Jumat, 15 November 2013

My Jleb Moments

Pinjem judul Ika, takut keburu lupa.

Berulang kali terlintas di pikiranku, seharusnya postinganku lebih banyak dari postingan Sondang dan Ika di bagian cerita anak-anak. Lha kan niatnya jurnal anak-anak. Karena anaknya banyak, mestinya aku jadwalin postingan tentang mereka satu per satu. Tapi sayang, faktor U itu gak pernah boong dalam segi daya ingat. Nah kalau sekarang blog ini banyakan label F5 dibanding kakak-kakaknya, bukan berarti aku mbeda-mbedain anak yang emang udah beda dan unik dari sononya. Tapi semata-mata karena F5 yang saat ini paling banyak waktu nempel ummi -nya. Kalau yang besar kan udah makin banyak kegiatan di luar. Semoga gak bosen ya, Faiz lagi Faiz lagi.... besok deh cerita yang lain (sebelum cerita Faiz lagi :D).

*Tiket masuk surga
Ceritanya di sekolah Faiz itu, anak-anak tidak diperkenankan membawa uang jajan. Jadi dibiasakan membawa bekal dari rumah. Ya kalau jajanpun setidaknya masih di bawah kontrol orang tua. Tapi tiap Jumat, anak-anak boleh bawa uang karena  ada program belajar infak. Infak ini sebenarnya untuk kas kelas. Besarannya ya kecil laaah... namanya juga yang bawa anak-anak kecil. Minimalnya seribu. Peruntukannya antara lain untuk kasih 'reward' ke anak-anak, atau untuk takziyah dan tahniah (udunan dg kas POMG). Kas POMG beda lagi, ada semacam kartu SPP gitu, dibayar oleh ortu. dan infak masjid sudah dibebankan di awal tahun ajaran pleus ada semacam 'celengan' yang di bawa pulang.
Awalnya seperti rata-rata anak lain,  Faiz bawa infak dua ribu.
Nah minggu demi minggu Faiz minta uangnya naik-naik terus. Kemarin mencapai angka tujuh ribu.  Pas aku komplen tentang hal itu, Faiz lantang menjawab :
"Ummi, infak itu tiket masuk surga ...."
Dueng ... dueng....
Jleb enggak sih? Masih mau mbatesin ? *tutupmuka

*Puasa
Pas ngobrolin mau sahur puasa muharram kemarin, aku nggak inget kalau Faiz minta bangunin. Sejujurnya aku kadang yah yoh (iya iya aja) kalau Faiz minta bangunin. Sering banget dia bilang minta dibangunin jam dua atau jam tiga pas aku bangun. Katanya dia mau ... mewarnai ! Menurutku itu enggak masuk akal banget, jadi aku gak pernah bangunin walaupun aku bilang iya. *karena aku bukan bangun jam tiga, paling cepet setengah empat - alesan*
Nah mungkin kemarin dia dengar dengar kita mau bangun sahur, dia mau ikutan. Tapi ya itu, aku gak bangunin. Wong Mbak sama Ayuk juga enggak ikut puasa.

Pas sore hari pulang kantor yang puasa udah buka, shalat dan siap makan, Faiz marah. Kayaknya bener bener marah. (aduuuh... maaf ya Naaak).
Kalau marah manja dia suka mukul-mukul gak jelas gitu. Tapi kemarin itu dia cemberut dan berjalan masuk kamarku sambil ngomong:
"Ummi, siniii.... aku mau bicara". (Ya ampun, dia nggak pernah seserius itu)
Pas aku masuk kamar, dia nutup pintu, trus ke kasur. Dan bilang lagi :
"Aku teh marah beneran ini. Aku minta bangunin tapi kamu enggak bangunin aku. Aku mau ikut puasaaa"
Ya Allah, ngerasa dosaaaa.... banget sama anak. Sampe aku peluk-peluk dia dan minta maaf enggak bangunin sahur. Terlepas dia puasa apa enggak nantinya. Ini kan masih soal pengkondisian. Makin dipeluk malah makin mingsek-mingsek gitu nangisnya. Sumedhot rasaning ati lah kata orang Jawa. Atau kasuwat-suwat kali ya kata orang Bandung.Akhirnya setelah agak lama dan kuusap-usap punggungnya, baru dia berhenti dan mau dibujuk untuk ikut buka.
Alhamdulillah ada bakso yang diajak pesan bareng sama Mbak Tituk.

Rabu, 13 November 2013

Lihat Saja Dadaku

Dua hari lalu pas lagi main-main berdua Faiz di kamarku, kulihat mata Faiz udah meredup. Memang sudah jam 8 malem siih, tapi kan jarang-jarang Faiz ngantuk jam segitu. Biasanya dia tidur jam 9, eh jam 9 masuk kamarnya. Dan kurang dua menit pun dia enggak mau. Kayaknya berharga banget itu waktu bermain sama Ummi. Nah kalau dia tiba-tiba ngantuk jam 8, mencurigakan nih... naga-naganya anak ini enggak tidur siang. Akhir-akhir ini Faiz sudah agak susah tidur siang. Kalau enggak tidur siang, biasanya sorenya rewel, banyak permintaan bari teu pararuguh. Ini salah itu salah. Minta susu salah gelas, marah. Main kartu salah naruh, salah. Rungsing deh, judulnya.
(Memang aku wajibin anak-anak untuk tidur siang. Terutama pas mereka usia TK. Karena udah pernah baca manfaat tidur siang untuk anak-anak pra sekolah. Yang penasaran silakan search yaa..)

Nah yang kemarin itu dia enggak rewel. Makanya aku baru pada tahap curiga enggak tidur siang.
Aku tanya :
"Faiz, kamu enggak tidur siang ya..."
"Tidur, di rumah Bibi"
"Kok matamu udah kecil"
"Enggak, beunta da" kata Faiz sambil membelalakkan mata.
"Asa bo'ong".
"Bener, aku tidur dari jam satu sampai setengah dua"
"Aaah... sebentar banget. Berarti kamu enggak tidur siang. Cuma tidur-tiduran".
"Bener, lihat aja dadaku".

Gubraaak.
Soal tidur siang aja meuni pakai drama dan sandiwara gini.

Maka setelah itu Ummi ceramah panjang lebar deh, soal drama dan sandiwara itu. Dan Faiz pun harus menyelesaikan secara adat soal 'kebohongan'nya dengan Abi.
Duh, tapi ya.. kalau dia pasang wajah polos dan kocaknya seperti ini, sungguh aku gak bisa menahan tawa saat harus 'marah' padanya.

Sabtu, 09 November 2013

Cerita ABG : Jatuh Cinta dan Patah Hati

Meramaikan program PKK (Peduli Kata Kunci)-nya Warung Blogger, kali ini aku mau cerita satu aja tentang ABG-ABG di rumah yang jumlahnya ada tiga.
Aku suka iniih, membuat kecele para pengguna mesin pencari, yang mencari konten-konten negatif di dunia maya dengan kata kunci tertentu. Kalau para blogger udah menuhin dunia maya dengan konten positif yang mudah ditemukan mesin pencari, pastilah konten negatif itu akan terpinggirkan dengan sendirinya.

Cerita ABG, bukan cerita aku blogger gaul ya... kalau aku blogger gak gaul mah iya banget. Mainnya ke situ-situ aja. Yang komennya juga itu-itu aja. Hahaha... susah move on, aku kan type setia.... *tendangsampaiawang-awang
Hihi malah menceracau kacau, katanya mau nulis Cerita ABG. Iya deh.. iya... kita mulai.. begini ceritanya... sudah berlalu hampir setahun.

Buat men-temen yang udah jadi ibu, apa yang ibu pikirkan  ketika bangun pagi hari, anak yang menjelang gadis tiba-tiba memeluk dan berkeluh : "Ummi, sekarang aku tahu, kenapa orang patah hati bisa bunuh diri."
Jreng... jreng... jreng.... kemana Ummi waktu anak gadisnya nangis semaleman ? *ngringkukdikamar
Kemana Ummi waktu anaknya perlu teman curhat ? *asyikbikinpostingan
Kemana Ummi ? Di mana Ummi ? Ummi sibuk ? Ummi ngertiin anaknya nggak siih?

Tenang... tenang... Ummi ada kok.
Karena aku tahu type anak-anakku, enggak laju lebay gitu aku nanggepinnya. Masih dalam pelukku, dengan santai  kutanya balik :
"Trus kamu mau bunuh diri ?"
"Enggaklah.... kan dosa Ummi, rugi banget" jawab gadisku.
Alhamdulillaah. Berarti dia masih menganggap bahwa selain 'cinta monyet'-nya itu, masih buaaanyaaak hal berharga yang pantas dikejar. Dan karena secara normatif anak-anakku sudah tahu bahwa pacaran itu dilarang agama, aku tinggal masukin nilai-nilai yang diterima logika mereka.
Salah satunya aku  pakai resepnya mba Tri. Kurang lebih begini :
"Jangan terlalu mencintai teman-teman SD, nanti kalau kamu SMP banyak teman SMP yang lebih keren. Jangan juga terlalu serius sama teman SMP, karena di SMA akan lebih banyak lagi cowok yang lebih keren. Kalau mau serius pas kuliah. Karena kalian sudah semakin dewasa dan lebih bisa mempertimbangkan segala sesuatunya. "

Ya gitu deh... itu baru cerita satu anak ya... tapi seputar jatuh cinta dan patah hati aku masih pakai rumus yang ini. Alhamdulillah nampaknya berhasil untuk dua gadis pertama. Paling tidak, mereka nampak segera move-on dari para cowok-cowok CCP-nya dan segera beraktifitas yang lain atau dapet CCP baru. :p *mudahcintadanmudahlupa.
Kalau yang cowok belum kelihatan punya gebetan siih...

Dan untuk nasihat yang lebih serius aku bilang gini : (dapat dari tweet siapa ya, lupa. Kata-kata bijak atau nasehat Islam gitu ).
"Bila kau mencintai seseorang, lihatlah apakah dia dekat dengan Allah atau tidak. Kalau Allah aja dia tinggalin, apalagi kamu ?"

Memang awalnya buat telingaku rada-rada jengah mendengar cerita ABG versi anak-anakku. Mengingat jaman aku seumuran mereka dulu apa-apa kan dirasa sendiri. Paling nulis di diary.
Tapi kan mending anak-anak curhat sama kita kaan, dari pada curhat sama orang lain.
Minimal walaupun dia curhat sama temannya, dia curhat juga sama kita, jadi ada semacam second opinion.
Nah yang kulakukan sehingga anak-anak mau cerita adalah :
* ada sessi berdua -quality time- dengan masing-masing anak. Waktunya atur-atur saja.
* belajar bertanya tentang dunia mereka dan menyiapkan diri menjadi pendengar yang baik. Nggak mencela, nggak motong cerita, full attention.
* ikut baca buku/novel mereka
* sesekali stalking TL / akun socmed mereka spy enggak kudet. #eeeaaaa

Nah ini Cerita ABG-ku. Lain keluarga pasti lain cerita. Mana ceritamu ?

*postingan ini tidak dilombakan karena kesulitan teknis dalam pendaftaran* bilangajamalesngelink