Pinjem judul Ika, takut keburu lupa.
Berulang kali terlintas di pikiranku, seharusnya postinganku lebih banyak dari postingan Sondang dan Ika di bagian cerita anak-anak. Lha kan niatnya jurnal anak-anak. Karena anaknya banyak, mestinya aku jadwalin postingan tentang mereka satu per satu. Tapi sayang, faktor U itu gak pernah boong dalam segi daya ingat. Nah kalau sekarang blog ini banyakan label F5 dibanding kakak-kakaknya, bukan berarti aku mbeda-mbedain anak yang emang udah beda dan unik dari sononya. Tapi semata-mata karena F5 yang saat ini paling banyak waktu nempel ummi -nya. Kalau yang besar kan udah makin banyak kegiatan di luar. Semoga gak bosen ya, Faiz lagi Faiz lagi.... besok deh cerita yang lain (sebelum cerita Faiz lagi :D).
*Tiket masuk surga
Ceritanya di sekolah Faiz itu, anak-anak tidak diperkenankan membawa uang jajan. Jadi dibiasakan membawa bekal dari rumah. Ya kalau jajanpun setidaknya masih di bawah kontrol orang tua. Tapi tiap Jumat, anak-anak boleh bawa uang karena ada program belajar infak. Infak ini sebenarnya untuk kas kelas. Besarannya ya kecil laaah... namanya juga yang bawa anak-anak kecil. Minimalnya seribu. Peruntukannya antara lain untuk kasih 'reward' ke anak-anak, atau untuk takziyah dan tahniah (udunan dg kas POMG). Kas POMG beda lagi, ada semacam kartu SPP gitu, dibayar oleh ortu. dan infak masjid sudah dibebankan di awal tahun ajaran pleus ada semacam 'celengan' yang di bawa pulang.
Awalnya seperti rata-rata anak lain, Faiz bawa infak dua ribu.
Nah minggu demi minggu Faiz minta uangnya naik-naik terus. Kemarin mencapai angka tujuh ribu. Pas aku komplen tentang hal itu, Faiz lantang menjawab :
"Ummi, infak itu tiket masuk surga ...."
Dueng ... dueng....
Jleb enggak sih? Masih mau mbatesin ? *tutupmuka
*Puasa
Pas ngobrolin mau sahur puasa muharram kemarin, aku nggak inget kalau Faiz minta bangunin. Sejujurnya aku kadang yah yoh (iya iya aja) kalau Faiz minta bangunin. Sering banget dia bilang minta dibangunin jam dua atau jam tiga pas aku bangun. Katanya dia mau ... mewarnai ! Menurutku itu enggak masuk akal banget, jadi aku gak pernah bangunin walaupun aku bilang iya. *karena aku bukan bangun jam tiga, paling cepet setengah empat - alesan*
Nah mungkin kemarin dia dengar dengar kita mau bangun sahur, dia mau ikutan. Tapi ya itu, aku gak bangunin. Wong Mbak sama Ayuk juga enggak ikut puasa.
Pas sore hari pulang kantor yang puasa udah buka, shalat dan siap makan, Faiz marah. Kayaknya bener bener marah. (aduuuh... maaf ya Naaak).
Kalau marah manja dia suka mukul-mukul gak jelas gitu. Tapi kemarin itu dia cemberut dan berjalan masuk kamarku sambil ngomong:
"Ummi, siniii.... aku mau bicara". (Ya ampun, dia nggak pernah seserius itu)
Pas aku masuk kamar, dia nutup pintu, trus ke kasur. Dan bilang lagi :
"Aku teh marah beneran ini. Aku minta bangunin tapi kamu enggak bangunin aku. Aku mau ikut puasaaa"
Ya Allah, ngerasa dosaaaa.... banget sama anak. Sampe aku peluk-peluk dia dan minta maaf enggak bangunin sahur. Terlepas dia puasa apa enggak nantinya. Ini kan masih soal pengkondisian. Makin dipeluk malah makin mingsek-mingsek gitu nangisnya. Sumedhot rasaning ati lah kata orang Jawa. Atau kasuwat-suwat kali ya kata orang Bandung.Akhirnya setelah agak lama dan kuusap-usap punggungnya, baru dia berhenti dan mau dibujuk untuk ikut buka.
Alhamdulillah ada bakso yang diajak pesan bareng sama Mbak Tituk.