Rabu, 31 Januari 2024
30 Hari Bercerita
Selasa, 30 Januari 2024
Cijambe Pride
Aku dan keluarga pindah ke kota Bandung di awal tahun 2002. Sudah lama sekali ya.. Tahun ini memasuki angka 22 tahun. Anak-anak juga sudah bertambah dan bertumbuh menuju dewasa.
Dulu masuk sini anak baru tiga, kemudian lahir F4 di tahun 2003 dan F5 tahun 2007. Untuk mengabadikan momentum pindah Bandung dan lahir di Bandung bahkan F4 memiliki panggilan sayang "Teteh".
Ketika berkenalan dengan tetangga di sini, kami mendapatkan informasi bahwa lokasi ini sangat strategis, karena dekat dengan sekolah, pasar besar Ujungberung, dan juga RS Ujungberung.
Untuk sekolah sangat lengkap, dari mulai tingkat TK mah ibaratnya nggak usah ke jalan raya, di sekitar rumah juga udah banyak. Untuk sekolah dasar negeri.. ada SD Cijambe, SD BIna Harapan, MIN Ujungberung dan SD Andir yang kabarnya cukup favorit. Sekolah Dasar Islam pun berkumpul di Bandung Timur, ada SDIT Luqmanul Hakim, SD Al BIruni, SD MI At Taqwa, MimHa, Mutiara Hati, Mutiara BUnda kemudian dalam perkembangannya ada SD Bintang Madani, Cendekia Muda dan juga SD Robbani.
Di level Sekolah Menengah Pertama waktu itu masih sistem cluster dan di dekat sini lengkap ada cluster 1 sampai 3. SMPN 50, SMPN 8 dan SMPN 17. Untuk madrasah ada Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Cicaheum.
Sedangkan level SMA sudah pasti SMA 24 ya dan SMA 23 di Antapani. Keduanya adalah SMA favorit di Bandung Timur sebelum era zonasi. Semakin ke sini semakin berkembang SMA Swasta ada Mutbun, Cendekia Muda dan SMA Juara.
Demikian pun untuk melanjutkan perguruan tinggi maka dapat dikatakan ke kanan ke ITB, ke kiri ada UIN dan Unpad. Kalau sekarang Unpad dan ITB sama sama ke kiri ke arah Jatinangor. Ya kalau waktu tempuh naik kendaraan roda dua paling sekitar 30 menit pas normal. Ada juga UPI kampus Cibiru.
Perguruan tinggi swasta juga sangat mudah dijangkau dari rumah, sebut saja Itenas, Universitas Sangga Buana, Tridarma, Universitas Widyatama, sekarang bertambah ada Universitas Muhammadiyah di jalan Sukarno Hatta dekat Cibiru.
Pasarpun sudah berkembang pesat. Kalau dulu pasar Ujungberung adalah pusat keramaian, saat ini sudah bertambah ramai dengan berdirinya Ujungberung Town Square. Orangpun sudah mulai malas untuk bermacet-macetan ke arah kota sementara di dekat rumah sudah ada. Toko swalayan besar pun bermunculan. Dulu Borma Cipadung tiada tara, kemudian muncul Griya Ujungberung, muncul lagi Superindo Ujungberung dan Superindo Ubertos, belakangan bertambah ada Borma Sukamiskin dan juga Transmart,
Jangan tanya restoran apa saja yang ada di sekitar Cijambe ya.. mungkin kalau sebulan aku nggak keluar rumah udah pangling dengan pemandangan restoran yang bermunculan.
Rumah sakit juga demikian. Dulu RS Ujungberung berjaya, atau ada juga yang swastanya yaitu Rumah Sakit AL Islam. Sekarang berbagai rumah sakit besar ada di sini, katakanlah RS Hermina Arcamanik, RS Bunda Nanda Cibiru, RS Grha Bunda di Antapani. Klinik pratama sudah tidak terhitung. Kalau di Cijambe sendiri ada Klinik Cijambe yang buka 24 jam. dan Klinik gigi juga ada dua.
Saking sudah ramainya cijambe ini, bahkan kalau pesan makanan daring lebih dari 1km aku sudah merasa sangat jauh dan lama. Karena di sekitar rumahku sudah banyak warung dan resto yang memenuhi kriteria jajanan. Mulai dari makanan utama sampai camilan. Semua ada.
Cijambe Pride.
Minggu, 28 Januari 2024
Tiba-tiba, Woosh ! !
Akhir tahun lalu aku dan sobatku janjian olah raga ke Gasibu. Di tengah perjalanan tiba-tiba keidean nyobain Woosh. Lah.. Gimana.. Perizinan kan ke Gasibu, masa mendadak pindah ke Halim π
Setelah berembug bahwa kita siang udahbdi Bandung aku coba minta izin ke orang rumah. Eh sebenernya lebih ke pemberitahuan sih ya.. Soalnya udah di jalan kaan..
Karena posisi mendekati tengah kota, kami memutuskan naik Woosh dari Padalarang. Kami pun menuju stasiun Bandung.
Kata driver ojek online yang kami tumpangi, untuk naik feeder lebih cepat kalau kita naik dari pintu stasiun timur. Oke nurut.
Masuk stasiun cuman nunjukin tiket Woosh tanpa pemeriksaan. Terus naik eskalator turun di jalur feeder. Kereta feeder pun melaju menuju Padalarang. Perjalanan menuju stasiun Padalarang memakan waktu sekitar 15 menit. Dan kereta feeder ini jalannya lebih cepat dibandingkan dwngan Kereta lokal.
Keluar pintu feeder langsung jalan cari pintu Woosh. Di sini diminta tap barcode yang ada fi tiket untuk masuknya.
Tak berappa lama Woosh datang dari stasiun Tegalluar. Kamipun segera naik ke gerbong yang sesuai.
Perjalanan menuju Halim dari Padalarang sekitar 25 menit. Baru duduk, petugas kereta menyampaikan bahwa kereta akan memasuki Terowongan terpanjang. Sekeliling gelap gulita seketika. Cahaya hanya Tinggal dari lampu gerbong saja.
Selain mengingatkan soal terowongan, petugas juga menyampaikan bahwa kereta akan mencapai kecepatan maksimal yaitu 350km/jam.
Termyata ya, kalau naik dari Padalarang, baru juga sebentar, eh udah sampai Halim. Iya karena nggak sampai setengah jam, 25 menit saja sudah sampai Halim.
Tiba di Halim kami mencari sarapan. Petugas di lantai 3 menjelaskan katanya kalau di bawah banyak penjual makanan/UMKM. Pas aku turun eh cuman ada Subway, Indomaret, dan beberapa tenant.
Selesai sarapan iseng ke stasiun LRT yang lokasinya masih di situ situ juga. Istilahnya stasiun interchange. Karena 3 kereta lewat stasiun ini. Yaitu LRT, MRT, dan commuter line.
Karena MRT dan CL udah pernah, kita naiknya LRT ke stasiun terdekat.
Naik LRT ini tanpa 'tiket' ya, kita hanya tap e-money aja di pintu masuk peron. Kami pilih stasiun Kuningan.. MasyaAllah sudah banyak kemajuan ya...
Keluar masuk stasiun lagi-lagi kami diminta tap e-money supaya palang pintunya terbuka.
Dari stasiun Kuningan balik lagi ke Halim. Sampai di Halim sudah mendekati Keberangkatan Woosh..
Heboh Lagiπππππππππ ..
Tapi Jujur perjalannya sangat menyenangkan
Pulang ke Bandung naik woosh lagi dari Halim ke Tegalluar.