Rabu, 28 Desember 2011

15 Tahun

foto berdua pas ikut seminar keluarga
Suamiku selalu bilang bahwa tidak ada perayaan ulang tahun di rumah. Karena ulang tahun bukanlah prestasi, sehingga tidak perlu dirayakan. Itu buat anak anak. Tetapi, untuk ulang tahun pernikahan, menurutku itu adalah prestasi, karena cinta harus diupayakan.
Bila dikenang 15 tahun lalu, kami berdua bukanlah siapa siapa, bertemu beberapa saat beberapa kali kemudian berkomitmen untuk membina rumah tangga dibawah nilai nilai Ilahi, tentu bukan hal yang mudah.
Menumbuhkan cinta melalui proses yang sangat panjang. Mulai menyemai bibit-bibitnya, menyiraminya dengan kasih sayang dan perhatian, dan menjaganya dengan tanggung jawab serta memagarinya dengan keimanan, dan memupuknya dengan doa doa. Memohon agar campur tangan Allah-lah yang menjadi penjaga, agar cinta itu senantiasa tumbuh dan berkembang menjadi naungan buat rumah tangga kami, aku, suamiku, dan anak anak.
Senyum dan tawa mengiringi.
Tangis dan derai air mata mewarnai.
Godaan dan ujian acap kali menghadang.
Alhamdulillah masih terjaga hingga kini.
Terima kasih ya Allah.....
Semoga Engkau mengekalkan kebersamaan kami di dunia ini hingga surga-Mu.


sama papa echi, mama echi dan mba Echi. Mbak Echi masih imut imuut
 

Selasa, 20 Desember 2011

Kehilangan

Semua yang menyangkut "kehilangan" pasti bakal terasa menyesakkan. Kehilangan apapun itu. Hatta untuk masalah atau benda yang kelihatannya sepele. Karena sudah penyakit manusia kali ya.. baru terasa betapa berartinya "sesuatu" setelah sesuatu itu tidak ada lagi di tangan kita, atau sudah tidak dapat kita menjangkaunya.

Sebenernya ini masalah sepele kali ya...
Faiz sejak usia dua tahun senang sekali memainkan uang kertas. Awalnya dari uang kertas mainan, lama lama dia pinter memainkan uang kertas yang dia ambil dari tas Umminya yang suka digeletakkan di lantai begitu saja, dengan resleting yang kadang masih terbuka.

Ketika main itu, dia belajar, uang 100rb-an buat deposit pulsa, uang 50rb an buat beli beras/ke toko, uang 10rb buat naik ojeg kakaknya ke sekolah, dsb dsb dengan pecahan lain.
Nah suatu malam di akhir bulan, dia memainkan satu lembar 50 rb an dan bbrp 10 atau lima ribu aku lupa. Nah kali ini dia mainnya lain jurusan. Dia lipat lipat si uang itu, dan mau dimasukkan ke kotak infak dari masjid sekolah yang di memang disimpan di rumah.

Sebagai Ummi yg penuh perhitungan (apa pelit ?) aku tereak doong waktu Faiz lipat lipat satu satunya uang biru yang ada, mau dia masukkin kotak infak. AKu membujuknya agar mau menukar dengan pecahan lain, terserah yang mana.. Dengan susah payah berhasil tuh..
Syukurlah bisa dipakai bayar majalah besok (pikirku)
Dan besoknya aku semangat menunggu Mang majalah. Eh, ternyata nggak datang, Dan uang 50 ribu yang aku siapkan itu...... ya ampppunnnn... aku baru ingat siangnya, dan AKU LUPA NAROKNYA DIMANA ??
Hmmm serasa dapat tamparan deh... mau dibelanjakan di jalan Allah gak boleh, malah hilang begitu saja....

Rabu, 14 Desember 2011

Bahasa Cinta

Salah satu efek aku pindah kantor adalah nggak ada lagi tumpangan teman sejalan. Asyiknya, aku jadi sejurusan sama Abi. Tiap pagi aku dianterin ke kantor, tapi .. si Abi bukan langsung ke kantor, tapi malah balik lagi ke rumah. Mau main dulu sama Faiz sampai jam 9-an baru berangkat ke kantor.
Sore aku di jemput juga sama doi. 


Kadang aku kasihan juga ngelihat doi maksa jemput, padahal habis maghrib ada kuliah yg lokasinya notabene masih di tengah kota juga. Jadi klo pas kuliah dan ngejemput aku, setelah shalat maghrib, dia buru buru ganti baju dan berangkat lagi. Alamaak
Setelah beberapa hari di kantor baru, aku dapat teman tumpangan yg searah. Namanya Teh Sri, sampai Pasir Impun. Sayangnya dia bukan PNS yang musti absen finger print. Jadi sebenernya dia bisa pulang sebelum jam 5. Nah pas suamiku tahu hal ini, dia udah nggak ngijinin aku numpang Teh Sri lagi. Kasian katanya. Dia juga ditunggu anak anaknya.
Ya udah akhirnya aku dijemput lagi sama doi. Pas kubilang, udah aja, kalau Abi kuliah , Ummi pulang naek angkot. Daripada Abi jemput Ummi, sampai rumah pergi lagi. Kan capek..
Eh si Abinya bukan ngejawab aku, malah ngomong ke Firda
"Teh, tuh, Umminya di sayang nggak mau. Dikasih perhatian nggak mau. "
"Yah, Ummi kan sayang juga sama Abi, nggak mau Abi kecapean" sahutku nimbrung.
"Itu kan bahasa cinta Abi ke Ummi. Ummi mah , maunya kita pake bahasa cinta Ummi sendiri"

Arrrggh.. si Ummi cuman tersipu malu dan si Teteh Firda bengong gak tau maksudnya kata kata apa!