Teman - teman, maaf ya.. selama Ramadhan ini aku jarang posting. Nanti lah kisah lengkapnya insya ALlah aku ceritain...
Sekarang karena copas, jadi cepet nih... bikin postingan.
Ceritanya ikut acaranya Prima, #1hari1masjid seperti yang kupasang bannernya di side bar.
Alhamdulillah, atas kebaikan Prima jualah, kirimanku bisa dimuat di blognya. Makasih, Prima...
Makasih atas ide ide cemerlangnya. Boleh ya... ke depan aku pakai hesteknya buat postinganku tentang masjid. Seperti juga kupakai hestek #1hari1ayat milikmu...
![]() |
| Papan penunjuk nama |
![]() | |
| Bagian depan masjid Lautze 2 dari arah patung bola |
![]() |
| bagian dalam masjid, dengan dekorasi dan karpet yang dominan warna merah |
Walaupun
setiap hari melintasi jalan ini, akan sangat dimaklumi bila para
pelintas tidak menyadari kehadiran sebuah masjid disini. Itu tidak lain
karena masjid ini diapit oleh deretan ruko-ruko. Ya, masjid ini juga
menjadi bagian dari ruko tersebut. Satu-satunya penanda bahwa disana ada
masjid, adalah papan nama berwarna kuning, dengan tulisan merah menyala
khas etnis Tionghoa yang berbunyi Masjid Lautze-2 dan menunjuk ke arah
pintu. Di sisi kanan pintu terdapat toko yang juga bernama Toko Lautze
yang menjual buku dan aneka perlengkapan lainnya.
Masjid Lautze-2 terletak di jalan Tamblong nomor 27 Bandung, lebih tepatnya berada di pertemuan empat jalan yaitu jalan Lembong-jalan Sumatera-Jalan Veteran-dan jalan Tamblong; persis di seberang RS Bungsu. Menempati ruko sewaan berukuran 6x7m. Tidak terlalu besar untuk ukuran sebuah masjid. Tapi karena di sekitar lokasi tersebut hanya ada satu masjid ini, maka tiap tiba waktu shalat Jum’at, jamaah pun rela shalat di luar masjid/di trotoar.
Dari sisi arsitektur, masjid ini sepertinya sengaja didekorasi dengan dominasi warna merah. Mulai dari pintu depan, ada sebuah ragam hias dengan dominasi merah dan kuning. Kemudian pintu utamanya juga merah. Demikian pula dengan warna dinding di dalam masjid. Dekorasi ini bertujuan agar warga muslim Tionghoa yang baru memeluk Islam merasa ‘home’ saat memasuki masjid ini. Sehingga mereka merasa betah untukberlama-lama di masjid dalam rangka mendalami Islam menuju muslim kaffah.
Aktifitas
di masjid ini, semuanya berada dibawah manajemen Yayasan Haji Karim
Oei. Siapakah beliau sehingga namanya diabadikan menjadi nama sebuah
yayasan? Haji Karim Oei/Haji Abdul Karim adalah salah satu tokoh
nasional yang sangat berjasa menyebarkan Islam terutama di kalangan
Tionghoa. Beliaulah pendiri Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI).
Dalam masa hidupnya, beliau pun pernah menjadi pengurus Majelis Ulama
Indonesia tingkat Pusat. Untuk mengabadikan jasa dan perjuangan beliau,
maka setelah beliau wafat tahun 1988, dibentuklah Yayasan Haji Karim Oei
di Jakarta pada tahun 1991.
Mengapa Lautze2?
Itulah pertanyaan saya ketika pertama kali melihat papan nama masjid ini. Ternyata angka Dua adalah untuk membedakan masjid ini dengan Masjid Lautze 1 di Jakarta yang juga berada dibawah manajemen Yayasan Haji Karim Oei.
Menurut penjaga yang sedang membersihkan trotoar di seputar masjid, Masjid Lautze 2 biasanya buka sekitar pukul 9 pagi, sampai ashar atau sampai maghrib. Hal ini untuk menjaga agar jangan sampai ada orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang memasuki masjid dan mengambil inventaris masjid. Seperti yang teman-teman lihat, bagian luar masjid pun tidak terlewat dari aksi vandalisme. Dipenuhi dengan coretan-coretan yang sungguh merusak pemandangan.
Mudah-mudahan
lebih banyak lagi orang mengetahui bahwa bangunan ini adalah masjid,
sehingga bisa menjaga kebersihan lingkungannya bersama-sama.
***



aku mengundurkan diri dari tema ini mbaaa... sok sibuk ekeh.. blog juga ga perna posting.. selamat lebaran mbayuuuu
BalasHapusselamat lebaran juga Nyonyaaaa...... maaf lahir batin. taqobbalallahu minna wa minkum
HapusRajin.. rajin rajin.... Terus kalo aku ke bandung, mau diajak ke masjid mana?? hihihihi
BalasHapus