Minggu, 27 Oktober 2024

Bakmi Bersahadja 77



Akhir pekan lalu  aku ada kesempatan berkunjung ke Yogya. Orang bilang selalu ada yang baru di Yogya. Mirip-mirip Bandung lah.. jadi memang nggak akan pernah bosen pergi ke Yogya.

Berbekal postingan viral di instagram, dan sudah bingung mau coba apa, dengan sepenuh niat aku putuskan mencoba salah satu wisata kuliner yang direkomendasikan, Bakmi Bersahadja 77. Kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh dari penginapanku.

Dengan memesan aplikasi angkutan daring, akupun menuju ke sana. Perjalanan yang berawal dari belakang kampus UGM ke lokasi  ternyata lumayan berliku. Jalannya kecil dan belak belok. 

Sampai di tempat, aku agak kaget juga. Ternyata Bakmi Bersahadja tempatnya benar-benar bersahaja dan berada di tengah pemukiman. Dekorasi didominasi warna putih dan merah, terlihat sekali identitas bahwa ini adalah restoran Chinesse Food. 

Alamat 

Bakmie Bersahadja 77
Jl. Petung No.9a, Papringan, Caturtunggal, Depok, Yogyakarta
Apa saja yang ada di sana?

Menu 

Menu Utamanya adalah bakmi. Adapun variannya ada bermacam-macam:
  • Bakmie polos
  • Bakmie jamur
  • Bakmie ayam cincang
  • Bakmie ayam rebus
  • Bakmie szechuan 
  • Bakmie szechuan pedas manis
  • Bakmie kuah creamy
Dari berbagai varian di atas, harganya juga bervariasi. Yang paling ekonomis tentu saja bakmie polos di angka Rp. 11.000,- sedangkan paling sultan adalah bakmie creamy seharga Rp 25.000.

Oh iya di sini kita diberikan pilihan, mau mie keriting atau mie karet. Mie karet itu mie yang pipih maksudnya. Kalau mie keriting pasti kalian sudah familiar.  Pilihanku jatuh pada  bakmie jamur, yaitu bakmie dengan taburan jamur tiram yang penampakannya sangat menggoda. Konon bumbunya adalah saus tiram dan bawang putih. 

Benar saja, rasanya sangat nagih. Andai perutnya cukup pasti nambah barang setengah porsi.
Kalian sudah mengenal bumbu charsiu? Charsiu adalah resep marinasi/rebus ayam dengan salah satu bumbunya  adalah beras angkak. Semacam diungkep gitu. Jadi setelah ayam dimasak nanti warnanya jadi merah. Nah ayam charsiu ini kita bisa pilih antara digoreng atau dibakar/panggang.

Beda lagi dengan ayam szechuan, meski sama sama merah,  merahnya szechuan berasal dari cabe. Di sini juga banyak rempah yang dipergunakan sebagai bumbu,  seperti .. Cabe kering, cabe giling, jahe, lada hitam, dll

Selain menu utama bakmie, ada juga menu sampingannya yaitu : 
  • Cah pokcoy
  • Bakso goreng
  • Pangsit goreng
  • Swekiau chili oil
  • Swekiau kuah
Di sini aku memilih swiewkiau chilli oil. Rasanya mantap gak bikin nyesel. Sayangnya aku cuman berdua, jadi nggak bisa mencoba aneka hidangan. Perut keburu penuh..Padahal mumpung harganya juga sangat bersahaja.  Hidangan termahal  harganya Rp. 20.000. Sedangkan yang paling murah adalah cah pakcoy seharga Rp. 12.000

Untuk menu minumannya simpel-simpel. Sangat simpel bahkan. Cuman ada teh tawar, teh manis, lemon tea,  dan jeruk manis. Air mineral mah nggak usah dihitung ya. kan menyediakannya juga hampir tanpa effort. Semua dapat dihidangkan dingin/panas. Harga minuman kisaran Rp. 3.500- Rp 8.000 saja.

Suasana

Aku datang dan makan di tempat pada sore hari. Suasana sudah agak adem. Kebetulan resto juga tidak terlalu ramai. 
Catatanku tentang suasana :
Meja kecil-kecil. Hanya muat untuk berduaan. Buat pasangan mungkin asyik, buat rombongan jadi berdesakan
Pemilihan lagu ketika aku di sana kayak kurang pas. Biasanya lagu cafe itu slow dan bikin betah. Di sini agak-agak jedag jedug. jadi bikin agak  gimana ..gitu 
Overall oke lah. 8/10. Cuman kalau ditanya bakal balik lagi nggak, kayaknya enggak deh. Soalnya terlalu sayang untuk melewatkan tempat-tempat baru di Yogya. Kalau makan bakmie doang di Bandung juga bisa. Make sense kaan?

Senin, 30 September 2024

Kopdar Kelas B BZW#14 dan Sharing Zerowaste Journey

Here I Am


Iya ini kami, Alhamdulillah jadi juga ketemuan hari ini. Jam 9 pagi di Taman Ganesha ITB. Dari semalam udah pada konfirmasi. Ada beberapa yang berhalangan, yaitu Teh Yuli ternyata ayahnya operasi dan harus mudik. Terus teh Uva anak-anak sedang kurang sehat jadi nggak bisa bepergian jauh. Oke dari 12 izin 2 jadi tinggal sepuluh. Terus paginya teh Hesti Johan juga izin, belum memungkinkan untuk pergi. Tapi alhamdulillah ada masuk teh Najla.  Jadi masih bersepuluh.

Perkenalan

Jam 9 teng udah di lokasi. Masih cari-carian. Tapi alhamdulilah datangnya hampir berbarengan. Aku datang udah ada teh Alvi, teh Elsa, teh Rizka, teh Linda dan teh Meta. Cari cari lokasi akhirnya mepet ke bundaran dekat tulisan Taman Ganesha. Soalnya di situ jalannya buntu jadi jarang orang lalu lalang. 

Setelah duduk dan berkumpul, hingga pukul 9.10 baru berenam itu. Kita pun berdiskusi, kasih toleransi hingga pukul 9.15 kita mulai acaranya. Acara jadi dipandu oleh teh Linda yang masya allah kocak, bisa menghidupkan suasana. Setelah dibuka lalu perkenalan singkat. 
  • Mak Linda panggilan Mak Ling, tinggal di Cijerah Cimahi (Pharmindo)
  • teh Mehta tinggal di Cisangkan Cimahi
  • teh Alvi tinggal di Sumbersari
  • teh Elsa tinggal di Tani Mulya, Ngamprah
  • teh Rizka tinggal di Cimahi
  • Aku, di Ujungberung.
Biar inget Mak Ling mengajak semua main game sebut nama orang lain dan asalnya. Karena masih dikit ya hapal aja. Kemudian sharingpun di mulai. Kami hompimpah buat menentukan urutan.
Setelah itu menyusul teh Aghni dan teh Putri datang. 

Sharing Session

1. Rizka

Masih muda belia, baru lulus dari DKV UPI tahun 2023 lalu. Mengenal zerowaste sejak melakukan penelitian tentang ZW untuk pengerjaan skripsinya. Mulai dari membaca buku-buku yang membahas tentang ZW hingga buku anak-anak. Karena teh Rizka ini membuat karya untuk adik adik tuli berupa buku ZW. lihat deh foto di bawah ini. Satu kata untuk BZW : Chalenging

2. Elsa

Teh Elsa sudah cukup lama mengenal ZW. Bahkan udah lama juga bikin ecobrick. Tapi karena nggak tahu buat apa, sesuai lingkungan masyarakat sekitar, akhirnya sampahnya dibakar lagi, dibakar lagi. Syukurlah sekarang sudah pindah ke Tani Mulya, di rumah sendiri. Jadi lebih mudah menerapkan ZW. Satu kata untuk BZW : Seru

3. Mehta

Teh Mehta ini dari Cimahi ke Taman Ganesha dengan naik sepeda. Wow keren banget. Mengenal ZW karena awalnya dari frugal living. Jarang jajan lebih sering memasak. Merasa bersalah jajan minuman minimarket. Karena minuman itu merupakan mood booster buat dia. Satu kata untuk BZW : Membumi

4. Teh Linda

Teh Linda udah malang melintang di dunia BZW. Beliau trainer juga di YPBB. Punya produk deodorant. Tapi nggak dibawa. Selain itu itu juga aktif di bank sampah. Satu kata untuk BZW : Enjoy

5. Teh Alvi

Mengenal ZW sudah cukup lama juga. Cuman ya on off gitu. Penasaran ikut kelas BZW sampai DM mimin di instagram. Wow semangat banget. Tergerak bener bener adalah ketika TPA Sarimukti terbakar, benar benar aroma sampah itu menguar di sekitar tempat tinggalnya. Dari situ baru ikut aksi ZW . Satu kata untuk BZW:Santai

5. Teh Aghni

Seorang anak mudah yang aktif. Datang dengan kaki ditopang alat-alat medis pasca operasi karena ototnya ada yang putus saat hiking. Seorang perawat di RS AL Ihsan ini juga pecinta alam. Keren banget sih ya. .anak mudah udah punya prinsip zerowaste. Jadi kalau mau naik gunung dihitung dulu bawaan biar gak ada foodloss atau foodwaste. Terus turunnya sambil clean up sepanjang jalan. wow keren. Satu kata untuk BZW : Mudah

6. Teh Putri

Seorang Ibu dari dua putra putri ini dulunya pernah mengajar di Sekolah Alam Bandung. Mengenal ZW ya dari sekolah alam yang sudah menerapkan gaya hidup minim sampah buat guru serta anak-anaknya. Kemudian setelah menikah dan punya anak-anak sendiri baru mulai menerapkan di rumah juga sekaligus sebagai bahan pembelajaran anak-anak. Satu kata  untuk bzw : Seru

Setelah semua yang hadir sharing perjalanan zerowaste nya.. acara ditutup dengan makan bersama, alias botram. Sesuai tema kita, event minim sampah, maka di sini terlihat ya semua makanan yang di bawa adalah makanan beneran, bukan makanan pabrikan/produk. 
Setelah acara sedianya akan ada trash audit. tetapi karena waktu sudah siang dan beberapa akan lanjut acara lain jadi trash auditnya di rumah.
Teh Alvi - ada kulit ubi (8gr) dan kemasan (3gr)
Teh Elsa - 2 kemasan susu (11gr)
Yang lain belum ada setoran trash auditnya.

Tapi dari dua itu aja.. bener bener minim sampah kan ya.. udah gitu sampahnya juga dibawa pulang masing-masing untuk proses selanjutnya sesuai diajarkan di kelas BZW. 




 

Minggu, 29 September 2024

Persiapan Acara Sharing Zero Waste Journey

Sharing Zerowaste Journey

Perjalanan mengikuti kelas Belajar Zerowaste mengantarkan aku pada lingkaran pertemanan baru. Apa pasal? Bila tugas-tugas sebelumnya lebih ke tugas inidividu, di tugas ke-11 ini kami diminta merancang sebuah acara yang minim sampah. Tentunya ini tidak dapat dilakukan sendirian.

Akupun mulai berpikir dan menimbang-nimbang, ke mana gerangan aku akan melabuhkan harapan, eh salah maksudnya akan membuat acara ini. Awalnya kepikiran mau sosialisasi tentang gaya hidup minim sampah kepada komunitas ibu-ibu pengajian. Bisalah kali diatur di salah satu sesi ada aku yang bicara.

Belum sempat aku bikin woro-woro di grup kajian, eh ada ajakan dari teh Elsa untuk bergabung membuat event di Bandung. Tentu aku menyambut gembira penawaran tersebut. Ya hitung-hitung sebagai pemanasan, bagaimana nanti mengelola pertemuan dengan orang-orang baru di dunia zerowaste, maka sekarang belajar dulu dengan orang-orang zerowaste. sekaligus praktek ilmu ya..

Ketika aku dimasukkan ke dalam grup whats app, di sana telah ada 10 orang anggota. Yaitu : teh Alvi, teh Elsa sebagai inovator acara, teh Hesti, teh Rizka, teh Linda aka Makling, teh Putri, teh Aghnia, teh Najla, teh Mehta, teh Yuli dan Teh Ulva. Mereka rumahnya jauh jauh lho, beberapa dari Cimahi, ada yang dari Bojongsoang juga, bahkan teh Ulva dari Subang.

Dari obrolan di grup, sudah disepakati bahwa acara akan diselenggarakan pada tanggal 29 September 2024 hari Ahad di taman Ganesha Bandung. Target peserta adalah anggota kelas B yang tinggal di Bandung Raya. Rancangan acara nanti adalah kopdar, tukar barang, dan botram. Aku manut untuk pemilihan waktunya. Karena ngejar jam tayang tugas juga, nanti tanggal 6 Oktober.

Secara garis besar aku setuju dengan konsep acaranya, aku juga mengusulkan agar ada sesi berkenalan terlebih dahulu, karena kita semua belum ada yang saling kenal maupun saling bertemu sebelumnya. Jadi memang murni baru berinteraksi dalam kelas saja alias secara online melalui percakapan WhatsApp. Itupun jarang yang tek tokan saling menjawab. Lebih sering tanya jawab dengan teteh-teteh Fasil.

Kemudian aku juga menanyakan tentang konsep botram nya bagaimana. Apakah setiap orang membawa bekal masing-masing atau setiap orang membawa menu yang berbeda untuk semua peserta. Jawaban dari teh Elsa adalah kita bawa bekal masing-masing kemudian dipersilakan bila akan ada yang membawa hidangan untuk semuanya. Oke fiks ya..

Mengingat akan ada anak-anak, maka ada yang mengusulkan untuk membuat sesi games untuk anak. Namun setelah di data, dari 12 peserta BZW yang akan hadir, anak-anak baru berjumlah 5 anak usia 3 tahun ke atas, dan 3 anak usia tiga tahun ke bawah. Untuk games anak belum disepakati. Belum disepakati juga nanti yang pegang anak siapa selagi sharing berlangsung.

Lalu sesi berkenalannya bagaimana secara detail? Kalau usulan dari teh Linda awalnya kenalan dulu singkat, nama asal dan aktivitas. Baru setelah kenalan, nanti ada sharing perjalanan kita dengan BZW/ gaya hidup minim sampah. Mungkin sejak kapan, dengan siapa, bagaimana… nanti kalau di lokasi dapat ditanyakan langsung baik oleh peserta lain maupun oleh moderator.

Untuk dokumentasi acara tadi telah disepakati bahwa semua dokumen dalam bentuk digital. nanti yang akan menyimpan hasil foto-foto dari semua peserta adalah teh Aghnia. Beliau yang akan membuat drive untuk mengunggah. Semua peserta sepakat soal ini.. Karena meskipun sumber datanya sama tetap nantinya ada beda penyajian satu persatu.

Diskusi pun menjadi alot ketika telah membahas tentang sesi clean up atau bebersih taman. Sebagian peserta menanyakan tentang waktunya apakah masih tersedia karena target waktu pertemuan hanya dua jam. Kemudian pertimbangan lain adalah bagaimana nasib sampah yang telah kita kumpulkan. Apakah akan dibawa oleh salah seorang peserta kopdar atau bagaimana. Hingga jelang rapat onlilne berakhir diskusi ini belum ada solusi. Akhirnya mengingat waktu yang cukup pendek, peserta rapat sepakat bahwa acara clean up untuk sekarang belum dulu. Pertemuan ini fokus pada kondisi kita, masih banyak yang belum saling kenal.

Ada satu lagi sebenarnya acara ruang berbagi. Yaitu barter atau bertukar barang hasil declutering. Sebenarnya semua sepakat ada sesi ini. Tapi hingga H-1 nggak ada yang mengunggah barang dan nggak ada juga yang mau / butuh barang. Aku bilang ada dua kaos baru warna merah dan kuning, gak ada yang bersedia adopsi juga jadi ya .. ruang berbaginya berlalu begitu saja.

Penasaran banget kan ya.. sama jalannya acara nanti gimana..