Selama ini aku selalu membayangkan, alangkah sungkannya memasuki rumah-rumah yang dijaga satpam gitu. Nanti gimana, bilang apa kalau ditanya-tanya. Tapi alhamdulillah, pas aku mendekati pintu gerbang rumah, pak satpam bertanya ramah. Dan ketika kami menyampaikan maksud kedatangan, langsung di persilakan masuk.
![]() |
| teras depan |
![]() | |
| Foto Bapak Oded M. Danial beserta Ibu |
Kami langsung diminta masuk ke ruang tengah yang super luas. Nampaknya ruangan ini sering dipergunakan untuk aneka pertemuan.
Ibu Siti menemui kami semua yang jumlahnya mendekati duapuluh orang dengan penuh kehangatan dan kekeluargaan. Kami duduk lesehan dan diminta memperkenalkan diri satu demi satu.
Jamuan kue-kue tradisional dan buah segar menambah kehangatan. Kami merasa diterima. Sama sekali tidak ada jarak.
Karena adzan dzuhur telah berkumandang, beliau mempersilakan kami untuk shalat. Dan ketika selesai shalat, betapa tersanjungnya kami, ternyata beliau sudah menyiapkan hidangan spesial berupa nasi soto khas Jawa Timur. Kenapa spesial ? selain rasanya yang mak nyuus, tentu saja karena soto ini dimasak sendiri oleh Ibu Siti Oded.
Sekilas beliau bercerita, bahwa memasak makanan untuk banyak orang adalah hal yang biasa dilakukan sebelum menjabat ibu wakil walikota, yaitu menyediakan makan untuk para karyawan di tempat pembuatan es krim milik Bapak Oded M. Danial yang jumlahnya belasan orang. Dan ini no art ya... NO ART ! (hihi penting ya.... harus di capslock). Dan tentu saja aktivitas masak memasak ini tidak menyita waktu beliau dan aktivitas dakwah beliau di beberapa majelis taklim. Apalagi mengganggu waktu ibadah beliau.
Dapat bocoran dari teh Indari, beliau ini sudah terbiasa setiap hari tilawah minimal 3 juz.
Nggak heran kalau putri bungsu beliau yang baru menginjak 6 tahun sudah mempunyai banyak hafalan Al Qur'an. (ihiks.... langsung pasang cermin besar - besar)
Dan subhanallah, begini ya.. rasanya silaturrahim dengan orang sholeh. Baru melihat keseharian aja sudah banyak hikmah dan pelajaran. Dan makin terpukau ketika beliau memberikan petuah kepada kami semua.
Menurut beliau, silaturrahim merupakan salah satu saat di mana kita dapat berbagi rejeki. Bukan saja rejeki yang berupa materi ya... tetapi berbagi atas semua yang Allah karuniakan kepada kita semua termasuk ilmu pengetahun. (Dalam konteks penulis dan blogger kali bisa dimasukkan ya.. silaturrahim melalui blog walking).
Beliau berpesan kepada para penulis dan calon penulis, khususnya penulis perempuan, agar menggali potensi diri sedalam-dalamnya. Jadilah penulis perempuan yang senantiasa menampilkan tulisan dan sosok-sosok yang membawa kebaikan, misalkan wanita -wanita shalihah di sekitar Nabi dan Rasul. Salah satunya adalah Khadijah, pernah nggak terbayangkan bagaimana dukungan Khadijah terhadap aktivitas Rasulullah. Di rumah Rasul tentu banyak aktivitas, banyak tamu, menyediakan jamuan dsb. Dan beliau tidak lalai dalam mendidik anak-anak. Daaaan.. Khadijah tetap mengurus bisnisnya. Super sekali kaan..
Kemudian, setelah terbiasa menulis tentang kebaikan dan sosok pembawa kebaikan, beliau menyemangati agar para penulis perempuan berusaha menjadi sosok yang menginspirasi dan mampu menduplikasi kebaikan. Bukan hanya di dunia maya, tetapi juga dibawa ke dunia nyata. Karena ada orang-orang yang tidak tersambung dengan dunia maya.
Tingkatkan kepedulian terhadap sekitar, bergaullah dengan tetangga, ikutlah arisan, ikutlah kegiatan di masyarakat, dan sebarkanlah kebaikan yang kita tulis itu melalui pertemuan-pertemuan tersebut agar wilayah kebaikan semakin luas.
Subhanallah... lengkap sekali nasehatnya, Bu...
Terima kasih sudah menerima kami semua...
![]() |
| teh Indari, Qanita (putri bungsu bu Siti), dan Ibu Siti Oded |



