"Ummiiii.....jangan lihat ke hape terus, sini lihat aku"
Itu sepotong kalimat yang Faiz ucapkan beberapa waktu lalu. Jleb kan ya..
Sejak saat itu aku berkomitmen untuk tidak memainkan hape dan gadget lain selagi ada di dekatnya. Maklumlah ya.. sebagai ibu bekerja, waktu bersama anak-anak itu sangat sangat minim. Tapi meski waktu minimal, menjadi tugas seorang ibu untuk mengusahakan agar waktu tersebut berfungsi maksimal.
Terus terang, aku sendiri bukan termasuk yang mengharamkan gadget buat anak-anak. Tetapi aku membatasi mereka dalam memainkannya. Misal untuk Faiz, aku masih batasi 15 menit setiap kali pinjam. Ya kalau dia pinjam sehari dua atau tiga kali, kan udah lama juga tuh, itungannya.
Untuk semua anakku, berlaku peraturan SMP dulu baru punya gadget. Kenapa ? selain alasan ekonomis tentu saja, kami menilai anak-anak belum perlu punya gadget sendiri. Kebetulan SD mereka di dekat rumah, jemputan udah ada. Nggak pergi ke mana- mana sepulang sekolah. Ya sudah, kalau perlu menelpon ke telpon rumah saja. Terus alhamdulillah, pihak sekolah menyediakan telpon sekolah untuk dipinjam dalam hal ada berita / kejadian penting sehingga harus menghubungi orang tua. kompensasinya mengisi kecleng yang disediakan. Ya sudah too....
Untuk yang besar-besar, diusahakan habis maghrib no gadget. Habis shalat, mengaji sebentar, ngobrol-ngobrol, makan malam. Ya jangan sampai ketika di rumah, malah semua sibuk dengan gadget masing-masing.
Untukku sendiri, aku nggak terlalu muluk dalam memilih gadged dan kontennya. Kalau ditanya pilih mana dari kedua hal tersebut, ya aku nggak bisa misahin. Gadget dan konten saling mempengaruhi. Contoh, aku pernah beli tab dengan merk yang sedikit abal-abal karena ngejar harga murah, ya untuk konten tertentu nggak bisa dibuka di tab tsb. Nggak usah yang aneh-aneh atau spesial, mau IG-an dan nge-Path aja nggak bisa. Mau bbm-an, terbatas memori. Tiap hari dapat notifikasi "memori Anda sudah hampir penuh, mohon hapus sebagian" atau semacam itu. Kan bete kaan kan kaan.. Lebih bete lagi ketika anak-anak ngolokin, makanya Mi... beli gadget tuh yang bagus sekalian...
Kalau dengan bahasaku sebagai orang awam, gadget idaman menurutku harus mempunyai beberapa hal sebagai berikut :
1. Daya dukung fisik : kuat, jangan sekali jatuh langsung berantakan casing kemana batre kemana, bentuknya enak dipandang, enak dipegang, mempunyai kualitas standar yang dibutuhkan kebanyakan pengguna saat ini. Internal memori minimal 4GB lah ya.. biar sedikit leluasa, bisa tersambung dengan media sosial, tentunya bukan untuk pamer-pamer semoga ya,,, tetapi untuk meraup kebaikan dari media tersebut sekaligus sharing juga. Internal memory itu bisa ditambah dengan external yang lebih besar, jadi kita bisa nyimpen e-book, ceramah, lagu-lagu, game anak, dsb. Yaiyalah, gadget ortu harus ada game anak, kan anak suka minjem. Browsernya mudah dipakai, ada kamera depan belakang yang memungkinkan kita untuk mengabadikan momen-momen istimewa, bisa bluetooth-an buat berbagi gambar/file dan aplikasi. Selain itu, tombol-tombolnya juga yang familiar.
2. Daya dukung non fisik : operating system, tentu saja ini ngaruh banget. Kalau OS-nya lemot, ya sudah deh, dadah dadah ajaaa.. Aku suka baca, dan waktuku di jalan ini lumayan banyak, jadi aku perlu pembaca e-bok, pemutar lagu, pemutar video, dsb. pendukung network yang oke tentu perlu juga, kita bisa pilih pakai jaringan GSM/3G/GPRS atau apalah istilahnya xixixix...Jadi mau pakai kartu provider manapun oke-oke ajaa.... Aku pernah tuh, pakai provider yang ngebonusin banyak banget untuk jaringan 3G, eh, hape aku nggak bisa pakai jaringan 3G. ya sudah deh, nasib... bonus tinggal bonus, ilang begitu saja.
3. Pendukung lain
Yang kukategorikan pendukung lain ini misalnya bonus-bonus yang dibundling oleh pabrikan si gadget. Pernah ya,.. beberapa tahun lalu ada gadget yang ditengarai memasukkan buku-buku syiah di dalamnya. Ya kalau aku sih, nggak akan nyalahin penerbitnya ya.. suka suka dia aja, nah kita sebagai pembeli atau konsumenlah yang seharusnya bisa memilih atau menyeleksi produk yang akan kita beli. Bagaimana caranya ? rajin rajin browsing, lihat review orang tentang produk tertentu. Sebisa mungkin jangan dari satu sumber, tapi dari banyak sumber yang pro dan kontra sehingga kita dapat membandingkan.
Kalau aku yang ditanya, konten apa yang aku butuhkan ;
* Al Qur'an dan terjemahan (termasuk bentuk auddio/mp3-nya ya.. jadi bisa bersuara gitu....)
Ini penting. Sekarang juga aku minta anak-anakku yang besar untuk memasang aplikasi Al Qur'an di hape masing-masing. Aku yakinkan bahwa mereka perlu. Awalnya anak-anak hare-hare gitu lah.. bermalas-malasan. Tapi kemudian si Ayuk malah mau masang sendiri, dia kirim aplikasi Al Qur'an via bluetooth dari hapeku ke hape dia.
* Buku-buku limited edition, semacam ensiklopedi, buku kajian hadits, tafsir, atau buku-buku lain tergantung si produsen gadget kerja sama sama penerbit mana. Terus terang, kalau beli buku-buku semacamtext book gitu kan mahal, lagian kalau buku ensiklopedi biasanya hard cover, susah dibawa-bawa, nah kalau ada edisi e-booknya kan enak tuh, bisa dibaca sambil nunggu di mana atau sambil perjalanan ke mana..
*Game anak Islam
iya seperti yang aku ceritakan di postingan kemarin, perlu game yang terkontrol, sukur sukur bisa sambil belajar mengenal huruf hijaiyah, atau angka atau al Qur'an. Jangan sampai kan ya.. anak-anak salah ngedonlot game yang ternyata tidak cocok dengan usianya. Misal karena ada unsur kekerasan atau pornografi.
Nah dengar dengar, Syaamil Qur'an punya tab dan note yang mempunyai kualifikasi tersebut. Harganya pun lumayan lah.. nggak terlalu mahal. Aku mau lihat besok ah, di Pameran Buku Bandung. Sukur bagus bisa nyoba di tempat. Jadi bener-bener bisa teliti sebelum membeli.
Jumat, 29 Agustus 2014
Kamis, 28 Agustus 2014
Cinta Al Qur'an - Cinta Syaamil Quran
Al Qur'an tidak akan pernah lepas dari kehidupan kita sehari-hari sebagai seorang muslim. Karena ajarannya merupakan tuntunan bagi kehidupan kita. Mempelajarinya merupakan kewajiban. Membacanya mendatangkan pahala dan kebaikan. Oleh sebab itu, mempunyai Al Qur'an (mushaf) yang pas dan cocok dengan kepribadian dan kebutuhan kita menjadi sebuah kemestian.
Di rumahku misalnya, meski anggotanya ada 7 orang, Al Quran yang ada di rumah lebih dari tujuh. Hehe bukannya boros lho ya.. tapi ini dimaksudkan untuk memudahkan aktifitas bersama Al Qur'an. Kalau buat menghafal memang sebaiknya kita tidak berganti-ganti mushaf. Tetapi untuk #ODOJ dan bulan Ramadhan biasanya aku mengambil mushaf yang sudah dipecah-pecah, di rumah ada yang pecahan per juz ada yang per lima juz. Selain lebih mudah dalam membawanya kemanapun kita pergi, aku juga lebih mudah dalam mengejar target tilawah pribadiku.
Untuk tilawah di rumah, kami lebih sering memakai mushaf bukhara, ukurannya A5. Paslah untuk harian. Ada mushaf ada terjemah. Pas juga dibawa ke pengajian.
Selain itu, aku juga mempunyai Al Qur'an Miracle.
Kelebihan dari mushaf ini adalah ada terjemah perkata, ada keyword/bloking ayat yang dibahas dalam tafsir, khat berwarna untuk tajwid, ada terjemah Kementrian Agama, ada tafsir Ibnu Katsir dan tafsir Ath-Thabari, hadits, doa dan zikir, asbabun-nuzul, siroh nabawiyah, dsb. Berbonus CD belajar membaca Al Qur'an dan Al Ma'tsurot yang dijilid terpisah. Biasanya Miracle ini kubaca saat haid dimana aku enggak tilawah dari mushaf.
Miracle ini dilengkapi dengan e-pen yang dapat membaca semua isi al qur'an tersebut. Bisa membaca perkata, per ayat maupun per halaman. Jadi bisa dipakai untuk belajar membaca, istilahnya pakai metode talaqi. Dengarkan dari e-pen, kita menyimak, baru nanti kita mengulang. .Cocok dipakai untuk mengulang hafalan, baik untuk anak, dewasa maupun orang tua. Multifungsi kaan..
E-pen ini juga bisa juga membaca tafsirnya. Kalau lagi capek, ya leyeh-leyeh aja ndengerin e-pen. Jadi semacam ndengerin audio book gitu lho..
Selain itu, untuk anak anak ada My First Al Qur'an (MyFA). MyFA ini bener bener cocok untuk hadiah anak kita yang baru lulus belajar Iqro. Jadi mendapatkan Al Qur'an dalam versi yang indah, berwarna, penuh gambar tapi sekaligus kaya manfaat.
MyFa terdiri dari 4 buku. Dengan kertas yang lebih tebal, aman buat anak-anak yang motorik halusnya masih dalam tahap perkembangan. Dua 'buku' MyFA merupakan mushaf Al Qur'an yang terbagi @ 15 juz, dan 2 buku lagi merupakan terjemah, asbabunnuzul, dan keterangan lain seperti jejak Rasul, sekarang aku tahu, doa doa harian,aneka kisah, bahkan kamus bergambar dalam 3 bahasa (Arab-Inggris-Indonesia). Daaaan... yang paling menyenangkan buat anak-anak adalah adanya e-pen. Dapat dioperasikan dengan mudah oleh anak-anak. Sehingga mereka betah berlama-lama dengan Al Qurannya.
Nah, kebetulan anak-anakku ada kegiatan membaca Al Qur'an di sekolah. Untuk yang sekolah negeri (SMP dan SMA) biasanya 15 menit sebelum belajar mereka membaca Al Qur'an di kelas, satu anak satu ayat, keliling ke seluruh anak di kelas. Kalau yang SD memang ada kegiatan menghafal juga. Khusus untuk dibawa ke sekolah, anak-anak biasanya membawa Al Quran yang ukuran kecil. Kira-kira seperempatnya dari kertas ukuran A4. Nggak berat dibawa - bawa tiap hari.
Mungkin teman - teman ada yang bertanya, kenapa sih semua Al Qur'an yang aku pakai ini berasal dari satu penerbit. Ya terus terang ini sih karena cinta pertama. Beli pertama cocok, teruuus... aja ada varian baru yang kuperlukan ya aku beli lagi. Sebab lain, semua Al Qur'an dari penerbit Syaamil memakai khat Utsmani yang menurutku lebih mudah dibaca dibandingkan dengan khat lain. Selain itu, dilengkapi juga dengan pewarnaan tajwid. Kalau anak-anak lupa hukum-hukum tajwid, aku lebih mudah mengingatkan dari melihat warna.
Kalau ditanya Al Qur'an seperti apalagi yang aku butuhkan, terus terang aku perlu Al Qur'an dengan terjemah bahasa Sunda. Aku ingat pas kecil di Jawa Tengah dulu, ustadzku mengajarkan makna Al Qur'an pakai bahasa Jawa. Misal bismillah - kanti nyebut Asma Allah - Arrahmaan (ingkang Maha Welas) - arrohiim (lan Maha Asih). Nah sekarang aku di Bandung, ketika mengisi kajian dengan ibu-ibu sepuh, aku kesulitan menjelaskan dalam bahasa Sunda. Kalau ada Al Qur'an dengan terjemah bahasa Sunda - sukur sukur ada penjelasan ayat per ayat, kan kajian jadi lebih mudah. hehe Terus dipecah pecah per juz atau per berapa juz gitu.. biar mudah dibawa-bawa.
Barangkali daerah lain dengan bahasa lain juga memerlukan yang seperti ini.
Selain itu, aku juga perlu Al Qur'an (atau buku belajar membaca Al Qur'an semacam Iqro, tilawati, atau apalah) dengan kertas yang lebih tebal, semacam board book gitu. Jadi aman buat anak-anak dan lebih awet. Terus terang, meski Faiz udah hampir 6 tahun udah hampir lulus Iqro juga, gerakan tangannya dalam membuka dan menutup buku tuh kadang masih agak kasar. Beda sama Teteh dulu. Mungkin karena anak laki ya...Jadi iqro dia udah penuh banyak diselotip karena nggak sengaja tersobek gitu. Sepertinya tidak bisa dijilid langsung 30 juz ya.. karena bakal tebal, jadi dibuat aja per juz atau per dua juz.
Aku juga perlu CD interaktif atau aplikasi tentang Al Qur'an ini, isinya game-game buat anak, tebak ayat, tebak nama surat, arti surat, makna ayat, dsb. Sehingga anak-anak dapat mengenal kitabnya sejak dini dengan cara yang fun. Dan pastinya.... mereka nggak nyadar kalau lagi belajar.
Ya kita tunggulah, mungkin bakalan ada nanti, penerbit-penerbit Al Qur'an yang akan mewujudkan apa yang aku pikirkan di atas.
Satu lagi pesan buat teman-teman, kalau teman-teman merencanakan mau beli Al Qur'an dalam waktu dekat ini, datang aja ke #Pameran Buku Bandung. Di sana teman-teman dapat memilih Al Qur'an sesuai kebutuhan dan keinginan. Karena sekarang juga udah banyak Al Qur'an dengan sampul yang trendi dan warna-warni sesuai selera kita (baca ; para cewek). Daaan, kalau pengen Al Qur'an seperti yang aku ceritakan di atas, datang aja ke stand Syaamil Quran, biasanya ada diskon lho.. dan nyarinya pun nggak susah, sudah beberapa kali pameran, stand Syaamil Quran tepat di depan pintu masuk. Jangan salah masuk ya....
Di rumahku misalnya, meski anggotanya ada 7 orang, Al Quran yang ada di rumah lebih dari tujuh. Hehe bukannya boros lho ya.. tapi ini dimaksudkan untuk memudahkan aktifitas bersama Al Qur'an. Kalau buat menghafal memang sebaiknya kita tidak berganti-ganti mushaf. Tetapi untuk #ODOJ dan bulan Ramadhan biasanya aku mengambil mushaf yang sudah dipecah-pecah, di rumah ada yang pecahan per juz ada yang per lima juz. Selain lebih mudah dalam membawanya kemanapun kita pergi, aku juga lebih mudah dalam mengejar target tilawah pribadiku.
Untuk tilawah di rumah, kami lebih sering memakai mushaf bukhara, ukurannya A5. Paslah untuk harian. Ada mushaf ada terjemah. Pas juga dibawa ke pengajian.
Selain itu, aku juga mempunyai Al Qur'an Miracle.
| penampakan halaman AL Quran Miracle |
Miracle ini dilengkapi dengan e-pen yang dapat membaca semua isi al qur'an tersebut. Bisa membaca perkata, per ayat maupun per halaman. Jadi bisa dipakai untuk belajar membaca, istilahnya pakai metode talaqi. Dengarkan dari e-pen, kita menyimak, baru nanti kita mengulang. .Cocok dipakai untuk mengulang hafalan, baik untuk anak, dewasa maupun orang tua. Multifungsi kaan..
E-pen ini juga bisa juga membaca tafsirnya. Kalau lagi capek, ya leyeh-leyeh aja ndengerin e-pen. Jadi semacam ndengerin audio book gitu lho..
Selain itu, untuk anak anak ada My First Al Qur'an (MyFA). MyFA ini bener bener cocok untuk hadiah anak kita yang baru lulus belajar Iqro. Jadi mendapatkan Al Qur'an dalam versi yang indah, berwarna, penuh gambar tapi sekaligus kaya manfaat.
| khat My First Al Qur'an |
| halaman buku terjemah MyFa |
MyFa terdiri dari 4 buku. Dengan kertas yang lebih tebal, aman buat anak-anak yang motorik halusnya masih dalam tahap perkembangan. Dua 'buku' MyFA merupakan mushaf Al Qur'an yang terbagi @ 15 juz, dan 2 buku lagi merupakan terjemah, asbabunnuzul, dan keterangan lain seperti jejak Rasul, sekarang aku tahu, doa doa harian,aneka kisah, bahkan kamus bergambar dalam 3 bahasa (Arab-Inggris-Indonesia). Daaaan... yang paling menyenangkan buat anak-anak adalah adanya e-pen. Dapat dioperasikan dengan mudah oleh anak-anak. Sehingga mereka betah berlama-lama dengan Al Qurannya.
Nah, kebetulan anak-anakku ada kegiatan membaca Al Qur'an di sekolah. Untuk yang sekolah negeri (SMP dan SMA) biasanya 15 menit sebelum belajar mereka membaca Al Qur'an di kelas, satu anak satu ayat, keliling ke seluruh anak di kelas. Kalau yang SD memang ada kegiatan menghafal juga. Khusus untuk dibawa ke sekolah, anak-anak biasanya membawa Al Quran yang ukuran kecil. Kira-kira seperempatnya dari kertas ukuran A4. Nggak berat dibawa - bawa tiap hari.
![]() |
| anak cewek pakai yang pink, yang cowok pakai yang coklat |
Mungkin teman - teman ada yang bertanya, kenapa sih semua Al Qur'an yang aku pakai ini berasal dari satu penerbit. Ya terus terang ini sih karena cinta pertama. Beli pertama cocok, teruuus... aja ada varian baru yang kuperlukan ya aku beli lagi. Sebab lain, semua Al Qur'an dari penerbit Syaamil memakai khat Utsmani yang menurutku lebih mudah dibaca dibandingkan dengan khat lain. Selain itu, dilengkapi juga dengan pewarnaan tajwid. Kalau anak-anak lupa hukum-hukum tajwid, aku lebih mudah mengingatkan dari melihat warna.
Kalau ditanya Al Qur'an seperti apalagi yang aku butuhkan, terus terang aku perlu Al Qur'an dengan terjemah bahasa Sunda. Aku ingat pas kecil di Jawa Tengah dulu, ustadzku mengajarkan makna Al Qur'an pakai bahasa Jawa. Misal bismillah - kanti nyebut Asma Allah - Arrahmaan (ingkang Maha Welas) - arrohiim (lan Maha Asih). Nah sekarang aku di Bandung, ketika mengisi kajian dengan ibu-ibu sepuh, aku kesulitan menjelaskan dalam bahasa Sunda. Kalau ada Al Qur'an dengan terjemah bahasa Sunda - sukur sukur ada penjelasan ayat per ayat, kan kajian jadi lebih mudah. hehe Terus dipecah pecah per juz atau per berapa juz gitu.. biar mudah dibawa-bawa.
Barangkali daerah lain dengan bahasa lain juga memerlukan yang seperti ini.
Selain itu, aku juga perlu Al Qur'an (atau buku belajar membaca Al Qur'an semacam Iqro, tilawati, atau apalah) dengan kertas yang lebih tebal, semacam board book gitu. Jadi aman buat anak-anak dan lebih awet. Terus terang, meski Faiz udah hampir 6 tahun udah hampir lulus Iqro juga, gerakan tangannya dalam membuka dan menutup buku tuh kadang masih agak kasar. Beda sama Teteh dulu. Mungkin karena anak laki ya...Jadi iqro dia udah penuh banyak diselotip karena nggak sengaja tersobek gitu. Sepertinya tidak bisa dijilid langsung 30 juz ya.. karena bakal tebal, jadi dibuat aja per juz atau per dua juz.
Aku juga perlu CD interaktif atau aplikasi tentang Al Qur'an ini, isinya game-game buat anak, tebak ayat, tebak nama surat, arti surat, makna ayat, dsb. Sehingga anak-anak dapat mengenal kitabnya sejak dini dengan cara yang fun. Dan pastinya.... mereka nggak nyadar kalau lagi belajar.
Ya kita tunggulah, mungkin bakalan ada nanti, penerbit-penerbit Al Qur'an yang akan mewujudkan apa yang aku pikirkan di atas.
Satu lagi pesan buat teman-teman, kalau teman-teman merencanakan mau beli Al Qur'an dalam waktu dekat ini, datang aja ke #Pameran Buku Bandung. Di sana teman-teman dapat memilih Al Qur'an sesuai kebutuhan dan keinginan. Karena sekarang juga udah banyak Al Qur'an dengan sampul yang trendi dan warna-warni sesuai selera kita (baca ; para cewek). Daaan, kalau pengen Al Qur'an seperti yang aku ceritakan di atas, datang aja ke stand Syaamil Quran, biasanya ada diskon lho.. dan nyarinya pun nggak susah, sudah beberapa kali pameran, stand Syaamil Quran tepat di depan pintu masuk. Jangan salah masuk ya....
Rabu, 27 Agustus 2014
Serba-serbi Buku Anak-anak (ku)
Setelah kemarin aku cerita soal pameran buku, khususnya pameran buku Bandung, yuk.. sekarang ngobrol-ngobrol soal buku anak.
Dari sekian banyak koleksi buku yang ada di lemariku, hampir setengahnya adalah buku anak. Mungkin bahkan lebih. Tapi terus terang saja, aku juga masih suka membaca buku koleksi anak-anakku. Jangan hitung ya.. yang aku membacakan cerita buat mereka, maksudku juga termasuk buku-buku anak remajaku. Karena aku juga ingin tahu, bacaan apa yang dilahap oleh mereka. Dari lima anakku yang paling 'gila baca' anak pertama dan anak keempat. Itu si Mbak #F1, kalau baca novel ibaratnya kudu selesai dalam semalam. Dia tahan sampai tidur telat gitu. Kalau si Teteh #F4 balah sampai disimpen-simpen di bawah bantal. Kadang kalau aku membangunkan mereka dipagi hari, si Teteh itu sebenernya udah bangun dari tidur. Bukannya bangkit dan ke kamar mandi, eh, malah langsung baca aja. Kok tahu ? Ya tahulah... kan aku emaknya. Kalau tidur mereka jarang matiin lampu alias terang benderang.
Kalau ditanya buku anak seperti apa yang menarik ? Ya pasti lain orang akan lain jawaban. Di rumahku aja yang baru ada lima anak, ada lima selera dalam hal membaca. Meski semuanya masih berebut majalah Bobo tiap minggunya dan berebut majalah Ummi tiap bulannya, masing-masing punya kecenderungan bacaan yang berbeda.
Fathimah misalnya, dia tipe yang melahap semua bacaan. Semua genre untuk bacaan yang sifatnya hiburan ya. Dan dia betah sekali membaca. Mungkin pengaruh dari masa kecilnya juga. Pas dia balita, aku nggak kasih 'mainan' apapun selain buku. Jadi meski masih berebut majalah bobo dengan adik-adiknya dia juga sudah mulai baca-baca novel koleksi Abi dan Ummi. Buku-buku anak macam Lima Sekawan, Trio Detektif, Godek, kayaknya cumah mbak Fathim yang baca. Anak-lain belum menyentuh. Kali karena bukunya udah butut ya.. haha.. ya iyalah.. kan beli di loakan. Tapi...kalau buku-buku yang serius macam kajian gitu, atau buku-buku pergerakan sih dia belum mau baca.
Fikri beda lagi, meski pas kecil bacaannya sama dengan Mbak Fathimah, makin ke sini dia makin kelihatan condong ke buku-buku sains dan buku petualangan. Dulu aku belikan buku-bukunya, sekarang anak-anak kami persilakan memilih sendiri bukunya, hanya duitnya aja yang dijatah, heheNah kalau Fadhila ini juga beda lagi. Dia sukanya baca cerita romantis. Novel-novel remaja penuh kisah cinta itu yang selalu dibacanya.
Kalau si Teteh masih seputaran majalah, ensiklopedi anak, dan buku-buku karya penulis cilik. Belakangan dia mulia baca buku anak-anak SMP macam serial Pinkberry gitu.
Naaaah.. kalau Faiz gimana ? Hihi terus terang dia sudah mulai teracuni oleh gadged. Dia udah mulai pinter soalnya. Kalau misalnya aku kasih waktu main 10-15 menit, eh nanti dia pindah kamar ke kamar Fikri, pinjem lagi hape Fikri di sana. Udah selesai di kamar Fikri, dia mepet-mepet Abi, pinjem lagi punya Abi. Ya gitu deeeh.. tapi aku usahakan tidak ada hari tanpa membaca. Yang pasti, membaca buku iqro'nya setiap habis maghrib. hehe.. becanda. Maksudnya baca buku gitu... dan alhamdulillah, dia sudah mulai bisa 'membaca' dari gambar buku-buku yang sering dibacakan. Makanya kalau buku buat anak seusia dia (TK) aku lebih suka buku yang sedikit kata-kata tapi banyak gambar. Karena ini berguna sekali dalam memacu imajinasi anak.
Akan tetapi, ada juga hal yang patut disyukuri, sekarang nyari buku anak-anak itu mudaaaaaaah.... sekali. Hampir semua penerbit udah lini buku anak ini. Tinggal pinter-pinternya kita aja sebagai konsumen, mau milih buku yang seperti apa. Siapa pengarangnya dan terbitan mana. Mau yang sifatnya umum atau yang mengupas khusus tentang satu hal. Kenapa ? Supaya dengan dana yang kita punya, kita bisa mendapat pilihan yang optimal. Jadi jangan sampai ada buku dengan bahasan yang sama, dengan judul, penulis dan penerbit yang berbeda. Sayaaang kaaan.. duitnya... Nah untuk mencegah hal demikian, biasanya aku tanya-tanya teman-teman lain. Dan yang paling mudah ya itu, membaca semua buku anak-anak. Jadi kan inget, buku seperti itu udah punya atau belum.
Trus aku juga lebih suka memilih buku dengan kualitas kertas yang bagus meski harga sedikit lebih mahal, karena akan lebih awet. Setelah dibaca kakaknya bisa disimpen untuk adik-adiknya. Kalau adiknya udah besar, bisa dihibahkan untuk keponakan. (hihi.. emak irit bingit)
Nah, buat teman-teman yang mau milih-milih buku, mau beli buku buat anak atau keponakan, makan datang ke pameran buku akan memudahkan semuanya. Yuuuk.. ke pameran buku yuuuk....
Dari sekian banyak koleksi buku yang ada di lemariku, hampir setengahnya adalah buku anak. Mungkin bahkan lebih. Tapi terus terang saja, aku juga masih suka membaca buku koleksi anak-anakku. Jangan hitung ya.. yang aku membacakan cerita buat mereka, maksudku juga termasuk buku-buku anak remajaku. Karena aku juga ingin tahu, bacaan apa yang dilahap oleh mereka. Dari lima anakku yang paling 'gila baca' anak pertama dan anak keempat. Itu si Mbak #F1, kalau baca novel ibaratnya kudu selesai dalam semalam. Dia tahan sampai tidur telat gitu. Kalau si Teteh #F4 balah sampai disimpen-simpen di bawah bantal. Kadang kalau aku membangunkan mereka dipagi hari, si Teteh itu sebenernya udah bangun dari tidur. Bukannya bangkit dan ke kamar mandi, eh, malah langsung baca aja. Kok tahu ? Ya tahulah... kan aku emaknya. Kalau tidur mereka jarang matiin lampu alias terang benderang.
Kalau ditanya buku anak seperti apa yang menarik ? Ya pasti lain orang akan lain jawaban. Di rumahku aja yang baru ada lima anak, ada lima selera dalam hal membaca. Meski semuanya masih berebut majalah Bobo tiap minggunya dan berebut majalah Ummi tiap bulannya, masing-masing punya kecenderungan bacaan yang berbeda.
Fathimah misalnya, dia tipe yang melahap semua bacaan. Semua genre untuk bacaan yang sifatnya hiburan ya. Dan dia betah sekali membaca. Mungkin pengaruh dari masa kecilnya juga. Pas dia balita, aku nggak kasih 'mainan' apapun selain buku. Jadi meski masih berebut majalah bobo dengan adik-adiknya dia juga sudah mulai baca-baca novel koleksi Abi dan Ummi. Buku-buku anak macam Lima Sekawan, Trio Detektif, Godek, kayaknya cumah mbak Fathim yang baca. Anak-lain belum menyentuh. Kali karena bukunya udah butut ya.. haha.. ya iyalah.. kan beli di loakan. Tapi...kalau buku-buku yang serius macam kajian gitu, atau buku-buku pergerakan sih dia belum mau baca.
Fikri beda lagi, meski pas kecil bacaannya sama dengan Mbak Fathimah, makin ke sini dia makin kelihatan condong ke buku-buku sains dan buku petualangan. Dulu aku belikan buku-bukunya, sekarang anak-anak kami persilakan memilih sendiri bukunya, hanya duitnya aja yang dijatah, heheNah kalau Fadhila ini juga beda lagi. Dia sukanya baca cerita romantis. Novel-novel remaja penuh kisah cinta itu yang selalu dibacanya.
Kalau si Teteh masih seputaran majalah, ensiklopedi anak, dan buku-buku karya penulis cilik. Belakangan dia mulia baca buku anak-anak SMP macam serial Pinkberry gitu.
Naaaah.. kalau Faiz gimana ? Hihi terus terang dia sudah mulai teracuni oleh gadged. Dia udah mulai pinter soalnya. Kalau misalnya aku kasih waktu main 10-15 menit, eh nanti dia pindah kamar ke kamar Fikri, pinjem lagi hape Fikri di sana. Udah selesai di kamar Fikri, dia mepet-mepet Abi, pinjem lagi punya Abi. Ya gitu deeeh.. tapi aku usahakan tidak ada hari tanpa membaca. Yang pasti, membaca buku iqro'nya setiap habis maghrib. hehe.. becanda. Maksudnya baca buku gitu... dan alhamdulillah, dia sudah mulai bisa 'membaca' dari gambar buku-buku yang sering dibacakan. Makanya kalau buku buat anak seusia dia (TK) aku lebih suka buku yang sedikit kata-kata tapi banyak gambar. Karena ini berguna sekali dalam memacu imajinasi anak.
Akan tetapi, ada juga hal yang patut disyukuri, sekarang nyari buku anak-anak itu mudaaaaaaah.... sekali. Hampir semua penerbit udah lini buku anak ini. Tinggal pinter-pinternya kita aja sebagai konsumen, mau milih buku yang seperti apa. Siapa pengarangnya dan terbitan mana. Mau yang sifatnya umum atau yang mengupas khusus tentang satu hal. Kenapa ? Supaya dengan dana yang kita punya, kita bisa mendapat pilihan yang optimal. Jadi jangan sampai ada buku dengan bahasan yang sama, dengan judul, penulis dan penerbit yang berbeda. Sayaaang kaaan.. duitnya... Nah untuk mencegah hal demikian, biasanya aku tanya-tanya teman-teman lain. Dan yang paling mudah ya itu, membaca semua buku anak-anak. Jadi kan inget, buku seperti itu udah punya atau belum.
Trus aku juga lebih suka memilih buku dengan kualitas kertas yang bagus meski harga sedikit lebih mahal, karena akan lebih awet. Setelah dibaca kakaknya bisa disimpen untuk adik-adiknya. Kalau adiknya udah besar, bisa dihibahkan untuk keponakan. (hihi.. emak irit bingit)
Nah, buat teman-teman yang mau milih-milih buku, mau beli buku buat anak atau keponakan, makan datang ke pameran buku akan memudahkan semuanya. Yuuuk.. ke pameran buku yuuuk....
![]() |
| Biar makin gila bacaa.... |
Langganan:
Postingan (Atom)


