Sabtu, 27 April 2013

Mimpi Yang Menjadi Kenyataan

Hari - hari yang melelahkan.
Tumpukan pekerjaan demi pekerjaan di peak season kantorku ini benar benar membuat tubuh tuaku mengeluh.
Bahkan mau bangun dari tidur pun terasa badan tidak fit.
Maka akupun meregangkan tangan.
Daaan...... buk ! Auuuuuuwwww....
Seketika aku bangun dari tidur
Dan mendapati buku jariku telah mengelupas kulitnya, karena meninju tembok demikian keras.

Pas awal - awal kalau buat cuci piring /sayur perih.  Sampai sekarang, mungkin karena pas di lipatan jari ya... jadi dipake meregang-menggenggam gitu.. lukanya nggak kunjung sembuh. Trus sering kebentur bentur gelas kalau pas cuci piring, sering juga kegesrek pintu kalau pas ngeluarin motor.

luka setelah dua minggu, belum kunjung sembuh. 

Minggu, 21 April 2013

Rendang Padang Restu Mande, Wow ! Mak Nyus...

Aku mengenal rendang kemasan Restu Mande sebetulnya sudah agak lama. Pertama mengenal justru dari facebook. Melihat ada satu dua teman yang menawarkan. Mengingat bahwa rendang padang itu adalah salah satu makanan tradisional Sumatera Barat, aku langsung kepikir pasti harus pesan rendang itu dari daerah asalnya. Sambil menghitung berapa ongkos kirim yang harus kukeluarkan, maka aku biarkan saja promo-promo itu tanpa melihat lebih lanjut.

Eh, beberapa waktu kemudian, di jalur berangkat ke kantor, aku melihat ada RM Restu Mande. Tepatnya di Jalan Brigjen Katamso No. 64, Bandung. Wow, pucuk dicinta ulam tiba. Senanglah hatiku. Namun sayang seribu sayang belum rejeki mungkin ya.. jadinya sampai sekarang aku belum pernah mampir ke sana, karena jalur pulang kantor tidak lewat jalan itu.
Sebaliknya kalau sudah rejeki, tentu bisa datang tanpa diduga-duga. Minggu lalu aku diajak teman lama untuk  ketemuan di RM Restu Mande Ujung Berung. Tepatnya di Jalan A.H. Nasution No. 59. Kurang lebih di seberang Kantor Pos Ujungberung / pom bensin.

Karena aku datang terlambat dari waktu yang disepakati, aku langsung menuju ruang lesehan tempat temanku menunggu. Berhubung sudah sangat penasaran penasaran, tentu saja aku  pesan rendang sebagai lauk utamaku. Ternyata memang benar. Seperti testimoni mereka yang sudah merasakan sebelumnya, rendang padang Restu Mande memang benar benar enak. Dagingnya empuk, bumbunya meresap. Bikin ketagihan. Walhasil dua potong rendang aku santap bersama nasi setengah porsi. Mantaaapppp...

Selesai  makan-makan dan mengobrol, barulah santai keluar menuju ruang depan. Ternyata di sini aku bisa membeli rendang kemasannya. Ada dua pilihan, rendang sapi dan rendang ayam. Untuk rendang sapi, harganya Rp. 6x.xxx,-  dan untuk rendang ayam harganya Rp 5x.xxx,-. Cukup sesuai untuk 300 gr rendang dengan proses memasak yang higienis dan bumbu - bumbu yang membuat rasa demikian aduhai.
Selain itu, ada juga pilihan rasa original atau yang hot (lebih pedas). Rendang kemasan ini cocok sekali ya .. untuk bekal anak kos, untuk persiapan darurat di bulan ramadhan kalau bangun kesiangan, ataupun untuk membekali teman / sanak saudara yang menunaikan ibadah haji / umroh. Untuk sehari-hari juga oke. Apalagi untuk ibu bekerja seperti aku ini. Kadang - kadang ada aja kejadian mendadak yang membuat acara memasak jadi tertunda. Cukup buka kemasan alumunium foilnya dan panaskan. Tadaaa.... rendang padang enak segera tersaji di atas meja.

Rendang Padang Restu Mande memang oke !

Bungkus satu ya......

Nah, teman - teman, tidak perlu ragu dengan rendang kemasan Restu Mande, karena telah bersertifikat halal MUI dan sertifikat kesehatan dari Depkes. Rendang ini  bisa tahan hingga satu tahun.  Wow !






Selera Madiun di Kota Kembang

Setelah mengikuti tantangan #8minggungeblog minggu pertama, maka tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua. Temanya tentang local flavour.

Waktu anak-anak dan remaja, aku tinggal di Cilacap. Salah satu makanan kesukaanku adalah pecel. Apakah pecel itu ? Yaitu campuran sayur mayur yang sudah direbus biasanya bayam, kangkung, kacang panjang, taoge, kemudian disiram bumbu kacang / saos kacang pedas. Enaknya dimakan sama kerupuk dan mendoan.

Nah untuk mengobati rasa kangen kampung halaman, alhamdulillah di Bandung ada warung pecel. Namanya Warung Pecel Madiun. Letaknya di Jalan Haria Banga No 3 Bandung. Meski selera Jawa Timur, rasanya masih oke di lidahku. Dan juga di kantongku tentu saja.
Posisinya strategis banget, dekat kantor (penting ini ya...) dekat Unisba, dekat BEC, dekat Gramedia, ya.. jalan kaki lah ... enggak sampai sekilo, paling paling 5 ons eh, 500 meter... *bawang kali ya.. pake di-ons segala.


Mengenai tempat makan ini, sebenernya aku punya semacam 'janji' gitu, janji itu kubuat karena aku lebih sering bekal makan siang dari rumah daripada jajan di kantor.  Bunyi janji : "tidak akan makan di tempat yang sama, kalau pun makan di tempat yang sama, maka harus memesan menu yang berbeda dengan sebelumnya".
Nah tapi anehnya, setiap aku ke Pecel Madiun, seperti sudah reflek aja aku pesan nasi pecel dan mendoan :)  Tuh, kan setiap, berarti sering ke sini. Iya laah.. wong dekat sekali dari kantor. Kadang juga ke sini karena diajak ketemuan sama Sondang atau sama Ikarahma. Atau ya..  ..sekedar mampir aja setelah belanja belanji di toko bahan kue pas di sebrang warung pecel ini.

foto pecel menyusul yaa...

Yah meski namanya Pecel Madiun, di sini sedia juga makanan lain seperti nasi rawon, ayam goreng, dll.

Nah pas aku inget kemaren, aku nyobain pesan nasi rawon. Si mas yang menghidangkan sepertinya agak buru - buru (atau mangkoknya yang kepenuhan ya ?) maka pas nyampe penampakan si rawon ini menjadi seperti ini
Nasi rawon, kerupuk dan telor asin. Telor asinnya lupa nggak dipesan
Kenapa kuah rawon ini begitu pekat ? Rahasianya adalah pada bumbu bernama 'kluwek' yang dicampurkan di sana. Tanpa kluwek, maka rawon tidak akan menjadi rawon. (Halaaah... apaan sik ?) Rasanya mak nyusss.. dagingnya empuk, bikin ketagihan. Kalau aku sih, itu taoge kurang banyak, karena aku penyuka sayur.

Minumnya apa ? Teh pahit jelas gratissss ya... sudah tersedia di dekat pintu masuk, bisa langsung ambil sendiri pas datang. Kalau mau pesan minuman yang khas dari sini adalah es cincau hitam. Yang bikin beda dari yang lain es cincau di sini pakai santan dan gula merah. (Soalnya kalau es cincau ibu mertua aku, pakainya susu dan sirup merah)
Nyesss... abis hhssss hssss... kepedesan nasi pecel atau rawon, langsung minum es cincau ini. Adem di perut.


Selain es cincau, bisa juga pesan wedang. Wedang ini merupakan ramuan rebusan rempah rempah gitu. Ada jahe, ada kunyit, kencur, ataupun perpaduannya. Ada wedang beras kencur, wedang jahe, wedang kunir asem. Kalau di menu sih disebut pake es. Tapi kita juga bisa pesan enggak pakai es alias hangat. Karena aku penasaran dengan salah satu namanya, aku pesan wedang secang. Ternyata rasanya perpaduan gitu, antara pedas jahe dan rasa kunyit. Woww.... sesuatu dan patut dicoba !

aneka wedang
Harga gimana harga ? Ini kan hal yang penting juga. Harga sangat sangat bersahabat. Dijamin enggak mahal. Maka jangan heran kalau pas ke sini di jam makan siang, bakalan enggak kebagian meja dan harus ngantri dulu. Soalnya memang benar benar laris manis. Sekitar jam satu aja sering mendoan sudah habis. Padahal kan itu salah satu yang khas dari sini. Daftar harga ini diambil bulan April 2013. Bisa berubah sewaktu-waktu dengan pemberitahuan langsung di Pecel Madiun. (lihat tuh, tempelan perubahan harganya.... :D)

daftar harga menu makanan di Pecel Madiun
daftar harga minuman
Nah, buat teman - teman Jawa Timur yang ada di Bandung, atau pas berkunjung ke Bandung, silakan coba makan di sini. Teman lain yang mau nyobain makanan Jawa Timur, juga dipersilakan mampir. Kalau perlu teman makan, hubungi aku aja ya.... aku mangkal dekat situ kok, kalau di hari kerja :P

#8 MingguNgeblog minggu kedua