Selasa, 31 Desember 2013

Kisah Kasih Asisten Rumah Tangga

Ini bukan cerita tentang ART yang menjalin asmara ya.. tapi cerita tentang ART yang pernah menemani dan mengasuh anak-anakku.
Jadi aja ini semacam kaleidoskop ART gituuu...

Sewaktu kami tinggal di Kupang selama  hampir 5 tahun dan sampai lahir anak ketiga, tidak ada ART di rumah. Jadi pekerjaan rumah ya dikerjakan berdua aja sama Abi. Kalau Abi nyuci aku setrika. Kalau aku nyuci ya Abi yang setrika. Kadang Abi ya nyuci ya setrika ya ngepel, ya ngisi air hehehe...*istringelunjak*
Trus anak-anak gimana dooong kalau ditinggal kerja?

Pas Mbak Fathimah lahir, ada Ummi dan Cici  yang bersedia menjaga mbak Fathimah. Beliau berdua sepasang suami istri. Anak-anaknya dua orang dan menjadi murid pengajian Abi. Jadi pagi hari sebelum ngantor kami ke rumah beliau nganter mbak Fathimah, siang istirahat nengok ke rumah beliau, baru sore dibawa pulang. Meski punya bayi dan belum presensi sidik jari, aku gak bisa santai-santai istirahat siang. Karena waktu itu berlaku absen 4x. Jadi jam 12 istirahat tanda tangan dan maksimal jam 13.30 sudah harus kembali ke kantor /tanda tangan lagi. Makanya kalau yang nakal, pulangnya bukan jam 12, tapi jam 13 baru keluar, balik lagi menjelang jam pulang.
Kalau telat kembali setelah istirahat ? Ya telat/tlb. Jadi sehari bisa tlb/pc dua kali.
Tapi syukur juga aku ngalamin ini, sepuluh tahun kemudian pas di Bandung, dpt boss yang peduli banget masalah ini, udah enggak kaget. Karena aku sudah mengalami yang lebih dari itu.

Ketika Fikri lahir, Ummi dan Cici enggak sanggup menjaga dua anak. Alhamdulillah ada Nenek Khalid dan Kak Ida yang bersedia. Rumahnya lebih dekat dengan tempat tinggalku. Jadi pagi-pagi mbak Fathim dan Fikri: diboyong ke sana. Eh, Fikri aku bawa ngantor dulu ding, sampai 6 bulan ASI ekslusifnya. Baru setelah itu aku titipin di Nenek. Aku bawain masakan dan jajan-jajanan buat de krucils. Sufor juga nyimpen di rumah Nenek. Nenek Khalid ini baiiiik banget. Seringkali di akhir minggu kami dibikinkan kue-kue gitu. Favoritnya adalah bolu rasa jeruk, waktu itu aku belum tertarik baking, yang kuingat, rasa jeruk itu didapat dari sirup ABC aja, segimana dan bagaimananya aku gak perhatiin hehehe... Trus kalau lebaran dibikinin kuker dan baju baru. Pokoknya enggak itungan. Banyak utang budi sama Nenek Khalid ini.
Pas Fadhila lahir, Nenek Khalid sempat kebingungan bagaimana ini menjaga 3 anak. Fadhila kubawa ngantor sampai usia 6 bulan.
Trus Abi sudah mengajukan pindah ke Jawa. SK Abi keluar, aku menyusul mengajukan pindah juga.
Alhamdulillah waktu itu ada satu lagi anak gadis beliau yang baru keluar dari Pesantren Putri Padang Panjang dan sedang melamar  pekerjaan. Namanya Kak Aminah. Kak Aminah ini yang bersedia membantu menemani Fadhila, akhirnya Fadhila ikut juga ke rumah Nenek Khalid. Iramanya masih sama. Siang istirahat aku ke rumah Nenek. Sore nanti jemput. Jemputnya bukan di rumah, tapi di TPA/Taman Pendidikan Al Qur'an di masjid samping rumah. Karena kalau sore Kak Ida dan kak Aminah mengajar TPA. Kecuali Fadhila kecil yang kujemput di rumah Nenek. Demikian berlangsung selama Agustus-November tahun itu.

Nenek dan Kakek Khalid, pas pulang Haji 2007 mampir ke Bandung
'Cucu' kesayangan Nenek Khalid, sampai tangis-tangisan pas nganter ke bandara saat kami pindahan

Fadhila berumur hampir setahun saat kami pindah Bandung. Waktu itu Mbak Fathimah  sudah sekolah TK sampai siang. Inilah pertama kalinya kami punya ART di rumah.
ART pertama : Mbak Rini, lulusan SMA dari Jawa. Modelnya PP gitu, pagi datang, sore pulang.
Sebelum mulai bekerja, aku main dulu ke rumah kontrakannya. Dia ngontrak dekat kakaknya yang sudah berkeluarga dan bekerja di Bandung. Dekat rumah teman pengajianku juga.
Hari-hari pertama bekerja pakai celana pendek selutut. Lha aku aja sama pak suami gak boleh pakai celana pendek demi menjaga pandangan Fikri,,  ini ada gadis pakai celana pendek di rumah. Akhirnya kusediakan beberapa celana panjang untuk dipakainya. Alhamdulillah mba Rini gak keberatan.
Untuk memilih acara tivi, kami belikan tabloid bintang, dan kami lingkari acara-acara yang boleh ditonton bersama anak-anak. Kalau anak-anak tidur, terserah mbak Rini mau nonton apa.
Pekerjaan utama menjaga anak dan setrika. Masak dan nyuci sudah kukerjakan sebelum mba Rini datang. Bebersih rumah Abi yang melakukan.
Sayang, mbak Rini kerja hanya dua minggu saja. Dua minggu ?
Umminya galak ya.... kebanyakan peraturan kalii... gajinya kecil pulak.
Hahaha... enggaklaah... insya Allah. Mba Rini pamit baik-baik karena dia diterima kerja di pabrik tekstil. Jadi dia kerja di rumahku iseng-iseng aja nunggu jawaban lamaran kerja. Ya sudah deh belum rejeki. Padahal enak lho ngobrol sama mbak Rini. Yaeyalah... anak sma gitu lho...
Beberapa waktu kemudian pas ketemu lagi aku pangling karena mbak Rini sudah berkerudung cantik.

ART kedua Bi Erna
Usianya sudah setengah tua. Aku tidak ke rumah beliau dulu karena kami sudah kenal sering ketemu di warung ketika belanja.
Default pekerjaannya masih sama dengan Mbak Rini.
Paling sebulanan Bibi ini kerja, minta berhenti karena jam kerjanya terlalu panjang. Maunya yang nyuci setrika terus pulang gituuu... seperti ART pulang pergi pada umumnya. Yah.. bi, emang yang kami butuhkan teman anak-anak selama kami bekerja. Kalau kerjaan rumah mah udah biasa kami kerjakan bersama.
Ya sudah deeh.... kamipun merelakan bibi pindah.

Tidak lama kemudian, ada Bi Marie.
Alhamdulillah masa-masa mencari ART ini GPL alias gak pakai lama. Soalnya model ART pulang pergi ini banyak banget di komplekku. Kalau aku menyapu halaman pagi-pagi, pasti ketemu mereka berangkat kerja. Makanya pas aku perlu, nitip pesan aja sama yang lewat itu -para ART tetanggaku- untuk dicarikan.
Bi Marie bersama kami hampir dua tahunan.  Fikri sudah sekolah juga. Jadi kalau pagi bi Marie hanya berdua Fadhila. Pekerjaan mencuci aku delegasikan. Masak tetap aku yang mengerjakan. Kayaknya masih mendingan membiarkan anak main air daripada anak main dekat kompor..
Nah pas aku mau melahirkan anak ke empat, aku ambil cuti besar selama 3 bulan. Karena aku di rumah, dan tidak dapat tunjangan, maka aku bilang bi Marie kondisiku, aku tidak memungkinkan untuk membayar gajinya. Jadi Bibi Mari aku cutikan, dengan perjanjian kalau dapat kerjaan ya silakan bekerja di tempat lain. Gak balik ke aku gapapa. Tapi kalau mau kembali ya pintu rumah kami terbuka.
Kurang lebih sebulanan, bi Marie main ke rumah dan cerita sudah punya kerjaan. Aku ikut seneng juga, bi Marie enggak nganggur lagi.

Ketika cutiku hampir habis, tante sebelah menawarkan ART. Yang ditawarkan adalah ibu teh Entin-ART beliau. Namanya Bi Esih.
Yang mengejutkan adalah, Tante mensyaratkan Bi Esih pake kerudung untuk bekerja di rumahku. Padahal belum ada pembicaraan apapun antara aku dan bi Esih. Dan akupun enggak menjadikan itu sebagai syarat. Toh ketiga ART terdahulu juga aku gak pakai syarat itu. Tapi bi Esih ternyata menerima. Ya alhamdulillah...
Jadi kalau berangkat kerja Bibi pakai kerudung rapi. Kalau di rumah/pas libur ya kostumnya lain lagi.
Seperti ART terdahulu, aku main ke rumah bibi. Kenalan sama keluarganya, sama suaminya. Asalnya dari Kuningan tapi sudah menetap di Bandung. Suami ya punya toko di pasar.
Tahun-tahun pertama sama Bi Esih itu ibarat orang pacaran putus nyambung gitu. Kadang kesel. Tapi ya untunglah kalau malam Bibi pulang, jadi pas pagi datang lagi, aku udah ilang marahnya.
Misalnya : Bibi keukeuh membawa anak-anakku pulang ke rumahnya kalau siang hari. Tapi Bibi selalu berdalih "moal diculik, moal diciwitan". Gak akan diculik, gak akan dicubitin, tetap disayang.
Iyaaa... percaya. Justru saking sayangnya Bibi sama anak-anak, dan memberikan apa saja, dan mengijinkan nonton apapun di rumahnya itulah yang membuat kami khawatir. Rasa-rasanya seperti ada perebutan perhatian anak-anak dan inkonsistensi peraturan rumah gitu. Tapi ya alhamdulillah setiap malam Bibi pulang anak anak kembali pada kami dan tetap diingatkan dengan peraturan rumah, sebagai anak Abi dan Umi. Lama-kelamaan posisi Bibi itu seperti orang tua kami, gak bisa dibantah. Gemes ? Pecat aja sih ! *ups
Hahahaha.... *iya sekarang bisa ketawa*
Pernah... pernah aku mau day-care in siTeteh waktu itu. Udah survey sana sini, tapi ternyata si Tetehnya juga enggak bisa ditinggalin dan toh mikirnya bentar lagi juga sekolah. Ya udah deh, enggak jadi.
Pernah juga aku mau berhentikan Bibi pas lahiran Faiz. Dengan alasan aku gak bisa membayar gajinya. Eh ternyata Bibi cuma dua hari berhenti, habis itu tetap datang, katanya tetep mau ikut keluarga kami, enggak dibayar juga enggak papa. Drama banget enggak siih ???
Kenapa bisa gitu? Enggak dibayar gak papa. Dibayar nanti-nanti aja, maksudnya.
Tahukah saudara-saudara, Bibi itu bekerja bukannya butuh penghasilan. kayaknya ngisi waktu luang aja. Hasil pasar suaminya sangat cukup untuk menghidupi mereka berdua. Jadi gaji bibi tiap bulan dibelikan perhiasan (*pinjem dong Bi... buat digadaiin, 4 bulaaan aja..... ) dan setelah terkumpul banyak, menjadi tanah dan sapi di kampung sana. Bibi tidak tertarik overtime kalau dia enggak mau.
Bibi ini baiiik banget sama anak-anak. Enggak pernah mau makan di rumahku, makanya siang selalu pulang dan makan di rumahnya.Katanya buat anak-anak aja. Dibawain oleh - oleh juga enggak mau, kecuali dianter ke rumahnya. Sekarang aja, setelah bibi ada cucu, aku bilang 'titip buat Eka', bibi enggak bisa nolak lagi.
Tiap habis gajian pasti beliin oleh-oleh buat anak-anak. tiap Senin/habis libur pasti mbawain kue buat anak-anak. Jangan tanya kalau habis mudik, pasti bawa beras dan sayuran untuk kami.
Dan yang paling jooss, kalau lebaran dikasih THR, trus ngasih lagi THE lagi ke anak-anakku. Bibi juga mbeliin baju buat anak-anak.  Dulu jamannya Firda, ya Firda yang dikasih. Sekarang jaman Faiz, ya Faiz yang banyak dikasih perhatian sama Bibi.
Dan kurasa Bibi pun perlahan tapi pasti banyak menyesuaikan dengan kebiasaan kami. Pasti dia juga banyak makan hatinya sama kami, namanya juga 7 orang. orang banyak ya banyak maunya.
Itulah sebabnya kami selalu menekankan pada anak-anak, hormatilah bibi sebagai pengganti orang tua selama ummi dan abi enggak ada di rumah. Harus nurut sama bibi. Kalau disuruh makan ya makan, kalau disuruh mandi ya mandi. Kalau keluar rumah pamit sama bibi.

Bi Esih bersama Eka dan Faiz

Dengan 10 tahun bi Esih bersama kami, rasanya aku sudah membuktikan satu anekdot yang ku dapat dari temen kantor :
"Yang membuat pembantu betah itu, kalau bukan karena majikannya yang baik banget, pasti karena dianya yang baik banget".

Minggu, 29 Desember 2013

Testimoni : Sebulan Bersama Grup ODOJ

Aku sudah pernah posting tentang grup ODOJ sebelum ini di sini .  Kini hampir sebulan aku tergabung dalam grup ODOJ 230. Tepatnya satu periode haidku hehe...
Belum lama ? Iya banget. Ibarat peribahasa baru seumur jagung. Itupun masih kurang. Karena umur jagung sekitar 3 bulan. Meski baru sebentar, tapi subhanallah, efeknya luarrrr biasaa...

Seperti yang dikatakan Mak Ika dalam postingannya, kurang lebih aku juga merasakan hal yang sama.  Sungguh, setelah menjadi ODOJers terasa sekali bahwa ternyata aku masih mempunyai banyak keluangan waktu diantara kesibukan atau yang kuanggap sebagai kesibukan. Yang kuperlukan hanyalah fokus dan azzam/kemauan yang kuat untuk menyelesaikan (minimal)  satu juz. Azzam itu semacam apa ya...pokoknya yang keinget teruslah. Klo di pengajian ibu-ibu, aku sering  mengibaratkan bagai perasaan/pikiran ibu kalau anaknya lagi sakit. Pasti akan keingeeeeet terus apapun kesibukan sang ibu. Sehingga di sela-sela kesibukan itu, dia masih dapat melantunkan doa kesembuhan buat anak kita. Begitulah kira-kira.
Daan.... ternyata bisa lho...  Aku dapati banyak kesempatan tilawah yang selama ini terbiarkan, misal  saat nunggu jemputan, saat pagi antara jam kedatangan sampai jam bertugas tiba, saat nunggu customer datang, saat nunggu yang lain siap-siap... banyak laah... barang lima menitan juga udah lumayan,  bisa dapat satu - dua halaman. Tapi tetap ada waktu-waktu yang memang kita luangkan untuk tilawah dengan khusyu'.  Istilahnya golden time. Tiap orang mungkin berbeda. Biasanya  sebelum atau setelah subuh. Ada juga yang setelah ashar. Temukan saja kapan golden time kita, dan tilawahlah dengan tenang.

Selain itu, aku juga menemukan teman-teman yang saling mendukung untuk bersama-sama menyelesaikan ( minimal ) satu juz. Teman seperjuangan itu perlu. Kan ada lagunya tuh...
"Selama ini, kumencari-cari... teman yang sejati, tuk menemani, perjuangan ini...."
Wkwkwkwk... penyuka nasyid slow pasti tahu lagu ini.
Yah, ibaratnya orang mau nakal aja -yang katanya udah ditemenin setan - masih memerlukan 'partner in crime'. Apalagi ini mau melakukan kebaikan, sangat-sangat perlu teman untuk saling mengingatkan. Karena  pasti banyak banget godaannya. Apakah bentuk godaan itu? Banyaklah... kita rasa-rasa sendiri aja, hal apa yang menahan kita dari kebaikan/berbuat baik. Tiap orang beda-beda sesuai kondisi dan kecenderungannya. Nah, alhamdulillah, dalam hal tilawah qur'an ini aku dah dapetin teman seperjuanganku di grupODOJ  ini.

Bertambah teman dan saudara. 30 orang tergabung dalam satu grup, intens 24 jam. Subhanallah. Kemarin kami kenalan satu per satu di grup. Tak kenal maka..... ta'aruf atau kenalan. Alhamdulillah, grupku ini heterogen sekali. Ada beberapa dokter, ada beberapa PNS, ada dosen, ada terapis ABK, ada guru, ada IRT dan profesional lain. Subhanallah... terasa sekali dinamikanya.  Tempat tinggalnya pun beda-beda, beberapa di Bandung, ada yang Jakarta, Depok, Garut, dsb. Jadi bener bener lintas geografis. Atau jangan-jangan udah mendunia (amiiiiin....)
Ya Fety aja yang di Jepun sana dah gabung ODOJ.
Anaknya Jamil Az-Zaini di Jerman sana gabung ODOJ*.
Dan kabarnya..ada puluhan orang yang rela mengantri setiap harinya untuk diinvite ke grup ODOJ. Subhanallah...sebulan lalu aja grupku udah nomor 230, sekarang udah berapa ya.. Buat yang pengen kopdar dengan sesama ODOJers, Insya Allah akan ada acara akbar ODOJers se-Indonesia Mei tahun depan di Masjid Istiqlal Jakarta.

Bertambah ilmu dan pemahaman, insya Allah. Sambil belajar prakteknya, tentu saja. Bukan sebatas tentang tafsir dsb, tapi share hikmah dan pengetahuan dari anggota lain sesuai bidang ilmunya. Ada yang share hypnoparenting. Ada yang share tips mengajarkan anak hafalan Al Qur'an, dsb. Semua jenis ilmu dan info boleh di-share di grup, kecuali jualan. Banyak juga cerita tentang keluarga-keluarga pecinta Al Qur'an yang bikin diri  menjadi berkaca, betapa masih jauhnya interaksi diriku ini dengan kitabullah. Semua itu menjadi semacam moodbooster agar lebih dekat dan dekat lagi dengan Al Qur'an sebagai sumber ilmu dan pengetahuan.

Bertambahnya kecintaan terhadap Al Qur'an - insya Allah.
Katanya, cinta itu kan inget melulu, berdebar-debar kalau dengar namanya, pengen dekat-dekat terus, dsb. Cinta itu harus dipelihara, antara lain ya dengan menjaga kualitas dan kuantitas hubungan. Kurasa rumus cinta itu berlaku untuk semua hal. Begitu juga dengan cinta terhadap Al Qur'an.
Nah dengan belajar one day one juz ini ternyata ajaib sekali ya.. sebelum gabung, membaca satu juz atau dua juz per hari itu hanya berlaku di bulan ramadhan. Ternyata di luar ramadhan juga tetep nikmat lhooo..., banyak-banyak baca Al Qur'an.
Yang awalnya masih terbata-bata, dengan sering sering membaca insya allah makin lancar tilawahnya.
yang udah lancar tilawahnya, lama-lama insya Allah makin familiar dengan ayat yang dibaca, maka akan lebih mudah menghafalnya. Yang sudah menghafal, maka tilawah menjadi salah satu cara penjagaan. Yang belum tahu maknanya, ya jadi belajar. Yang udah belajar maknanya, ya jadi terdorong untuk mempraktekkan. .Pokoknya enggak akan ada habisnya deh..
Mungkin ada yang bertanya, trus kalau enggak punya wudhu gimana ? ini kan beda pendapat masalah fiqhiyah ya.., di luar kapasitaskku untuk membahasnya. Solusinya ya sering-sering aja wudhu lagi, minimal setiap ke toilet sekalian wudhu. Tuh kan,  dengan ODOJ jadi ada amal baik lain yang menyertai, yaitu mendawamkan wudhu/menjaga wudhu.

Hidupnya hati - khusus bagian ini bukan testimoni ya.. tapi harapan.
Katanya, hati yang hidup, hati yang sehat adalah hati yang mudah menerima peringatan dan pelajaran. Mudah diarahkan kepada kebaikan.
Ibaratnya tanah, dia adalah tanah yang gembur, yang mudah ditanami dan dapat menyimpan air di sela-selanya. Sehingga tanaman di atasnya menjadi tanaman yang subur, berbuah lebat, dan bermanfaat untuk orang banyak... enggak berbuah pun, minimal bisa untuk berteduh dan bersarang burung-burung. Nah, dengan membaca ayat-ayat Allah, semoga hati kita menjadi lebih lembut, menjadi lebih lunak. Sehingga kebaikan-kebaikan yang Allah curahkan di kehidupan kita ini, dapat kita lihat dan kita rasakan. Ini akan membuat hati dipenuhi kesyukuran. Kesadaran akan limpahan kebaikan dari  Allah ini akan mendorong seseorang untuk melahirkan kebaikan-kebaikan baru. Ahsin kama ahsanallah ilaik. Berbuat baiklah seperti Allah berbuat baik kepada kalian. Dalem banget ini kaan.. dan enggak akan ada selesainya sampai maut menjemput. Allah berbuat baik sama kita terus menerus, Allah berbuat baik sama kita tanpa minta balasan, Allah berbuat baik sama kita tanpa mengharap pujian, Allah berbuat baik sama kita tiada batas dan tidak pilah pilih. Dsb. Jleb jleb jleb laaah...
Semoga kita dijadikan pribadi-pribadi yang terus menerus melahirkan kebaikan. Amiiin.

Demikian pengalamanku selama sebulan ikut program ODOJ, besar harapku (minimal) one day one juz ini menjadi salah satu amalan yang istiqomah aku jalani hingga akhir hayat nanti. Amin amin Ya Rabbal 'alamin. Soalnya, para sahabat Nabi, rata rata mengkhatamkan Al Qur'an 10 hari, yang lebih cepat dari itu ada yang 7 hari dan ada yang 3 hari. Dan yang paling lama diantara mereka adalah khatam sekali dalam sebulan.
Buat teman teman yang pingin gabung, aku insya allah masih siap menjadi mak comblang ke admin ODOJ pusat. SMS aja ya .. ke nomor aku 081901383151, sebutkan saja nama lengkap, jenis kelamin (L/P), dan nomor whatsapp atau pin BB yang akan didaftarkan.


*http://jamilazzaini.com/one-day-one-juz/

Kamis, 26 Desember 2013

Hari Ibu bersama Ibu dan Anak

Ceritanya kemarin kami mengadakan peringatan Hari Ibu. Acaranya disatuin sama acara Bincang-Bincang Santai (BBS) Rumah Keluarga. BBS-nya sendiri ini udah kali kedua. Kali pertama pertengahan tahun kemarin bersama Ibu Atalia Kamil dan Ibu Zulaeha Rahman. Kali ini nara sumbernya adalah Ibu Yuria Pratiwi Cleopatra, nama tenarnya Teh Patra- alumni ITB yang sudah lulus S2 Keuangan Syariah di UI. Temanya nggak jauh-jauh dari seputar keluarga dan mendidik anak.

Sebelum acara BBS dimulai, acara dimeriahkan dengan lomba mewarnai untuk siswa TK yang notabene adalah  anak-anak peserta BBS.
Acara dibuka dengan tasmi' (mendengarkan hafalan Al Qur'an) surat An-Naba. Full  40 ayat. Dibawakan oleh Sofi - kelas 5 SD Cendekia Muda. Sofi ini putri Ibu Nailah ketua Pimpinan Cabang Persaudaraan Muslimah (Salimah) Ujungberung. Wah, kalau ketemu anak kecil yang sudah mulai menghafal Al Qur'an gini malu hati. Umur segitu dulu aku masih main di sawah dan di kali, dan baru belajar menghafal bacaan shalat. Umur segini sekarang, hafalan juga segini-gini aja. Astaghfirullah...

Setelah tasmi' ada sambutan sebentar dari panitia dan pemaparan oleh Teh Patra. Ramai ? Pastilah. Namanya juga acara ibu dan anak. Anak anak riuh bermain di halaman TK, sementara ibu-ibu tetap konsentrasi mendengarkan apa yang disampaikan Teh Patra saking menariknya.

ini lho ulah anak-anak selama ibunya mengikuti BBS

Beliau cerita tentang mendidik anak. Bahwa memberikan pendidikan terbaik untuk anak itu bukan berarti harus masuk sekolah yang favorit dan mahal. Ya harus disesuaikan dengan kondisi  kita masing-masing. Apa yang tidak didapat anak dari sekolahan, orang tua harus mengusahakan. Sebagai praktisi homeschooling, beliau menceritakan aktivitasnya, di saat sekolah serba mahal, kenapa enggak jika para ibu mengajar sendiri anak-anaknya. Dalam komunitas home schooling ini ibu akan mengajar sesuai latar belakang ilmunya. Misal belajar bahasa ke Mama A. Belajar matematika ke Mama si B, dst.
Ya tapi kembali lagi ke kondisi setiap keluarga. Pilihannya apa. Semua ada kurang lebihnya. Tapi dari pilihan itu, minimal ada 4 hal yang dibekalkan orang tua pada anak :
* kemampuan membaca, memahami dan menghafal Al Qur'an ( krn dari Al Qur'an anak akan mengenal diri dan Tuhannya)
* kemampuan berbahasa - sebagai bekal dia berinteraksi dengan sesama
* kemampuan untuk survive - termasuk ilmu pengetahuan sesuai jamannya ada di sini ya...
* kesehatan fisik
Pas sesi tanya jawab, ibu ibu berebut untuk bertanya. Bukan karena dapat doorprize dari Fera|Faza|Faqih OLShop, tapi karena pengen lebih jelas.

Acara ditutup dengan penyerahan hadiah lomba mewarnai yang berupa piala, piagam penghargaan, bingkisan dan voucher diskon untuk test STIFIN dari Pak Human. Vocer itu dapat digunakan sebagai pengurang biaya test STIFIN yang aslinya Rp.350rb. Buat temen-temen yang mau nanya-nanya tentang STIFIN bisa langsung  berkunjung ke website : www.pakhuman.com atau melalui FB Human Revalsyah / chat WA 087825240626.

Selesai acara panitia langsung rapat evaluasi. Alhamdulillah dapat kejutan masing-masing sekotak nasi kuning dari bu Yani.
Lumayan capek juga, tapi seneng karena acara sukses. Anak senang, ibu senang, keluarga tenang hehehe


Sofi - berkerudung Ungu. Ditemani adiknya
hihi itu yang kerudung biru siapa ya.. menyamar jadi bu guru TK
Juri dan sebagian panitia foto bersama dengan teh Patra (tengah, berkerudung abu)