Selasa, 26 Agustus 2014

Pameran Buku Bandung : Satu Tempat Banyak Manfaat

Ketika mengikuti suami pindah tugas ke Bandung, aku bahagia sekali. Karena ternyata Bandung adalah salah satu kota yang hampir setiap saat ada pameran. Mulai dari pameran properti, pameran komputer, pameran baju muslim, pameran  furniture daaaaan... tentu saja pameran buku.
Menurutku Bandung ini termasuk surga buku. Mengapa bisa ? Ya, karena di Bandung ada pasar buku murah yang terkenal, namanya pasar Palasari. Di sana bisa beli buku baru ataupun bekas dengan harga miring. Aku mendapatkan buku seri 30 tahun Indonesia Merdeka yang kubaca saat SD dulu ya di pasar Palasari itu.
Selain itu, Ikapi Jabar  pun secara rutin menyelenggarakan  Pameran Buku Bandung. Kalau pengamatanku tidak salah, biasanya pameran ini diselenggarakan pada bulan Februari dan Agustus setiap tahunnya. Di sela- sela itu ada juga Islamic Book Fair. Saat pameran inilah saatnya panen buku-buku super murah. Sering aku mendapat buku bermaanfaat dengan harga lima ribu rupiah saja.
Belum lagi beberapa toko buku yang tersebar di berbagai tempat. Tinggal pilih deh ya.. mau belanja di mana sesuai selera dan isi dompet kita.

Sejak tinggal di Bandung inilah koleksi buku di perpustakaan keluargaku melesat tajam. Lima tahun yang lalu ketika kami pindah ke rumah baru, anak-anak iseng menghitung jumlah buku. Ternyata hampir seribu buah di luar majalah koleksi. hihi.. nggak nyangka.  
"Buku adalah jendela dunia, memperkaya pengetahuan dapat mengantarkan kita pada kesuksesan" Makanya, aku dan suami sepakat untuk membuka jendela ini lebar-lebar. Ini adalah salah satu cara kami mempersiapkan mereka menapaki jaman. Selain itu, anak-anak biasa saling meminjamkan buku dengan teman-temannya di akhir pekan. Jadi buku-buku koleksi kamipun berputar ke arena yang lebih luas.

Di Pameran Buku Bandung ini, biasanya digelar acara-acara pendukung lainnya. Inilah yang aku suka. Sekali datang ke suatu tempat, banyak manfaat yang aku dapatkan. Yang sudah lalu-lalu misalnya, bedah buku, berbagi tips menulis, workshop, lomba-lomba untuk anak-anak dsb.
Selama beberapa tahun di Bandung, pameran buku ini kulihat selalu ramai pengunjung. Kadang ada juga rombongan anak-anak sekolah dengan seragam merah putih atau putih biru dengan ditemani guru mereka. Beberapa kali aku juga bertemu dengan pengunjung yang datang dari luar kota Bandung. Misal dari Soreang, Majalaya, Sumedang, bahkan aku pernah ketemu yang dari Tasikmalaya. Kok tahu ? Ya kan aku suka berkenalan dengan teman baru. Biasanya pas istirahat sholat atau pas makan di sekitar arena pameran. Dan syukurlah, selama ini kantorku selalu dekat dengan lokasi pameran. Meski aku udah pindah tiga kantor semuanya tinggal ngesot ke arena pameran di Gedung Landmark, Jalan Braga. Jadi aku bisa bolak-balik ke arena pameran dengan memanfaatkan jam istirahat kantor. Asyiiik kaaaan....
Untuk tahun ini  dengar-dengar ada acara baru yang digelar selama pameran. Yaitu temu blogger Bandung... aduuuh... udah nggak sabar pengen ikutan. Semoga jadwalnya pas aku bisa. Selain itu yang menarik juga ada lomba menulis 100 menit yang diikuti 100 guru bahasa Indonesia. Waduuh.. sayang ya.. aku bukan guru, jadi nggak bisa ikutan acara tsb. Selain itu ada juga pameran replika mummi Fir'un. Penasaran ? Datang aja ke Braga.

Nah buat teman-teman yang suka berkunjung ke pameran, khususnya pameran buku Bandung, aku punya kiat-kiat agar dapat memanfaatkan secara optimal pameran ini.
1. Datanglah hari pertama pameran. Masih sepi ? Iyaaa... Justru itu yang kita cari. Kelilinglah pameran, amati satu persatu, penawaran-penawaran apa yang ada pada stand tsb. Untuk kunjungan pertama ini, nggak lama nggak papa. Yang penting kamu sudah mendapatkan infonya.
2. Mintalah buku petunjuk pameran lengkap dengan brosur-brosurnya. Biasanya dibagikan di pintu masuk. Baca baik baik buku panduan tersebut. Perhatikan acara-acara pendukung yang digelar selama pameran, tentukan acara mana yang akan kita ikuti. Kalau mau ke pameran bersama keluarga, aku saranin ke sana pagi hari ketika pengunjung pameran belum terlalu ramai dan anak-anakpun masih fresh.
3. Belilah buku diskon yang benar-benar murah, biasanya ada yang dijual seharga lima ribu atau sepuluh ribu. Jangan ragu-ragu untuk memborongnya, karena buku-buku tersebut bakal laris manis dan tentu saja cepat habis. Buku yang kamu beli itu bisa untuk menambah koleksimu, bisa untuk hadiah buat adik atau keponakanmu, bisa juga disumbangkan ke perpustakaan dekat rumah, atau buat merintis perpustakaan baru.
4. Kalau kamu takut dompet jebol karena nggak nahan lihat buku segitu banyak, mana diskon pula ya... maka tentukan dari rumah  judul buku apa yang akan kamu beli. Kamu bisa memilih dengan cara membaca sinopsis atau reviewnya. Misal dari Goodreads atau dari blog khusus buku. Daaan, bawa uang secukupnya aja. Ini penting. hehe terus terang ini aku banget ya... paling nggak nahan kalau lihat buku. Jadi kalau ke pameran aku hanya bawa uang sesuai budget yang sudah aku siapkan.
5. Sambil kamu keliling-keliling melihat-lihat, pasang telingamu baik-baik. Kenapa ? Karena di stand-stand tertentu sering ada diskon dadakan. Yup, diskon dadakan yang dibatasi waktu. Jadi..... manfaatkan betul momen ini. Siapa tahu kamu pas rejeki kamu ketemu acara ini.
6. Kalau kamu nggak mau 'kehabisan duit' gara-gara pameran buku ini, maka jadikanlah pameran sebagai sarana cari duit. Misalnya : kamu bisa mendaftar jadi reseller salah satu penerbit buku. Katakan kamu mau jadi reseller produk Syaamil Quran, kamu bisa lihat halaman ini. Karena selain memberikan diskon khusus buat konsumen, Syaamil juga memberikan diskon khusus buat para reseller.

Naah, sudah lelah keliling pameran ? Saatnya kamu beristirahat sejenak di  teras gedung Landmark. Kamu bisa mencicipi kuliner yang jarang ada. Misal : kerak telor. Iyah, ada lhooo... biasanya kalau kamu keluar gedung si mamang penjual ini ada di sisi kiri dekat perbatasan dengan Bank Mandiri. Kuliner Bandung lain ? Tentu saja ada. Bakso, siomay, batagor, es campur dan lain-lain. Jadi.. siapkan perutmu ya.....
Jangan lupa, datang ke pameran buku Bandung. Catat tanggalnya 






Kamis, 07 Agustus 2014

#ReboNyunda : Patenar - tenar di Google

Kedahna kamari nya... nyieun tulisan ieu. Tapi kamari abdi mah riweuh njajap wargi ka Rumah Sakit Cicendo, jabaning batre hape oge tos ngedrop wae, jadi we... teu tiasa #rebonyunda.

Tah iyeu aya gambar nu pikaseurien.
"Mun aya nu neangan urang, bejakeun teangan weh  di Google"
Tapi, mun urang ngaku-ngaku 'melek internet', sok atuh, tes ketenaran. Ketik nami di Google lajeung di-enter.
Cobian nyaa....

----------------------------------
Lomba Tenar di Google

Seharusnya kemarin ya, bikin tulisan ini. Tapi kemarin sibuk ini itu nganter keluarga ke Rumah Sakit Cicendo, mana hape batre ngedrop melulu, jadi we... gak bisa #rebonyunda.

Nah ini ada gambar yang bikin senyum nih,
" kalau ada yang nyariin aku, kasih tau  cari aja di Google"
Tapi, kalau kita ngaku 'melek internet' silakan dicoba, tes ketenaran.
Ketik namamu di Google, lalu tekan enter.

Coba ya....

Minggu, 03 Agustus 2014

Sehari Bersama Al Qur'an

Membayar janji yang pernah kuucapkan di postingan lalu, baiklah aku mau cerita sedikit tentang acara Yaum ma'al Qur'an atau lebih familiar dengan sebutan Sehari Bersama Al Qur'an.
Selama tinggal  di Bandung, aku sudah beberapa kali Ramadhan  ikut acara seperti ini, tapi Ramadhan kemarin itulah yang paling berkesan buatku. Selain tempatnya di masjid yang baru pertama aku kunjungi, yaitu Masjid Al Muttaqin Gedung Sate, format acara tahun ini juga sedikit berbeda dengan tahun tahun sebelumnya.
Misal, pernah dalam acara sehari bersama Al Qur'an itu kegiatannya  hanya setoran aja. Jadi semua peserta diminta setor juz tertentu kemudian dites yang baca ayat lompat lompat trus peserta nyambungin macam di acara tahfiz di tivi itu lhooo
Pernah juga dalam sehari kita membahas satu surat tertentu, pagi menghafal surat itu, siangnya dijelaskan tafsir ayat demi ayat.
Trus pernah juga model khataman gituu... jadi per orang dibagi tilawah berapa juz, dan seharian itu tilawah seluruh peserta sejumlah 30 juz.

Nah kalau yang kemarin, dalam sehari itu kita dipersilakan mengatur sendiri kegiatannya, yang penting ada aktivitas sbb :
* tilawah (nerusin tilawah masing-masing)
* menghafal on the spot (terserah juga tergantung kemampuan, mau menghafal berapa ayat)
* setoran hafalan atau  biasa disebut muraja'ah kepada seorang ustadzah pembimbing (disebut musyrifah) yang timnya sudah disiapkan panitia.

Tiga kegiatan tersebut dilaksanakan dalam waktu 5 jam  diselingi shalat. Nanti di akhir acara, peserta lapor ke musyrifahnya  sudah baca berapa juz, sudah menghafal berapa ayat dan sudah muraja'ah berapa surat/juz.
Setelah ashar baru ada ceramah dari salah satu hafidz yang terkenal yaitu Ustadz Abdul Aziz dari Lembaga Tahfiz Al Hikmah -Mampang Jakarta.

Aku sendiri, karena Sabtu pagi itu masih ada acara di sekolah Faiz, baru habis zhuhur berangkat ke masjid, dan jam 4 udah harus berdiri pulang biar gak kemaleman di jalan. Hiks, dipikir-pikir ya sayang juga gak ikut full seperti tahun tahun sebelumnya. Tapi segitu juga udah alhamdulillah. Dapat semacam feel dan touch dari para musyrifah .

Pas menjelang ashar para musyrifah diminta maju ke depan. Subhanallah  ternyata semua musyrifah adalah para hafizhoh 30 juz. Padahal ada yang anak ITB kayak musrifahku. Asalnya dari Aceh. Subhanallah...
Kemudian panitia memanggil juga siapa siapa diantara peserta yang hari itu (hari ke 21 Ramadhan) sudah khatam minimal 3 kali. Ada beberapa peserta maju ke depan. Daaaan... mendapat hadiah dari sponsor (Nuun Collection). Alhamdulillah, berkah bulan ramadhan.

Setelah itu ketua panitia Ust. Hery Saparjan, S.E, Al- hafidz, meminta para musyrifah berbagi tips menghafal Al Qur'an.
Ada beberapa poin yang bisa kutangkap, yaitu ketika kita berazzam utk menghafal Al Qur'an, berarti kita harus meningkatkan pengorbanan waktu kita untuk berdekat-dekat dengan al Quran. Kalau istilah usdz Hery : sudahkah kita 'berlelah-lelah' bersama Al Qur'an.
Kemudian Ustadzah Lana Salikah, S.Pd.I-AlHafizhoh mesyaratkan hitungan atau standar berlelah-lelahnya itu dalam ukuran  jam atau juz. Sehari minimal 5 jam. Atau 5 juz. Bisa dilakukan secara bertahap. Asalkan kita berkomitmen.
Niat dan doa. Mohon dimudahkan sama Allah.
Contoh 2 jam sebelum tidur (jam 9-11 malem) 2 jam pas bangun tidur (jam 2-4 pagi) dan satu jam lagi ba'da subuh / siang pas istirahat. Diatur atur aja sesuai kesibukan kita. Intinya sih memang mengurangi jam tidur.
Beliau juga menambahkan, hendaknya kita punya juz favorit sebelum kita menghafal 30 juz. Misal, 3 juz di awal, 3 juz di tengah dan 3 juz di akhir.
Dan ramadhan ini adalah moment untuk 'berkomitmen'. Buatlah program dari ramadhan ke ramadhan. Berapa kali kita akan khatam per bulan, berapa juz akan kita hafal, dsb. Dengan demikian, 11 bulan ke depan itu akan jadi waktu yang sangat pendek.

Selanjutnya pas ba'da ashar sempat ikut sebentar sesi ustz Abdul Aziz.
Menurut beliau, ada yang memandang sebelah mata terhadap acara 'sehari bersama Al Quran'. Ngapain sih... Beliau memberikan tantangan, kalau gitu hayu atuh seminggu atau sebulan bersama Al Quran. (Sambil tersenyum) sehari juga gak hadir semua, gimana mau seminggu atau sebulan. (Astagfirullah, ini termasuk aku yang hadir hanya setengah acara)
Kata beliau : kalau masalah tahsin tilawah, mungkin metode berbeda -beda.  Tapi untuk masalah "interaksi dengan Al Qur'an" semua muslim sama.
Kalau sudah niat, udah komitmen untuk meningkatkan interaksi, pasti bisa mengatur waktu untuk Al Quran.
Sebaliknya,  kalau belum ada niat, meski ada waktu, ada kesempatan , tetep aja punya alasan. (Jleb !)
Beliau juga menjelaskan sedikit tentang pengaduan Rasulullah kepada Allah SWT bahwa diantara umat Islam akan ada yang menjadikan Al Quran sebagai sesuatu yang ditinggalkan. menurut Ustadz, kadar meninggalkan-nya beda beda.  makin jauh seseorang dengan kitabullah, makin berani dia menentang aturan Allah. Nauzhubillah...

Ya begitulah teman teman, sedikit cerita tentang sehari bersama Al Quran.  Semoga kita-kita bukan termasuk yang tengah berjalan menjauhi Al Quran. Tapi sebaliknya... selalu mendekat... mendekat dan mendekat lagi sampai Al Quran itu 'mendarah daging' mewarnai kehidupan kita. Aaamiiin.
Mungkin untuk tahap awal kayak saya ini, belum bisa lah... sehari 5 jam. Baru sebatas #odoj atau kira-kira satu jam. Boleh laah... kita tambah 15 menit buat mengulang hapalan, atau 15 menit untuk 'deposit' tilawah besoknya... terserah yang penting konsisten. Yuuuk ? Yuuuk.....