Selasa, 01 April 2014

Taman Wisata Kampung Batu Malakasari

Sebenernya ini postingan lama. Udah ngendon di draft hampir setahun. Pas Faiz lulus dari kelas A di TK Mutiara. hehe.. iyah, ini udah masuk TK A lagi di Attakwa dan sekarang nggak kerasa udah mau lulus kenaikan kelas lagi. Hihi... time flies banget ya...
Cuman karena kok ada benang merah yang menghubungkan, jadi wee... naik cetak deh.

Ceritanya setahun lalu  acara perpisahan Faiz ke Kampung Batu. Tepatnya Taman Wisata Kampung Batu Malakasari - Baleendah - Kabupaten Bandung. Nah, acara perpisahan ini  udah digadang - gadang sama Bu Guru,  kalau bisa semuanya ikut. Yaa... akupun akhirnya ijin nggak masuk kantor. Setelah sehari sebelumnya Bibi bertugas mengambil raport.
Trus kebetulan Teteh juga sudah libur sekolah, jadi kita angkut sekalian dengan resiko nambah iuran transport dan konsumsi 60rebu.
Kalau aku ijin-ijin gini, bukannya enggak sayang sama 5% potongan tunjangan yah.. anggap saja itu tambahan ongkos jalan jalan. Daripada menzholimi teman sebelah yang kerja keras nerima customer sementara aku enak enak jalan - jalan... hihi

Ini foto-foto tahun lalu :
Bibi dan Eka pas baru turun dari bis

mobil kereta apa kereta mobil ? Kendaraan ini berputar keliling lokasi, tiket tahun lalu 10 rebu, tahun ini masih sama. Tampak bukit batu di kejauhan, ini kayaknya kenapa di sebut kampung batu
kolam renang dengan 'ember tumpah' yang bikin Faiz takut takut tapi pengen lihat. Tiket masuk water boom 25rebu per orang. Renang gak renang mbayar.
 
kami semua naik perahu, tiket 5rebu per orang.

Ini Faiz 'belajar' turun ke kolam renang di lokasi water boom. Kelihatan ya.. awal dia mau nyoba, dituntun teteh gitu, agak gamang .. trus terakhir  udah mau mentas aja. Saking paniknya sampai berpelukan sama Teteh. *ini emak bukannya nolongin malah main kamera.
Nah, kok ya di tahun berikutnya, ketika Faiz udah di At-takwa, ada acara outing ke sini juga.
Aku sudah membujuk Faiz supaya tidak ikut saja..kan udah pernah. Dengan enteng Faiz menjawab..itu kan waktu di Mutiara... di At-takwa beluum... aaah.. anak pinter.
sempat kepikir udah aja Faiz berangkat outing sendiri. Toh F1-F4 dulu juga biasa outing nggak dianter. Etapi mendengar komen Abi "kamu tega sama anaknya" langsung luluh deeh...
Kalau dipikir-pikir, kata-kata Abi itu bener 100%. Di rumah,  gak ada pengganti Ummi buat anak-anakku. tetapi di kantor banyak sekali tenaga subtitusi atas ketiadaanku di meja.
Dan akupun minta ijin. Bukannya berat karena harus dipotong ya.... tapi di saat keberangkatan Faiz ini, teman sebelahku sedang cuti. Lha kalau kami berdua cuti, yang jaga loket siapa ??? *errr.. masih ada siih, anak OJT*
Dengan pertimbangan aku nggak tega dengan kegemparan besok kalau tiba-tiba aku gak ada, aku ijin sejak Rabu sore.
"Titi kamu ijinnya mendadak sekali" (boss sedikit panik)
"Iya Bu, saya kan membujuk suami sampai saat saat terakhir" (anak buah ngeles )
"besok tiga orang dinas ke kanwil, kamu tau sendiri kan, 2 orang di depan lagi cuti, si A nggak bisa datang pagi" (boss curcol)
"Wah itu mah tinggal ibu bilang aja 'Aberangkat lebih pagi, usahakan jam 8 sudah di meja' pasti dia datang pagi Bu"  (anak buah ngelunjak, nasehatin boss)
Boss diem sebentar.
"Kamu nggak bisa siang datang, Ti ?" (boss ngarep)
"hehe.. kayaknya... enggak Bu, soalnya di luar kota" (anak buah bandel)
"Ya sudah, jadi siapa saja yang sudah bisa ngerjain kerjaanmu ?" (boss nyerah)
"Si C, D, E" aku menyebutkan nama-nama anak OJT.
Kesimpulannya sebenernya #AYTKTM, apapun yang terjadi, ku tetap membolos. hehehe..

Nah, pas hari keberangkatan, aku sudah sedikit dagdigdug. Pengalaman awal tahun ajaran, kalau aku ada di sekolah atau di dekat Faiz, kebiasaan dia malah jadi manja. Nggak mandiri. Lihat ini ekspresi dia di halaman sekolah.

lihat itu wajah embok-embok'en, alias mau nempel terus sama ummi. Nah pas disuruh naik bis, eh.. lari dengan semangat. Aku suka pose larinya.
Alhamdulillah selama di tempat berlangsungnya acara, Faiz ada kemajuan lah. Mau lepas dari Ummi, nggak kayak tahun lalu, nempel terus nggak mau ikut kegiatan.
jadi dia bergabung dengan teman-temannya. Kegiatannya
- nangkep ikan
- berjalan di jembatan goyang yang bikin basah (aku nyobain, tapi udah sore, kamera dah mati, jadi gak ada gambarnya)
- flying fox khusus buat anak-anak, dimulai dari memanjat jaring laba-laba, naik rumah pohon, baru meluncur.
- menanam jagung
- melihat rumah panggung (ternyata dipakai foto prewed juga)
- memberi makan kelinci dan rusa
Setelah itu baru deh.. anak-anak makan siang dan bersiap berenang. Faiz masih enggak mau renang. Ya sudahlah nggak papa, Ummi juga nggak bawa ganti. Kalau anak nyebur, ummi kan ikut nyebur. kita makan eskrim aja ya.. dipinggir.

eskrim jelly yang rasanya di luar dugaan Faiz - eh nggak mau ngabisin dia, asem katanya.
naik kereta mobil tetep heits... bahkan sampai dua balikan


Sekian laporan tentang kampung batu. Ih.. geje banget ya postingannya.
Kalau benar benar geje... ya anggep aja april moooopp



Rabu, 26 Maret 2014

Obrolan Politikus (nerusin Obrolan Pelacur)

Sebelum ini aku cerita tentang orang yang nggak percaya mekanisme demokrasi. Dia memilih golput dan revolusi.
Ceritanya ada di sini.

Demokrasi itu katanya kekuasaan di tangan rakyat. Ya kalau pengen hasil demokrasi bagus, ya bagusin dulu rakyatnya. Asal tau saja korupsi itu bukan milik pejabat. Korupsi itu sekarang milik rakyat juga. Berapa tahun lalu pernah ikut pelatihannya BIG. Lha itu rakyat yang tiba-tiba ngaku miskin biar dapet jamkeskin dan lain-lainnya apa namanya gak korupsi ? Jelas-jelas dia gak berhak.
Oke ya... jadii.. kalau mau hasil demokrasi baik yuuuk kita baikin dulu rakyatnya. Aku pernah cerita bagaimana kita mengambil peran dalam upaya perbaikan itu di postingan yang ini.

Nah sekarang, penyelenggara negara atau yang pegang tampuk pemerintahan itu siapa sih ? Kalau pas jaman masih suka cerdas cermat P4 (jiaah... ketauan lahir jaman kapan) mah eksekutif (presiden dan jajarannya ke bawah, termasuk LPND dan pegawai di luar negeri), legislatif (MPR yang terdiri dari DPR dan perwakilan daerah/golongan, sekarang DPD), dan yudikatif (Mahkamah Agung, sekarang ada KY dan MK). Jaman reformasi nambah inspektif yaitu BPK.
Kalau di daerah pemerintahnya adalah Gubernur/Walikota/Bupati pleus DPRD.

Kesimpulannya kalau aku pe en es, ya   aku ini bagian dari pemerintahan. Kalau coba-coba nuding pemerintah belum becus ngurus negara ya sama aja nuding diri sendiri hiks. Sedih nggak siih...
Trus kalau dibilang anggota dewan pada korupsi ?
Yaelah..... musti flash back deh ke lima tahun lalu.  Dulu yang kita pilih siapa ? Atau lima tahun lalu, kita milih atau enggak ?
Klo salah pilih, ya tahun ini mestinya move on.
Kalau nggak milih ? ya nggak usah komenin ... hehe.. cukup menonton aja.*ini kata sondang*
Atau kalo sampai saat ini gak percaya ada caleg yang bisa dipercaya, ya coba aja nyalonin diri sendiri jadi caleg (kalau berani) xixixi.
Menurutku Aleg ini penting, karena mereka yang bakal ngatur2 kehidupan kita 5 tahun ke depan. Semua RUU harus disetujui mereka agar jadi UU. Biar dikata RUU baik macam yang anti pornografi itu, panjaaaaang sekali perjuangannya.
Di level daerah, bikin perda harus disetujuin mereka.
So sebaiknya kita memilih caleg yang kita kenal. Atau caleg yang direkomendasikan oleh orang yang kita percaya. Dengan kata lain pakai jalur 'temennya temen' .
Atau kita kenali mereka. Kan promonya banyak tuh,  sepanjang jalan. Follow dan stalking akun2 socmed mereka. Kepoin tuh, aktivitas mereka kepoin juga rekam jejaknya bila memungkinkan.
Ya kalau nyari yang sempurna gak bakalan ada. Seperti kita nyari jodoh dulu. Meski kita tahu suami kita gak sempurna, tapi karena dia baik, dan cucok ama kita, ya kita terima buat teman seumur hidup -insya Allah.

Trus kalau gak milih emang kenapa ?

Kan kita awalnya ngomongin uang pajak  ni ya.. kalau nggak milih, sayang uang pajak kita *yaelah kembali ke pajak* yang sudah dipakai menggaji orang KPU pusat, provinsi dan sekian ribu kota/kab, ngehonorin panwaslu, dipake bikin sekian juta  bilik suara, bikin sekian ratus juta kertas suara (kali 4 utk memilih DPRD II, DPRD I, DPR RI dan DPD), ngehonorin para pelipatnya, ngebayarin ongkirnya ke seluruh Indonesia, ngebayarin biaya promosinya, ngebayarin biaya pengamanannya, alamaaaaak...mihil amat yak pemilu kita ini. Ya mangkanya jangan sia-siakan.

Nah, nah, nah... Jadi plis plis plis, temen-temen nanti tanggal 9, gunakan hak pilihmu ya... Jangan nggak milih dan lalu  bikin revolusi kayak bapak yang kuceritain tadi.

Sekali lagi, politik itu menjadi kotor bukan karena banyaknya orang jahat di dalamnya, tetapi karena sedikitnya orang baik yang mau terlibat. Pilihan kita, menentukan masa depan kita, masa depan bangsa dan negara kita.

Sabtu, 22 Maret 2014

Obrolan Pelacur* (1)

*pelan-pelan curhat (pinjem istilah De yang kubaca di postingan Om Dani)

Suatu siang yang terik, aku masih melayani tamu karena tandemku sakit.
- Bu, itu beneran tuh, kantor ibu bebas korupsi
+ Insya Allaah...
- soalnya saya males bayar pajak kalau uangnya cuma dikorupsi
+ pajak yang bapak bayarkan,  dipakai seluruh departemen pak, beserta pemkot dan pemprov seluruh Indonesia.
- iyaa tapi kan ada temen ibu yang korupsi
+ maaf pak, bapak salah alamat. Seharusnya bapak bicara langsung kepada yang bersangkutan, dan kepada semua orang yang korupsi. soalnya saya nggak kenal sama mereka
- para pemimpin, pejabat juga sama aja. Sudah dipilih malah korupsi, makanya saya males nyoblos, golput aja. *emalahcurcol
+ kalau bapak nggak milih, bagaimana Bapak melakukan perubahan ?
- revolusi  *semangatbanget
+ :)  revolusi ? Siapa yang memimpin ? Tetep aja Bapak milih pemimpin revolusi. Siapa yang jadi korban ? Malah tambah banyak. Jangan-jangan uang pajak yang bapak bayarkan,  yg sudah  jadi gedung, jembatan, pasar, bakalan musnah percuma jadi korban revolusi
- Pokoknya revolusi
+ :) terima kasih, selamat siang. 

Hadeuuuh... Cepek deh enggak sih ? Klo ada klien yang gitu. Iih, sebenernya sih sudah pengen pasang tampang tanduk. Tapi kan gak boleh ya... harus tetep senyum.
Mungkin seharusnya gak perlu ditanggepin juga, tapi klo sudah lapar, panas, capek trus disinisin gitu,  ya pengen 'ngelawan' juga jadinya.
Sejujurnya  dalam hati banyaaaaaak banget yang mau diomongin sama orang-orang seperti di atas.
Antara lain :
Ya kalau Anda  pe en es-pe en es juga, gak usahlah sok-sok ngomongin pembayaran pajak. Wong pajak Anda ditanggung pemerintah kok. 
Atau kalau gaji Anda dibawah 2 juta*sebut angka*, gak usah juga ngomongin bayar pajak. Lho kok ? Yaeyalah, kan penghasilan tidak kena pajak sekarang 2.025rb.
*yang bingung soal pajak bisa tanya Mbak Tituk hihi seminggu ini mbak Tituk dah dapat tugas jadi konsultan 

Dan kalau kita bandingkan,  apa yang sudah kita nikmatin dari bangsa dan negara ini  jauuuuh   lebih banyak dari jumlah yang kita 'bayarkan'.  Oke, ini gue aja kali ya.. yang pe en es.
Yang bisa aku sebutin dari nikmat-nikmat itu misalnya:
* Jalan yang lumayan halus, wajarlah ada bolong, orang cantik aja bisa jerawatan.
* penerangan yang lumayan meski masih remang di sana sini, minimal jalur yang aku lewatin.
* keadaan yang lumayan aman -meski masih ada kejahatan, minimal kita masih 'berani' melepas anak keluar rumah buat sekolah dan aktivitas lain.
* Taman-taman dan trotoar yang mulai indah *di bandung ini mah* lumayan buat popotoan
* Pemerintahan yg digaji pakai 'uang pajak kita' yang terus menuju good governance
    - punya gubernur yang baik, satu-satunya  gubernur yang kiprah dan prestasinya banyak mendapat penghargaan.
     - punya walikota yang baik, satu2nya walkot bandung yg berani tanda tangan kontrak dengan KPK utk anti gratifikasi . Dan meski baru 6 bulan menjabat, perubahan sudah terasa di sana sini.

Ya itu baru sebagian kecil. Masih panjang daftarnya klo mau dibuat.
Seneeeng nggak siih ?
Ya kalau aku sih seneng. Bahkan terselip percaya diri, aku sudah mengambil peran, dan menjalani peran tsb meskipun kecil.
Aku sudah memilih orang yang tepat untuk mewakiliku dan memimpinku menuju perubahan.. Dan akupun  menjadi bagian dari upaya perubahan itu.
Dunia politik sering dibilang kotor. Kekotoran itu bukan karena banyaknya orang jahat di sana, tapi karena sedikitnya orang baik yang bersedia terlibat.

> bersambung <