Rabu, 21 Juli 2010

Hari Pertama Sekolah

Udah agak basi, tapi nggak papa dari pada terlewat begitu saja.

Semua anak-anakku dah dari hari Jum'at sebelum tanggal 12 Juli itu dah ribut, bentar bentar bilang nggak sabar mau sekolah, nggak sabar nunggu masuk.
Tentunya bukan sekedar karena mereka bakal pake tas baru dan sepatu baru, juga baju baru buat Firda yang baru masuk SD, tapi pasti mereka juga penasaran, apa yang bakal dilihat di kelas baru, dengan guru baru, teman baru karena kelas di acak lagi, dan banyak hal baru yang mereka pengen tahu.

FathimahTiga hari pertama adalah MOS (Masa Orientasi Sekolah). Fathimah udah ribut dan khawatir nanti bagaimana, nanti bagaimana. Untungnya dia masuk siang, jadi keleletannya agak terbantu dengan persiapan di pagi hari.
Hari pertama itu selain dia pake tas baru, adalah pake kaca mata baru booo.... kesian juga anak itu dah minus dan silindris 3/4 sebelahnya lagi 1/2. Pantesan sering ngeluh pusing pusing, kupikir karena stress menghadapi jadwal kelas VI lalu yang masuk jam ke-0 di 6.30 dan pulang setelah jam tambahan pk. 16.30. duh, dah kayak pegawai aja.
Dan pastinya yang paling menyenangkan buat dia adalah......... dia sekelas dengan sahabatnya di SD sama sama di VII.c.
Kok bisa, ya ?

Fikri
Cerita yang paling mengesankan dari Fikri adalah, bagaimana dia cari cari namanya di daftar kelas yang baru. Walaupun ternyata dia nggak geser kelas, artinya dari Vb naik ke kelas VI.b.
Dan lihat betapa narsisnya ,"Ummi, anak anak yang pinter pinter di kelas a, semua pindah ke kelas b lho...."

Fadhila
Si anak spesial ini selalu spesial yang dia ceritakan. Selain dia nggak pindah kelas juga, pertama dia cerita ada temennya yang sedih, menangis karena sahabat-sahabatnya ternyata pindah kelas.
Kedua, dengan bisik bisik, dia bilang, "Ayuk sekelas lagi sama si 'itu' " (sambil nyebutin nama teman laki-lakinya) gggrrh...

Firda
Firda lain lagi ceritanya. Dia kan udah 3 tahun di TK, karena baru 3.5 tahun udah masuk TK . Hampir semua guru SD juga udah kenal dia, karena dia mondar mandir ke kelas kakak kakaknya.
Tahun ini Firda baru boleh masuk SD. Dia masuk kelas I.a.
Ibu Guru ; "eh Firda, masuk kelas ini ya...."
Firda : mengangguk dan tersenyum malu malu
Ibu Guru ;"bentar ya.. dicariin dulu papan namanya..." (anak baru pada pake nametag di dada, biar bu guru cepet inget namanya)
Firda mengangguk lagi.
Ibu guru, udah mulai panik karena nama Firda nggak ada.
"Bener ya... Firda nggak salah kelasnya"
Eh, si Abi yang nungguin Firda tega aja liat bu guru bingung. Akhirnya bu Guru menyerah.
"Firda nggak usah pake nama ya..., nggak papa, ibu udah kenal kok."
Abi : Namanya Farah, bu Guru... (Farah Nada FIRDAusi)
Bu Guru : ???????!!!!!!! (kaliiii.... sembari dalam hati : bukannya dari tadi!)

hahahaha......

Jumat, 16 Juli 2010

I Love Indonesia

 Gambar dari sini
 
Tanah airku Indonesia...
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Kan ku puja sepanjang masa...
(Rayuan Pulau Kelapa)

Desaku yang kucinta, pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda, dan handai taulanku
Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai
Selaluku rindukan, desaku yang permai
(Desaku)

Tanah airku, tidak kulupakan
Kan kukenang, selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh, tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku tak kulupakan, engkau kubanggakan
(Tanah air)


Dari yakinku teguh, cinta ikhlasku penuh
akan jasa usaha, pahlawanku yang baka
Indonesia merdeka
syukur aku panjatkan, ke hadiratmu, Tuhan
(syukur)


Beberapa lagu di atas, sering membuatku menitikkan air mata bila menyanyikannya. Lebay ya...
Enggak juga sih, itulah air mata yang menitik karena perasaan cinta yang mendalam. Dan sayangnya, aku tak bisa mengatakan pada Indonesia, karena dia bukanlah makhluk hidup yang bisa mendengar kata.

Bersyukur aku tumbuh dan hidup di tengah lingkungan yang begitu damai, desa yang permai, lengkap dengan sawah, ladang, sungai, yang berbatasan dengan gunung dan bukit, sekaligus berhadapan dengan laut selatan, yang pantainya dihiasi nyiur melambai, dan ombaknya berdebur debur mengerikan.

Bersyukur aku, lahir dari seorang ayah pecinta bumi, yang pekerjaannya menjaga selalu kelestarian hutan dan penghuninya, mereboisasi, berpatroli di hutan,  agar aman dari pencuri.
Dan tentu saja, Bersyukur pula, lahir dari seorang Ibu yang penuh cinta, memberikan kesempatan dan kepercayaan pada anaknya, dan melihatnya begitu kasih, bahkan pengemis yang setiap Pon mampir ke rumahku untuk sarapan, dengan menu khusus yang Ibu sediakan.
Bersyukur aku, berteman dengan petani, gembala, pedagang,  tukang becak, sopir angkot, tukang bakso, dan pengamen yang setiap Minggu mampir kerumah, untuk menyanyikan tembang kenangan dan mengobrol dengan ayah.

Bersyukur aku, berasal dari Jawa, bersuamikan orang Sumatera, yang melengkapi keIndonesiaanku, dan membuatku melihat jajaran pulau-pulau  di Nusantara ini. Melihat luasnya samudera, mabok laut karena goncangannya.  Dan betapa bebasnya angkasa kita.

Bersyukur aku, pernah menemui konflik SARA di NTT dulu. Dan tahu pasti, bahwa seseorang yang berkeyakinan berbeda dengan kita, tidak lantas berbeda cita dengan kita. dan sebaliknya tentu saja. Belum tentu yang sama, lantas punya cita yang sama pula.

Bersyukur aku melihat dari dekat referendum, proses berpisahnya Timor Leste. Melihat akibatnya, melihat para pengungsi bagai tuna wisma di tengah kota, atau dalam bedeng bedeng mereka di pinggir kota, (bagaimana yang di Atambua ya..), melihat teman pegawai yang harus pindah kerja, berbicara dengan mereka yang musti meninggalkan tempat kelahirannya, dan mendengar langsung suara pesawat pesawat tempur yang bolak balik mendarat di Bandara Penfui selama proses itu, sambil berdebar-debar, dan berdoa, janganlah suara menggemuruh itu  diikuti ledakan.

Bersyukur aku, mendapatkan pencerahan, dari para mentorku pas di STAN dulu, bahwa ternyata, tanah air yang kucinta itu, sesungguhnya tidak terbatas Nusantara saja.Yang tentu saja, akan aku ingat selalu bagaimana para pendahuluku memperjuangkannya sehingga bisa merdeka.
Tanah airku adalah begitu luasnya, dimanapun di bumi Allah ini, dimana berpijak umat Islam, itulah tanah air yang harus kucinta dan kubela.
Kini di bumi, ini, tempat aku tumbuh, kuberusaha berbuat yang aku mampu.

Sungguh aku cinta Indonesia ini. Dengan segenap rasa dan pembuktian yang aku bisa lakukan.
- Kuperbaiki diriku selalu, dengan amal yang didahului ilmu, agar hari ini lebih baik dari hari kemarin
- Kuperbaiki keluargaku, kudidik anak-anakku, dan  kuberusaha semampuku mengajak orang orang disekitarku.
- Kudambakan masyarakat yang baik, yang bisa memilih kebaikan buat mereka dan membuang semua keburukan. (Ngeri ya.. membaca Indonesia negara ke-4 penggemar situr porno, malu, Indonesia termasuk jajaran negeri korup.)
- Kumemilih Wakil ku dan pemimpinku yang kukenal dengan amat, atau yang dikenal oleh orang yang kupercaya bahwa dia bakal amanah (insya Allah), dan aku berusaha tidak mencaci maki mereka karena kesalahannya, karena aku tahu, kalau aku yang disana pasti lebih buruk dari dia.

Sungguh aku cinta Indonesia ini, dengan segala kelebihannya, dan berharap tapak dan tangan kecilku, bisa mengurangi kekurangannya.

Kamis, 15 Juli 2010

Mencuci Fais

Sejak dia pinter ngomong "ndak" (enggak), aku harus cari akal untuk membuatnya menjawab "iya" atas ajakanku. Misal buat makan, buat tidur, membereskan buku, membereskan mainan, pipis, cebok, dan tentu saja, mandi !.

Bukan MBA namanya jika Mama nggak Banyak Akalnya.
Jadilah Faiz ku ajak main air di tempat cuci piring. Dan tentu saja, Ummi bisa sambil masak, menggoreng atau memotong sayur di dekatnya.
Tidak lama kemudian pasti bajunya basah. Jadi mulailah dipretelin satu demi satu. Dan tinggallah kaos dalam gini.
Kemudian itupun di buka, dan akhirnya dia mandi.
Sttt... adegan mandinya nggak usah di tampilin ya... kecil kecil juga udah belajar menutup aurat. Ntar kena delik pornografi dan pornoaksi .


mana tega menolak muka polos ini.JPG
  

faiz main air.JPG
  

serieusnyaaaaa.JPG
  

selesai sudah mandinya.JPG