Tapi seiring dengan kedewasaanku, aku semakin dapat membedakan, memang masakan dengan gula aren itu lebih nikmat dibandingkan dengan gula merah biasa yang berasal dari nira kelapa.
Ketika aku tinggal di Kupang, untuk pertama kalinya aku mengenal gula semut. Saat itu aku mendapatkannya gratis dari teman. Teman-teman di Kupang biasa menggunakan gula semut untuk mengoles roti sebagai pengganti selai atau meises. Ada juga yang menggunakan sebagai pemanis minuman kopi atau teh. Memang di Kupang banyak terdapat pohon aren. Di sebrang komplekku, di pinggir pantai, hutan aren yang tidak begitu lebat, panjang terbentang hingga ratusan meter.
Sampai saat itu aku masih menganggap bahwa gula semut adalah sesuatu yang eksklusif, sebagaimana ibuku memperlakukan gula aren. Jadi akupun hanya mempergunakan sesekali, bahkan diirit-irit, belum terpikir untuk menjadikannya sebagai pemanis pengganti gula pasir di rumahku.
![]() |
| gula semut sebagai olesan roti tawar |
![]() |
| Ini nih, sekotak inilah gula aren yang kudapatkan. Gambar dipinjam dari sini |
Dari blog mbak Evi pula aku tahu bahwa ternyata gula aren bukan hanya membuat masakan dan kue menjadi lebih nikmat, tetapi juga ada banyak manfaat lain dan lebih sehat. Gula aren itu bisa menjadi semacam energy bar untuk para pendaki gunung, sebagai pelengkap resep obat tradisional, diolah dengan tungku dan tanpa tambahan zat pengawet, dan berasal dari nira pohon aren yang tumbuh alami tanpa pupuk kimia dan pestisida. Gula aren juga mengandung senyawa yang berfungsi menghambat penyerapan kolesterol di saluran pencernaan. Ini mah aku banget ya.. soalnya, walaupun kurus, ternyata kolesterolku tinggi.
Sudah saatnya ini, aku sediakan gula aren sebagai pemanis sehat di rumahku, di tempat yang mudah dijangkau anak-anak. Agar gula aren buat mereka bukan lagi menjadi barang eksklusif, tapi sebagai satu pilihan karena mereka peduli pada kesehatan.



