Sebenernya Sabtu kemarin ada acara Internalisasi Corporate Value di Sariater. Tapi kan hari itu juga ada acara pengumuman dan perpisahan di sekolah Fikri. Hadoooh... dilema kakaaak...
Apalagi pas aku bilang ke Fikri, "Fik, Sabtu sama Abi aja ya.. Ummi ada acara kantor"
Jawaban Fikri sepotong dan jleb
"Ih .. Ummi mah bukannya mentingin kepentingan anaknya"
Wkwkwkwk... siapa yang tega coba ?
Akupun menghadap pak Bos, apakah kiranya bisa ijin dari acara ICV dengan menyampaikan alasannya. Alhamdulillah pak Bos mengijinkan dengan syarat aku membuat surat dan melampirkan copy undangan dari sekolah. Alhamdulillah...
Pada hari pengumuman dan perpisahan di sekolah Fikri itu, anak laki-laki diminta memakai jas dan berdasi. Anak perempuan memakai pakaian tradisional. Waaah... anak anak kelas 9 jadi kelihatan cantik dan ganteng dan nampak lebih dewasa.
Pas acara perpisahan ini juga dijelaskan tentang program pak Walikota yang sudah dikoordinasikan dengan instansi terkait, bahwa mulai tahun ini di kota Bandung berlaku sistem rayon untuk pendaftaran sekolah. Sistem cluster yang membedakan peringkat sekolah dihapus.
Kenapa pakai rayon ? Supaya anak sekolah di lokasi yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Diharapkan dengan ini akan mengurangi polusi dan kemacetan, serta meningkatkan kualitas sekolah di semua rayon. Dengan sistem cluster, anak pinter hanya terkumpul di sekolah tertentu. Sehingga ada istilah sekolah cluster 1,2,3 dengan passing grade yang berbeda-beda. Nah sekarang enggak ada itu.
Sebagai insentif/penghargaan dari pak Wali untuk anak-anak dan orang tua yang memilih menyekolahkan anaknya di sekolah yang terdekat dengan rumah, pak Wali memberikan tambahan skoring 10% dari NEM. Ini berlaku hanya untuk pilihan pertama.
Pilihan pertama bebas mau di rayon manapun, kalau di luar rayon tanpa tambahan skoring.
Pilihan kedua harus di rayon sendiri dan tanpa tambahan skoring. Jadi... tambahan skoring 10% itu hanya buat anak anak yang memilih sekolah di rayonnya sebagai pilihan pertama
Hmmmmmm..... tarik nafas dulu panjang panjang. Musti lihat dulu berapa NEM Fikri nih, karena SMA tempat pak Wali sekolah dulu beda rayon sama tempat tinggal kami. :p
Selesai penjelasan sistem rayon dari pak Kepsek, diumumkan nama-nama anak yang menduduki peringkat 10 besar. Dag dig dug ? Iya. Soalnya kan dari 4x Try Out, dua kali Fikri masuk 10 besar. Walaupun nilainya masih seputar 34-35 gitulaaah... tapi kan gossipnya soal UN lebih mudah dari soal TO hehehe
Jreng jreng jreng...... ternyata nilai peringkat 10-nya aja 36,6 . Kalau Fikri nggak masuk, berarti nilainya kurang dari itu ?
Pertanyaan berikutnya : Be-ra-pa ?
Memang awalnya Fikri pengen sekolah di kota, tapi pas Abi memberi gambaran resiko sekolah di kota yang antara lain musti berangkat lebih pagi dan pulang pasti juga lebih sore, belum eskulnya, belum kerja kelompok, belum tugas tugas rumah juga harus tetap dikerjakan (Fikri bertugas mengisi air, cuci piring pas gilirannya dan membersihkan kamar+lantai atas setiap hari) beberapa hari kemudian Fikri nampak bimbang. Ya intinya ada 'harga' yang harus dibayarlah... Tapi kubilang kita boleh merencanakan, tapi teteeep lihat NEM dulu.
Setelah pengumuman-pengumuman, semua orang tua/wali murid dipersilakan masuk ke kelas anaknya masing - masing untuk mendapatkan nilai. Aku udah nggak sabar pengen lihat nilai Fikri berapa.
Berapa ?
B. Indo : 8.20
Matematika : 9.75
B. Inggris : 9.40
IPA. : 8.50
Jumlah : 35,85
Apakah itu bagus ? Tanya Sondang.
Ya baguslaaaah.... kalau sendirian. Atau kalau dibandingkan NEM Mbak tahun lalu, apalagi kalau dibandingkan NEM Abi dan Ummi yang 5-6-7 *qiqiqi mengingat NEM diri sendiri jaman baheula.
Ntar kalau dibilang kurang bagus, seperti tidak mensyukuri hasil jerih payah anak.
Masalahnya....Fikri bakal bersaing dengan anak lain yang nilainya lebih bagus dari nilai dia. Kan kan kan? Dan kita nggak tau berapa banyak.
Melihat nilai tersebut, kesimpulannya Fikri mau nggak mau harus memilih sekolah sama dengan Mbak. Yang katanya ada penampakan itu... qiqiqi
Dan sampai kemarin, mereka berdua masih pegang kesepakatan, katanya nanti akan pura-pura nggak kenal ? Whaaaat ?
Yah, biarin ajalah, namanya juga ABG labil, mari kita lihat gimana nantinya.
