Selasa, 27 Maret 2012

Olala, Anakku Jatuh Cinta

Pagi hari, baru bangun tidur dan keluar kamar, masih sambil ucek ucek mata si Ayuk langsung cerita;
"Ummi, tadi malam aku nangis lho..."
"Kenapa ? Patah hati ?" si Ummi menjawab setengah menggoda. Soalnya, nggak seperti kakak kakaknya yang kelas 6-an lah baru ngomongin lawan jenis. Ini mah, dari kelas 4 kemarin udah CCP (pake istilah Tri = curi curi pandang)
"Ih Ummi, aku sebelumnya berfikir kenapa orang teh pada bunuh diri gara gara putus cinta, ternyata emang sedih ya..." sambungnya lagi
"Alaah.. cinta anak anak ini. Kamu mau bela belain si dia, lha si dia juga masih anak anak, kalau mau apa apa juga masih nangis ke ibunya, gimana mau ngurusin cewek. ?" aku menetralisir
"Hehe.. iya juga sih, Mi.."
"Udah deh.. jangan terlalu cinta. Nanti kalau kamu SMP, SMA, kamu bakal ketemu orang yang lebih pinter dan lebih cakep dari dia. Apalagi kalau udah kerja."
"Emang Ummi tau, siapa orangnya ?"
"Ya taulaaah..." (asli klo yang ini mah jawaban Sotoy, abis, gonta ganti melulu sih... siapa oknum "si dia" itu)
Rupanya Ayuk cukup puas dengan jawabanku, dia pun beranjak ke kamar mandi.
Huh, dasar bocah !


Senin, 26 Maret 2012

Jalan Jalan Sama Faiz

Menjadi perempuan adalah kodrat, menjadi Ibu adalah pilihan. Aku suka dengan quote ini. Yah, ibu disini mungkin Ibu yang memerankan tugasnya ya.. bukan sekedar orang yang melahirkan. Toh seseorang tidak harus melahirkan dulu baru menjadi Ibu. (Ibu biologis). Dia bisa menjadi Ibu Guru, Ibu RT, Ibu angkat, dsb. Dan memang kodrat perempuan itu membawanya ke berbagai tugas. Tugas kita sebagai anak terhadap orang tua, tugas sebagai istri di hadapan suami, tugas sebagai anggota masyarakat, tugas sebagai Ibu terhadap anak anaknya (baik anak kandung maupun anak didik), dan tentu saja tugas sebagai hamba-Nya untuk tetap beribadah dan menyebarkan kebaikan serta mencegah kejahatan dan keburukan.
Nah, seringkali karena keterbatasan kita sendiri, kadang kita merasa kok tugas ini tabrakan dengan ini, kok tugas ini tabrakan dengan itu. Sebenarnya tidak, ketika kita lebih jeli melihatnya. Yaitu dengan kaca mata skala prioritas. Ada yang penting dan sekarang, ada yang penting tapi bisa nanti. Ada yang nggak penting tapi harus sekarang (hihi.. ngangkatin jemuran pas ujan gerimis kali ya..*becanda) atau nggak penting dan bisa nanti nanti . Ketika kita bisa memilih inilah maka kita akan senantiasa merasa tentram dengan pilihan kita, menurutku.
Misalnya aja ketika karena sesuatu hal aku nggak bisa ngantor (karena bibi nggak datang dan suamiku nggak bisa gantian membolos) ya sudahlah aku nikmati saja hari membolosku dengan mengoptimalkannya. Maka suatu hari itu akan aku gunakan untuk jalan jalan sama Faiz (iya karena tinggal dia yang di rumah, yang lain kan udah pada sekolah sampai siang/sore).
Aku ajak Faiz ke rumah Puput, urusan dagangan tentu saja, walaupun Puput nggak ada, poin pentingnya adalah aku jalan sama Faiz. Dagangan mah titipin aja sama Mbah.
Kami berangkat dengan jalur yang berbeda. Pertama naik angkot biru dari jalan Rumah Sakit, turun di Superindo, sambung becak dari Superindo ke rumah Put.  (aduuh senengnya,.. karena dia sudah belajar lagu Naik Becak), Pulangnya  ku ajak dia naik jembatan penyebrangan, dan naik angkot jurusan Cibiru sampe bunderan. Lalu naik Damri kesukaannya.
Tak lupa membungkus satu paket KFC untuk makan siangnya.
Maka cukuplah semua menjadi penghibur. Tak terbayar semua senyum dan tawa berdua dengan berapapun potongan penghasilan yang orang sering bilang "sayaaangg.. klo gak masuk... absen ajaa..."


Kamis, 22 Maret 2012

a la gitaris

Faiz ini aku melihat pendengarannya tajam sekali. Emm.. maksudku dibandingkan kakak kakaknya pada usia yang sama. Pertama adalah pas umur 8 bulanan gitu kalau dengar iklan tertentu bakal menoleh ke ruang tipi yg nota bene tinggal merangkak beberapa langkah dari tempat dia berguling dengan buku bukunya.
Kemudian beranjak agak besar sudah pinter ngikutin baca buku Mute Balita yang dibacain kak Eka Wardhana di VCD. Eh.. kemudian berlanjut ke intro intro iklan. Halah... (jadi inget olokan Sondang, hihi keturunan remaja vinolia..) Dan, yang sangat sangat berbeda dengan kakak-kakaknya yang puas dengan mainan buku, Faiz minta benda benda yang dia lihat baik langsung / di buku. Pertama sekali dulu minta semacam organ gitu.KLU nya yang dipencet pencet. Berhubung di rumah ada pianika, kayaknya dia cukup puas dengan mencet itu, dengan kakaknya yang meniup.
Kemudian minta drum, dan dia dengan mantap menggebuk drum, sedang kita yang disuruh kesana kemari naik motor motoran, memperagakan sholat, dll . Lho ? Iya.. doger monyet mode on. Dengan lebih gamblang, dia yang mukul drum, kita disuruh jadi monyetnya.
Kesini kesini dia minta gitar. Abinya doong,.. yang dirayunya jalan ke toko mainan dekat rumah. (yang asli lengkap, meski harganya jauh dari cibadak. ya eyalaaah.... ) Karena gak ada anggaran buat gitar beneran, gitar gitaran pun sangat membahagiakannya. Lihatlah gaya dia berdiri dan bernyanyi.. bari suara teu nyambung dengan gitar yang cuma bisa jrang jreng jreng.. hihi..
Berdoa ya Nak, kalau memang jalanmu di situ, Ummi dan Abi punya rejeki untuk membuka jalanmu.


tes senar
  

beraksi
  

ekspresif