Selasa, 24 Juni 2014

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 45 - Siluet


kuncup melati menyambut pagi
 Foto ini saya ambil di halaman rumah. pot melati saya angkat ke tembok pagar, dan saya arahkan kamera ke arah gunung. Foto diambil pagi hari,  tanggal 10 Mei 2014

Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan 45 Siluet oleh Yofangga.

Minggu, 22 Juni 2014

#Kupang : Air Timor

Su lama sonde baomong bahasa Kupang, ternyata beta kangen ju.
Oi, jang kira beta ini hebat ho, bisa aneka bahasa / logat Nusantara
Beta hanya nekat sa....
Apalagi orang Timor ada kata, siapa su minum air Timor, son bisa lupa. Nah, beta ada lima taun ini minum air Timor.
Be pung lidah su kena jampi, mengkali.

Bagaimana ko,  rasa air Timor yang mengandung kapur itu ?
Dia pung rasa seperti air putih biasa. Pas lu minum, mungkin sonde tercium bau apa, tapi pas lu telan, sampai tenggorokan, seperti ada yang tersangkut. Eh ini kata be pung paitua ho...  Beta sendiri sonde rasa itu.
Kalau katong masak air di kuali, maka itu kapur sebagian tertinggal di kuali. Dinding kuali menjadi putih.
Kemudian sebelum katong simpan di teko,  saring dolo itu air dengan saringan kain yang banyak dijual di pasar Oebobo. Kadang ada yang pakai dua-tiga saringan sekaligus. Nanti sebagian kapur ju tertinggal di saringan. Katong musti sering-sering cuci itu saringan.
Nah air Timor su siap diminum.

Jadi enak  ko? Sonde ..... sonde jauh berbeda seperti be pung paitua bilang, tetap saa... rasa kapur.
Tapi beta son punya pilihan lai. Bukan apa-apa, son ada doi buat beli aqua. Haha
Makanya, be ju son heran, siapa yang pi Timor dan dong tetap minum aqua, dong son bisa baomong bahasa Kupang.
Haa...


Ket :
Su : sudah
Jang : jangan
Baomong : bicara
Son/sonde : tidak
Pung : punya, (milik)
Be/beta : saya
Lai : lagi
Dong : dia orang/mereka
Pi : pergi
Katong : kita
Mengkali : barangkali
doi : duit

---------------------

sudah lama tidak bicara bahasa Kupang ternyata kangen juga.
Hoi, jangan dikira aku hebat ya... bisa menirukan aneka bahasa Nusantara, ini hanya soal nekat.
Apalagi kata orang Timor : barang siapa sudah minum air Timor, maka tidak mungkin lupa. Lidahku sudah kena jampi, barangkali.

Bagaimana rasa air Timor yang mengandung kapur itu ?
Rasanya seperti air putih biasa, pas kamu minum tidak tercium bau apa, tapi ketika di telan dan sampai tenggorokan, akan terasa ada yang tersangkut.Eh ini kata suamiku lhoo.... aku sendiri nggak merasakan itu.
kalau kita masak air di panci, maka sebagian kapur akan tertinggal di panci. dinding panci menjadi putih.
kemudian sebelum kita simpan di teko, air tsb disaring dulu dengan saringan kain -seperti di gambar- yang banyak dijual di pasar Oebobo. kadang  ada yang pakai dua-tiga saringan sekaligus.Nanti sebagian kapur juga akan tertinggal di saringan. Kita musti sering sering mencuci saringan tsb.
Nah, air Timor siap di minum.

Jadi enak kah ? Enggak... enggak jauh beda dengan apa yang dikatakan suamiku. Tetap saja rasa kapur.
Tapi aku nggak ada pilihan lain, bukan apa-apa, nggak ada duit buat beli aqua. (th 2002 aku pindah dari Kupang, aqua udah 19rb/galon)
Makanya, aku  juga nggak heran, kalau ada yang tinggal di Kupang dan tetap minum aqua, dia nggak akan pernah bisa bahasa Kupang. Haha


Gambar saringan dari sini

Kamis, 19 Juni 2014

Pengumuman UN SMP

Sebenernya Sabtu kemarin ada acara Internalisasi Corporate Value di Sariater.  Tapi kan hari itu juga ada acara pengumuman dan perpisahan di sekolah Fikri. Hadoooh... dilema kakaaak...
Apalagi pas aku bilang ke Fikri, "Fik, Sabtu sama Abi aja ya.. Ummi ada acara kantor"
Jawaban Fikri sepotong dan jleb
"Ih .. Ummi mah bukannya mentingin kepentingan anaknya"
Wkwkwkwk... siapa yang tega coba ?
Akupun menghadap pak Bos, apakah kiranya bisa ijin dari acara ICV dengan menyampaikan alasannya. Alhamdulillah pak Bos mengijinkan dengan syarat aku membuat surat dan melampirkan copy undangan dari sekolah. Alhamdulillah...

Pada hari pengumuman dan perpisahan di sekolah Fikri itu, anak laki-laki diminta memakai jas dan berdasi. Anak perempuan memakai pakaian tradisional. Waaah... anak anak kelas 9 jadi kelihatan cantik dan ganteng dan nampak lebih dewasa.

Pas acara perpisahan ini juga dijelaskan tentang program pak Walikota yang sudah dikoordinasikan dengan instansi terkait, bahwa mulai tahun ini di kota Bandung berlaku sistem rayon untuk pendaftaran sekolah. Sistem cluster yang membedakan peringkat sekolah dihapus.
Kenapa pakai rayon ? Supaya anak sekolah di lokasi yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Diharapkan dengan ini akan mengurangi polusi dan kemacetan, serta meningkatkan kualitas sekolah di semua rayon. Dengan sistem cluster, anak pinter hanya terkumpul di sekolah tertentu. Sehingga ada istilah sekolah cluster 1,2,3 dengan passing grade yang berbeda-beda. Nah sekarang enggak ada itu.
Sebagai insentif/penghargaan dari pak Wali untuk anak-anak dan orang tua yang memilih menyekolahkan anaknya di sekolah yang terdekat dengan rumah, pak Wali memberikan tambahan skoring 10% dari NEM. Ini berlaku hanya untuk pilihan pertama.
Pilihan pertama bebas mau di rayon manapun, kalau di luar rayon tanpa tambahan skoring.
Pilihan kedua harus di rayon sendiri dan tanpa tambahan skoring. Jadi... tambahan skoring 10% itu hanya buat anak anak yang memilih sekolah di rayonnya sebagai pilihan pertama
Hmmmmmm..... tarik nafas dulu panjang panjang. Musti lihat dulu berapa NEM Fikri nih, karena SMA tempat pak Wali sekolah dulu beda rayon sama tempat tinggal kami. :p

Selesai penjelasan sistem rayon dari pak Kepsek, diumumkan nama-nama anak yang menduduki peringkat 10 besar. Dag dig dug ? Iya. Soalnya kan dari 4x Try Out, dua kali Fikri masuk 10 besar. Walaupun nilainya masih seputar 34-35 gitulaaah... tapi kan gossipnya soal UN lebih mudah dari soal TO hehehe
Jreng jreng jreng...... ternyata nilai peringkat 10-nya aja 36,6 . Kalau Fikri nggak masuk, berarti nilainya kurang  dari itu ?
Pertanyaan berikutnya : Be-ra-pa ?

Memang awalnya Fikri pengen sekolah di kota, tapi pas Abi memberi gambaran resiko sekolah di kota yang antara lain musti berangkat lebih pagi dan pulang pasti juga lebih sore, belum eskulnya, belum kerja kelompok, belum tugas tugas rumah juga harus tetap dikerjakan (Fikri bertugas mengisi air, cuci piring pas gilirannya dan membersihkan kamar+lantai atas setiap hari) beberapa hari kemudian Fikri nampak bimbang. Ya intinya ada 'harga' yang harus dibayarlah...  Tapi kubilang kita boleh merencanakan, tapi teteeep lihat NEM dulu.

Setelah pengumuman-pengumuman, semua orang tua/wali murid  dipersilakan masuk ke  kelas anaknya masing - masing untuk mendapatkan nilai. Aku udah nggak sabar pengen lihat nilai Fikri berapa.
Berapa ?

B. Indo : 8.20
Matematika : 9.75
B. Inggris : 9.40
IPA. : 8.50
Jumlah : 35,85

Apakah itu bagus ? Tanya Sondang.
Ya baguslaaaah.... kalau sendirian. Atau kalau dibandingkan NEM Mbak tahun lalu, apalagi kalau dibandingkan NEM Abi dan Ummi yang 5-6-7  *qiqiqi mengingat NEM diri sendiri jaman baheula.
Ntar kalau dibilang kurang bagus, seperti tidak mensyukuri hasil jerih payah anak.
Masalahnya....Fikri bakal bersaing dengan anak lain yang nilainya lebih bagus dari nilai dia. Kan kan kan? Dan kita nggak tau berapa banyak.

Melihat nilai tersebut, kesimpulannya Fikri mau nggak mau harus memilih sekolah sama dengan Mbak. Yang katanya ada penampakan itu... qiqiqi
Dan sampai kemarin, mereka berdua  masih pegang kesepakatan, katanya nanti akan pura-pura nggak kenal ? Whaaaat ?
Yah, biarin ajalah, namanya juga ABG labil, mari kita lihat gimana nantinya.