Kamis, 04 September 2014

Bandung - Cilimus - Cirebon - Bandung lagi

Akhir pekan kemarin, mendadak Abi mengijinkan aku pergi bersama rombongan ibu-ibu pengajian ke Cirebon. Kenapa Cirebon? Karena ini kota asal salah satu anggota pengajian. Dan karena beliau memiliki usaha ticketing dan tur juga, maka sekaligus kami menikmati layanan EO dari beliau secara gratis tis tis.

Aku berangkat sama Teteh dan Faiz saja. Karena Mbak, Fikri dan Ayuk hari Sabtu masih ada kegiatan di sekolah,dan mereka nggak mau bolos. Mbak mau ke PMI kota Bandung, pembekalan acara Jumbara di Pangandaran Oktober mendatang. Fikri ada dua eskul, yang dia cinta banget ya eskul IT.
Kalau Ayuk malah masih sekolah biasa dan siangnya ada tugas mewawancara salah satu tokoh, temanya tentang remaja Islam. Ya udin, yang bisa bolos cuma Teteh, Faiz libur. Abi ? Ya mana mungkinlaaah... mau gabung rombongan emak rempong.

Dari Bandung mobil yang aku tumpangi berangkat nyubuh menuju ke daerah Cilimus di Kuningan. Kami akan berenang dan berpetualang di Grage Sangkan. (Silakan gugling sendiri ya...) . Karena kami tidak menginap di hotel tsb, kami langsung masuk ke halaman kiri hotel, tempat kolam renang berada. Alhamdulillah, karena sampai  masih pagi, maka kolam tsb seakan milik kami sampai sekitar jam 10an.

kolam renang dengan HTM 20rebu sajaaa... Ya ampuun, pop mienya juga cuma 8rebu, lebih murah dari harga popmie di kapal fery Selat Sunda.

Selain kolam renang di sini juga ada beberapa wahana lain baik yang gratis maupun yang berbayar.  Yang gratis contohnya lapangan mini futsal, jogging track dan terapi digigit ikan gitu. Kalau yang bayar ada memancing, menunggang kuda, dsb.

ini niiih... tinggal pilih mau yang mana

Ini Faiz dan Teteh di taman

Ini anak-anak nyelupin kaki di kolam yang penuh ikan gitu. Asal kaki masuk aja, bahkan tangan juga, si ikan langsung ngerubutin.

lihat tuh ikannya kecil kecil

Karena hari menjelang siang, kami bersiap siap ke Cirebon. Tapi sebelum ke Cirebon, kami belok dulu ke Linggarjati, melihat eh tepatnya melewati komplek gedung tempat Perjanjian Linggarjati di adakan. Seorang teman sampai berceletuk, subhanallah, gimana ya.. para pejuang dulu bisa sampai di tempat tersebut, lha wong sekarang aja lokasinya masih jauh dari kota. Tapi udara di Linggarjati itu sejuuuuuk... lho... kayaknya emang pas buat perundingan ya.. adem, nggak panas. Sayang nggak sempat popotoan di Linggarjati

Di Cirebon, rencananya kami akan makan empal gentong. Empal gentong ini salah satu masakan khas Cirebon. Semacam gulai gitu. Isinya ada yang daging, jeroan atau campuran daging dan jeroan. Dan aku baru tau, ternyata ada juga empal asem, jadi empal gentong tanpa santan. Semacam sop gitu kali ya... soalnya aku nggak nyicip yang empal asem ini.

penampakan empal gentong dan empal asem
Empal Gentong H. Apud

Setelah kenyang, perjalanan berlanjut ke sentra batik Trusmi. Kami tidak belanja di sana, melainkan ke salah satu toko bernama Wening di jalan Trusmi Kulon Plered.  Suasananya rumahan. Kami masuk toko dengan melepas alas kaki, trus dilayani sambil lesehan. Pramuniaganya pun ramah ramah. Daan, setiap item yang kita beli, masih didiskon lagi dari harga yang tertera. Asyyikkk kaan (besok aku dapat kiriman batik nih).
Setelah puas milih milih batik (milih doang, soalnya jalannya tanggal 31 boooo... di puncak kalender), kami menuju pasar pagi. Di sana jajan oleh oleh Cirebon. Kue gapit aneka rasa, trus  kerupuk melarat yang aneka warna, kerupuk upil (serius namanya kerupuk upil), kerupuk kulit / dorokdok, kerupuk kulit ikan,   daaan sirup tjampolay tentu saja.

Hari menjelang malam maka dan kami harus segera kembali ke Bandung. Masih sempat mampir makan malam di warung tenda pinggir jalan. Sampai Bandung tengah malam, badan tepar tapi hati kami seakan dipenuhi bunga bunga yang sedang mekar :D

Lihat, wajah-wajah yang cerah itu. Anak-anak disumputin dulu



Senin, 01 September 2014

MyFA - My First Love to Al Quran

My First Al Qur'an


Seperti aku udah ceritakan di postingan sebelum ini tentang berbagai model Al Qur'an, kali ini aku akan mereview lebih detil tentan My First Al Quran atau biasa dikenal dengan nama Myfa. Myfa ini Al Quran yang khusus didesain untuk anak-anak. Ilustrasinya sungguh menarik, sangat hidup dan penuh warna. Secara keseluruhan MyFa mempunyai  beberapa kemudahan yang akan didapat, yaitu:
  1. Khat tajwid lebih besar
  2. Terjemah Kementerian Agama RI
  3. Adab Membaca Al-Qur’an dengan ilustrasi cerita yang menarik
  4. Materi Sirah Nabawiyah. Dikemas dengan penyampaian yang ringan dan sederhana dalam judul materi Jejak Rasul
  5. Peta sederhana. Penjelasan melalui gambar terhadap Jejak Rasul
  6. Materi Sekarang Aku Tahu, merupakan materi tematik ayat. Menggunakan bahasa yang ringkas.
  7. Doa-doa Harian.
  8. Tempat-tempat bersejarah umat Islam di dunia
  9. Tokoh-tokoh Islam di dunia
  10. Kamus 3 bahasa (Arab- Indonesia-Inggris)
  11. User Guide, memudahkan dalam memahami tata letak materi
  12. Ilustrasi menarik dan modern yang tidak membosankan



My First Al Qur'an terdiri dari empat buku, dua mushaf dan dua terjemah. Dengan pemisahan ini, kita lebih mudah, pas membutuhkan yang mana, ya itu aja yang dibawa-bawa. Misal sedang mengaji/tilawah juz 30, ya tinggal membawa mushaf Myfa jilid 2. Ringan kaan..
Oh iya, semua gambar, ataupun tulisan di dalam halaman MyFa dapat dibaca oleh e-pen.

Ini halaman mushafnya, dikelilingi dengan gambar-gambar menarik yang disukai anak. Khatnya pun berwarna untuk memudahkan anak belajar membaca sesuai tajwid
ini halaman terjemahnya, dibagian bawah ada terjemah Kementerian Agama RI, kemudian kamus tiga bahasa dan komik yang dapat dibaca dengan e-pen sekaligus cerita tentang jejak Rasul
Dengan MyFa, bisa belajar membaca Al Qur'an dengan didampingi siapa saja. Ibu, Bapak atau Nenek :D Kalaupun anak mau bermain sendiri bersama MyFa-nya, Ibu pun dapat mengawasi sambil memasak atau mengerjakan pekerjaan rumah lain. Karena e-pen MyFa begitu mudah untuk dioperasikan. Tinggal on-kan dengan cara menunjuk logo Myfa di sampul buku.
 
ini testimoni dari temenku. Anaknya seneng banget membaca MyFa, sampai 'keranjingan' katanya.
 
Selain itu e-pen ini dapat juga jadi sarana menghafal Al Qur'an. Dengan anak mendengarkan berulang-ulang bacaan satu surat dari e-pen, maka anak pun 'tiba-tiba' jadi bisa mengikuti bacaan tsb. E-pen juga dilengkapi dengan kabel data sekaligus sebagai alat untuk mengecas ulang sehingga lebih hemat karena tidak menggunakan baterai.
Ya intinya, MyFa ini bisa menjadi jembatan agar anak-anak jatuh cinta pada Al Quran, mau belajar membacanya, mempelajari kandungannya, menghafalkan ayat-ayat dan kelak dapat mempraktekkan dalam kehidupan mereka setelah dewasa kelak. Aamiiin.

Minggu, 31 Agustus 2014

Yuuk... Beli Buku Yuuuuk....

Aku suka buku. Suamiku suka buku. Anak-anak juga suka buku. Klop deh.
Kurasa kesukaanku membaca diwariskannoleh ibu bapakku. Dulu waktu aku kecil aku jarang dibelikan mainan, tapi Bapak dan Ibu secara rutin langganan majalah dan koran. Ibu juga sering membawakanku buku yang beliau pinjam dari perpustakaan. Sekarang aku dan suami juga ingin mewariskan kesukaan akan buku ini kepada anak-anak.
Mereka jarang kami belikan mainan. Tapi untuk hadiah setiap kali mereka ulang tahun, setiap mereka selesai satu putaran khataman Al Qur'an atau berprestasi di sekolah, kami mengajak mereka ke toko buku. Kami ingin mewariskan juga bagaimana cara memilih buku.

Dalam memilih buku, ada beberapa hal yang menjadi pertimbanganku, yaitu :
1. Konten/isi buku
Buku tuh kan sumber ilmu. Jadi mau nyari ilmu apa ya tinggal nyari buku yang sesuai dengan kebutuhan kita. Mana buku orang tua/dewasa, mana buku anak-anak, mana buku yang bisa dibaca semua umur. Ini aku pisahkan. Buku anak di rak oaling bawah. Buku semua usia di rak tengah, buku dewasa di rak atas dekat langit-langit. Kalau untuk buku agama lain lagi. Buku Al Quran dan Tafsir paling atas, menyusul buku hadits dan tafsir hadits baru buku rujukan lain.hehe malah jadi ngomongin rak.
2. Penerbit
Biasanya aku pilih penerbit yang sudah menjadi anggota IKAPI. Mungkin gak wajib, tapi gimana ya.. lebih sreg aja gitu. Ibaratnya sudah ada yang merekomendasikan nama tsb kalau idah jadi anggota IKAPI
3. Pengarang
Ini juga penting menurutku. Walaupun sebenernya dengan memilih penerbit udah hampir dipastikan kita udah milih pengarang juga sih. Hanya penulis tertentu yang bisa nerbitin buku di penerbit mayor.
4.  Fisik buku
Don't judge the book from it's cover. Tapi menurutku, yang pertama kali membuat kita melirik sebuah buku di pajangan adalah covernya. Sampul buku itu tempat pertama kita memandang buku. Baru nanti dibaca-baca, apa isinya, siapa penerbit dan pengarangnya dsb. Jadi sampul luar buku itu sangat penting menurutku. Kemudian lay out di dalam buku termasuk ilustrasi dan pemilihan huruf. Kadang aku males baca buku karena hurufnya enggak familiar dengan mataku.
Selain itu  bahan/kertas buku tersebut termasuk model jilidnya. Buku yang berbahan bagus akan awet. Pernah aku beli buku, baru dipinjem satu dua teman, eh, udah hancur jilidnya. Males deeh...

Nah teman-teman, itu caraku memilih buku, bagaimana denganmu ?