Masih seputar anak ABG.
Setelah kemarin aku cerita tentang F2, kali ini tentang F1, mbak Fathimah.
Salah
satu hal yang marak di bulan ramadhan, adalah fenomena buka bersama
atau buka bareng. (bukbar). Termasuk anak anak ini. Fikri buka bersama
di sekolah, dilanjutkan mabit dan shalat malam bersama. Alhamdulillah
lancar.
F3 juga ngadain bukbar sama teman-temannya. Kebetulan
acaranya di rumah. Jadi aku nggak perlu antar jemput. Ternyata 3 orang
teman F3 yang buka bareng itu, dijemput setelah maghrib oleh
ayah/ibu-nya yang kebetulan baru pulang kantor. Yaelah... pantes aja...
F1
ada acara bukbar sama teman teman eskul-nya di PMR. Sebenarnya aku
kurang setuju yah.. karena mikirin nanti pulangnya bagaimana. Tapi
berhubung Abi mau jemput, dan memberi ijin, toh acaranya di sekolah ini,
ya sudahlah. Aku tinggal nurut.
Jadilah acaranya hari Rabu. Hari
Senin pas berangkat bareng di pagi hari, aku tanya, hari ini pulang jam
berapa... Dia jawab pulang sore. Mau ngedekor dulu. Ya sudah.. sore aku
cek udah di rumah jam 4
Hari selasa pagi aku tanya lagi, hari ini pulang jam berapa. Dia bilang pulang sore.
Kupikir sudah minta ijin Abi. Soalnya semua perijinan kan di tangan Bapak Beliau itu.
Jam
3-an aku telepon rumah, yang ngangkat F3. Pas aku tanya, mbak udah
pulang belum, katanya sudah. Tapi sambil masih tetap teriak main main
sama F4, F5 dan F2 yang kebetulan pulang cepat. Ya sudah aku tenang aja.
Kupikir sudah pulang.
Nah sore sekitar jam 5-an, pas kami -aku dan
suami- pulang kantor, aku lihat ada anak anak pake baju PMR baru keluar
dari ujung gang sekolah F1. Naluri seorang Ibu dong, langsung jalan. Kok
ada anak PMR baru pulang.
Langsung aku SMS F1, "Udah pulang belum ?" nggak ada jawaban
Terus
aku telepon. Nggak diangkat. Teruss telepon lagi, nggak diangkat lagi.
Kira kira selama 20 menit perjalanan dari sekolah F1 sampai rumah aku
berusaha menelepon F1. Sesekali menelepon rumah, sudah sampai rumah
belum.
Aku gemesss banget. Mbak ini kan nggak pernah jauh jauh dari HP-nya. Pasti ini disengaja. (langsung deh, negative thingking)
Si Abi juga marah sepertinya. Karena ternyata F1 pergi tanpa ijin sebelumnya.
Kira
kira setengah 6, F1 datang dari arah kiri, naik ojeg. (Tuh lihat, dia
sudah naik ojeg mengambil jalan pintas, pasti dia tahu kalau lagi jadi
MOST WANTED)
Begitu masuk rumah, langsung Abi marah.
"Mana HP-nya ?" Mbak kasih hp-nya ke Abi.
Si
Mbak langsung mandi dan mengaji sambil nunggu buka. Aku memilih diam
sambil menyiapkan segala macam ini dan itu buat buka puasa. Walaupun
gondok banget.
Setelah shalat maghrib berjamaah, Abi melanjutkan "urusan" dg F1.
"Percuma kamu dikasih hape, hape itu gunanya supaya kamu mudah menghubungi dan dihubungi. Kenapa kamu pulang jam segini ?"
"Mbak latihan dulu, nyiapin buat pentas besok sama nyelesaiin dekor" kata mbak
"Kenapa nggak minta ijin ?" tanya Abi lagi
"Tadi udah sms" kata Mbak
"Nggak ada tuh SMS masuk, hp Abi nyala terus. Abi buka nomor yang lama juga nggak ada"
Mbak diam.
"Abi tuh nggak ngelarang kamu pergi asalkan bener, dan minta ijin. Kamu pergi 3 hari untuk camping aja Abi ngijinin"
Si Mbak cuman diem. Yah nggak ada pilihan laen lah. Kupikir kali dia takut hari ini gak dapat ijin. Senin kemaren udah pulang sore, Selasa pulang sore, Rabu pulang malam.
Satu keputusan dikeluarkan : ijin bukbar besok dicabut.
Mbak
masuk kamar dan menulis menulis diari. Sampai sampai ke masjidpun
taraweh bawa buku. Biasanya bawa buku catatan ceramah, ini mah bawa buku
diary. Emang sempat gitu, nulisnya.. hehe..
Malemnya, Abi bisik
bisik. Bilangin mbak suruh minta maaf ke Abi. Besok diijinin bukbar.
Halah, si Abi nih.. ternyata ngelarangnya nggak sungguh sungguh.
Yah, itu shock therapy aja .. kata Abi.
Jadi
ingat kata kata Sondang apa si Ibu peri bapak jahat, atau sebaliknya
yah.. Ah sudahlah, tanggung jawab ayahnya. Biarin. Tapi aku nggak bilang
yah.. bahwa kalau Mbak minta maaf ke Abi, bakalan dikasih ijin bukbar
besok.
Jadilah sepulang tarawih itu, aku suruh Mbak minta maaf ke
Abi. Meski sambil manyun manyun, Akhirnya dia minta maaf. Intinya malam
itu si Mbak dapat wejangan (haiyaa.. bahasanya) .
Besok paginya, hape dikembalikan, dan ijin diberikan kembali.
Pas
berangkat ke kantor, sambil duduk manis di boncengan, iseng iseng aku
ngapusin SMS. Eh, kepencet rekaman panggilan. Ya Ampuuuun.. aku nelpon
Mbak Fathimah kemaren sore 30 kali !!!
 |
gambar karya Teteh
|
Sebenarnya agak malas menuliskan kejadian ini. Pertama kejadiannya sudah
lewat hampir dua minggu lalu. Kedua, kejadiannya nggak enak. Jadi nggak
enak mood juga untuk mengenangnya.
Tapi kupikir ada sebuah pelajaran yang bisa kuambil, dan mungkin juga buat emak emak yang sudah punya anak menjelang remaja.
Jumat
tgl 26 Agustus lalu adalah rencana kami sekeluarga mudik ke Lampung. Di
tengah acara packing packing, ada dua teman Fikri datang. Mereka berboncengan naik motor. Hmm... terserahlah.. orang tua mereka ngijinin naik motor.
Trus
aku ke pasar sebentar mencari beberapa keperluan. Sepulangku dari
pasar, dua tamu cilik itu masih di rumah. (nggak cilik cilik amat sih,
udah kelas 1 SMP)
Tiba tiba Fikri minta ijin mau Shalat Jumat di Giri
Mekar. (Komplek tempat tinggal temannya itu). Yah, sesuai kesepakatan
bersama, semua perijinan ada di tangan Abi. AKhirnya Fikri nelpon Abi.
Dan dapat ijin shalat Jumat di sana.
Kira kira setengah dua, Abi datang dan menanyakan, mana Fikri.
Maka
aku SMS-lah Fikri. Eh dasar bocah, nggak ngejawab. Memang si F2 ini
rada kurang lincah dalam menjawab SMS, alias males. Yah .. mungkin udah
feeling orang tua kali yah... beberapa saat kemudian aku telpon.
Diangkat, suaranya kecil banget.
"Fikri dimana ?"
"Di jalan, udah mau pulang nih. Ada kejadian"
"Kejadian apa ?" aku dah khawatir
"Yai udah dekat rumah" katanya. Telpon kututup.
Benar, tidak lama kemudian ada suara motor di depan, maka aku segera keluar.
Kaget aku, kok bukan ojeg ? Tapi seseorang berpakaian Satpam.
Kulihat Fikri. Kulihat Satpam. Berganti ganti kupandangi mereka.
"Yai jatuh dari motor sama Ufi." kata Fikri sambil menunduk.
Gimana ceritanya ? sergahku
Berikut cerita versi Fikri
"Ufi
bawa motor ke Ujungberung Indah, Yai di belakang. Tiba tiba Ufi bilang
'Fik kamu yang pegang setir' , terus Yai bilang Yai nggak bisa, tapi Ufi
langsung lepas tangan jadi Yai langsung pegang setirnya. yah terus
hilang kendali gitu deh, terus jatuh."
Aih, Sejenak naik darah, mana mau pulang, mana lagi beberes, pengen marah aja. tapi inget lagi puasa.
Segera
kupanggil Abi yang masih di dalam. Kupikir mumpung ada saksi mata si
Pak satpam itu. "Abiiii... sini... " (nggak teriak lho, rasanya seperti
udah mati rasa, garing gitu. jadi datar aja.
Jreng jreng jreng... Berikut cerita versi Pak Satpam
"Putra Bapak dan Ibu, naik motor dengan temannya. Saya lihat dari jauh sudah oleng kiri kanan kiri kanan. Ban depan motornya kempes.
Siapapun yang mengendalikan akan susah. Tadi pas ada mobil,mungkin
kaget atau bagaimana, mereka ini menabrak pagar. Teman putra Bapak sudah
saya antarkan ke rumahnya. Motor masih saya amankan. "
"Siapa yang di depan ?" tanya suamiku
"Teman putra Bapak." Jawab pak Satpam.
"Baik Pak, terima kasih atas bantuan Bapak." kata suamiku.
"Sama sama Pak, saya pamit dulu karena jam tiga nanti saya ganti shift"
"Mangga, Pak.." Kata suamiku. Aku ikut mengangguk dan senyum terima kasih ke Pak Satpam, namanya Pak Otong.
(Terus terang sejenak aku agak tenang, bukan Fikri yang bawa motornya.
Karena Ufi, temannya itu, agak parah. Giginya lepas dua, bibirnya
sobek, dan saat Fikri diantar ke rumah siang itu, Ufi sudah dalam
perjalanan ke Rumah Sakit sama tetangganya, karena -kata Fikri- ayahnya
lagi di Batam, dan adiknya sedang tidur, sehingga Mama Ufi tidak bisa
mengantar.)
Waktu berjalan cepat rupanya. Sudah jam dua. Kami
pesan taksi jam 4. Diskusi sebentar dengan Abi, kayaknya kami harus ke
rumah Ufi, untuk bertemu orang tuanya, bagaimana bagaimana lah... Karena
di rumah Ufi cuman ada Mama-nya maka Abi bilang mending aku yang ke
sana.
Berangkatlah aku dan fikri (dan Faiz juga) ke rumah Ufi. Di
perjalanan Fikri cerita, tadi pas perjalanan ke rumah Ufi, Yai disuruh
diem aja di depan Mama Ufi., jangan nyalahin Ufi di depan mamanya. Aku diem aja, males komentarlah.
Sesampai
di sana, rumah tertutup. Kupikir Mama Ufi sudah menggendong anaknya
yang tidur itu dan berangkat ke rumah sakit. (membayangkan kalau aku
yang mengalami ). Eh, ternyata masih di rumah. Ya ampuuunnn.. wajah itu
begitu familiar.. sering ketemu di sekolah (Gimana enggak ? berteman 6
tahun )
"aduh Umi Fikri... saya
sudah bingung bagaimana dengan Ufi ini. Anak itu nakal banget, nggak
pernah nurut sama saya. Nggak ada takutnya sama saya. Kalau main nggak
tahu kemana, dan pulang jam berapa, saya nggak bisa nyarinya. Anak itu
nggaaaak ada kapoknya. Itu udah pernah jatuh dari sepeda, giginya patah.
Masih dalam perawatan. Eh, sekarang nambah lagi patah. Aduh.. saya
sudah capek rasanya"
Kontan aku bengong di berondong seperti itu.
"Oh, kirain dia diijinin naik motor" kataku polos.
"Nggak
Bu.. .saya sudah melarang. Saya sudah umpetin itu kunci, kadang di
lemari kadang di saku. Dia tahuuuuu aja. Dia bisa motor itu belajar
sendiri nggak tahu. Kalau ayahnya ke kantor, saya pengajian atau kemana,
dia keluarin masukin itu motor. Saya tahu dari adiknya ini. Sampai
suatu ketika, saya bangun tidur kaget motor nggak ada, tahunya Ufi sudah
bawa naik turun di depan itu."
(Aku semakin bengong)
"Terus sekarang Ufi sama siapa Bu ?"
"Sama
Bapak sebelah ini, saya nggak tahan melihat darah. Lagian adiknya ini
sama siapa kalau saya pergi. Saya kesel banget, saya udah capek"
"Saya
bisa bantu apa Bu ? soalnya saya mau mudik sore ini jam empat. Kalau
saya ambilin motornya juga nggak bisa bawanya karena harus ditambal
dulu. Paling saya carikan informasinya saja ya Bu, motornya di rumah
siapa, dan saya cari pak Otong sama no telponnya. " (Posisinya aku masih merasa bahwa salah Ufi-lah motor itu bisa jatuh). Kemudian aku dan Mama Ufi bertukar nomor telepon
Tiba
tiba hp Mama Ufi bunyi. Telpon dari suaminya. Gak terkuping
pembicaraannya apa. Tapi terdengar jelas Mama Ufi bilang, Fikri nggak
bisa ngambilin motor, karena mau pulang kampung jam 4. Setelah selesai
bertelpon, mama Ufi bilang
"Telpon dari ayahnya, katanya Ufi di tolak di RSUD Ujungberung. Nggak ada dokternya. Jadi dibawa ke RS Santo Yusuf"
Aku kaget. Biasanya kalau ditolak kan parah gitu..
"Memang lukanya parah ya Bu ?"
"Ya
dokter giginya di Ujungberung sudah nggak ada. Terus nggak tahu
bibirnya itu perlu di jahit mungkin. Tadi kejadiannya gimana Fik ? Tanya
Mama Ufi ke Fikri.
"Yah, aku lupa persisnya. kira kira seperti yang diceritain sama Bapak itu tadi" kata Fikri diplomatis.
"Kata Ufi tadi gara gara di gas sama Fikri, makanya nabrak" kata Mama Ufi
Deg !! Ufi nyalahin Fikri di depan mamanya.
"Anak saya kan belum bisa bawa motor Bu" kataku perlahan, setengah membela diri.
"Iya, Ufi itu sudah saya larang membonceng teman temannya, takut kenapa kenapa. Yah seperti ini kejadiannya."
Ah..
merasa sudah nggak enak banget. Dan diburu waktu juga, bla bla bla aku
akhirnya pamit. Aku nggak ninggalin uang, selain karena nggak bawa
(yah.. aku kan lagi beberes rumah tadi itu.. kupikir, uang itu seolah
menjadi "pengakuan bersalah" bahwa Fikri yang bikin gara gara )
Nggak
langsung pulang, tapi aku pergi ke Komplek Ujungberung Indah.
Bayangkanlah posisinya. Dari rumahku ini, Giri mekar itu ke arah kiri,
naik kira kira 1km. dan Komplek Ujungberung Indah itu dari rumahku ke
arah kanan, kira kira 1km jg. Dasar anak anak ! Dari Giri Mekar ke Uber
Indah itu kan lewat depan rumah. Bukannya berhenti dan pulang malah
jalan jalan. Aku nggak sepenuhnya nyalahin Ufi yang ngebablasin motor,
Fikri juga kayaknya seneng seneng aja dibawa jalan jalan.
Sesampai di Uber Indah, tanya Fikri dimana TKP-nya dia juga nggak ingat. Huh !!
(Walaupun akhirnya maklum, klo kita nggak pada posisi nyetir, kita susah nginget nginget jalan ya..)
Setelah
tanya Satpam sana sini, ketemulah pos di mana pak Otong bertugas. Aku
minta nomor telponnya dan aku minta alamat rumah dimana motor Ufi di
titipkan. Sepanjang aku ke Ujungberung Indah, telponku bolak balik
bunyi. Panggilan dari rumah. Nggak ku angkat, wlp hape di pegang Fikri.
SMS masuk, Fikri membuka "Kata Abi cepat pulang, masih banyak yang harus diurus". Aih si Abi ini... pan kita juga lagi nyelesaiin satu urusan. Tapi aku cepat cepat pulang jg sih....
Sambil
pulang aku bicara sama Fikri, tuh Fik, nggak mungkin kan anak anak
dilarang naik motor kalau nggak ada sebabnya. Ufi kan udah lama bisa
naik motor, masa' ban kempes nggak kerasa. Padahal itu kan bahaya,
apalagi kalau ban depan. Mungkin karena sensitifitas anak anak belum
ada, kewaspadaan belum cukup, tenaga juga masih kurang, sehingga belum
diijinin bawa motor. Fikri diem saja.
Aku nyampe rumah sudah jam 3
sore. Satu jam lagi. Masih harus membereskan sisa sisa makan siang Faiz
dan wadah wadahnya. Menyiapkan bekal untuk buka puasa. Sesuai
pembicaraan pagi tadi, aku masak nasi, Abi yang beli lauk pauk buat
buka. Untuk sahur aku udah pesan Eci agar beli KFC saja.
Begitulah... ada beberapa kejadian yang -menurutku- masih menggantung
- siapa yang benar omongannya antara Fikri dan Ufi ? (Tapi aku yakini kesaksian Satpam itu)
- apakah aku harus ikut menanggung biaya pengobatan Ufi ?
- sampai saat ini Fikri tidak bisa menghubungi Ufi di nomor hapenya, dan aku belum punya cukup nyali untuk menghubungi Mama Ufi.
Pelajarannya :
-
Tidak cukup aku melarang anakku naik motor/mengendarai motor. Tapi
mereka harus kuberi pemahaman, agar tidak mau dibonceng oleh temannya
yang belum punya SIM walaupun mereka sudah bisa naik motor.
- Aku
tidak cukup mengenali dengan dekat teman teman anakku. Ya Ampuun..
seorang Mama Ufi sampai komentar begitu terhadap anaknya. Nggak tau
karena lagi marah atau karena begitu kenyataannya, perasaan kalau ketemu
di sekolah nggak gitu gitu amat.
- Aku tekankan lagi ke anak anak, pergilah sesuai ijin yang diberikan.
-
Mungkin aku kurang kuat membentengi anak anakku dengan doa doa. Ampun
ya Allah... Ini pelarian terakhirku. Tidak akan menimpaku kecuali apa
apa yang sudah Dia atur untukku
Salah satu yang kusukai di bulan
Ramadhan adalah, space waktu yang panjang di pagi hari, untuk bersantai
bersama keluarga. Setelah sahur, masih bisa duduk duduk, masih bisa
mengobrol, tidak perlu ke warung, masak sarapan, dsb. Seminggu
lalu, sehabis sahur aku lagi duduk duduk di kasur Faiz. Setelah
mengaji, Abi menyusul ke kamar. Trus nanyain kabar adik adikku dan kakak
kakakku. Hehe.. memang aku ini jadi seperti PR. Humas sana sini. Ke
keluargaku aku yang menjalin silaturrahim, ke keluarga suami, aku juga
yang melakukan itu. (kayaknya rata rata, para istri berperan seperti itu
yah..)
Aku tujuh bersaudara, tapi tidak ada satupun yang sekota.
Tiga kakakku di Cilacap, Jaksel dan Kuningan. Tiga adikku di Temanggung,
Sumatera dan Bekasi. Lain dengan Abi, dari delapan bersaudara, cuma
Abi yg di luar Lampung. Jadi kalau kami ke Lampung ya langsung ketemu
semua. Sekali menyeberang laut, 7 keluarga terlampaui. hehe
Yuk,
balik ke adik dan kakakku. Ceritanya adik bungsuku, baru punya bayi, 31
Juli kemarin. Aku belum sempat nengokin, karena keburu puasa. Pinginku,
habis lebaran aku bisa nengok. Walaupun, di keluarga Ibu-bapakku, tidak
ada tradisi tengok menengok pas lahiran. Misal, Oomku/Bulik/Budhe/Pak
Dhe punya bayi, aku tidak ingat Bpk Ibu pernah pergi atau tidak. Hihi,
mungkin karena Ibuku bungsu, jadi yang punya bayi terakhir ya ibuku..
atau Mungkin karena kondisi ekonomi yang pas pasan, sehingga tidak ada
alokasi dana ke sana. Bapak Ibu PNS, punya anak tujuh, kebayang
repotnya. Maka kebiasaan itupun, turun ke kami, anak anaknya, sekarang
-setelah Bapak dan Ibu meninggal- tujuh bersaudara ini tidak biasa
saling tengok menengok, kalau tidak ada acara penting. Alasannya,
karena mungkin kondisi ekonomi yang pas pas-an, kedua yah, karena tidak
dibiasakan dari orangtua. Yah... masih alhamdulillah sih, sekarang bisa
sering sering sms-an atau telpon telponan.Nah, pas nih momennya. Setelah kuceritakan tentang Mas mas dan adik adik, aku bilang ke Abi :"Ta, nanti habis lebaran Ummi nengokin bayinya Sapto ya.. kan bisa bolak balik. Ke Bekasi kan udah ada travel dari MTC" (aku nggak pake "kita nengokin Sapto" karena secara biaya pasti akan besar sekali kalau full team ke Bekasi, habis mudik lebaran gitu lho)"Kamu sempat ?" jawab Abi"Ya, insya Allah. Bukan pas habis lebaran banget, pas hari Sabtu atau Minggu aja" jawabku. "Mau nginep juga boleh kok, di rumah adik sendiri ini." sambung Abi lagi.*ih .. senengnya...*"Iya lah, berarti Teteh sama Faiz ikut ya...?"Abi menganggukTerus aku bilang"Kadang Ummi mikir ya, orang orang kok pada pulang balik Jakarta begitu mudah, Kita punya keluarga di Jakarta susah banget mau ketemu." (Pertemuan terakhir, Juli dua tahun yl, pas Sapto menikah)
Abi menjawab, rada tinggi nadanya "Yah
kalau ada duit, kemana saja sekarang menjadi mudah. Jangankan cuma
bolak balik Jakarta. Mau ke Singapura, mau ke luar negeri juga mudah.
Makanya Abi sekarang nggak pernah buka facebook, karena isinya kok malah
seperti ajang pamer. Liburan ke mana, makan di mana, lagi beli ini,
lagi beli itu ..... Padahal nggak semua teman kita kan enak seperti itu.
Kalau yang nggak mampu, nggak ketahuan dia lagi ngapain ngapain. Yah,
namanya juga nggak mampu, makan aja susah, gimana bisa facebook-an.
Kamu
sih, keseringan gaul sama orang yang hidupnya serba enak, orang orang
yang gajinya gede-gede. Lihatnya ke bawah dong. Orang orang yang tidak
bisa berlibur, tidak pernah makan enak. Nggak usah jauh jauh, di kantor
Abi aja ada, orang yang kalau gajian tinggal nerima seratus dua ratus,
bahkan ada yang lebih parah. Kalau gajian malah harus bayar, karena
sudah kebanyakan kas bon. Suka kesian kalau lihat mereka di pertengahan
bulan, bengong bengong di kantor nungguin uang makan, karena udah
kehabisan ongkos. Kita harus banyak bersyukur, alhamdulillah kita nggak
seperti itu. Walaupun nggak berlebih, Alhamdulillah, pas butuh, pas ada
rejeki."
Aku
kaget dengan reaksi Abi. Kok jadi ke sana yah... Hmmm... tapi bener
juga yang dikatakannya. Tak satupun ada yang salah. Teman teman
kantorku, kebanyakan dari kalangan berada. Tapi ini kan ada unsur
takdir. Aku kerja di mana, bertemu dan berteman dengan mereka mereka.
Yah ada juga kali, yang minus minus, tapi dari gayanya mah nggak bakalan
ketahuan.Maksudku kan tidak seperti itu......
Apa nggak bisa, diagendakan...
Di sisihkan dari penghasilan tiap bulan, biar bisa nengok nengok saudara...
Tapi.. yah.. daripada pagi pagi udah ada emosi emosian, akhirnya aku memilih untuk mengobrol hal yang lain.
*Tapi,
pas diem aku berpikir, oya ya.. kondisi kami saat ini, yang masih
nyicil ini itu, baru bisa bepergian sekali dalam setahun. Sesuai
kesepakatanku dan suami, selagi Ayah Lampung masih sehat, kita bakalan
tiap tahun ke Lampung. Mengingat 3 orang tua meninggal -ayahku, ibuku,
ibu suamiku- kami nggak sempat bertemu dengan jasad beliau beliau. Semua
terjadi ketika kami sedang jauh. Jadi selagi Ayah masih sehat, kita
seneng senengin Ayah, bawa kelima cucung yang jauh ini untuk setor muka
pas lebaran tiba. walaupun bakal menguras tabungan setahun, menghabiskan
bonus bonus dan THR, bahkan nombok nombok dikit, nggak papa laah..*