Selasa, 10 Desember 2013
Setahun Sekolah Ibu Pasir Endah
Yang namanya ibu-ibu, ya kita maklumin kondisinya. Sekolah bawa anak ya kita terima saja... silakan. Justru jadi pembelajaran buat si anak, bahwa ibunya tidak henti belajar meski harus penuh perjuangan (sambil momong anak).
Sejauh ini semua terkendali...
Selama 12 bulan berjalan (peluncurannya Januari lalu), ibu ibu belajar sedikitnya 12 materi. Lumayanlaah... ada tentang kesehatan, psikologi, mengenal obat yang dijual bebas, belajar membuat kerajinan dari limbah plastik, tentang manajemen keluarga dsb. Sengaja bukan materi-materi dinniyah, karena itu sudah dibahas di pengajian-pengajian.
Nah pas pertemuan akhir tahun kemarin, panitia pelaksana membagikan cindera mata untuk srikandi-srikandi Sekolah Ibu. *hihi kayak Srikandi Blogger aja. Itu bukan ide aku lho... tapi murni ide Ibu Siti, panpel yang notabene bukan blogger. Memang tokoh Srikandi itu mewakili ya..mewakili perempuan-perempuan yang menonjol di bidangnya.
Jadi ceritanya ada satu ibu yang subhanallah... membuat kami ter-Wow wow saking kerennya. Namanya bu Aminah. Usia beliau menjelang 50 tahun. Awalnya jadi peserta. Trus mulai tampak jiwa leadership beliau, aktif dan kreatif juga. Trus jadi sering dapat tugas nge-MC di sekolah ibu. Terakhir di Des kemarin, Ibu Aminah udah ikutan nyiap-nyiapin tempat dsb. Jempol deh.... Uniknya pas dilihat siapa peserta yang SELALU hadir di 12 bulan tersebut ya Bu Aminah.
Srikandi yang lain adalah Ibu RW yang senantiasa mendukung berjalannya Sekolah Ibu ini dengan menyediakan waktu beliau dan tempat di garasi rumah beliau serta aktif memberikan saran dan masukan juga untuk kemajuan Sekolah ibu.
Seneeeeng deh rasanya, bergaul dengan ibu ibu sepuh yang penuh semangat seperti beliau berdua, dan juga bu Siti tentunya, sebagai panpel tiap bulannya. Nanti kalau aku tua, masih semangat kayak beliau enggak ya??? *ambilkaca*
Ini fotoku pas nyerahin cinderamata ke bu Aminah.hihi baru nyadar sesama ungu.
Minggu, 08 Desember 2013
Fenomena Baru : ODOJ
Bagaimana dengan One Day One Juz ?
Pasti udah pernah dengar ya... Gegara lihat postingan foto IG Baginda Ratu, yang ada mbak-mbak dibonceng motor sambil tilawah, aku jadi keidean cerita hal ini.
ODOJ adalah fenomena yang sangat menggembirakan. Di tengah terjangan informasi dan teknologi yang sungguh mendukung kegiatan konsumtif sekaligus berpotensi melenakan pemanfaatan waktu, ternyata di sisi lain masih banyak yang melakukan sebaliknya. Dengan bantuan teknologi, dia dapat meng-optimalkan waktunya, antara lain untuk mendalami Al Quran melalui grup ODOJ.
Al Quran adalah petunjuk Allah tentang produk-Nya, yaitu manusia. Ibaratnya manual book. Kalau ingin tahu apa, bagaimana, mengapa, dsb tentang manusia dan kehidupannya, ya tinggal buka saja manual book tadi. Jadi mempelajari Al Quran bukan (saja) urusan akhirat, tapi justru kunci menjalani kehidupan di dunia ini agar sukses mencapai cita-cita abadi di akhirat kelak.
Nah fenomena ODOJ ini menarik. Buat yang belum tergabung, kira-kira teknisnya begini.
Satu grup ( bisa grup BB atau WA) terdiri dari 30 orang. Misal si A, si B si C dst sampai AA, AB, AC dan AD, tiap hari masing-masing anggota kebagian satu juz.
Contoh : hari ini
A baca juz 1
B baca juz 2
C baca juz 3
Dst sampai dengan
AC baca juz 29
AD baca juz 30
Besoknya : (naik, dengan asumsi bacaan satu juz sudah kelar)
A baca juz 2
B baca juz 3
C baca juz 4
Dst sampai dengan
AC baca juz 30
AD baca juz 1.
Demikian terus dan seterusnya muter lagi. Perhitungan dimulai dari saat bangun shalat tahajud, sampai pukul 21. Jadi -pengennya- tiap hari grup ODOJ itu membaca doa khatmul qur'an.
Trus siapa anggotanya ? Siapa saja, yang ingin berjuang (iya, berjuang) atau belajar membaca) satu juz per hari, satu grup terdiri dari 30 orang, perempuan semua atau laki-laki semua. Tidak dibatasi teritori karena bantuan teknologi. Teman yang lain kota pun bisa tergabung dalam satu grup.
Trus gimana kalau haid ?
Kalau ada yang haid, biasanya 'jatah' bacaannya dilelang ke anggota yang lain. Atau mencari tandem yang akan saling menggantikan membaca jatah tilawah. Ada juga anggota lain yang nerima lelangan, bisa setengah juz, satu juz bahkan ada yang 4 juz. (Subhanallaah). Kebayang ya... dia baca 4 juz lelangan pleus satu juz jatah dia sendiri.
Trus gimana kalau enggak selesai satu juz hari itu ?
Ya nggak papaa juga kaliii... namanya juga lagi belajar. besok berusaha meluangkan waktu, manajemen aktivitas, agar dapat membaca lebih banyak dari hari ini.
Atau bisa dengan minta 'perpanjangan waktu' ke admin grup.
Seneng ikut grup ini ? Seneng,
ada saja tiap hari ilmu baru. Ada yang share tadabbur ayat. Pemahaman yang lebih mendalam tentang ayat tertentu. Ada yang share tips sukses mencapai target, dst.
Lama nggak siih baca satu juz ? Kalau kita pakai Al Qur'an pojok yang standar, satu juz kira kira 20 halaman atau 10 lembar. Bisa dibaca tiap habis shalat sebanyak dua lembar aka 4 halaman.
Atau ibaratnya sistem permainan bola bisa dibuat 4:3:3 dengan rincian 4 halaman dari subuh sampai zhuhur, zhuhur ashar 3 hal, ashar sampai maghrib 3 halaman.
Atur - atur sajalah sesuai kesibukan kita.
Nah, ada yang tertarik bergabung ? Yuk kita bikin grup ODOJ di WA, sms ke no aku 081901383151, nanti aku cariin grupnya, boleh ajak teman, adik, kakak supaya segera genap 30 anggota.
Sabtu, 07 Desember 2013
Bingung
Si Teteh kemarin malam masuk kamarku saat aku lagi nemenin Faiz mewarnai.
"Umi, aku bingung deh.."
"Bingung kenapa ?" Siap siapin jawaban pertanyaan
"Kalau aku lagi kesel sama Ayuk sama Mbak, trus aku ngambek gitu, kata mereka aku nggak boleh kekanak-kanakan. Karena aku sudah besar."
"Ya memang benar kan, kamu sudah besar".ih Ummi bukannya ngebelain yah
"Iya, katanya aku sudah besar. Tapi kalau Mbak sama Ayuk lagi ngobrol berdua trus aku datang, mereka bilang aku jangan ikut ndengerin, karena aku masih kecil."
"Oh, itu maksudnya kamu belum cukup besar untuk mendengarkan obrolan tentang anak SMP dan SMA" *ini jawaban ngeles bukan siih?
*dan memang sejak bertahun -tahun lalu aku sudah tidak menggunakan istilah sudah besar atau masih kecil, tapi pakai istilah belum cukup besar untuk..." tepatnya sejak Fikri mempertanyakan hal yang sama saat dia TK.