuu... ya tapi namanya bontot, tetep aja berasa lucu lagi menggemaskan.

Eh,  pas disandingkan gini, ternyata sebagian besar anakku kalau pamit musti berkali-kali ya.. *nurun siapa ini?*
Moga aja bukan karena mereka males sekolah ya... tapi semata-mata karena mereka masih betah di rumah. Hahahaha *bedanya apa?*