Semasa sekolah di SD-SMEA, alhamdulillah aku dulu termasuk anak yang pinter di kelas. Minimal 10 besar. Nilaiku ulanganku bagus-bagus semua kecuali satu pelajaran yaitu pelajaran olahraga. Aku selalu mendapatkan nilai minim untuk praktik olahraga. Nilai yang masuk raportku, terbantu oleh nilai ulangan teori penjaskes (pendidikan jasmani dan kesehatan).
Entah kenapa ya dulu aku nggak suka olahraga. Mungkin karena aku tidak cukup berprestasi atau mungkin tidak pernah latihan. Olahraga yang aku bisa hanya lompat tinggi dan lompat jauh. Kasti, lempar lembing, lempar galah, volley, basket, semua lemah. Padahal di halaman rumahku ada lapangan badminton dan meja pingpong juga. Kalau mau, aku bisa latihan. Tapi ya begitulah.. Aku nggak setertarik itu dengan kegiatan jasmani.
Aku mulai paham kebutuhan olahraga setelah merasakan fisikku melemah, jompo. Yaitu di menjelang umur setengah abad. Telat banget ya.. Nggak papalah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Pertama aku mencoba yoga di masa pandemi. Alhamdulillah terasa banget manfaatnya. Terus mencoba jalan kaki tipis tipis, sekitar sekilo dua kilo, lumayan lah ya..
Manfaat yang terasa banget di badanku ya lebih fit aja sih, nggak mudah lelah dan mood yang lumayan terjaga. Dengan pekerjaan melayani orang yang tidak hanya menguras tenaga tapi kadang juga menguras emosi, aku perlu mood yang stabil. Dan perubahan hormon sejak ikut olahraga kerasa, dibawa bahagia aja sih lebih tepatnya.
Kalau dirangkum olahraga yang aku lakukan dalam seminggu, yang paling banyak jalan kaki. Minimal sepekan 3x. Saat ini aku juda sedang ikut kelas panahan tradisional dengan pertemuan sepekan sekali. Ada kelas yoga setiap hari Selasa di kantor. Sempat juga ikut kelas poundfit seminggu sekali, tapi sekarang kelas ini sudah berhenti sejak pound diterpa gosip terlibat komunitas pelangi.
Yang masih menjadi tantangan buatku adalah menambah speed dan menambah jarak. Saat ini speed masih sekitar 4km/jam. Terasa kalau pas jalan bersama teman, aku seperti harus mengejar agar dapat jalan sejajar. Sedangan jarak jalan harian juga masih di bawah 3 km.
Baca juga : Aku dan Strava
Kemajuannya adalah aku sudah mulai melaporkan lari di aplikasi strava. Walaupun prakteknya masih lebih banyak jalannya. Semoga dengan berlatih secara istiqomah aku bisa mencapai target baru dalam olahraga. Aamiin.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan Tinggalkan Kesan
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.