Jumat, 28 Februari 2014

Time for Great Achievement


Tiga.
Buat kantorku, khususnya buat petugas garis depan -cie cie- macam aku ini, angka tiga identik dengan kerja keras. Ya.. bulan Maret adalah puncaknya keramaian. Layaknya hajatan. Semua pegawai diterjunkan. Jadwal piket sudah jauh- jauh hari ditentukan. Sosialisasi peraturan baru yang terkait juga diselenggarakan. Pasang tenda, sewa kursi tamu, sewa sound system, sewa mesin antrian tambahan, siapkan lahan parkir tambahan, siapkan logistik untuk para karyawan yang bekerja extra keras dan di luar pekerjaan rutin.  Pokoknya  kami selalu  berusaha memberikan pelayanan terbaik buat para tamu.
Ya, akan buaaanyaaaak.... sekali tamu-tamu berdatangan. Ngapain sih ? Lapor SPT Tahunan, saudara-saudara....
Laporan teman-teman sudah disiapkan ?  *langsungjualan*
Ke mbak Tituk kalau mau konsultasi ya.... Atau ke Baginda Ratu. *lemparbolapanas*

Khusus pekerjaanku di tempat pendaftaran nomor akunnya, *sengaja nggak sebut merk* ternyata juga ada lonjakan volume sejak akhir tahun. Semua sekarang perlu en-pe-we-peh. Mau buka rekening, mau dapat gaji, mau nyairin bansos, mau nyairin deposito, dsb.  Dari mulai tukang gorengan sampai pegawai kantoran, dari SPG Yakult sampai SPG Mayora (sengaja nyebut merk), semua bikin enpewepeh.
Jadi aku enggak heran kalau volume kerjaan meningkat.

Mau dibilang terlalu ya gapapa deh.. meski berkantor di satu alamat, kuhitung-hitung bulan ini aku baru 5x ketemu Mbak Tituk. Pas pengajian bulanan, pas ketemu di mesin absen, pas mbak Tituk shalat aku keluar dari masjid, pas Mbak tituk daftar e-fin dan pas mbak Tituk ke temen sebelahku.
Hahahaha.... kayaknya kami musti bikin jadwal sarapan bareng di kantor, gonta ganti pagi ini di meja Mbak Tituk, besoknya di mejaku. Supaya bisa sering - sering ketemu.
Ya itulah teman... saatnya memberikan yang terbaik. Masih ada kok waktunya aku bisa janjian sama mak Sondang -hiks, inget si Mamak Senin besok dah ngantor di Gatsu Jekardah-, masih punya waktu untuk nyelesaiin odoj, masih ada waktu untuk ketawa ketiwi sama temen di ruangan atau grup WA.
Daaan kemarin dapat tugas workshop 2 hari ke kanwil yang berasa piknik.
Duduk semeja sama ibu kasi yang baik dan melihatku sibuk ngebalesin obrolan di grup WA beliau komen : "nikmatin Ti... jarang-jarang kamu bisa main hape kayak gini".
Hahaha she know me so weeeeelll dan salah satu adik-adik lingkaran juga ada yang komen :
"Budee.... tumben jam segini bisa ngobrol di grup"
Hahahaha makin ngakak. Hape sih dibawa bawa pagi sore, tapi dibukanya ya gitu deh. Tergantung keadaan.

Jadi temaaan, di dalam postingan biar Feb ini enggak jauh jauh amat dari postingan Januari,  intinya.. alhamdulillah. Syukuri apa yang kita miliki saat ini. Dan fokus dengan sisi positifnya.
Ya semoga makin padat pekerjaan makin berkah penghasilan.
Kan kan kan... asalkan sehaaat... insya Allah dijabanin selama masih jam kerja. Maksudnya.. plis no lembur. Plis plis plis... biarlah yang muda yang berjaya eh yang lembur. *lirik anak anak yang baru penempatan*

Alhamdulillah juga, meski hectic di kantor, adaaaaaaaa aja  teman- teman dunia maya yang menghangatkan  dunia nyataku.
Bulan ini dapat kiriman alat rajut made in Jepang dari Mak Ika. Berbonus batik dan kerudung juga.
Trus bulan ini juga dapat hadiah GA dari Mak Ida Laila -salah saru calon Srikandi Blogger 2014. Isinya beberapa buku tulisan beliau dan suami. Asyiik ya... alhamdu - lillaaah...
Makasih teman-teman.
Dan tetap semangat berikan yang terbaik ya....

alat rajut yang cantik pinky jelita
hadiah dari bu Ida

Jumat, 21 Februari 2014

HBD, Yaew !

Suatu sore, sudah lewat jam pelayanan.
Tamu - tamu yang harus kulayani masih mengantri.
Tiba - tiba seorang teman membawakan hapeku yang katanya sudah bergetar berkali-kali.
Sambil fotocopy ke belakang, aku lihat siapa yang menelponku.
Ternyata dari sekolah Teteh. Hari ini memang Teteh ada tambahan untuk persiapan olimpiade sains.
Ketika kutelpon balik, yang terdengar hanya sedu sedan Teteh. Sampai aku harus mengulang beberapa kali pertanyaanku.
"Kenapa?"
"Aku lupa bilang mang ojek untuk menjemput". Jawab Teteh bercampur panik.
"Ya sudah, ditunggu saja sebentar, Ummi telpon mang ojeknya" kataku berusaha menenangkan.

Telpon satu kali, dua kali tidak tersambung juga. Kepanikan Teteh segera merambat padaku. Siapa yang akan menjemput Teteh? Aku di kantor, Abi di kantor.
Aku telpon ke rumah. Mbak belum pulang.
Bibi tidak berani menjemput Teteh meskipun naik ojek dari rumah, khawatir nyasar.
Ayuk enggak mau menjemput karena baru pulang.
Siapa lagi Nak yang bisa Ummi mintai tolong?
Ummi pun menelpon kamu. Singkat saja Ummi bertanya sambil meredam kekhawatiran :
"Yaew, Teteh belum pulang karena lupa bilang minta jemput sama mang ojek. Ayuk dan Bibi gak mau jemput. Kamu mau mau jemput Teteh tidak ? Cepetan jawab jangan pakai mikir!"
Sekian detik menunggu jawabmu, terasa sangat lama.
Dan betapa leganya Ummi, Nak. Ketika kamu menjawab bahwa kamu yang akan menjemput adikmu naik ojek.
Kalaupun kamu nggak mau, Ummi sungguh mengerti. Karena ini bukanlah tugasmu.
Kalaupun kamu keberatan, Ummi juga maklum, karena ini 'keteledoran' Teteh.
Tapi melihatmu tampil, mengambil alih tanggung jawab kecil ini, sungguh memberikan ketenangan dan kebanggaan tersendiri buat Ummi, di 15 tahun usiamu kini.
Meski kesal dengan adikmu, kau dapat  menempatkan dirimu dengan tepat dalam kejadian ini.
15 tahun.
Masih sering Ummi menganggapmu anak kecil.
Masih sering kita salaman dan berlama-lama pegangan tangan.
Hampir tiap pagi kau pamit hingga berkali-kali.
Ah, Ummi sudah susah payah bila mau menciummu, kau sudah tinggi menjulang kini, melewati Mbak dan Abimu.
Paling-paling Ummi acak acak saja poni yang menyembunyikan sedikit jerawatmu.

Selamat ulang tahun, Fik.
Semoga berkahlah usia, ilmu, dan semua yang Allah titipkan padamu.
Tataplah masa depanmu, Nak. Langkahkan kaki panjangmu.
Kami akan mendukung dan selalu mendoakanmu.
Agar kau menjadi hamba Allah yang cerdas, berani dan mempunya sifat Rabbani, sesuai nama yang kami berikan padamu.
Nggak ada kue ya Nak, nggak ada tiup lilin. Karena pertambahan umurmu bukanlah prestasi yang harus kau rayakan. Justru seperti katamu, setiap bangun pagi, makin dekat waktu kita kembali pada Ilahi.

Rabu, 12 Februari 2014

Suami Wow, Suami Wonderful

Resensi buku
Judul                  : Wonderful Husband
Penulis               : Cahyadi Takariawan
ISBN                 : 978-602-1680-03-2
Penerbit             : PT Era Adicitra Intermedia
Jumlah halaman  : xxi + 314 halaman Ukuran 14,5 cm
Harga buku        : Rp. 55.000,00
Sampul              : Hard cover

Jika  hanya membaca judul pada sampul buku ini, pastilah akan mengira bahwa buku ini khusus untuk para suami. Pun lomba resensi ini, akan lebih tepat bila ditujukan hanya kepada blogger laki - laki. Akan tetapi tidak bagi saya , ketika membaca halaman demi halamannya, maka saya seolah - olah sedang berada di depan sebuah cermin yang sangat lebar dan bersih. Di sana terlihat bayangan saya sendiri dengan jelas. Kemudian, menangislah saya di depan cermin tersebut. Ya, saya menangis membaca buku Wonderful Husband. Air mata saya bukan disebabkan karena suami belum seperti yang tergambar dalam buku ini, sama sekali bukan. Seperti yang diungkapkan Pak Cah di Catatan Pendahuluan, bahwa membahas tentang karakter suami ideal itu laksana jauh panggang dari api. Ada jarak antara cita-cita dan kondisi nyata.
Tapi kesedihan saya lebih disebabkan oleh perasaan betapa tidak pantasnya saya mengharap suami yang wonderful, bila saya sebagai istri juga gini - gini aja. Artinya, kalau saya mengharap suami menuju karakter ideal, sayapun harus berusaha berjalan ke arah karakter istri yang ideal.  Bagaimana cara saya ?Tinggal mengganti aja setiap kata 'suami' dalam buku ini, menjadi kata 'istri'. Inilah sebabnya saya mengatakan bahwa buku ini seperti hamparan cermin tadi.

Seperti apa sih, gambaran karakter suami ideal itu ? Pak Cah merangkumnya dalam 9 karakter, yaitu :
1. Memiliki kemampuan memimpin keluarga dengan cinta dan kasih sayang;
2. Mampu menundukkan egonya, sehingga dapat mudah mengalah, mengakui kesalahan dan mudah memaafkan;
3. Mampu membahagiakan istri, dan merasa senang jika dapat melakukan hal tersebut;
4. Selalu mengingat kebaikan istri, fokus pada hal positif yang dimiliki istri;
5. Mampu memahami kondisi istrinya,  bukan hanya saat ini, tetapi terus menerus mengenali kondisi istri yang berubah seiring waktu;
6. Mampu menjadi teladan dalam kebaikan bagi istri dan anak-anaknya;
7. Memelihara kesetiaan;
8. Selalu tampil 'young and fresh' dihadapan istri (dan anak-anak)
9. Selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya, perasaan, pelayanan, perlakuan dan kata kata terbaik, rejeki yang baik,  karena nafas cinta adalah (saling) memberi.

Nah, wow banget kan ?
Wow lain adalah, cara penyampaian Pak Cah saat menulis buku ini. Meski bahasannya serius dan berat, tapi saya membacanya enak, terus, enggak mau berhenti. Persis kalau saya baca novel. Bahkan dibolak balik lagi, dibaca ulang di beberapa halaman. Gaya Pak Cah seperti sedang mengobrol dengan para mustami' / audiens. Tidak heran, mengingat jam terbang beliau baik sebagai trainer maupun sebagai ustadz.
Beliau banyak menyertakan contoh-contoh dialog dan masalah yang sering terjadi di antara pasangan. Salah satunya tentang fenomena menit terakhir (hal. 137). Benar sekali, justru di menit-menit terakhir itu sering menimbulkan konflik. Suami sudah siap bepergian, istri masih sibuk mempersiapkan diri. (malu ih, ini mah gue banget).
Ilustrasinya juga saya suka, foto-foto yang diperagakan model untuk menggambarkan setiap karakter, dan gambar kartun di baliknya. Pas sekali menggambarkan. Dan yang paling saya suka adalah gambaran tentang memahami kondisi istri (karakter kelima), gambarnya seorang suami sedang melayani istri sarapan (hal 154), sementara kondisi istri sedang hamil besar, mereka berdua tampak berwajah ceria dan mengobrol bahagia. so sweet kaan..

Nah supaya seimbang dengan semua pujian di atas, saya juga akan menyampaikan -maaf ya Pak Cah- yang bukan pujian. Saya sedikit terganggu dengan tercetaknya kata  blackberry massanger (hal. 22) meski di kemudian ada kata yang sama sudah tercetak dengan benar blackberry messenger (hal 164), afair -satu f apa dua f ya. (hal.144), LDR (long distance relationship) hal 238 kenapa enggak dicetak miring juga. Selain itu rasa-rasanya enggak rela dengan ilustrasi seorang pria berpeci (hal 216) dihadapkan pada pilihan - pilihan selir, pacar, simpanan, bordil disetarakan dengan kata istri. Ini seperti saya melihat serorang tersangka yang entah kenapa kalau di persidangan selalu memakai peci.

Selain itu, saya merasa buku ini 'nanggung' . Saat membaca halaman-halaman awal, saya berpikir ini adalah buku umum. Padahal setahu saya penerbit buku ini adalah penerbit buku-buku Islami.
Apalagi data-data dan contoh yang disampaikan (semacam ayat kauniyah kalau boleh saya katakan demikian) bersifat umum. Sempat terpikir, wah bagus ini, Pak Cah menulis buku populer, bisa bisa saya hadiahkan buat teman teman non muslim. Makin ke belakang, terselip satu dua kisah para sahabat, khalifah Umar bin Abdul Aziz dan kutipan ayat Al Qur'an dan Hadits. Yaah.. enggak jadi dihadiahkan deh.

Satu lagi adalah bentuk buku. Ukurannya mungkin sama dengan buku pada umumnya. Karena lay out buku ini yang berbeda dengan pada umumnya, menyulitkan saya untuk menyimpannya. Belum ada buku bentuk sejenis di rak saya. Kalau di rak buku anak-anak sih ada... Yang ini  mah masalah saya pribadi kali ya..


Artikel ini diikutkan dalam GIVE AWAY RESENSI BUKU WONDERFUL HUSBAND