Rabu, 27 Februari 2013

Anak Seorang Perantau Akhirnya Jadi Perantau

Bapakku asli Magelang. Ibuku asli  Temanggung. Bapak seorang PNS, Ibu seorang Guru. Kami semua tinggal di Pingit, Temanggung.
Tidak lama setelah lahir adik kelima,  Bapak dipindahtugaskan ke Cilacap. Kamipun akhirnya menetap Cilacap.

Semasa Lajang
Aku belajar merantau sejak SMEA. Waktu itu aku kos  berdelapan. Tiap hari kami bergantian menanak nasi dan membeli sayur / lauk karena ibu kos tidak menyediakan makan. Selain itu kami juga  mengatur jadwal mandi (kamar mandi ada dua dipakai 8 anak kos + 2 tuan rumah) dan jadwal mencuci pakaian, karena kalau semua mencuci, tali jemuran langsung penuh. Intinya, di dalam rumah kos itu, kami telah belajar bermasyarakat, saling menghormati dan bertenggang rasa.

Lulus SMEA aku masuk STAN. Kehidupan sebagai anak kos pun dilanjutkan. Aku bersama teman-teman  berkongsi  menyewa rumah. Selain lebih murah, kami juga belajar mengurus rumah. Maka jadwal piket pun dibuat. Siapa yang kebagian menyapu, siapa mengepel lantai, siapa memasak, siapa  mencuci piring, menyapu halaman, menggosok kamar mandi, dsb. Kami benar-benar belajar mandiri. Tapi kehidupan anak kos pastilah penuh warna. Misalnya ada yang mendadak ujian sehingga  tidak dapat menunaikan tugas sesuai jadwal, ada yang ingin belajar dalam diam, dan sebaliknya ada yang nggak bisa belajar kalau nggak sambil mendengarkan musik. Ada yang rajin merapikan, ada juga yang sembarangan.Di sinilah, lagi lagi kami harus belajar bertenggang rasa, saling memahami, dan akhirnya menumbuhkan sikap sepenanggungan sebagai satu 'keluarga' di perantauan.

Setelah Menikah
Selesai kuliah, tidak lama kemudian aku dilamar oleh seseorang. Desember 1996 kami menikah.
Suamiku ini ternyata seorang pujakesuma. Putera Jawa kelahiran Sumatera. Ayah mertua asli Jawa, Ibu asli Palembang. Tinggal di Lampung. Suamiku lahir-besar di Lampung, kuliah  ikatan dinas di Jakarta dan penempatan pertama sebagai PNS di Kupang.
Maka perantauanku tahap berikutnya pun dimulai. Aku kali ini merantau karena ikut suami.


Aku dan anak-anak (baru F1-F3) di ruang tamu rumah Kupang
Selama lima tahun tinggal di Kupang, banyak sekali kejadian yang sungguh memperkaya lukisan kehidupanku. Namun satu hal yang membuat kami berduka, ketika di Kupang itulah Bapak dan Ibuku kembali ke pangkuan Allah. Saat itu armada penerbangan belum sebanyak sekarang. Tahun 1999 Ibuku wafat. Karena tidak dapat pesawat di hari yang sama, kami tidak dapat mengantarkan Ibu ke peristirahatan terakhir. 
Sedangkan Bapakku, wafat akhir tahun 2001, dua minggu sebelum kami pindah tugas ke Bandung. Memang saat itu sudah packing-packing, bahkan sebagian barang sudah dipaketkan, tapi tetap saja kami belum siap berangkat dua minggu lebih awal karena terkait dengan pekerjaan kantor baik suamiku maupun pekerjaanku. Belum lagi masalah biaya pindah. Tidak memungkinkan juga misalnya saat itu pulang ke Jawa terus balik lagi ke Kupang lalu pindahan. Mau tidak mau, kami kembali merelakan tidak dapat mengantar Bapak ke peristirahatan terakhir.
Demikian juga setelah pindah ke Bandung, Ibu mertua meninggalpun kami tidak dapat menemui jenazah beliau. Waktu itu tahun 2003, satu satunya cara ke Lampung yang terjangkau buat kami adalah naik bis malam. Ibu wafat hari Ahad pagi , dimakamkan hari itu juga. Malamnya kami baru berangkat dari Bandung. 
Wafatnya ketiga orang tua kami inilah yang menjadi hal paling membekas selama di perantauan.

Hikmah Merantau
* Merantau itu menguatkan, melatih kemandirian, dan mendewasakan 
Merantau sejak remaja, alhamdulillah membuatku merasa siap ketika diajak suami merantau di Kupang.  Suka duka ditanggung berdua. Mengurus (sampai dengan) tiga anak balita, tanpa asisten rumah tangga. Kalau pagi semua berangkat, anak anak ke penitipan, Ummi dan Abi pergi ngantor. Malam anak anak tidur, Ummi dan Abi berbagi tugas rumah tangga cuci, setrika, ngepel, dsb. Ada masalah keluarga ? Dibicarakan berdua. Jauhnya kami dari keluarga besar, justru mendekatkan kami satu sama lain.
* Merantau itu menambah saudara. 
Ketika kita merantau, pengganti keluarga kita adalah mereka yang ada di sekitar kita, yang dekat dengan kita. Ibaratnya minta gula, garam nggak mungkin telpon ke kakak atau ibu di kejauhan, tetep aja yang dimintai tolong pertama dan bisa datang cepat adalah tetangga dekat. Maka ketika merantau kita harus pandai pandai menjalin tali silaturrahim.
* Merantau memperkaya pengalaman
Bertemu lebih banyak orang, melihat lebih banyak budaya, mengunjungi lebih banyak daerah tidak akan menjadi sia-sia untuk kita.
* Merantau membuatku lebih arif terhadap alam
Contoh ketika di Kupang, air PAM mengalir 3 hari sekali. Yah, jadwalnya memang 3 hari sekali baru ngalir, sedangkan di rumah ada tiga balita. Kebayang kan seberapa cucian pritilannya ? Tapi disitulah justru kami jadi lebih dapat menghargai air dan memakainya sesuai keperluan saja.
* Merantau membuatku makin cinta Indonesia
Jawa, Sumatera, Bali, NTT baru itu sebagian keindahan Indonesia yang kulihat. Masing-masing mempunyai daya tarik yang tidak ada di daerah lain. Semua membuat rindu untuk didatangi kembali.

Sedikit Tips untuk perantau 
* Terimalah keadaan. Penerimaan akan membuat kita tenang. Kalau dalam diri kita ada sedikit saja penolakan, maka kita tidak akan betah di perantauan
* Berbagilah dengan yang dekat.  Entah itu suami atau sahabat. Kalau kita berbagi dengan yang jauh, misalnya orang tua, apalagi kalau keadaan kita 'tidak enak', pasti orang tua jadi khawatir. Bahkan aku ada temen yang ikut suami ke luar Jawa, eh, sama ibunya disuruh pulang ke Jawa, ninggalin suaminya di sono. Kalau suami diambil orang gimana coba #eh
* Bertanya kepada yang lebih dahulu tinggal di daerah tersebut, bagaimana trik-trik menghadapi kesulitan di perantauan. Pasti senior kita dengan senang hati akan membagi pengalamannya, bahkan tidak mustahil akan membantu kesulitan kita.
* Bersabar dan bersyukur.
* Banyakin minta doa dari kedua orang tua

 -----------------------------

NB*hihi.. mau diikutkan GA mbak Milati tp gak sempat ngedit, telat deeh...lumayan ah, buat postingan

Senin, 25 Februari 2013

Bahasa Daerah Itu Mudah

Anak pegawai negeri, menjadi seorang pegawai negeri, kemudian diperistri pegawai negeri, membuatku melanglang buana ke berbagai daerah di Indonesia. Belum banyak siiih.. tetapi setiap daerah yang pernah kutinggali mempunyai bahasanya masing-masing.

Aku numpang lahir di Temanggung, kemudian sejak masih balita ikut pindah orang tua ke Cilacap.
Masa kecil di Cilacap ini, bisa dikatakan aku bicara dalam 2 bahasa daerah *jiaaah
Yaitu : bahasa bandek (sebutan orang Cilacap untuk bahasa Jowo alus macam bahasa Yogya) kupakai untuk bicara dengan keluarga, dan  bahasa ngapak (istilah untuk dialek Banyumasan)  untuk bicara dengan teman teman sepermainan.
Jadi kalau di rumah bilang "ojo koyo kuwi' begitu keluar berganti menjadi "aja kaya kuwe" a la bahasa ngapak. Artinya sama, jangan begitu.
Yang lucu adalah ketika bermain bersama adik/kakak dan teman-teman sekaligus, bisa secara otomatis mengganti bahasa pada saat yang bersamaan, tergantung bicaranya dengan siapa. Teman - teman di Cilacap  kadang menirukan cara bicara kami. Karena logatnya masih kurang pas, lebih sering kami jadi tertawa bersama.
Aku menikmati saat-saat ini hingga lulus SMEA. Dan aku sangat berterima kasih pada Bapak dan Ibuku yang terus memakai 'bahasa ibu' meski sudah tinggal jauh dari tanah kelahiran. Paling tidak, ini membuatku selalu mendapat nilai bagus untuk pelajaran bahasa daerah, bahkan pas SMEA aku pernah menjuarai lomba karya tulis dua bahasa Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah, juara ketiga se-kabupaten Cilacap. *lumayan

Setelah SMEA aku pindah Jakarta karena kuliah. Kebetulan induk semangku Betawi asli,  dan teman kos anak Lumajang, Jawa Timur.
Maka bertambah satu lagi kosa kata bahasa daerahku.
Aku pun mulai mengenal elo - gue . Mulailah aku ber - "elu elu gue gue". Tapi sayang, kata anak-anak Jakarta, logat gue medok . Haha, dan akhirnya mereka melarang gue nyoba berbahasa Betawi.
Ada kejadian lucu ketika bicara dengan anak Lumajang. Ternyata meskipun sama-sama Jawa, ada kosa kata tertentu yang sedikit berbeda penempatannya.
Misalnya ;
Temen yang dari  Lumajang nanya : "Wis mari, Ti ?  (Sudah selesai , Ti ?)
Aku menjawab : " Mari opo, aku ora lara."  (Sembuh apa, aku nggak sakit)
Nggak nyambung kaan ? Iyah !
Ternyata di Jawa Timur, mari artinya sudah selesai, sedangkan di Jawa Tengah mari ya sudah selesai juga siiih, sudah selesai sakitnya, alias sudah sembuh. :p
Kemudian ada kata lain yang aku juga baru tahu, kalau di Jawa Tengah, sampeyan (kata ganti orang kedua) biasanya digunakan untuk yang sebaya / Jawa ngoko alus. Tetapi di Jawa Timur sampeyan itu untuk kata ganti orang kedua yang lebih tua/dihormati .

Lain lagi ceritanya ketika aku sudah menikah, aku ikut suami ke Kupang, NTT. Ternyata di sana juga ada bahasa daerah, tepatnya bahasa Indonesia logat Kupang. Masih dapat dimengerti. Hanya ada beberapa kosa kata baru. Akupun coba coba belajar bicara bahasa Kupang ini.
Misalnya :
saya = beta / kadang di singkat be saja
pergi = pigi / disingkat pi saja
tidak = sonde / disingkat son
tahu = tau
sudah = sudah / disingkat su
belum = belom
punya = pung
Misalnya berkata : saya tidak tahu = beta sonde tau / be son tau
Ada kejadian lucu saat awal tinggal di Kupang. Aku diajak silaturrahim ke salah satu teman suami.
Kebetulan saat itu si bapak yang dicari sedang pergi. Anak tertuanya yang membukakan pintu untuk kami.
Suami : Bapak ada, ko ?
Anak : Ada pi.... (ada kok pergi, kataku dalam hati, maksudnya sih sedang pergi begitu...)
Atau satu lagi yang kadang menjadi semacam plesetan teman teman kantor. Dalam bahasa Kupang, istri dikatakan sebagai maitua. Istriku = be pung maitua. Nah rata-rata teman-teman yang penempatan Kupang itu bulok alias bujang lokal, karena  tidak mengajak serta istri dan anak-anak pindah ke sana. Kalau sedang bercanda-canda kadang mereka keceplosan  mau mencari be pung maimuda. Artinya ? Yah, begitulah kira-kira.
Ada ada saja...

Aku senang menirukan bahasa Kupang ini. Kali ini tidak ada yang mengolok olok / melarangku berbahasa Kupang. Tidak seperti kejadian ketika gue di Jakarta. Lima tahun di Kupang, cukup membuatku fasih bicara logat Kupang. Dengan anak-anak aku juga membiasakan bahasa Kupang.  Sampai saat ini kalau bertemu, telepon atau komen di facebook teman teman Kupang, aku masih menggunakan bahasa Kupang. Beta su bisa !

Nah, sekarang sudah sepuluh tahun aku tinggal di Bandung. Bertambah lagi bahasa daerahku. Bahasa Sunda.
Pertama - tama aku belajar bahasa Sunda dari ibu tukang sayur dekat rumah. Aku selalu menanyakan apa bahasa Sunda dari kalimat yang kuucapkan. Si ibu berbicara kemudian aku menirukan. Lama-kelamaan jadi terbiasa. Selain itu, aku  juga belajar teman-teman kantor dan juga dari buku pelajaran bahasa Sunda anak-anak yang mulai masuk sekolah dasar. Alhamdulillah, semakin dipakai semakin lancar. Kadang aku menggunakan bahasa Sunda lemes (halus) untuk bicara dengan anak-anak.  Tapi anak-anak malah enggak tahu karena teman-teman main mereka tidak mempergunakan bahasa Sunda lemes dalam pergaulan.
Sayangnya, aku terkadang masih diprotes teman-teman Bandung karena  logatku yang masih belum fasih mengucapkan kata-kata yang mengandung suara khusus macam Cicaheum, Cibeureum, Cimbeuleuit , Leuwi Panjang, bageur, cageur, peuyeum, dsb . Kalau sudah demikian, ya aku tinggal ngeles aja, punteun atuh, da nuju diajar. (maaf ya, kan masih belajar) :D

Menurutku bahasa Sunda ini tidak begitu susah, karena masih mirip- mirip bahasa Jawa, bahasa ibuku.
Yang sama misalnya  ;
- kanggo / kangge (artinya untuk), hanya kalau bahasa Sunda kanggo lebih halus dari kangge.
- dahar (Sunda) dan dhahar (Jawa), artinya sama-sama makan, tapi dahar Sunda untuk sebaya, dhahar Jawa untuk bahasa kromo / halus
Tapi ada juga lho.. yang artinya sungguh berbeda, gedang di Sunda artinya pepaya, sedang di Jawa Tengah artinya pisang.

Wow, ini aku belum cerita suamiku orang Lampung, bapaknya Jawa ibunya Palembang ?  Hehe, karena tinggal di Lampung tidak lama, maka terus terang aku belum bisa bahasa Lampung. Bahasa Palembang pun belum pacak. Semoga lain waktu aku bisa mendapat kesempatan mempelajari bahasa Palembang. Paling tidak aku sudah membiasakan lidahku mencicip empek-empek dan perutku pun tidak protes diajak minum cuka empek-empek pagi hari. *apacoba ?

Intinya, aku senang menirukan dan mempelajari bahasa  daerah di mana aku tinggal. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Menurutku mengenal bahasa daerah ini membawa banyak hal positif, antara lain :
* lebih mengakrabkan kita dengan masyarakat setempat;
* memudahkan kita dalam berkomunikasi;
* mempelajari bahasa daerah menunjukkan kesungguhan kita untuk membaur;
* mempelajari bahasa daerah adalah bentuk sekaligus bukti penghormatan kita atas kebudayaan setempat;
* membelajari bahasa daerah memudahkan kita menawar harga di pasar wkwkwk :D

Oke Niar, terbukti  belum aku cinta bahasa daerah ?

"Postingan ini diikutsertakan di Aku Cinta Bahasa Daerah Giveaway"


Jumat, 22 Februari 2013

Pertama dan Terakhir

Sebagai satu - satunya anak / menantu Eyang yang tinggal di luar Lampung, kunjungan Eyang Kakung tentulah sangat istimewa. Apalagi bila mengingat usia Eyang Kakung yang menginjak 70 tahun kala itu. Pastilah perjalanan Lampung - Bandung bukan perjalanan yang mudah.

Sebenarnya kunjungan tahun 2010 itu bukan kunjungan pertama Eyang. Dulu waktu masih di rumah kontrakan, Eyang pernah berkunjung, tapi aku juga baru punya anak 4, belum lahir yang kelima. :p
Meski kunjungan kali ini bukan kunjungan pertama, tapi menjadi istimewa karena  banyak hal 'pertama' -nya
* Eyang pertama kali melihat rumah kami sendiri, bukan rumah kontrakan lagi. Hehe.. alhamdulillah, Eyang senang melihat rumah kami, yang kami peroleh dengan hasil keringat sendiri. Enggak ngrepotin Eyang
* Eyang ke Bandung mengunjungi anak laki-laki pertamanya (dari 8 anak Eyang, semua perempuan, hanya dua anak laki laki, dan suamiku anak laki laki paling besar)
* Eyang ke Bandung dalam rangka menghadiri wisuda cucu pertama yaitu mbak Echi.

Tapi sayangnya, kunjungan Eyang ke rumah baru kami ini menjadi kunjungan terakhir. Tidak berapa lama sepulang dari Bandung, kondisi kesehatan Eyang drop, nggak bisa bepergian jauh lagi.
Tahun 2012, Allah SWT memanggil Eyang Kakung ke haribaan-Nya.