Sabtu, 30 November 2013

Penyesalan

Ini bukan judul lagu...  #eh ada gitu ?

Malam-malam, pas aku njahit tas yang akan kubagi-bagi buat pengunjung blog sebelah, F3 tau-tau mbanting sim card hp-nya di depanku. Caper banget yaks...
Aku cuma ketawa dan ngeledek...  patah hati ya..
Dia menjawab... 'ih enggak lah yaw..'
Kupikir kejadian itu ya sudahlah ya... palingan dimensyen butut atau apa.. enggak bersambung deh intinya. Eh..ternyata..

Besoknya pulang kantor, habis maghriban dan anak-anak dah ngaji semua, aku agak santai karena semua setuju makan malam bakso sesuai rikues Abi. Tiba-tiba Teteh masuk kamarku dan ngasih tau kalau Ayuk mau curhat.
Kemudian aku masuk kamar Ayuk, dia lagi sms-an sambil manyun manyun gitu. Kutanya ada apa, mau curhat apa, dia hanya menggidikkan bahu.
Aku mau lihat hapenya, enggak boleh. *gemes enggak siih...*
Terus malah dia membuka casing hapenya dengan kasar.
Kataku 'iiih... hati-hati, belum sah jadi milikmu sampai raport semestermu ketauan...' haha mempan juga omonganku. Trus dia buang lagi sim cardnya.
"Ayuk kenapa ? Patah hati lagi?"
*menggeleng*
"Cowok yang kamu taksir nembak orang lain?"
*menggeleng*
"Sahabatmu menghianati?"
*menggeleng*
"Ya terus kenapa ? Katanya mau curhat"
*malah nangis*
Sebentar aku peluk dan aku biarkan dia menangis di pundakku. Romantis banget kayak drama korea -katanya :)
"Dimarahin teman ?"
*diam*
"Dipanggil guru BP? "
*guru BK, Ummiii.....* sahutnya
"Kamu dipanggil guru BK?"
Enggaklaah...
"Kamu ditembak orang?"
*menggeleng*
"Ada guru yang naksir kamu?"
"Enggak atuuuuh... kalau gitu aku mah udah cerita ke ummi kali..."
"jadi kenapa atuh.... kamu galau galau kunaon ?
*membuang hape*
Ummi memutar otak mencari ide.
"kamu menyesal udah salah ngomong ?"
*mengangguk dan nangis lagi lebih keras, aku peluk lebih erat, kubiarkan dia menangis beberapa saat*

"semua orang juga pernah salah ngomong kaliii, itu adalah resiko yang harus ditanggung. kamu juga harus belajar menanggung resiko, karena kamu sudah mulai dewasa. Makanya kan kita harus memikirkan dulu sebelum mengatakan sesuatu. karena kata-kata yang terucap enggak bisa dihapus lagi"
Kataku sambil mengusap usap punggungnya.

"ummi waktu kecil  dulu juga  pernah menyesal mengatakan sesuatu. Dulu ada teteh teteh gitu yang nakalin ummi, terus ummi bilang ke ibunya, kalau dia nakalin ummi. Eh, terus dia disabetin pakai kayu sama ibunya, sampai nangis teriak teriak. terus habis itu dia dimandiin, diguyur di sumur. Jaman dulu kan sumurnya dipakai ramai-ramai, satu sumur untuk beberapa keluarga. Sampai teman-teman tau semua kalau dia disabetin ibunya. Ummi menyesal deh udah ngaduin dia sama ibunya. walaupun dia salah juga, tapi ummi enggak nyangka kalau dia bakal disabetin gitu. Ya gitu deh, sampai lama dia marah sama Ummi."
*diam sejenak, ummi mendadak sedih ingat kejadian yang sudah berpuluh-puluh tahun lalu itu*

"trus, kamu udah minta maaf sama temenmu ?"
"udah"
"bagus, trus dia gimana ?"
"ya udah maafin, tapi ya gitu we... aku malu jadinya"
"temen cewek apa temen cowok ?" *ih ummi kepo deh*
*diem aja si Ayuknya*
" ya sudah, semua perlu waktu, dia juga perlu waktu untuk memaafkanmu. kalau dia sudah maafin, kamu harus menunjukkan sikap baik sama dia. Kan kata Rasul, ikuti perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka perbuatan baik itu akan menghapus perbuatan buruk"
*gadisku diam saja, agaknya dia menerima kata-kataku*
"ya sudah, kalau udah maafan, pasang lagi sim-cardnya. temenmu kan enggak cuma dia doang. nanti kalau ada teman lain mau sms, gimana. nanti kalau abi atau ummi mau nelpon kamu  gimana..."
*Ayuk nurut dan masang lagi simcard ke hape yang tadi dipisah pisah mana casing mana batere*
"kamu udah cerita ke temanmu soal ini ?'
*menggeleng*
"Kamu menyimpan sendiri dari kemarin ?"
*mengangguk*
"kamu hebat ih, berarti sudah sanggup menanggung masalah sendiri" *asli, ini mah pengakuan tulus*
*tersenyum*
"tau enggak Yuk, dalam beberapa hal, kita banyak kesamaan lho, kamu kan anak tengah, nomor 3 dari lima anak, ummi juga anak tengah, nomor empat dari 7 anak, kata orang, anak tengah itu lebih dewasa. Dan memang Ayuk lebih tenang dan lebih dewasa"
*ketawa*
Akhirnya kami berpelukan lagi untuk beberapa saat.

Rabu, 27 November 2013

Lingkaran Beraroma Surga

Kalau ada yang menjadikan aktifitas ngeblog sebagai sarana menjada level kewarasan tetap dalam posisi aman, alhamdulillah aku punya blog.
Tapi, selain blog di dunia maya ini,  aku punya lingkaran di dunia nyata yang akan segera menopang, menarik dan memberiku 'pil-pil anti galau' agar kewarasanku tidak saja dalam level aman, tapi harus selalu dalam posisi maksimal, *pengennyaaa.....
Apakah itu?  itulah lingkaran ibu-ibu pengajian, yang beranggotakan relatif tetap, bertemu secara intens setiap pekan. Aku belum pernah cerita tentang ini secara khusus,  mumpung masih dalam suasana hijrah, kayaknya timingnya pas ya.. kalau aku ceritain.
Alkisah, 22 tahun lalu, ketika awal-awal kuliah, aku dipertemukan dengan saudara-saudaraku ini. Untuk pertama kalinya dalam 18 tahun usiaku, aku mendapatkan pencerahan atas hakikat hidup dan kehidupan.
Aku tak pernah meminta untuk datang ke dunia ini, aku ada semata karena Dia yang Menghendaki. Aku buta tentang diriku dan jalan hidupku,  Dia dengan kasih sayang-Nya telah menyediakan petunjuk-Nya yang suci. Aku gelap akan akhir perjalanan ini, Dia tunjukkan terminal terakhir di surga-Nya nanti. Itulah inti yang kusimpulkan. Aku diajak kembali pada fitrahku, agar aku dapat menjalankan tugas kehidupanku.
Perjalanan menuju hakikat kehidupan ini sangatlah panjang. Sepanjang kehidupan itu sendiri. Prosesnya pun tidak mudah. Setiap perjalanan spiritual pasti ada godaan, eksternal dan internal. Secara eksternal akan ada tarikan-tarikan masa lalu, tarikan-tarikan dunia yang indah mempesona. Pertemanan,  gaya hidup, pemikiran, dsb.
Di saat yang sama kita juga harus mengatasi 'musuh dalam selimut' berupa hawa nafsu dalam diri kita. Rasa malas, egois, iri, dengki, dsb. Berat sekali ya... Layaknya seseorang yang sedang berjalan mendaki, makin ke atas makin terengah-engah. Bukan saja karena lelah, tapi juga karena oksigen yang makin menipis.
Seperti itulah kumaknai perumpamaan perjalanan hidup ini. Kalau pakai logika bahwa makin tinggi tingkat  keimanan seseorang,  makin berat ujiannya,  mestinya hidup ini tidak makin mudah.
Maunya kan keimanan naik terus, artinya walaupun naik turun tapi kalau digambar kurvanya tetap naik trend-nya.
Berarti kehidupan ini akan makin berat, sesuai pertambahan kadar keimanan kita.
Hidup boleh makin berat, tapi cara pandang akan ujian itulah yang akan melahirkan penyikapan yang berbeda, dan ini akan membuat segalanya berbeda, jauh berbeda.
Dari sinilah aku merasakan, bahwa aku perlu teman seperjalanan, aku perlu tim yang saling menopang ketika lemah, saling mengoreksi ketika salah, saling mengingatkan ketika mulai lupa. Dan tentu saja, aku perlu guru yang membimbing sekaligus memberikan teladan.
Alhamdulillah, hampiiir semua yang kubutuhkan itu, aku dapatkan di lingkaran teman-teman pengajianku.
Di saat-saat awal aku mulai ngaji, aku akui aku membatasi diri hanya bergerak di lingkungan yang membuatku nyaman. Memilih  teman yang seiring sejalan, memilih tempat kos yang tenang, sampai kegiatanpun sebisa mungkin yang mendukung proses perubahanku ini.
Orang mengatakan jilbaber itu eksklusif. Bukan, bukan maksud hati untuk jadi  ekslusif, menurutku. Ibaratnya  orang lagi berbenah, ya enggak mau dong proses bebenahnya banyak interupsi, kapan beresnya ? Begitulah...
Alhamdulillah itu tidak berlangsung lama. Karena aku hidup di dunia nyata yang penuh perbedaan, maka aku belajar. Belajar bergaul, belajar bermasyarakat. Belajar mempraktekkan apa yang kudapat di lingkaran pengajian ke dunia nyata.
Langkah-langkah yang tengah kutempuh adalah:
* Diawali dengan berusaha memperbaiki diri dari segi aqidah,  ibadah, wawasan agama, ahlak, manajemen waktu, kesehatan fisik, sumber rezeki, dan muamalah agar keberadaan diriku membawa manfaat untuk orang-orang di sekitarku.
*Kemudian berusaha membentuk keluarga saleh. alhamdulillah Allah mempertemukanku dengan Abi yang jadi partner sekaligus pembimbingku. Dari keluarga ini berharap usaha perbaikan diri kami terus berlanjut dan mendapatkan generasi penerus yang siap menerima estafet perbaikan dan membawanya kepada teman/anak-anaknya kelak.
*Berikutnya adalah belajar memberikan kontribusi ke masyarakat. Dulu waktu masih gadis, ya bisa aktif berorganisasi. Ikut acara ini dan itu, jadi panitia ina dan inu. Sekarang setelah berbuntut banyak dan langkahnya pendek, bukan menjadi alasan untuk berhenti bergerak. Bergerak dan mengalirkan kebaikan. Nggak bisa jauh dan luas,  ya ambil yang terdekat, urusan dasa wisma,  arisan RT, posyandu, pengajian ibu-ibu,  sekolah ibu, sanggar baca gratis, bakti sosial dsb. Oh iya,  menulis juga sempat menjadi salah satu obsesi,  pengennya sih tulisanku ada isinya. Ya kalau belum kelihatan, ya maap maap aja, karena memang kepalaku masih dalam proses pengisian. :D
*Berikutnya adalah berkontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena aku pegawai pemerintah,  aku menjadi  bagian dari pemerintahan.  Aku ambil bagianku dalam proses menuju good governance. Caranya ?  Berusaha amanah dalam melaksanakan tugas pekerjaanku. Terus belajar untuk meningkatkan kapasitasku.
Selain itu, di jaman demokrasi seperti ini, aku peduli siapa pemimpin yang bakal membawa perubahan. Aku dukung dia.
Aku juga peduli siapa yang mewakili suaraku di anggota dewan. Jadi aku bukan golput dan aku menolak golput. Satu suara yang kita berikan dapat membawa perubahan. Dan satu suara yang tidak kita gunakan, akan mungkin disalahgunakan.
*Berikutnya adalah aku peduli dengan urusan dunia, orang-orangnya, bumi dan isinya. Kalaupun enggak/belum ada laku nyata yang luas dampaknya untuk mencegah keburukan di belahan bumi mana, minimal ada penolakan, ini tanda peduli. Meskipun belum ada bantuan nyata yang besar buat mereka yang membutuhkan di belahan bumi sana, minimal doa. Akan ada 'Tangan Tak Terlihat' yang akan bekerja. Masalah sampah, masalah udara dan pencemaran, menanam pohon, pornografi, pornoaksi, dsb semua diawali dari diri, keluarga dan lingkungan terdekat.
Berpikir global bertindak lokal.
Langkah-langkah praktis itu kudapatkan dari lingkaran pengajian.
Semua langkah-langkah itu masih terus kulakukan, seiring dan sejalan, diusahakan dalam keseimbangan.  semoga tetap istiqomah kulakukan sampai akhir hayat kelak.
Alhamdulillah dengan itu semua aku 'dipaksa'  enggak punya waktu untuk menggalau urusan pribadi macam utang, nggak punya uang, dapur mau ambruk
#curcol dsb, aku harus berusaha untuk selalu 'waras', aku belajar untuk tidak mementingkan  permasalahan pribadi, karena masih baanyaaak hal besar lain yang harus dipikirkan.
Katanya, siapa yang tidak memikirkan hal-hal besar, pasti yang terjadi sebaliknya.
Kini, dengan posisi lingkaranku ada dua orang kandidat doktor (komunikasi dan psikologi), satu orang S2 psikologi juga, satu calon dokter spesialis, satu direktris perusahaan biro wisata, satu dosen, satu guru dan aku yang karyawati, pembicaraan di lingkaran ini bisa meluas kemana-mana. Dari urusan anak sampai urusan sekolah / perguruan tinggi yang baik. Dari urusan RT sampai urusan negara. Dari urusan dapur sampai urusan politik. Satu jam dua jam tidak cukup. Kadang 3-4 jam. Begitu banyak ilmu yang (seharusnya) bisa aku raup secara cuma-cuma. Ya mungkin karena keterbatasanku aja maka aku masih gini-gini aja. Eits jangan dikira di lingkaran ini kami damai-damai saja, selalu ada dinamika kelompok. Belajar memberikan perhatian, belajar pengertian, belajar mengutamakan kepentingan teman, belajar mendengarkan, belajar menghargai dsb. Marahan dikit sesekali, jauuuh banyakan ketawanya setelah maafan lagi.
Oh iya, ngomongin soal gini-gini aja ini, jadi ingat pas temen sekamarku di sekolah tinggi dulu nelpon (setelah 15 tahun enggak ketemu), nanya :
"Titi masih ngaji ?"
"Masih dong, ada yang ngingetin aja masih bandel, gimana kalau nggak ada yang ngiingetin ?" Itu jawabku.
Terus kenapa judulnya lebay gitu ? Itu karena pas aku bikin tulisan ini, ingat kisah seorang sahabat yang mengadu kepada Rasulullah SAW, katanya kenapa kalau di dalam majelis Rasul surga itu terasa dekat, keimanan itu begitu kuat, ibadah jadi semangat. Sebaliknya ketika kembali ke keluarga, bersenang- senang, surga itu jadi menjauh. Rasul pun memberikan pengertian, bahwa segala sesuatu itu ada saatnya. Ada waktunya.
Jadi kita kitalah yang musti pandai-pandai mengatur waktu. Karena sejatinya, kewajiban itu jauuuuuh lebih banyak dari waktu yang tersedia. Maka apapun kesibukanku, sepanjang masih memungkinkan, aku akan menyediakan waktuku untuk duduk melingkar setiap pekan. Di lingkaran 'beraroma surga' ini.


suasana dalam lingkaranku, yang kebetulan pas di masjid . captured by Faiz

Minggu, 24 November 2013

Akhir Pekan Yang Sibuk

Biarin lah ya... nggaya dikit, sibuk-sibukan melulu. Lha kalau enggak sibuk malah dipertanyakan, ngapain aja anaknya lima kok enggak sibuk.

Setelah 5 hari kerja yang super full karena memang lagi 'peak season', menjelang akhir penerimaan laporan bulanan, maka mari kita sambut dua hari akhir pekan yang  (juga) bakal menyibukkan. Udah kebayang soalnya undangan sudah di tangan dari beberapa hari lalu.

Sabtu pagi sampai siang ada acara di sekolah Faiz dalam rangka memeriahkan tahun baru Hijriah. Ada lomba-lomba antar anak, dan ada juga lomba menghias tumpeng untuk ibu-ibunya. Lomba menghias tumpeng tanding antar kelas.
Anak-anak lomba mewarnai, lomba tahfidz Al Qur'an dan lomba busana muslim. Selain itu juga ada penampilan dari masing masing kelas.

Pagi-pagi diawali lomba mewarnai. Anak-anak udah dikondisikan oleh bu guru di selasar kelas. Kertas bergambar dibagikan. Lucu-lucu komen anak kelas A ketika bu guru pesan mewarnainya harus selesai, tidak keluar garis, langsung ada yang nyautin : bu guru, mewarnainya kebanyakan..... hahaha..
Kebayang ya... konsentrasi mereka kan baru 10 menitan. Ini musti menyelesaikan mewarnai satu halaman folio yang paling enggak perlu waktu setengah jam.

Setelah anak-anak mulai mewarnai, para ibu mulai menghias tumpeng. Selesai bantu-bantu menghias tumpeng, aku ke lokasi lomba mewarnai lagi. Kulihat sebagian besar anak kelas A sudah menyerahkan kertasnya. Tentu saja dengan warnaan yang belum selesai. Paling tinggal beberapa anak aja. Faiz masih mewarnai, tapi sebentar-sebentar berhenti, lihat temannya, lihat kertasnya yang belum selesai, mewarnai lagi dikit, lihat temannya lagi yang sudah lari-lari, aaah..... dia sudah bete. Untunglah bu Iis, salah satu guru Faiz, membujuk agar Faiz menyelesaikan gambarnya. Kata bu Iis, ayo semangat Faiz, katanya mau dapat piala...
Aku sih nggak terlalu ngarep yaa... soalnya kan kalau dilombakan sama kelas B, ya kelas A mental kemana-manalah... targetku buat Faiz cukup belajar menyelesaikan tugas yang diberikan.
Akhirnya setelah dibujuk-bujuk Faiz selesai juga mewarnainya. Tapi olala... kenapa itu celana kanan-kiri beda warna? Trus sepatu kenapa satu kuning satu orange ? (Kata Abi ya sah-sah aja, buktinya sekarang juga ada kok yang jual sendal/sepatu kanan-kiri lain gitu).

Selesai mewarnai, anak-anak menuju halaman belakang di mana panggung di gelar.
Eh pas duduk-duduk gitu, Faiz tiba-tiba bilang mau muntah. Adooooh... aku segera gendong dia ke toilet. Dan memang benar langsung muntah. Kenapa ini anak... aku mengingat-ingat ritual pagi tadi. Apa yang salah... mandi air anget, sarapan udah, kekenyangan enggak, tapi ah sudahlah... Faiznya alhamdulillah tetep tenang kok. Aku ke kantor guru minta minyak kayu putih. Alhamdulillah dapat. Setelah dibalur  minyak, Faiz main lagi, dan minta makaaaaan. Laper kali bo, sarapan keluar semua.

Kemudian diumumkan lomba tahfidz akan dimulai,  ternyata hari ini hanya menampilkan para finalis yang sudah diseleksi di kelas pada hari Rabu dan Kamis. Waaah... aku enggak tau kalau ternyata Faiz lolos seleksi tahfidz. Sampai terharu. Lha dia crita tapi enggak meyakinkan gitu. Yakinnya cuma mewarnai aja. Apa umminya yang enggak perhatian ya... alhamdulillah pas dipanggil naik panggung dia mau, enggak pake ngambek tapi suaranya kecil beut. Urusan sama anak-anak kicik gini guru-guru bener bener udah pengalaman. Kalau ngambek ya dilewat dulu. Habis Faiz turun dipanggil teman lain ada yang grogi, ilang deh hafalan. Trus ada juga yang mau menghafal tapi enggak mau naik panggung. Lucu-lucu... kayak teteh kecil dulu, udah didandanin malah ngambek nggak mau nari, katanya kesel wajahnya 'dicoret-coret'. Hahahaha... di make up Teteeeh... Make UP ! (Ketauan banget anak emak gak pernah dandan).

Lomba tahfiz selesai, ada sessi dongeng daru Kak Nur Halimah yang pernah yang pernah menjuarai lomba mendongeng tingkat nasional. Anak anak ngerubutin panggung. Ada yang ikut naik malah, dan mainin boneka tangan. Yaaa... namanya juga anak-anak.

Setelah dongeng selesai, baru lomba busana muslim. Lucu,  pas lihat anak-anak naik panggung satu per satu untuk bergaya, Faiz malah melipir ke arena bazaar. Enggak mau beranjak dari konter walaupun aku udah bilang enggak akan membelikan mainan apapun. Awalnya aku enggak nyadar kalau dia menghindar dari lomba busana ini.  
Ketika kukatakan bahwa kelas A udah selesai naik panggungnya, baru deh dia mau ke arena panggung lagi. Nggak papa ya Faiz, enggak ikut lomba busana muslim, memang kamu enggak ada keturunan nggaya hahaha walaupun kalau di rumah kamu banyak gaya.

Tibalah saatnya untuk penampilan per kelas. Dimulai dari kelas play group, kelas A baru kelas B1 dan B2. Masing masing kelas unjuk kebolehan. Kelas PG menari, kelas A menyanyi dan main tepuk, kelas B menyanyi, menghafal surat, menghafal hadits sama apa lagi ya lupa. Yang jelas kelas B lebih banyak unjuk kebisaannya.
Baru setelah itu diumumkan hasil perlombaan. Ternyata dari semua lomba, ada dua kriteria. Kelas A+PG sama kelas B. Waaah ... ada harapan dooong... Faiz bawa pulang piala. *ummi mulai ngarepdotcom*

Yang diumumkan pertama adalah lomba tahfidz, alhamdulillah Faiz juara dua. Juara satunya emang pede habis, bacaannya juga bagus. juara tiganya yang tadi mau baca tapi gak mau naik panggung.
Baru juga turun panggung, Faiz dipanggil lagi untuk juara dua lomba mewarnai.
Alhamdulillah.... sehari dapat dua piala. Masih jago kandang nggak papa ya.... nanti nanti latihan ke kandang lawan. Faiz kelihatan seneng tapi sok cool gitu.
Ketauan bangganya pas di rumah dia cerita ke siapa aja yang datang.

Habis zhuhur acara berlanjut dengan  pertemuan ibu-ibu PJ sekolah ibu di rumah. Mari siap-siap bila rumah berubah menjadi seperti kapal pecah karena beberapa sudah konfirm mau ngajak SEMUA anaknya. Ada yang 3 ada yang 2. Syukurlah ya.. cuma 5 anak itu pleus Faiz saja.
Karena tadi pagi gak sempat bikin2,  ku beli kue aja di sebelah, pleus ngedadak masak makroni dan puding. Saking sibuknya puding lupa enggak dikeluarin sampai mereka pulang. Anak-anakku yang kesenengan.
alhamdulillah rumah yang berantakan rapi dalam sekejap, karena ibu-ibu dari si anak-anak tadi kerja sama merapikan kembali. enak ya.. punya teman pengertian gini.

Abis ashar aku pergi untuk ngaji pekanan. Hape aja perlu di-charge, semangat ibadah pasti lebih perlu lagi. Maghrib sampai rumah dengan badan lumayan tepar. Syukurlah tadi siang sudah memborong sayur dan lauk masakan ibu-ibu di bazaar, jadi aku tinggal menghangatkan aja.

Hari minggunya aku pergi lagi. Kali ini acaranya cukup serius. Seminar ketahanan keluarga. Kalau diceritain lengkap bisa jadi satu postingan lagi bahkan mungkin bersambung. hehehe... berarti aku harus mengingat-ingat lagi isi ceramah. 
Acara ini sebenarnya sampai sore. Tapi berhubung aku pergi sama Faiz, kayaknya hanya bertahan sampai siang.

Sessi pagi mendengarkan pemaparan tentang  pemikiran feminisme, LGBT, sex bebas, pornografi, pornoaksi dsb serta upaya-upaya penganutnya dalam mensosialisasikan faham tersebut. Ngerilah judulnya.
Intinya bahwa pemikiran-pemikiran  itu 'menyerang' dari institusi terkecil yaitu KELUARGA. Dan haluuuuussss.... banget. Sampai-sampai yang diserang seringnya enggak kerasa. Contohnya : misal ngajari anak baca abjad.  A-apple, B-blue, C- condom (biasanya kan cat yaa).
Masaaa' dari kecil dah dikenalkan dengan benda ituh? X_X
Hadeuuuh.....
Mestinya aku  pergi sama Abi, supaya
Abi dapat infonya langsung dari nara  sumber, sayang,  Abi memilih di rumah menemani 4 anak lainnya.

Contoh lain dari tontonan, melalui karakter-karakter yang nggak jelas cowok ceweknya, secara nggak sadar yang tadinya orang enggak setuju dan menentang, lama kelamaan menjadi memaklumi karena begitu banyaknya pelaku di sekitarnya.
Contoh lain lagi, banyak diantara kita yang sudah maklum aja kalau ada host laki-laki yang melambai. Padahal jaman lenong rumpi dulu kita masih nganggep bahwa perilaku 'melambai' itu sesuatu yang aneh.
Begitulah saudara-saudara.
Jadi berasa makin berat nih, PR menjaga diri dan keluarga. Semoga Allah SWT mudahkan tugas kita para ibu dalam membantu suami mendidik anak-anak. Aaamiin...

Demikianlah akhir pekanku kemarin. Malem masih dilanjut menjahit tas yang beberapa diantaranya bakal aku hadiahkan buat para komentator yang beruntung.
Mau tas ? Langsung aja cuuzzz ke sebelah yaa...