Jumat, 10 Februari 2012

Double Dating

Bila ada ababil alias amak amak labil mungkin akulah orangnya. Haha
Entah kenapa, kmrn itu bad mood pisan, males untuk bekerja, pengen seneng seneng tapi nggak tau apa. Ah..lebay dot com lah judulnya.
Eh, kok ya kebetulan Tri ngajak makan bareng genk maksi. Nggak lama kemudian, si Hany juga ngajak makan bareng mantan anak pelayanan.  Udah gitu tempatnya berdekatan.  Aduuh.. bagai mendapat durian runtuh deh.
Untung saja hari itu , Novi dengan baik hati mau bertukar piket istirahat denganku.
Jadi aku bisa pergi. Dan dengan otak kriminal pula aku berniat membolos eh ijin pulang cepat. (apa bedanya sih...)
Rupanya si durian durian itu belum berhenti berguguran, di H-1 tiba tiba ada yang pesan paket Tuppi my first moment collection dan rainbow. (lumayan nambah omset) dan di hari H saudara saudara, masih satu durian lagi jatuh. Tak disangka tak di nyana, Mbak Ida yang dianter mas Setia katanya mau lewat kantor aku. Aduuuh... terima kasih aku tak perlu membawa dua paket tuppie itu by angkot.
Masih nyamper Tri dan Doel serta chika di perempatan, lalu aku
dating sama Echi nyampein pasmina di perempatan itu juga. kemudian mobil mas Setia pun parkir dengan aman di Mpek mpek pak ANang jl. lengkong. Satu lagi durian jatuh, aku ditraktir mbak Ida. Khusus AKu, yang lain bayar sendiri. (sayang sondang nggak ikut, pun aku blm sempat telepon krn saking bahagianya mau ketemu mantan pelayanan)
Setelah selesai makan mpek-mpek, perjalanan berlanjut naik becak ke WS. Semua sudah kumpul full team cewek. Ramenya.... Curhatnya.... Ah.. nggak berasa setengah dua. Waktunya pulang. Satu lagi durian runtuhnya, Mbak Ama membeli paket Nabiku Idolaku dari Mizan tanpa aku harus presentasi panjang lebar.
Terima kasih ya ALllah.... untuk kebahagiaan yang tak disangka sangka. Tertebus rasanya potongan untuk membolosku hari ini.
*gambar nyusul ya...
ini fotonya, bukan pas lagi makan makannya ya.. tapi kebayang kan.. ini juga suasana makan bareng di ruangan hehe

Selasa, 07 Februari 2012

The Gift From Teacher


 Meski keempat anakku sekolah di sekolah yang sama, ternyata 'kebijakan' guru guru di masa mereka berbeda beda. Yaeyalaaah.. namanya juga sekolah swasta ya, dan mungkin tingkat kesejahteraannya katakan biasa biasa saja, jadi guru-gurunya ya ganti ganti melulu. Kebanyakan sih keluar karena diterima sebagai PNS. Atau pindah kota ikut suami. Artinya masih terbilang bagus lah alasannya .. bukan karena faktor sekolahannya.
Btw kembali ke judul tentang gift itu.. ternyata hadiah itu ngaruh banget ya buat anak anak. Walaupun mungkin ala kadarnya saja. (dan kadang bingung makenya).
Nah yang kebagian "nasib baik" mendapat hujan hadiah ini si Teteh. Gurunya berinisiatif memberi hadiah untuk yang mendapat nilai 10, baik dari ulangan harian, maupun dari nilai UTS/UAS. Dananya diambil dari kas kelas. Kas kelas ini dikumpulkan dari 'infak' tiap hari Jumat. (*Ih baru kepikiran ya.. harusnya aku kasih uang infak dalam jumlah yang nggak biasa, kan jatohnya ke anak aku juga... :D)
Saking seringnya dapat hadiah, sampai sampai kakak kakaknya pada protes.
"Ih.. kok waktu jaman aku nggak ada sih.." *masih rada baek niy, komentarnya
"Ih,.. hadiahnya cuman gitu doang..." *hihi yg komen ini kena marah Abi
"Alaaah.. pelajaran anak kelas satu kan masih gampang, jadi dapat nilai 10" haha.. semua juga ngalamin kelas satu yah.. btw padahal Teteh Firda udah kelas dua sekarang.
Meski demikian, Firda tetap mau berbagi hadiah hadiah itu dengan kakak kakaknya.

Intinya, menurutku hadiah hadiah itu membuat Teteh lebih semangat belajar. Nggak tahu juga siy, efektif sampai umur berapa.( Nyerah deh aku yg ginian, pasti guru-gurunya lebih tahu dari aku soal ini).
Hanya saja, satu hal yang aku heran, kata wali kelas dua, Teteh berbeda dengan kakak-kakaknya yang cerewet. Teteh kalau di kelas pendiam. Olala, si Teteh yang sering kubilang kalo besar jadi penyiar radio (aduh, jaman guwe banget) atau presenter karena nyerocosnya kalau sudah cerita, sambung menyambung susah diberhentiin, ternyata pendiam. Kenapa ya.. apa karena sering ditimpal timpalin kakak-kakaknya yang super cerewet itu ? (*emak emak telmi mulai berpikir)
Ini masukan dari guru. Teteh kan kebetulan kmrn mendapat nilai tertinggi, dan nilai dia melaju beberapa poin melewati teman temannya. Baru di peringkat kedua dst saling susul nol koma gitu gitu..
Ah, dari ngomongin hadiah kok jadi kemana mana. Ntar deh, konsul lagi sama gurunya.
Baiklaah.. teman teman, inilah beberapa dari hadiah itu..

ki-ka : Globe mainan (tetep globe ya), teko mainan, celengan, satu set stationary

Kamis, 29 Desember 2011

Berkebun (atau bertenak ulat ) ?

Sebagai seseorang yang menggeluti multi peran (cie cie...) dan memiliki multi talent (jiah.. enggak banget)  salah satu hal yang kulakukan di sela sela hari libur adalah berkebun. Di seberang jalan depan rumahku terbentang sawah nan luas, adalah setengah hektar. Tapi bukan milikku .. hehe.. jadi aku cuma menikmati saja proses si Bapak membajak sawah, menyemai bibit, menanamnya, mencabut gulma dan beberapa hari (iyah, hari.. karena gak kerasa, usia padi kan paling 3 bulanan yah..) kemudian, akan terdengar suara kelontang  kaleng kaleng berisi kerikil pengusir burung burung ketika padi mulai menguning. Dan saat yang paling berbahagia adalah ketika di pagi buta, beberapa Ibu sudah duduk duduk di pinggir sawah, itu pasti saatnya panen tiba. Lumayan laaaah... meski cuma lihat, cukup jadi pengusir penat kehidupan kota Bandung, wabil khusus Cijambe, yang mulai macet di pagi dan sore hari.

Eh, kebunku bukan yang kuceritakan tadi ya.. kebunku hanya sepetak tanah sisa yang tidak dibeton oleh pemilik lama, kira kira ukuran 50 cm x 200 cm. Hayaaah.. berkebun apa ?? Macam macamlah aku tanam di situ. Ada bunga anggrek liar di pinggir tembok, disusul rumput menghampar, dipinggir pinggirnya aku tanam sansivera, disela sela rumput sekarang aku tanam sebuah pohon nanas (haha..sebuah saja), satu pohon kunyit, dan satu pohon kemangi. hehe.
Nah di hari bumi  tahun ini, aku menanam pohon kersen. Orang ada yang bilang buah cery kampung, atau apalah  terserah kalian menyebutnya.  Eit jangan diketawain, itu pohon pinggir jalan ya.. Ini mah soal menentramkan diri, mengenang masa kecil, memanjat pohonnya, meraih buahnya yang mulai merah ranum, dan langsung hap ! masuk mulut tanpa dicuci. hmmm... yummmi...

Beberapa teman melarangku, Bibi juga, katanya banyak ulat. Suamiku nggak ngelarang (ya eyalaaah... dia kan tumbuh di kota, gak hafal masalah 'perkebunan'. Abi lah yang membantu menghancurkan semen kira kira ukuran 50x50 cm, dan menggali lubangnya untuk si Kersen kesayangan. Daaaannn... dalam 6 bulan saja, pohon itu sudah tumbuh, rimbun dan rindang. Lengkap dengan ulat ulatnya yang bergelantungan (tuh kaaan.... kata Bibi). Ulat bulu lagiii....
Merasa sebagai satu satunya oknum yang wajib bertanggung jawab, hari Sabtu pagi minggu lalu aku berpakaian lengkap, membawa galah dan memukul mukul ranting kersen itu agar si ulat berjatuhan. setelah berjatuhan, dengan kejamnya aku matiin pakai galah bambu. Adalah.... barang 30 ekor ulat. Alamaaaak.. janganlah kau tanya apa yang kurasakan ketika melakukan itu. Demi si buah cery kampung aku rela melakukannya.
Mau lihat sebagian ulat itu ? Ini dia, yang bersembunyi di bawah pot di dekat pohon kersen itu.
Hiiiii....