Selamat Hari Puisi Nasional, buat kalian penggemar puisi.
Puisi. Pertama mendengar kata tersebut ketika aku duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu antara kelas tiga atau kelas 4. Aku lupa-lupa ingat, yaitu saat diminta mewakili sekolah untuk mengikuti lomba baca puisi tingkat kecamatan. Sebelumnya aku sudah mengenal kata deklamasi. Bedanya apa ya?
Dalam pemahamanku sebagai anak SD waktu itu, deklamasi adalah membawakan puisi tanpa membaca. Jadi dihafalkan gitu. Terus dalam pembacaannya disertai gerakan untuk menunjukkan kesungguhan / improvisasi dari sajak yang kita bacakan.
Ada satu deklamasi yang aku ingat betul sampai sekarang. Aku tulis sambil kukasih gerakannya ya..
Judulnya Tuhanku.
Tuhanku (kedua tangan menangkup di depan dada, wajah menghadap ke bawah )
Pada-Mu aku menghadap (dua tangan diangkat, kaki kanan maju)
Setiap waktu, (kaki kiri maju sambil tangan kanan ke arah kanan setinggi dada)
setiap detik (kaki kanan maju sambil tangan kiri ke arah kiri setinggi dada)
Doa kupanjatkan (kaki sejajar, tangan menangkup di depan dada)
Lindungilah aku, Tuhan (gerakan memohon, kedua tangan diangkat, tatapan ke atas)
Jadikan orang beriman (kaki kiri maju sambil tangan kanan ke arah kanan setinggi dada)
Jadikan putra bangsa (kaki kanan maju sambil tangan kiri ke arah kiri setinggi dada)
Yang berguna, bagi nusa dan bangsa (kedua kaki sejajar, kedua tangan direntangkan, sambil membungkuk, pamit undur)
Entah karya siapa, tapi itu yang selalu menjadi gacoan setiap pelajaran bahasa Indonesia dan diminta deklamasi di depan kelas.
Kalau puisi, itu kosa kata baru bagiku. Kata bu Guru, nadanya mirip deklamasi. sebenarnya puisinya juga kita sudah hafalin. tapi pas pentas di depan, sambil bawa kertas. karena judulnya baca puisi. bener nggak sih? hihi.. Jujur aku nggak memperbaharui pemahaman deklamasi dan baca puisi ini.
Salah satu puisi yang hingga sekarang masih terngiang-ngiang yaitu :
Gadis Peminta-minta. Karya Toto Sudarto Bachtiar
setiap kita bertemu
gadis kecil berkaleng kecil
senyummu terlalu kekal
untuk kenal duka
tengadah padaku
pada bulan merah jambu
Menurut nalarku anak SD waktu itu, puisi ini mengajakku untuk membayangkan, bulan merah jambu itu seperti apa. Karena dalam benakku bulan itu warnanya kuning atau oranye. ya begitulah..
Kemudian di jenjang SMP aku menuliskan puisiku sendiri. Dulu terkumpul dalam sebuah buku, tapi entah dimana karena kemudian ditinggal sekolah di luar kota. Ketika memasuki usia SMA aku bersekolah di SMEA yang mana teman-temanku hampir semuanya perempuan. Gak ada kisah-kisah romansa. Hari-hariku habis buat kursus dan eskul. Ada kursus mengetik, kursus bahasa Inggris, kursus akuntansi dll sampai tahu-tahu kelas tiga dan harus ujian.
Tambah usia aku mulai mengumpulkan puisi-puisi yang berserakan di buku harian, di buku catatan kuliah, di kertas bekas, di catatan belanja... wes ora nggenah lah. Di mana pengen nulis di situ aku menulis. Temanya juga random. Dan menulis puisi itu entah kenapa perlu suasana tertentu. Sekarang dengan kehidupan yang seperti dikejar waktu, aku kesulitan merangkai kata-kata.
Entah sudah berapat tahun lalu, terakhir aku menulis puisi. Kumpulannya bisa kalian baca di Kata Hati Titi
KATA
kata
aku mencintai kata kata
aku cari kata yang tiada
aku kumpulkan kata yang berserak
aku sepi aku berteman dengan kata
aku sendiri aku bermain dengan kata
aku sedih aku berbagi dengan kata
aku bahagia aku ungkap pada kata
bila kau tak mencinta kata
jangan kau campakkan kata yang kau terima
pedih hatiku melihatnya
bila kau tak mengenal kata
jangan kau hakimi kata kata
nelangsa batin ini karenanya
kata
aku mencintai kata kata
aku cari kata yang tiada
aku kumpulkan kata yang berserak
aku susun kata
berharap terangkai makna
untuk menuju muara
mencinta Dikau saja
Sang Pemilik kata
