Minggu, 05 Januari 2014

[3] : Batas Kesabaran

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ -٢٠٠- 

Terjemahan :
Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan bertahanlah dalam kesabaranmu, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung (QS Ali Imran; 200)


Sebagai emak-emak beranak banyak (enggak banyak pun) pastilah sering berurusan dengan yang namanya kesabaran ini. Mulai dari hamil dengan tingkat kepayahan yang makin lama makin bertambah. Kemudian melahirkan di mana itu adalah perjuangan antara hidup dan mati. Kemudian menyusui bayi yang sungguh sungguh menuntut tenaga dan daya upaya. Belum urusan mendidik anak, melayani suami, mendelegasikan wewenang ke ART, menjalin hubungan dengan tetangga, urusan pekerjaan, urusan dengan teman, urusan keuangan,  dsb... dsb.. pasti daftarnya panjang.
Pasti semua itu banyak warna-warninya (ehm.... iyalah, kita sebut warna warni aja, macam crayon Lulu) yang seriiiingg sekali menuntut kesabaran dari mulai level satu sampai level entah berapa kita nggak bisa nyebut lagi karena udah mentok sampai ubun ubun. Pertanyaannya, apakah setelah batas kesabaran kita sampai ubun-ubun itu, kita boleh meledakkan kepala kemarahan kita ? *jawabnya dalam hati aja.

Kalau kita baca kisahnya Nabi Yunus as di dalam perut ikan, yang enggak bisa ngapa-ngapain mentok sana sini, eh tapi masih hidup, enggak dimatikan sama Allah, apa kira-kira yang membuat beliau bisa bertahan ? Kesabaran. Kesabaran ini adalah kekuatan untuk bertahan, tetap eksis, tetap survive apapun kesulitan yang dihadapi di dunia.
Seperti kisahnya Nabi Ismail, as dan Nabi Ibrahim as, apakah gerangan yang membuat  Nabi Ibrahim as melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih Nabi Ismail as ? Kesabaran. Kata Nabi Ismail as : lakukan saja, Ayah. Insya Allah saya termasuk golongan orang orang yang sabar. *insya Allah sengaja saya cetak tebal* Jika Allah menghendaki.

Ya, Surat Ali Imran ayat 200 di atas adalah pengingat untuk orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu (insya Allah sedang selalu dan akan kami usahakan, Ya Allah), tapi ayat ini  tidak berhenti di titik itu. Ternyata ada kelanjutannya,   dan bertahanlah dalam kesabaranmu. Ini tidak mudah. Makanya kesabaran ini disebut sebagai ummul akhlak / induknya akhlak. Karena dari sanalah semua akhlak baik lahir. Selain dalam urusan-urusan keseharian kita, juga dalam urusan ibadah sangat diperlukan kesabaran. Sabar untuk senantiasa istiqomah. Terus menerus melakukan, tanpa bosan, sampai Allah menghentikan dengan kematian.



Sabtu, 04 Januari 2014

Hari ke-2 : Karena Allah Telah Menjamin

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ -٦- 

Terjemah :

Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rejekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalalm Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz) QS Huud ayat 6


Sebenernya aku udah pernah cerita soal rejeki ini di postingan aku yang ini. Tapi gapapa lah ya... diomongin lagi. Kan ini lagi terkesan dengan salah satu ayat Allah dalam Al Qur'an. Ibaratnya lagi membaca surat cinta, pasti kan ada bagian-bagian yang membuat kita membuncah dan berbunga-bunga. 

Kali ini aku enggak akan cerita tentang pandanganku soal rejeki, tapi cerita tentang temanku yang subhanallah..
Ada seorang teman yang saat itu punya keponakan baru. Terlahir melalui proses persalinan normal di bidan. Sehat dan imut. Senang dooong ya.... Ongkos melahirkan juga tidak terlalu mahal dibandingkan melahirkan di rumah sakit.
Setelah dua hari menginap di bidan, ibu dan bayi diijinkan pulang. 

Selang seminggu, perasaan Ibu pun mulai was-was. Kenapa ? Karena bayi belum kunjung buang air besar. Masa' sih masalah pencernaan. Kan baru minum ASI. Dan toh si bayi juga enggak rewel atau apa. Pas jadwal kontrol, disampaikanlah keluhan tentang bayi yang belum BAB ini. Kemudian bidan pun memeriksa.
Dan betapa terkejutnya hati Ibu dan temanku tadi, ketika bidan menyampaikan bahwa si bayi tidak punya anus (atresia ani). Ingin rasanya menuntut sang bidan, tapi karena merasa sudah ditolong selama persalinan, akhirnya keinginan itupun tidak dilaksanakan. Lagipula toh tidak ada satu kejadian pun yang terlewat dari kehendak-Nya, maka teman saya dan keluarganya pun menerima ini sebagai bagian dari takdir.

Selama beberapa bulan berikutnya, teman saya ini bolak balik mengantar kakaknya ke rumah sakit untuk mempersiapkan proses operasi. Jangan tanya berapa biaya yang keluar untuk ini. Jangankan untuk biaya operasinya, untuk ongkos transpor, biaya bolak-balik periksa, obat-obatan dsb aja sudah dirasa berat oleh keluarga si bayi. Teman saya yang waktu itu masih kuliah di UPI dan kebetulan mengajar les privat bahasa Inggris, hanya dapat membantu sebisanya. Tetapi satu hal yang sangat berkesan (berkesan banget malahan, karena kejadian ini sudah 10 tahun lalu) adalah kata-kata teman saya saat menghadapi ujian ini :

"Tidak mungkin Allah menzhalimi makhlukNya, Dia menciptakan, pasti Dia menjamin semua rejekinya. Jangankan keponakan saya, hewan melata saja disediakan oleh Allah kebutuhannya. Kalau rejeki keponakan saya sudah habis, pasti Allah akan memanggilnya"

Subhanallah... saya dibuat terkagum-kagum atas prinsipnya itu.Akhirnya si keponakan itu meninggal sebelum operasi dilaksanakan. Ibu si bayi dan segenap keluarga, termasuk teman saya itu, menerima ini sebagai ketentuan terbaik dari Allah. Keyakinannya soal maut, sama dengan keyakinannya soal rejeki tadi. Karena Allah, titik.


yang mau nyusul ikutan #1Hari1Ayat bisa klik link ini

Hari ke-1 : Demi Masa


Terjemah :
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
1. Demi masa
2. Sungguh, manusia berada dalam kerugian 
3. Kecuali orang - orang yang beriman, dan mengerjakan kebajikan,serta saling menasehati untuk  kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. 


Sebagai postingan awal, aku pilih ayat ini.
Waktu. Ia  memang sesuatu yang tidak nampak, tapi dia itu terasa. Bahkan ada yang mengatakan bahwa waktu adalah kehidupan itu sendiri. Selagi kita masih hidup, berarti kita masih memiliki waktu. Makanya sebagaimana kehidupan, kalau sudah terlewat ya enggak bakalan balik lagi. Sayangnya, manusia sering melalaikan soal waktu ini. Memang enak ya.. kita punya waktu senggang, santai, berleha-leha, menunda kebaikan, menunda pekerjaan yang masih bisa dibikin nanti-nanti, apalagi kalau pekerjaan itu yang kita sebel bin pegel mengerjakannya, pasti akan pilih melakukan hal lain yang menyenangkan... tapi ya itu, akhirnya kita sering menyesal sendiri kenapa tidak mengerjakan hal itu sebelumnya, akhirnya ada kesempatan yang terlewat...
Anehnya, meski sudah pernah menyesal, eh, kok ya kadang masih diulangi lagi.
Yaah.. itulah manusia. khusuhon manusia seperti aku ini, yang sering menyesal tapi masih juga mengulang. el u pe a, alias lupa. Alasan yang klise bukan ?

Makanya jleb-jleb banget, firman Allah di sini, berarti kalau manusia tidak melakukan aktivitas beriman, berbuat baik, dan saling mengingatkan maka rugilah dia.
Pantesan dulu para sahabat Rasul kalau ketemu satu sama lain dan mau berpisah, dibacalah surat ini.
Pantesan dulu jaman TPA (Taman Pendidikan Al Qur'an) kalau sore, tiba mau pulang, pasti baca surat ini.
Pantesan Imam Syafi'i berkata :
"Andai manusia benar-benar memperhatikan isi surat ini, niscaya ini sudah cukup untuk merubah keadaan mereka, pendirian mereka dan kelakuan mereka"
Subhanallah...



*Teman-teman yang mau ikut ngeramein #1Hari1Ayat ini, bisa klik ke blog Primadita