Selasa, 25 Oktober 2011

Terpesona Waroeng Steak

logo WS dari mbah gogle

Ini bukan food review ya..

Beberapa hari lalu waktu aku ke Erlangga by angkot, aku lihat cabang baru WS di jalan Gatot Subroto dekat pertigaan Burangrang. Dekatlah dari kantor.Wah bisa jadi sasaran wisata kuliner siang hari deh. Udah gitu bisa dijangkau pakai angkot bolak balik. Kebetulan nih, aku udah lama nggak ke WS. Terakhir sekitar dua tahun lalu (lama banget yah).

Karena belum dekat jadwal gank wisata kuliner, jadi aku menghubungi Echi aja buat makan di WS. Akhirnya deal kemaren kita berdua makan di sana. Berangkat pas teng jam istirahat. Pas baru buka banget kali yah, soalnya tulisan buka mulai jam 12.00-20.00. Alhamdulillah masih sepi. Hanya nampak sepasang muda mudi di sisi kiri yang tersembunyi. (apa seeeh,.. gak penting banget)

Sambil nunggu pesanan datang, aku lihat lihat sekeliling. Di dinding nampak foto foto menu a la mereka, di sorot lampu lampu yang sesuai sehingga makanan makanan itu makin tampak aduhai. Melambai lambai minta dicicipi.
Aih, sebentar. Ternyata foto foto itu bukan sekedar foto menu, tetapi ada pesan yang hendak mereka sampaikan di sana. Ada 4 buah foto besar bertuliskan kata kata bijak :
1. Berdoalah sebelum makan
2. Makanlah dengan tangan kanan
3. Bersyukur atas nikmat-Nya
4. Berbagi dengan sesama

Nggak persis begitu banget kali ya.. karena aku nggak bawa kamera. Tapi kira kira begitulah. Penasaran dengan si WS aku googling. Gambar gambar itu nggak kudapatkan, tetapi aku dapat info. Owner WS , Bapak Jody Broto Suseno adalah seorang enterpreuneur muda, usianya belum juga 40 tahun. Mengawali bisnis WS di Yogya, menyasar pasar mahasiswa. Kini sudah ada 50an gerai WS dengan omset di atas 100 juta/gerai/bulan.
Dan sudah meluaskan bisnis ke Bebaqaran dan Bebek Goreng H. Slamet (H Slamet gitu lho... kirain yang punya ya pak haji Slamet).

Ah ya, sejak 2009 WS sudah memberlakukan larangan merokok untuk karyawannya. WS juga memberangkatkan haji dan umroh untuk karyawan yang mampu menghafal beberapa surat pilihan dari Al Qur'an. Kini, di bawah naungan Waroeng Group sudah ada empat rumah tahfidz untuk mempersiapkan anak anak penghafal Al Qur'an.
Ada nama nama ustadz yang tidak asing lagi buat kita seperti Ustadz Yusuf Mansur di jajaran investor Waroeng Group.
Kata pak Jody, alhamdulillah dengan program program itu usaha mereka makin maju.

Salut deh buat pak Jody !

Senin, 24 Oktober 2011

Pengemis : Modus Operandi Baru

Teringat masa kecil, ketika sering lomba baca puisi, pengemis identik dengan gadis kecil berkaleng kecil seperti puisi karya Toto Sudarto Bahtiar. Ternyata sekarang pengemis tidak sesederhana itu. Ada yang berbentuk gadis kecil menggendong anak kecil, atau gadis kecil dengan tangan kecil yang tengadah dan wajah memelas.

Mungkin ada yang menganut faham, kalau mau ngasih ya ngasih aja laah. Tapi ketika yang mau dikasihin hanya segitu gitunya, yah kalau aku sih mendingan lihat lihat dulu, supaya "multiplier effect"-nya semakin besar. (halaaah.. bahasanya)

Nah cerita soal pengemis ini, sebenernya aku lagi agak sensitif, karena di lampu merah dekat kantor ada "pendatang baru", seorang pengemis bersih, dengan bayi di gendongan, selimut bersih, baju bersih, semuanya tampak bersih. Sampai suamiku yang super pendiam juga sampai komentar. Klo aku mirisnya sama si bayi ya.. dari kecil dah diajarin meminta minta, gedenya jadi apa yah... Semoga kelak bayi itu bisa memilah mana contoh baik mana contoh buruk dari ibunya.

Beberapa hari lalu, pas aku jalan kaki di pertigaan Jalan Jakarta dan Jalan Sukabumi, seorang Ibu memanggilku. "De... de..... " katanya. Aku berhenti dan menunggunya.
Setelah dekat, ibu itu berkata "De, ibu mau minta tolong. Ade punya receh nggak. Ibu mau cari kerja jadi pembantu, tapi ternyata udah ada yang masuk duluan. Sekarang Ibu mau pulang ke Tanjungsari (Sumedang) nggak punya ongkos" katanya.
"Ya udah, bareng aja sama saya atuh, lewat Ujungberung" kataku spontan.
"Nggak Neng, Ibu mau naik bis kota aja, yang ke Nangor (Jatinangor), Ibu minta 2ribu aja" katanya.

Ah ya, ada bis kota ke Jatinangor dari perempatan Jl. Jakarta dengan Ahmad Yani.
AKhirnya kuberikan 5ribuan. Dia berterima kasih terima kasih gitu walaupun uang segitu mungkin buat kita nggak seberapa.

Eh, sedikit buruk sangka muncul, ketika aku udah putar putar di jalan Jakarta itu, ketemu lagi sama ibu yang tadi, dan dia belum berdiri di jalur bis kota. Aih, tapi sudahlah. Aku menepisnya.


Ternyata, dua hari kemudian, aku melihat ibu itu masih di sekitar jalan Sukabumi dan A Yani. Alamaaaak.... Gimana nggak berburuk sangka coba !!

Minggu, 23 Oktober 2011

Raport UTS

Yah, anak sekarang mah beda sama anak jaman dulu, jaman aku. Meski masih SD dan SMP mereka ada UTS macam mahasiswa aja. ALhamdulillah UTS nya udah selesai 2 minggu lalu. Dan kemaren dua Sabtu berturut turut aku mengambil raport hasil UTS itu.

Sebenernya aku termasuk orang tua yang "nrimo" , dalam segala hal. Jadi dalam hal raport anak anak ini juga aku nggak punya target khusus. Yang selalu aku tekankan ke anak anak adalah, mereka berjuang melawan diri mereka sendiri. bukan melawan orang lain. Jadi aku mengukurnya yah dengan melihat keseharian mereka di rumah. Ini review hasil raport itu

Mbak :
Untuk hasil di kelas cukup memuaskan. Dia ranking 3. Semester genap lalu dia rangking 7. Tapiii... ada 3 pelajaran yang tidak lulus KKM. Tidak lulus KKM bukan berarti nilai merah ya.. karena KKM ini adalah batas minimal yang ditentukan oleh sekolah. Ada yang 7, ada yang 7.5 tergantung pelajarannya.
Dari 3 pelajaran itu, satu pelajaran (bahasa Sunda) itu sekelas nggak ada yang mencapai KKM (aneh kan ? ) Ya sudahlah.
Tapi kalau catatan dariku adalah... Mbak belum cukup maksimal dalam belajar. Habis maghrib belajar sambil main hape. Subuh subuh bangun pagi kembali pegang hape. Rasa rasanya harus diambil tindakan khusus terhadap benda bernama hape ini.

Fikri
Ini adalah raport pertama Fikri di SMP. Dia memang berhasil masuk SMP cluster 1 dibanding Mbaknya yang masuk SMP cluster 2. Aku cukup maklum kalau persaingan di sana begitu ketat. Maka ketika disebutkan 10 besar di kelas dan Fikri masuk di sana, aku sudah bersyukur. Tapi .. .lagi lagi ada 3 pelajaran yang tidak lulus KKM. Memang saat aku konsultasikan ke Walikelas, ini hal yang biasa. Nanti anak minta remidial aja ke guru pelajaran ybs.
Tapiiii... besoknya ketika aku bertemu dengan temanku yang sekolah di sekolah yang sama dengan Fikri, ternyata anakknya ranking 10 dan nilainya itu jauh lebih besar dari nilai Fikri yang rangking 4 .  Waah, ada yang salah niy.
Sebenarnya aku melihat Fikri ada kemunduran dalam mengelola waktu dibanding SD dulu. Waktu SD kan dia full day, jadi udah banyak belajar laah di sekolah. Maka kalau di rumah aku gak gitu nuntut. Sekarang Fikri sekolah siang. Nah kalau pulang sekolah di sore hari dia sudah capek. Tapiii.. di pagi hari setelah mengerjakan tugas rumah tangga, dia tinggal santai santai.
Yah, ada yang harus dikoreksi.

Untuk Mbak dan Fikri mulai malam tadi, mulai abis maghrib sampai pagi menjelang sekolah, hape harus disimpang di suatu tempat yang disepakati yaitu di rak buku.Nggak boleh lagi dibawa bawa ke kamar atau di bawa bawa tidur. Dengan harapan malam hari bisa konsentrasi mengulang pelajaran, dan pagi hari bisa baca walaupun sedikit.

Fadhila
Tahun ini dia tetap di kelas 5A. tapi sesuai pengalaman tahun tahun sebelumnya, kelas A ini justru untuk anak anak yang agak 'kurang' dalam prestasi akademik.
Memang selama setengah semester ini, nilai Fadhila lumayan naik laah dibanding nilai semester genap di kelas 4. Dan betapa terkejutnya aku, ketika menerima raport Fadhila masuk 5 besar. Bukan terkejut senang ya... tetapi terkejut, karena dengan nilai yang dia capai (dan ada 4 pelajaran yang tidak lulus KKM) ternyata itu yang paling sedikit tidak lulusnya. Halaaah !!. Kayaknya ada yang harus dikomunikasikan niy, ke sekolah. Dalam waktu dekat ini. Harus.
Khawatirnya Fadhila cukup puas dengan hasil itu dan dia berhenti belajar.
Aku tetap memberikan dia penghargaan atas hasil yang di capainya. Tapi aku mengajak dia untuk realistis. Bahwa sekali lagi, dia berlomba bukan dengan teman sekelas. Tapi dia harus melawan "rasa malas" dalam dirinya.  Aku tunjukkan nilai (calon NEM) yang masih di kisaran 9,7,7 kalau dijumlahkan sekitar 24-25. Dan jumlah itu belum masuk untuk SMP Negeri dekat rumah. Bahkan yang cluster 3 sekalipun !!
Alhamdulillah Fadhila setuju kalau aku kasih soal tambahan semacam try out gitu untuk latihan dia di rumah.

Firda
Alhamdulillah, tidak ada  catatan dalam hal prestasi akademik. Tapi ada catatan dalam hal 'pengungkapan pendapat'. Katanya Firda di kelas jarang bertanya atau menjawab kalau tidak di tanya. Kata gurunya, apa karena mencari aman atau apa. Tapi kalau ulangan tertulis mah nggak ada masalah.
Aih .. aku jadi khawatir, jangan jangan karena keseringan di cela cela sama kakak kakaknya dia jadi menghambat kepedeannya. Wah harus lebih serius juga nih.. menangani yang ginian.
Binun juga kadang kadang, kapan membiarkan anak anak menyelesaikan masalah sendiri supaya mereka belajar problem solving dan kapan mencampuri urusan mereka. Habis. .. kadang kayak yang musuhan, satu dua menit kemudian dah baikan lagi.

Ternyata banyak PR juga buat Ummi Abinya.