Beberapa waktu lalu aku mengikuti sebuah kelas yang asli mengubah kesadaranku. Dari yang sebelumnya kurang peduli dan kurang menghayati, menjadi lebih peduli dan menghayati setiap hal yang aku jalani. Kelas apa itu? Nanti aku ceritakan. Aku akan mulai dari yang aku alami.
Pernah nggak sih bangun di pagi hari, kemudian terburu-buru bangkit, lanjut memikirkan apa yang harus dikerjakan. Mungkin harus segera masuk dapur, menggiling cucian atau membangunkan anak, menyiapkan mereka masuk sekolah, sarapannya, buku-bukunya, tas sekolahnya, perbekalannya dsb. Dan ketika kita selesai, bagaimana? Lelah? Atau malah tidak sempat selesai karena pekerjaan lain sudah menunggu?
Pernah nggak sih, emosi terasa demikian memuncak? ketika sedang capek-capeknya menjalani haru, baru beres mengepel lantai dan membereskan mainan anak-anak, eh si kakak numpahin susu dan si adek membongkar lagi box mainan. Ingin marah? Emosi? Yes, kebayang kan ya..
Hidup yang terus menerus berkejaran dengan waktu dan pekerjaan, terkadang membuat kita kurang memaknai atas segala limpahan nikmat dan kasih sayangNya. Fokus meminta dan lupa bersyukur. Terlalu memikirkan yang tidak ada, sehingga abai terhadap semua karunia yang di depan mata.
Alangkah indahnya jika kita memulai hari dengan meluangkan waktu sejenak, iya sejenaks aja. Baca dengan khusyu doa bangun tidur. "Alhamdulillahi ahyana ba'da maa amatana wa ilaihinnusyuur". Segala puji bagimu ya ALlah, yang telah menghidupkan aku setelah sebelumnya mematikan. Dan kepadaNya lah kita kembali.
Sudah terasa? iya, sejatinya nikmat terbesar adalah masih adanya nafas yang mengaliri rongga paru-paru kita. Kita sadari alirannya, lalu kita syukuri.
Apalah artinya semua yang kita punya ketika nafas tiada? nothing.
Apalah artinya kesibukan dengan pekerjaan rumah dan anak-anak ketika kita tidak bernafas lagi? maka kita terbebas.
Menerima, iya setelah mensyukuri nafas yang masih Dia berikan, maka cobalah menerima setiap garis takdir yang Dia tuliskan. Ada kesibukan rumah, kesibukan anak-anak, artinya kita memiliki keluarga yang senantiasa membutuhkan kehadiran kita. Berapa bnyak orang yang mengharap memiliki keluarga lengkap seperti kita namun Allah belum takdirkan?
Setelah kita mensyukuri nafas yang masih Allah berikan kemudian kita berusaha menerima, maka lengkapilah ikhtiar kita tadi dengan doa. Agar diberikan kekuatan dalam menjalani takdir. Dengan berdoa, dengan kata lain mengingat Allah, maka hati kita akam lebih tenang.
Ketika diri menyadari bahwa setiap tarikan nafas, adalah karuniaNya, maka, semua yang di luar diri, adalah orang lain. Hatta itu suami, anak atau orang tua kita. Mereka orang lain dalan artian mereka pribadi yang berbeda dan bisa jadi, di luar kendali kita. Ketika hal ini disadari sepenuhnya, maka ekspektasi kita terhadap orang lain dapat kita kontrol.
Ketika orang lain berbeda pendapat, tarik nafaas... hembuskan, baru beri argumen.
Ketika ada orang lain yang tidak sesuai harapan, maka itu tidak akan dapat menumbangkan kita. Karena mereka orang yang berbeda. Kembalikan kepada Allah, Sang Pemilik Hati. Hanya Dia yang Sanggup Menggerakkan hati. Maka ketika orang lain tidak menuruti kata-kata kita, tidak lagi kita marah atau kecewa.
Pingin tahu kelas apa itu?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan Tinggalkan Kesan
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.