Selasa, 30 November 2010

Adventures of Tom Sawyer



Karya Mark Twain
Tom Sawyer, si rambut kriwil yang 'jahil' dan tengil, aduh..
aduh duh duuuh... mengingatkanku tentang masa kecil dan pengen banget rasanya kembali ke masa itu. ketika masih bisa main "jamuran" dilanjutkan petak umpet di bawah purnama. Keluar masuk kebon di keremangan malam.

Jiwa petualangan si Tom ini tidak terbatasi oleh ruang dan waktu (maksudnya gak kenal waktu),di rumah, di sekolah, di gereja, saat main, saat makan, saat bekerja, semuaaanyaaa... disertai jiwa petualangan.
Nggak heran kalau dia kepikiran 'ngerjain' anak laki-laki sekampung untuk menggantikan dia mengecat pagar dengan cara 'menjual mahal' kesempatan mengecat itu. Padahal si Tom ini, disuruh mengecat pagar sebagai hukuman.
Nggak heran juga kalau dia nembak teman teman cewek di sekolahnya sampai segitunya. (aku kok lupa ya, si TOm ini berapa tahun umurnya).
Sangat nggak heran ketika dia 'pura pura hilang' dengan pergi ke pulau dan kembali lagi setelah tiga hari kemudian saat 'upacara pemakamannya sendiri' dilangsungkan di gereja.
Banyak deh, seru, ASLI !!!

Berhubung ini aku cu-mi (fikri minjam temennya, aku ikutan baca), jadi berharap. Fikri pun akan dapat mengambil sisi sisi 'kejantanan' si Tom ini.

Sisa Penyapihan

Meski sudah tidak minum ASI sama sekali, sesekali Faiz masih suka nempel nempel dan membahas tentang minum ASi. Apalagi kalau aku lagi leyeh leyeh di pinggir dipan sepulang kantor, pasti dia langsung menyerbu. Itu posisi favoritnya dulu. Minum ASI sementara dia berdiri di lantai.

Lucu juga mendengar celetuk celetuknya yang campur aduk bahasanya. Kadang begini :
"mi.. mau mimi " pake bahasa Indonesia sehari hari.
Kadang juga :
"Mi.. .ayang N*n*n....." katanya. (ayang = hayang=mau,ingin : bhs Sunda)
Aku ketawa.
Sering dia cuma memonyongkan bibir saja, trus udah aja pergi.
Kadang juga sedikit merengek seperti mau ASI beneran.
Kalau sudah begitu, aku biasanya mengajak ngobrol boneka sponge bob kesayangannya.

"Bob, Bobob mau N*n ?"
"Ndak... " Faiz yang menjawab.
"Kenapa Bobob nggak n*n*n ? tanyaku lagi
"uwa aun" Faiz menjawab. (uwa aun = dua tahun)
"Faiz  mau n*n ?"
"Ndak,... uwa aun..." Faiz menjawab juga.




Hihi lucu ya... mungkin dia ingat waktu aku bilang bahwa Faiz udah besar, sudah dua tahun, nggak boleh minum ASI lagi.

Minggu, 21 November 2010

Pantesan, Suruh Nikahin Satu Aja

Abi dan F3

Suatu Sabtu,  hari yang sibuk. Asisten Rumah Tangga jadwal libur.
Pagi pagi, setelah kelar memasak, kami harus kesana kemari mengambil raport bayangan.
Pertama tama ke SMP anakku yang paling besar, si F1.
Kemudian ke SD anak ke F2 sampai ke F4.
Rada repot juga, karena kami mengajak serta F4 dan F5.
F1 tetap ke sekolah, F2 dan F3 berdua di rumah.
F3 nggak jadi main ke rumah temannya karena nanti F2 tidak ada teman di rumah.
Sedang membawa mereka semua tidak memungkinkan karena kendaraan kami baru beroda dua. 

Selama di sekolah, Abi memilih aku saja yang mengantri, dan doi menjaga F4 dan F5 bermain di luar.
Walhasil sampai siang kami baru pulang ke rumah.
Yang membuat tambah capek adalah hasil raport anak anak kurang memuaskan.
Memang kami tidak pernah menargetkan mereka untuk menjadi juara kelas.
Tapi, yang mengecewakan kami adalah, hasil raport kali ini benar benar anjlok dibandingkan prestasi mereka sebelumnya.
Kecuali raport si F4 yang full nilai sempurna.  Hanya ada dua nilai 9 itupun nilai tertinggi yang diberikan untuk pelajaran tsb (kesenian dan menghafal) .



Sorenya, sehabis maghrib, seperti biasa aku lagi sibuk menghangatkan sayur untuk makan malam, dan menambah lauk pauk yang habis, untuk makan malam.

Tiba tiba Abi datang ke dapur, langsung nongkrong di bawah. *posisi ngajak cerita*
"De, tadi pagi tuh Abi bingung ..." katanya
"Kenapa ?" aku menoleh sebentar dan kembali mengoseng oseng.
"Kasian Ayuk (F3) mau main nggak jadi" kata Abi.
"Iya juga sih, tapi klo dia main kan kasian Fikri (F2) jadi di rumah sendiri. Sementara kalau Bibi masuk hari ini, besok kita nggak bisa pergi" kataku.
"Ayuk pasti kecewa ya, padahal bukan maksudku untuk melarang dia main" sambung Abi.
"Besok minggu dia bisa main kok " kataku menghibur sambil mencuci tanganku.
Abi diam dan (seperti) berpikir.  Sebentar kemudian dia berkata :
"Pantesan ya, dalam Al Qur'an di sebutkan, nikahilah dua, tiga atau 4 orang, kalau nggak sanggup maka nikahin satu aja. Karena adil itu susah."

Aku langsung balik badan dan menatapnya.
*Dalam hatiku bertanya, Kok jadi ke situ ??? apakah ini sebuah pertanda sudah berubah pikiran ???
Hihihi duluuuuuu sekali, sehari setelah kami menikah, suamiku pernah bilang, umur 40 mau nikah lagi*
Tanpa berlama lama, biar nggak ketauan bengongnya (untung ibu ibu sudah sering berpikir cepat ya...) aku (berusaha) menjawab tetap dalam konteks pembicaraan :
"Halah  anak itu kan sudah biasa sensi, Ayuk juga pasti mengerti kondisi tadi " kataku sambil mencuci wajan.
Abi pun kemudian bergeser ke ruang tivi dan menonton berita.