Senin, 26 Juni 2023

Review = Sekehendakmu ?

 (Catatan dari Ruang Berbagi KLIP)

Nara sumber : Evi Syahidah


Review dalam bahasa Indonesia dikenal dengan kata ulasan. 

Review buku adalah tangapan tafsiran, penilaian terhadap mutu/kualitas/isi dari sebuah buku dengan menekankan pada penilaian obyektif atas buku tsb.

Sebelum memulai review, mari kita tengok ke dalam diri kita, mengenai kegiatan kita bersama buku, seberapa rutin kita  membaca buku  ? Karena keterampilan review ini tidak dapat dilepaskan dengan kegiatan gemar membaca. Nah setelah menamatkan buku lalu apa ? Kegelisahan inilah yang mendorong mba Evi Syahidah / Visya menulis review. Selain untuk menjaga ingatan tentang buku yang dibaca juga berbagi dengan teman lainnya.

Beliau memilih Instagram sebagai media untuk menulis review. Mengapa di Instagram ? Ternyata ada beberapa alasan yang beliau ungkapkan, antara lain :

- pengguna Instagram didominasi oleh penduduk Asia Pasifik utamanya dari Indonesia - India
- 84 persen lebih koresponden memakai IG
- instagram adalah platform media sosial  kedua terbesar yang banyak digunakan masyarakat
- format konten IG lebih variatif, ada story, ada feed dan ada reels.


Manfaat membuat review bagi kita adalah 

1. melatih kemampuan menulis, karena ketika kita mereview buku kita membiasakan menuliskan lagi apa yang telah kita dapatkan.
2. memberikan feedback utk penulis yang bukunya kita review. Jadi ingat dulu jaman rajin mengikuti goodreads Indonesia, di sana buku yang kita review dapat dibaca oleh penulisnya.
3. sebagai arsip pribadi, agar ilmu yang telah kita dapatkan tidak melayang begitu saja. Dan bila buku hilang, kita juga telah memiliki catatan hasil baca buku tsb.
4. menjalankan manfaat dari isi buku
5. menstimulasi kerja otak
6, menjadi pejuang literasi baca tulis di indonesia
7. membantu calon pembaca mudah mengetahui sebuah buku tanpa harus membaca secara buku secara keseluruhan
8. berbagi konten posifif
9. menemukan ruang klolaborasi dengan multi pihak


Ada perbedaan struktur penulisan review antara buku  nonfiksi dengan buku fiksi. 

Bila buku non fiksi maka kita harus menuliskan identitas buku,  sekelumit sinopsis, sekitar daftar isi, alur penyampaian, pesan moral yang kita dapatkan dari buku tersebut, sekaligus plus minusnya, serta tentu saja  kesimpulan atau penutup dari kita sebagai bentuk call to action.

Bila buku fiksi  selain identitas dan sinopsis, maka alur cerita dan sudut pandang penulis kita review, juga pesan moral tentu saja. Yang tidak diulik hanya hal daftar isi buku fiksi.

Tahapan membuat review :

  • reading baca sinopsis dan blurb buku, baca buku sampai tamat
  • brainstorming, baca ulang, diskusi
  • executing format konten, draf reiew sesuai strktur
  • membuat visual ulasan buku
  • sharing jadi proof reader, membuat takarir/caption
  • unggah dan bagikan

Tips menulis review :

  • awali dengan motivasi
  • membuat anotasi saat baca buku tsb
  • netral, artinya tidak mendewakan tidak merendahkan penulis
  • memuat point penting 
  • tidak membocorkan  isi buku secara keseluruhan

 

Satu hal yang perlu dicatat adalah, ketika kita akan menulis review, maka kita perlu menuntaskan membaca buku tsb.


Minggu, 25 Juni 2023

Fashion = Passion ?

Apa itu  fashion ?

Apa yang pertama kali terbayang ketika membaca kata 'fashion' ? Pakaian, baju. Iya sama banget. Aku juga selalu mikirnya kalau fashion itu soal pakaian.  Aku sempat mencari di KBBI tapi tidak menemukan kata tsb. Jadi cari ke Wikipedia. Apa katanya ?

Fashion is a form of self-expression with a specific context, such as time, place and purpose. Example of these are clothing, footwear, lifestyle, accessories, makeup, hairstyle, and body posture.

Ternyata oh ternyata, fashion adalah bentuk self expression dalam konteks yang spesifik,seperti waktu, tempat, ataupun maksud tertentu. Fashion meliputi pakaian, alas kaki, gaya hidup, aksesoris, make up, gaya rambut dan postur tubuh.  Jadi ternyata fashion itu sangat luas cakupannya ya.. dan pakaian dan sepatu hanya sebagian kecilnya saja.


Aku suka  fashion 

Dulu ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, sempat menyukai gambar menggambar model pakaian. Pakai blocnote bikinan sendiri dari kertas bekas yang dibawakan Bapak dari kantor. Aku seneng banget ketika gambarku ada yang diapresiasi oleh ibu dengan membuatnya menjadi nyata dalam bentuk karya. Ibu membuatkan tiga  dress untuk aku dan dua adik perempuanku, motif kainnya  sama tetapi modelnya beda beda sesuai gambar yang aku buat. Jangan bayangkan hasil karya tingkat tinggi, karena model yang kubuat hanya beda-beda tipis, di model kerah, model lengan dan lipitan-lipitan.  Tapi aku sudah seneng banget.  Masih ingat banget, kain dasar putih dengan motif  raket kecil-kecil berwarna-warni. 

Terus ketika aku agak besar sedikit, diajarin menjahit sama ibu. Aku mulai merombak-rombak baju, tempel sana sini, potong sana sini. Dan syukuuurrr... banget,.. nggak pernah aku dimarahin misal bajunya jadi nggak pantes dipakai. Eh tapi belum pernah sih, karena rombakannya hanya sederhana. Semacam memotong lengan panjang jadi lengan pendek, mengganti manset menjadi bentuk tali, menambahkan saku/kain polos di baju motif, dsb. Menjahit rok, menjahit blus sederhana, menjahit tas, mukena, dll. Mewarnai sepatu juga pernah. Dan hobby ngulik ini sesekali masih aku kerjakan. Rekam jejaknya ada di blog kreasi titi. 

Sekarang aku punya 3 anak gadis juga seperti ibuku. Ketiga anak gadis ini mempunyai gaya berpakaian yang berbeda-beda. Kalau dulu ketika kanak-kanak, baju Mbak dengan mudah dilungsurkan ke dua adiknya tanpa protes, kini dua gadis muda memilah lagi baju lungsuran kakak pertama. Kalau sesuai gaya mereka, ya diambil. Kalau nggak sesuai kadang dipakai umminya kadang disumbangkan. Kok dipakai Ummi ? iya..soalnya sudah hampir sama ukuran bajunya. Umminya ogah rugi. Bukan hanya tukang ngabisin makanan ya.. jadi tukang nampung lungsuran juga rupaya. Sekarang di rumah bisa tuh saling pinjam sepatu, tas, baju, kerudung,  tanpa mengubah style masing-masing. 

Jujurly, dari empat perempuan di rumah, sepertinya hanya aku yang semua gaya dicoba dan semua warna dipakai. Prinsipku dalam berpakaian sederhana saja : nyaman dan aman. 

Nyaman misalnya dari segi modelnya simpel, kainnya adem, warna bisa dikompromikan kalau dikasih, tapi kalau beli biasanya nggak jauh jauh dari warna gelap hehe

Aman dalam artian tidak melanggar ketentuan tentang aurat. tidak menyerupai laki-laki, tidak nerawang, tidak  sempit, dsb. 


Fashion = Passion

Apakah fashion menunjukkan passion (ketertarikan) ? Kata siapa ? Ini opiniku aja sih. Soalnya kata-katanya berima, dan sangat mirip bila dilafalkan dengan logat Sunda. 

Menurut pendapatku, bisa jadi fashion ini menggambarkan passion seseorang. Tentu bukan hal yang asing bagi para pecinta drakor, ketika mereka kemudian memakai fashion ala ala Korean Style. Dan di pasaran pun semakin banyak tersedia, artinya memang banyak permintaan kaan..

Atau misalnya kasus di rumahku, salah satu anak gadisku yang saat ini kuliah di kehutanan, gaya fashionnya perlahan-lahan bergeser ke pakaian yang lebih kasual, simpel, dan nggak banyak model semacam renda, lipit, dsb. Beda dengan anak pertama dan ketiga yang udah jadi pegawai kantoran. 


Fashion seperti apa yang paling cocok ?

Intinya menurutku sih, pilih gaya fashion yang membuat kita nyaman sekaligus  percaya diri ketika mengenakan itu. Karena ketika kita percaya diri dengan apa yang kita pakai, maka aura positifnya juga akan memancar ke sekitar (tsaah....) Dan tentunya sesuaikan juga apa yang kita pakai setiap kita akan kemana, bersama siapa, acara apa dan bertemu siapa. Contoh :

- seorang ibu lebih memilih tas punggung yang berfungsi seperti tas doraemon dan memakai baju yang simpel agar bisa bebas lari ketika dia pergi ke ruang publik membawa dua balita (siapa yang samaan ?).  

- memilih dress anggun ketika pergi kondangan 

- mengenakan pakaian formal ketika bertemu klien, dsb. 

Semua itu dimaksudkan agar tidak keluar dari norma-norma umum yang berlaku lingkungan kita, yang imbasnya bisa jadi akan memengaruhi interaksi kita dengan orang-orang di sekitar kita. 

Sabtu, 24 Juni 2023

1001 ALASAN NGEBLOG



Jumat 23 Juni 2003 kemarin sebenarnya ada even Sidina yang aku udah capcipcup pengen ikut. Acaranya kebetulan online dan dilaksanakan pada malam hari. Apa itu ? Sharing dari Mak Tanti Amelia, salah satu blogger senior yang kini juga bergabung di Sidina Community dengan tema 1001 alasan Ibu Harus Ngeblog dan Praktik. Qodarullah .. belum rezeki aku untuk ikut acara tsb,  pulang kantor, langsung ke gym, habis maghrib tau tau ketiduran dan terbangun sudah pukul 22 malam. Sehingga hari ini aku mengejar ketinggalan melalui youtube Sidina.

Senang sekali rasanya mendapatkan sharing dari Mak Tanti, mengingat aku juga salah satu blogger yang sempat hiatus. Sempat membiarkan blog begitu lama, tanpa postingan apa-apa. Ikut acara inis eperti mendapatkan suntikan semangat agar kembali menulis. 
Ada beberapa kendala dalam menulis, apalagi itu menulis di blog pribadi kita ya, yang nggak ada tenggat waktu, nggak ada target.. 
Beberapa kendala tsb antara lain :
1. Writer's Block
2. Sulit mencari ide
3. Bingung cara memulai

Tidak dipungkiri aku sendiri pernah mengalami yang namanya hilang mood ini, atau lebih banyak disebut sebagai writer's block. Yakni suatu kondisi dimana seorang penulis tidak dapat menuliskan apapun. Soalnya kok tema blog gratisan yang isinya curhat seperti blogku ini sekarang jarang dijumpai ya.. hehe.. kebanyakan blog yang sudah beralih ke TLD (top level domain) yang berbayar/langganan.
Tapi ya sudahlah, kita manfaatin dulu aja yang kupunya. Untuk menuliskan hal-hal istimewa, maupun ilmu-ilmu istimewa seperti yang kudapatkan hari ini.
 
Mak Tanti memberikan beberapa tips untuk mengatasi hal ini, antara lain :
1. Segarkan pikiran, misal dengan minum segelas kopi, teh atau minuman lain kesukaanmu.
2. Mencari waktu yang tepat untuk menulis, yaitu waktu yang tidak ada / minim distraksi
3. Buat outline atau mind map dulu, tentang apa yang akan kita tulis. Di sini Mak Tanti memberikan contekan dengan cara mencari 5W+1H dari tema tsb.
4. Perbanyak referensi / sumber.  (ini aku pernah dapat resep juga dari kelas menulis yang lain, resepnya baca-baca-baca-tulis)  Nah bisa jadi "baca"nya nggak hanya 3 sumber, bisa banyak sumber, untuk menghasilkan satu tulisan.

Oh iya, kalau ingin menulis lebih rajin, berjejaring, tambah teman dan tambah ilmu, mak Tanti menyarankan untuk ikut komunitas blogger. Contoh Komunitas Emak Blogger (KEB). Yeay aku udah member, kalau belum dihapus. Biasanya komunitas - komunitas ini menetapkan persyaratan minimal jumlah tulisan,  yang menunjukkan keaktifan blog tsb. 

Banyak ilmu baru di kelas ini ternyata, karena ada hal-hal teknis yang disampaikan mengenai seluk beluk blog. Aku coba cari DA / PA blog ini.. hasilnya adalah....


alhamdullillaah ... Terima kasih Sidina, terima kasih Mak Tanti, semoga setelah ini aku lebih bersemangat lagi dalam menulis