Kamis, 29 Mei 2014

Ketika Musim Cukur Tiba

Setelah lihat IG Mamak soal Gama yang baru potram, jadi keidean mau posting soal potram juga.
Seputar cukur anak - anak ini, aku dan Abi lebih banyak menangani sendiri.
Dari Fathimah sampai Faiz, alhamdulillah kami selalu mencukur  tepat di hari ketujuh, bersamaan dengan publikasi nama. Seperti yang diajarkan Rasulullah agar mencukur rambut dan memberi nama di hari ketujuh. Nama sudah disiapkan, tapi baru dikasih tau ke orang lain pada hari ketujuh itu.

Balik lagi ke cukur, rambut anak-anakku termasuk yang tipis tipis saat mereka bayi sampai dua tiga tahun gitu. Kalau yang cewek sampai sekarang masih aku yang motong rambut mereka. Karena rambutnya pada lurus ya tinggal kres kres aja model bob, kalau yang panjang malah tanpa model. Asal mendekin aja barang 3-5cm.  Yang cowok ini lho, Fikri gak masalah aku cukur sendiripun sampai TK. Kalau nggak salah Fikri mulai ke tukang cukur pas masuk SD.

Tapi, begitu sampai Faiz sekarang, alamaak, rambutnya sih nggak tebel tebal amat yak, tapi lebih tebal dari saudara saudaranya di usia yang sama.  Makanya dari tau kapan aku udah membujuk dia buat cukur bareng Abi ke tukang pangkas rambut. Satu kali dua kali Abi membujuk, nggak berhasil. Malahan pertama kali berhasil ke tukang pangkas rambut ketika diajak sama Bibi. Selain karena bareng Eka,  abis cukur dapat hadiah es krim pulak. Iya, bibi yang nraktir. Cihuy nggak coba...

Nah sejak saat itu hampir setiap 3-4 bulan ya Faiz musti ke tukang potram. Modelnya gimana ? Ngikutin kepala dia aja... model gundul yang baru numbuh gitu.... hihi ... kebayang nggak ?  intinya mah sisakan rambut setengah cm. Gitu aja.

Sampai saat ini aku baru dua kali nemenin Faiz potram. Tapi yang terakhir potram kemarin, si Faiz kasih syarat yang aduhai.
"Hayu, mau cukur sama Ummi, tapi potoin aku banyak banyak ya..." #gubrak
Sempat ada insiden juga. Pas nyampe tempat si Mang, antrian penuh. Yang lagi dilayani 2 orang. Yang nunggu 6 orang termasuk Faiz. Aiih.. daripada bete ya udah pulang aja.
Sore sehabis hujan ke sono lagi alhamdulillah kosong.
Antrian hanya 2 orang termasuk Faiz. Jadi cukurpun gak pake lama. Dan selfipun gak pake malu.
Ongkosnya juga gak pake mahal.
Lima ribu rupiah saja kakaak...

potram pertama sejak bukan bayi lagi, kira kira umur 2-3 tahun gitu deeh

ini potram pertama dianter ummi di tukang pangkas rambut
potram terbaru kemarin, ada adegan selfie segala
Eca-eca baca koran, padahal cuma lihat iklan mobil doang
show tiiimeee.... alhamdulillah tenang banget. karena dia udah niatin kali ye..

Selasa, 20 Mei 2014

Gerakan 20 Menit Mendampingi Anak

Bismillah,,, meneruskan pesan
Dari bu Netty Heryawan :

Serentak tanggal 20 Mei 2014 pukul 18.30 - 18.50 WIB se Jabar

Bentuk kegiatan :
membacakan buku untuk anak/makan bersama
ngobrol
peluk anak katakan kita sayang pada
mereka
ucapkan terima kasih atas kebaikan
mereka
maaf atas kesalahan kita kepada anak
Mendoakan mereka, dll

Hal ini dimaksudkan untuk mendekatkan anak dg ortu sehingga anak-anak kita tidak kekurangan kasih sayang.
(Netty Heryawan)

Semoga program ini berlanjut seterusnya. (Rencananya akan diulang saat hari keluarga nasional di bulan Juni, Hari anak di bulan Juli dan hari Ibu)

Tolong Bantu Sebar Ya

Minggu, 18 Mei 2014

Tentang Memberi

Mumpung libur, sedikit bernostalgia tentang saat-saat awal aku diajak mentoring oleh kakak kelasku.
Di dalam mentoring, kami memang tidak menekuni ilmu tafsir atau ilmu al Qur'an secara khusus, tetapi lebih ke pemberian motivasi agar lebih sungguh-sungguh mempelajari agama. Silakan cari sumbernya. Waktu itu yang ngehits adalah belajar di Ma'had Al Hikmah jalan Bangka. (Sampai sekarang masih ada lhooo... hanya berubah nama).
Selain itu, kami pun belajar untuk mempraktekkan ayat-ayat al Qur'an dan sunnah  dalam kehidupan sehari-hari.
Aku semangat banget saat itu. Soalnya seperti dapat kakak yang baik hati. Namapun mahasiswa, jauh dari orang tua. Perhatian dari kakak mentor itu kadang terasa bagai tetesan air di padang tandus... *nggaklebaylho...

Aku yang saat itu sangat buta pelajaran agama, sedikit demi sedikit mulai terdorong untuk mempelajari dan membaca buku sendiri. Bahkan untuk menutupi biaya beli buku, pas tingkat dua aku 'buka cabang' toko buku secara konsinyasi. Jangan sangka toko itu besar ya...  ini cuma sebuah rak yang kusimpan di pojok rumah kontrakan. Ya alhamdulillah lah... ada aja akhwat yang beli.
Aku juga ingat uang rapelan gaji dulu aku belikan Tafsir Ibnu Katsir yang sampai sekarang masih nongkrong manis di rak bukuku.

Eh iya, cerita soal mraktekin ayat Al Qur'an ini aku jadi teringat satu peristiwa yang sampai sekarang selalu membuat hangat perasaanku.

Pada suatu ketika, ada seorang kakak mentor yang pakai kerudung baru. Sebagai cewek, biasalah kita komen komen 'iiih...... baguus, ih baguuss' gitu kaan.... dan beliau pun tersenyum sambil berucap alhamdulillah.
Beberapa hari kemudian, kakak mentor  itu berkunjung ke kontrakanku sambil memberikan sebuah bungkusan. Pas aku buka, isinya  adalah.... kerudung yang kubilang bagus itu!
Subhanallah....
Kejadian tersebut sangat berkesan bagiku. Sungguh aku mendapatkan pelajaran tentang keikhlasan dan tentang kecintaan terhadap saudara seiman. Kerasa banget bahwa dia memberikan itu dengan cinta. Sesuatu yang dia cintai, dia berikan dengan cinta. Akupun mendapat gambaran secara langsung bagaimana seseorang itu ternyata bisa, mencintai saudaranya lebih dari mereka mencintai dirinya sendiri. Bukan lagi melalui teori, tapi melalui praktek nyata.
Berlandaskan motivasi yang tinggi. Bukan untuk mendapatkan ucapan terima kasih atau sekedar balasan dari manusia. Pastilah dia mempunyai keyakinan yang jauh melampaui itu semua.
Makanya pas kemarin aku tilawah sampai ayat ini :

(لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ) [Surat
Ali Imran : 92]

"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya."

Langsung deh keinget sama mbak mentor itu.
Jazakillah khairon katsiron, sudah membangunkan pondasi yang kokoh untukku. Semoga aku bisa terus istikamah mempelajari dan mempraktekkan agama sampai akhir hidupku. Amiin