Rabu, 17 Mei 2023

SUNMORI - SUNDAY MORNING RIDING

Hobi sunmoriku dimulai ketika masa pandemi dan mulai merasa bosan karena tiap hari hanya di rumah dan di rumah saja, Maka ketika F2 mengenalkan aktivitas baru yakni sunmori, ummi dengan semangat 45 gegap gempita menyambutnya. Terutama sejak F5 mulai mondok Mei 2021 dan nggak ada lagi bocil di rumah, praktis setiap libur tiba kesepian datang melanda.

Sunmori pun menjadi kesenangan baru. Bisa jadi sarana cuci mata, sekaligus healing tipis-tipis. Ke mana biasanya sunmori ? Nggak ada ke mana-mana. Sungguh-sungguh cuman random aja. Kadang ke gunung.. menyusuri jalan-jalan di sekitar rumah. Kadang ke kota, merambah daerah-daerah yang nggak pernah dilewati. Tapi ada juga sih yang nggak pernah ketingalan saat sunmori yaitu mampir belanja atau sekedar jajan sarapan.

Kalau F2 sunmori kadang sendiri, kadang juga sama F5 kalau pas di rumah. Sedangkan Ummi, nggak pernah sendiri. Belum sepemberani itu... Pasti ngajak salah satu antara F3, atau F4 atau F5. Cuman kan sekarang F4 dan F5 jarang ada di rumah, jadi ya paling sering sama F3.

Seperti hari Ahad kemaren ... setelah beres kerjaan domestik, aku ajak F3 jalan. Dianya mau, kebetulan lagi nggak ada kegiatan juga. Pas kutanya mau kemana, katanya pengen ke kota aja. Karena udah jam 8 lebih dan matahari mulai beranjak naik, sampai digodain sama Abi, katanya udah nggak morning lagi.. kami berdua hanya tertawa sambil salim pamitan.

Dari rumah aku ambil jalur kiri, menuju jalan Sukarno Hatta. Sejujurnya agak ngeri macet juga, dulu kan sempat ada pasar kaget / pasar minggu di sekitar Metro dan di Samsat. Eh ternyata udah nggak ada dong.. jalanan lancar sampai dekat Metro Indah Mall. Di situ mulai tersendat. Aku pikir macet lampu merah, panjang amaaat. Ternyata lagi ada pawai dari salah satu partai menuju kantor KPUD Kota Bandung, konon tanggal 14 Mei kemarin adalah hari terakhir pendaftaran bakal calon legislatif  DPRD Kota Bandung.

Lepas dari lampu merah samsat, perjalanan cukup lancar menuju Buah Batu dan Batununggal. Kami lurus terus. Targetku sampai ujung Sukarno Hatta. Dan untuk pertama kalinya aku melewati jalan layang Kopo. Ternyata jalan layangnya lumayan panjang lho.. Perasaan lebih panjang dari jalan layang Supratman ataupun Gatot Subroto yang dibangun hampir bersamaan dengan ini. Sebentar aku searching dulu ya.. penasaran soalnya ..

- Jalan Layang Jl Jakarta-Supratman ; panjang 0.5 km dan lebar 9 meter.

- Jalan Layang Laswi  panjang 0,5 km dan lebar 9 meter.

- Jalan Layang Kopo : panjang 1.3 km dan lebar 18 meter

Fix, ternyata benar ya.. jalan layang Kopo lebih panjang dari jalan layang Jl Jakarta dan Jl Laswi.

Perjalanan dilanjut terus menuju daerah Rajawali. Daaaan... surprise dong aku.. baru ngeuh ternyata  setelah melewati bundaran di ujung jalan Sukarno Hatta, terus kita masuk Jl Elang Raya... di sini tuh kita jalan di sisi kanan, bukan di sisi kiri sebagaimana biasanya... Mungkin karena dari Jalan Rajawalinya satu arah ya.. yang dari Cimahi .. terus dari jalan Elang ini, harus belok ke kanan nantinya.. ya itu aja sih pembahasannya.. 



Dari jalan Elang, terus menyusur jalan Rajawali Timur, lalu lurus menuju Balai Kota. Di sinilah sempat agak ragu, ini kalau aku mau ke Baltos, mendingan belok di Jalan Riau atau terus aja lewat Wastu Kencana.. karena reflek nyetir ke kiri lebih kuat aku memilih menyusur jalan Wastu Kencana, belok ke Pajajaran, lalu ke Jl Cihampelas bawah dan masuk lagi Wastu Kencana. Setelah lewat Hotel California dan Pasar Bunga, belok kiri menuju Tamansari untuk ke Baltos.  Kayaknya lebih dekat ke Riau terus  Jl Juanda lalu jalan Sulanjana yak.. entahlah.. haha

Di Baltos kami berhenti sejenak. Memang ada yang dicari sih.. F3 lagi cari blazer dan aku butuh rok lipit hitam buat seragam Senin. Syukurlah di Baltos langsung ketemu yang dicari di lantai bawah doang. Karena waktu sudah mendekati jam makan siang, kami memilih pulang. Bukan apa-apa, yang di rumah belum dimasakin 


Minggu, 30 April 2023

Assalamu'alaikum, Dunia...



Hai hai sahabat blogger-ku ... lama sekali kita tidak bersua di sini ya.. ya Allah.. itu kalau ada balita udah sekolah kali yak, kalau punya anak SD udah lulus ujian... dan kalau kerja udah pindah golongan atau malah udah naik jabatan... wkwkwk
Dari postingan terakhir tahun 2016..

Jadi gini ceritanya... Agak sakit sih.. tapi karena aku yakin hari ini udah luka itu udah membaik, jadi aku mau cerita..Kenapa aku berhenti ngeblog... 
Mungkin buat sebagian orang ini alasan sepele.. Nggak papa. Kan kekuatan orang beda-beda ya..
Waktu itu.. suatu siang. Aku dapat kabar kalau rumah kemasukan orang jahat. Laptop Abi, laptop Umi yang sehari-hari dipakai anak-anak, diambil semua. Dan memang cuman dua itulah kali ya,.. barang layak jual yang bisa mereka bawa. Walaupun mereka mengobrak abrik semua lemari pakaian, mengeluarkan semua isinya, membalik melepas sprei, membalik kasur,  nggak ada yang mereka temukan. Sejujurnya di rumah memang nggak ada barang berharga sih, karena kan harta paling berharga tuh keluarga ya.. dan seisi rumah lagi keluar semua. wkwkwk gariing yak..
Tapi .. ya begitulah ceritanya.. aku yang biasanya nulis di malam hari, nggak bisa nulis lagi. 
Bukan kehilangan 'barang'nya yang menyakitkan, tapi kehilangan 'kenangan' yang disimpan di dua laptop itulah yang membuatku berhenti sekian lama.  
Karena foto-foto semua disimpan di laptop, bahkan hasil scan foto jaman muda, menikah, hingga F1 - F4 bayi juga disimpan disana. 
Yah .. tetapi waktu terus berjalan, dan aku percaya .. waktu adalah obat terbaik untuk menyembuhkan luka. Kenangan-kenangan baru juga sudah terukir... mungkin memang kita perlu 'lupa', agar otak sedikit mempunyai jeda. 
Di balik semua itu, pasti ada kehendak Allah yang mengatur semua kejadian ini... kita tinggal mencari hikmahnya.

Daaan.. kini sekian tahun kemudian.. mau update ah .. keadaan bocah-bocah, yang sebagian besar udah nggak bocah lagi. ..udah gadis dan bujang..
F1 : udah kerja sekarang ya.. di Cimahi
F2 : masih nyusun skripsi di Bandung
F3 : udah lulus D3 di Bogor lagi lanjut S1 di Bandung
F4 : masuk semester 2 di Yogya
F5 : Mondok di Jawa Timur

Umi dan Abi semakin tua haha
Di rumah kebanyakan tinggal berdua aja.. kadang F2 dan F3 nggak kemana-mana.. Kadang F1 liburan akhir pekan di rumah. Tapi kalau malam F2 sibuk dan F3 kuliah ya tinggal berdua, kalau orang Jawa bilang thengak thenguk hihi.. kalau anak sekarang bilang gabut.. 

Demikianlah waktu berjalan ya.. kalau di atas aku sebutin waktu akan menyembuhkan, mungkin waktu juga yang akan menuliskan kisah-kisah barunya buat kita.. entah menggembirakan, entah menyedihkan.. semua dari kita harus siap untuk menerima dan menjalaninya...
Pelan-pelan ajaa...








 

Selasa, 26 Januari 2016

Titian Muhibah #1 : Persiapan Perjalanan

Buat sebagian keluarga, liburan bersama sudah seperti menjadi agenda wajib. Sehingga sudah dipersiapkan baik waktu maupun pembiayaannya.
Tapi buat keluargaku, liburan itu seperti sebuah kemewahan yang harus diperjuangkan. Biasanya kami menjadikan mudik sebagai 'liburan'. Ya karena saat itulah anak-anak bisa berkunjung ke kota lain dan bertemu dengan keluarga besar.
Akan tetapi, sejak Eyang Kakung wafat sekitar dua tahun lalu, kami sekeluarga baru sekali mudik ke Lampung yaitu pas pernikahan Echi.

Nah kemarin ceritanya Abi mau ngajakin anak-anak berkunjung ke keluarga kakak dan adikku. Meskipun mampir mampir ke beberapa tempat wisata, tapi karena lebih banyak silaturrahimnnya, jadi Abi menyebut perjalanan ini semacam titian muhibah. :)
Selama ini kalau mau mengunjungi saudara saudaraku secara teknis agak susah, karena saudara-saudaraku ada 6 orang yang tinggalnya di 6 kota 5 provinsi. Nah kebetulan tahun lalu adikku yang sebelumnya ikut suami tugas ke Sumatera, pindah ke Purworejo di Jawa Tengah. Sehingga kalau kami ke Jawa Tengah, dapat menemui beberapa keluarga. Yaitu keluarga kakak pertama di Cilacap, keluarga adikku di Purworejo dan adik satu lagi di Temanggung. Udah gitu kami rencana akan diantar kakakku yang ketiga. Jadi minimal ini ketemu lah ya...lima orang. Yang dua lagi di Jaksel dan Bekasi insya Allah kapan-kapan lagi.

Maka Abi meminta aku merencanakan segala sesuatunya. Awalnya aku bikin rencana destinasi secara sederhana plus dengan akomodasinya. Karena ini perjalanan panjang, maka segala sesuatunya harus disiapkan.
Berikut rencana singkatnya :
Hari 1 ; Perjalanan ke Cilacap dengan KA Ekonomi, malamnya menginap di rumah kakak
Hari 2 : Berkunjung ke tempat wisata di sekitar rumah kakak, lanjut perjalanan ke Purworejo dengan rental mobil, malamnya menginap di rumah adik
Hari 3 : berkunjung ke Saudara-saudara Bapak dan Ibu lanjut ziarah ke makam Bapak dan Ibu malamnya menginap di penginapan di Magelang
Hari 4 : Berkunjung ke Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Prambanan, Taman Pintar, malamnya menginap di penginapan di Yogyakarta
Hari 5 : berkunjung ke keraton dan ke Budhe di Yogyakarta, malamnya perjalanan pulang ke Bandung.
Fyuuuuh, ngebayanginnya udah capek duluan. Tapi karena ini adalah perjalanan pertama ke arah Jawa Tengah buat kami sekeluarga, maka semua anggota keluarga pun antusias.

Kurang lebih seminggu sebelum perjalanan aku udah beli tiket KA Bandung-Cilacap (KA Ekonomi, karena cuma sebentar) dan juga tiket KA Yogya-Bandung (pakai kereta bisnis karena perjalanan bakal semaleman) . Aku juga udah mulai mengintip semacam trivago, traveloka, yogyes dsb untuk pemesanan kamar. Tapi karena aku dibuat bingung dengan perbedaan harga mereka dan fasilitas yang ditawarkan, akhirnya aku memilih pemesanan manual lewat telpon langsung ke pihak hotel. Alhamdulillah semua clear ya...

Setelah itu persiapan berlanjut pada perbekalan. Rencana semula, semua anak bertanggung jawab atas backpacker masing-masing, cuma punya Faiz dan Teteh yang akan digabung di tas Abi. Tapi mengingat bawaan cukup banyak (5 hari-5 kota, gak sempat nyuci laaah....) akhirnya Abi mengeluarkan travel bag simpanan untuk pakaian para cewek.

Ini tas perbekalan para cewek. Yang hijau buat Teteh sama Ayuk, yang batik buat Ummi dan Mbak

Kami berangkat Kamis pagi pukul 05.20 dari stasiun Kiara Condong. Terima kasih buat aplikasi Mybluebird yang sudah 'memastikan' bahwa taksi bakalan datang. Maklumlah, tinggal di Bandung coret ya begini ini, taksi jarang ada yang mau njemput ke arah sini. Tapi alhamdulillah, sejak aku pakai aplikasi My Bluebird, taksi biru ini selalu datang. 
Kemarin kami pesan yang MPV, ceritanya mau nyobain Honda Mobilio sekeluarga gituu.... tapi kemudian ditelpon sama CS Bluebird, katanya  armadanya nggak ada, jadi kami minta dikirim dua taksi sebagai gantinya.
Syukurlah kereta nggak penuh semua, jadi duduknya santai, bisa pindah kanan kiri memilih jendela yang menyuguhkan pemandangan lebih indah

Pemandangan matahari terbit di sekitar Garut
 Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 jam, pada pukul 11 siang kami tiba di stasiun tujuan, yaitu Stasiun Maos. Di Maos inilah aku menempuh pendidikanku semasa SMP. Duuuh.. udah lama banget. Ada kali 20 tahun aku nggak ke Maos ini. Rasanya nyesek dan terharu akhirnya aku bisa sampai sini lagi. Ada perasaan semacam dejavu gitu, karena SMP-ku ini dekat sekali dengan stasiun.
Tapi ternyata pas aku menyusuri sepanjang jalan kenangan (hihi), SMP-ku udah berubah. Yang tadinya menghadap jalan stasiun berubah jadi menghadap jalan baru. Nggak ada bekas sama sekali. Yaah... sayang sekali ya... Padahal pas aku kelas dua, setiap ada kereta lewat, pasti kelihatan dari jendela karena antara rel dan kelasku cuma berbatas jalan.


Aku dan Faiz di Stasiun Maos
Sayang sekali perjalanan dari Maos menuju kampungku di Desa Adiraja Kec. Adipala (kecamatan sebelah), ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Kupikir sekian puluh tahun akan memberikan kemajuan di angkutan massal. ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Angkutan pedesaan berupa bis kecil dari Maos ke Adipala sudah jarang, bahkan angkutan kota dari Adipala ke Adiraja sudah punah, alias nggak ada lagi. Kata kakakku, ini terjadi karena orang lebih suka naik motor. Apalagi sekarang kredit motor sudah dapat dilakukan dengan persyaratan yang cukup mudah.
Alhamdulillah kami bertujuh ketemu bis kecil yang kosong, aku meminta sopir mengantarkan kami langsung sampai desaku (jaraknya cuma sekitar 2 km laah, dari Adipala). Alhamdulillah pak sopirnya bersedia, dan harganya pun tidak terlalu mahal. Kamipun sampai di rumah kakak dengan selamat dan penuh kemudahan.