Rabu, 12 Desember 2012

Prakarya

Sudah seminggu ini si F3 mendapat PR membuat prakarya terkait tugas UAS. Kalau tidak salah ingat, instruksinya adalah membuat bantal. Yah, bantal.
Mulanya dia minta uang beli kain flanel / felt. Hihi.. kebayang mau bikin bantal segede apa. 
Yah, aku kasih aja itu uang. Trus dia juga minta dacron, kuminta ambil sendiri di tempat penyimpanan.

Sudah hampir jatuh tempo itu prakarya enggak jadi jadi juga. Aku hanya bisa mengingatkan.
Nah hari Senin kemaren jadilah itu si 'bantal' kira kira diameter 15 cm hehe..
Ternyata pas sampai sekolah, Ibu guru tidak mau menerima prakarya itu, kecuali dia bikin satu lagi sebesar itu..
Weks !  

Nah, karena diburu dead line tadi malam dia bersemangat mengerjakan itu di kamarku. Aku asyik merajut. Karena F5 udah tidur.
Di sela sela F3 ngerjain tugasnya, dia sempat curhat :

"Ummi, prakarya temen aku bagus deh Mi, tapi, ini bukannya aku curiga ya Mi, tapi asa teu percaya, kalau itu buatan dia. Habisan rapi banget sih. Katanya sih dibantu sama ibunya."
Ku jawab :
"Ummi teh nggak mau bantu
teh, bukannya nggak sayang, tapi biar kalian belajar mandiri dan belajar kejujuran. Kan yang dapat tugas kalian, yang dapat nilai juga  kalian"

 
Eh tidak lama berselang dari itu, kebetulan ada TL twitterku "Do what you can, with what you have, where you are" Theodore Roosevelt. Meuni pas ya.. kubacainlah itu  ke anakku.
Akhirnya F3 ya meneruskan pekerjaannya.
 
Kira kira jam 9 dia sudah kelar dan berkata :
"Mi, ternyata kalau tugas kita kerjakan dengan gembira, bisa selesai juga ya.."
"Dan sungguh sungguh" sambungku.
"Iya Mi, dan sungguh sungguh. Ini geuning cuma sejam udah selesai. Yang gambar mustache kemaren asa lama."
Hehe... akhirnya sadar juga dia. 

Nah, inilah hasil prakarya si F3 itu. Terdiri dari 2 'bantal'. Kuning, bergambar mustache kira kira berdiameter 15 cm dibuat dengan gantungan kunci. Satunya lagi bantal hijau, kira kira lebih kecil sedikit, bergambar love. Hanya dikasih tali benang emas.




Minggu, 09 Desember 2012

Pelajaran Tentang Syukur

Pulang les, tiba tiba si F3 langsung menghampiriku yang sedang leyeh leyeh di tempat tidur
"Ummi, aku baru sekarang lho, bersyukur pindah ke rumah ini" *pindahnya udah 4 tahun booo*
"Kenapa memangnya ?"
"Iya dulu kan di rumah lama kita cuma punya dua kamar. Semua anak perempuan tidur sama Ummi. Anak laki tidur sama Abi. Terus rumah kita lantainya jelek, hitam gitu *abu abu tepatnya, tegel semen itu lhoo*. Trus kalau kita mau ngeruncingin pensil, tinggal digosok gosok ke lantai. Soalnya tadi ada temen Ayuk di kelas yang nggosok nggosokin pensil ke meja. Jadi Ayuk ingat waktu Ummi ngajarin kita nggosokin pensil ke lantai"
"Alhamdulillah ya.. bersyukur atuh ya, lantai kita sekarang putih dan bersih."

Hahaha, serius banget sih ya pembicaraannya...
Ternyata ya... sudut pandang anak kecil itu berbeda sekali dengan sudut pandang kita yang lebih dewasa.
Yang dia bilang ngeruncingin di lantai itu adalah, waktu itu (waktu itu =  4 tahun lalu atau lebih malahan, Ayuk itu baru kelas satu atau kelas dua SD), aku cerita ke F1 dan F2, jaman Ummi kecil, kalau cari serutan itu masih susah, tidak semua anak punya serutan. Kalau ngeruncingin pensil pake silet atau pisau lipat yang mudah sekali berkarat itu.

Nah, sebagai anak kecil yang takut kena silet/pisau lipat itu, kami ada jalan pintas meruncingkan pensil yaitu, tinggal melorot dari kursi, dan dikolong meja kami gosokkan ujung pensil ke lantai semen yang abu abu itu/plesteran. Walhasil, pensil runcing, dan lantai tetap tampak tidak bernoda. Apakah ada yang pernah melakukan hal seperti ini ?

*Halooooo... siapa yang hidup sejaman denganku?

Sabtu, 08 Desember 2012

Kenapa Kita Marahan ?

Si kecil Faiz rupanya belum bisa membedakan antara dimarahi, marahan, dan marah.
Aku mungkin jarang sekali marahin dia ya, dibanding kakak kakaknya. Pertama karena tugas tugas yang jadi kewajiban Faiz pun masih sedikit. (kewajiban ? hihi.. latihan kewajiban lebih tepat kali ye...). Jadi ya... peluang untuk mangkir ya tentu sedikit juga...
Berbeda dengan kakak-kakaknya yang sudah punya tugas sendiri sendiri.

Nah suatu malam, dia menanyakan satu hal yang membuatku kaget, menyesal, sekaligus pengen ketawa.
"Ummi, kenapa kita kemaren marahan ?"
"Karena Faiz tidak menaati peraturan, mau marahan lagi nggak ?" tanyaku santai
"Enggak aaah..nanti akunya nangis" jawab Faiz
"Makanya, Faiz kamu enggak boleh lagi melanggar peraturan ya.."
Faiznya cuma ngangguk angguk. Entah dia ngerti entah enggak. Kayaknya sih ngerti. *sok yakin

Nah sesungguhnya sebabnya marahan itu adalah, dia berhari hari ngungsi tidur di kamar Ummi dan Abi. Padahal kan dia udah punya kamar sendiri. Dan, 'marah'nya Ummi adalah pindah tidur ke kamar lain dan memberi kesempatan Abi mengantar dia tidur di kamarnya sendiri. :p