Senin, 06 Mei 2013

Warna Warni Kehidupan Berumah tangga

Seorang suami /istri merupakan  pasangan yang sudah Allah siapkan jauh jauh hari bersamaan dengan saat ditiupkannya ruh ke dalam janin seorang anak manusia, saat itu juga Allah menentukan rejeki dan ajalnya. Maka kadangkala sepasang anak manusia yang sudah 'jodoh' itu pasti akhirnya ketemu meski harus melalui perjalanan dan perjuangan yang berliku.

Aku ingat betul pas kanak - kanak dulu salah satu asisten ibuku -yang baru belajar membaca dan menulis setelah kerja di rumah kami-  sering meminta bantuanku menulis surat cinta. Entah berapa banyak nama yang telah menerima surat atau mengirim surat cinta padanya. Eh, ternyata oh ternyata yang 'berhasil' menyuntingnya adalah laki-laki yang baru seminggu dikenalnya, yang langsung datang menghadap orangtuanya serta memintanya dengan sikap ksatria. Sampai aku pulang kampung terakhir tahun 2005, pas mampir ke rumah si  Mbak, mereka hidup rukun dalam sebuah rumah tangga, dengan anak-anak yang menjelang dewasa.

Jadi enggak heran kalau jaman dahulu kala orang tua kita menikah melalui proses  perjodohan, yah itu hanya 'wasilah' atau jalan saja, sedangkan intinya adalah mereka memang telah ditakdirkan Allah untuk bertemu.  Demikian juga jalan yang banyak dipilih oleh aktivis dakwah kampus ketika mereka menikah melalui proses ta'aruf. Awalnya mereka diperkenalkan oleh ustadz-ustadzahnya. Perkenalan ini bukan sembarang kenalan layaknya teman, tapi memang sudah dipersiapkan matang dan kedua belah pihak sudah berkomitmen bahwa ini adalah  dalam rangka ikhtiar menuju pernikahan. Proses ini tidak selalu berjalan mulus. Kadang terjadi' setelah perkenalan ternyata kedua belah pihak atau salah satu pihak merasa tidak cocok. Jika kondisinya demikian,  yaa enggak jadi nikahlah. Ustadz dan ustadzah boleh dikata hanya merekomendasikan, yang kemudian dikenal dengan istilah "menikah tanpa pacaran atau pacaran ba'da nikah"
Kedua mempelai sepakat untuk membangun rumah tangga sekaligus membangun cinta diantara mereka.
Nah, apakah kemudian proses di rumah tangga sesimpel itu ? Tentu tidak. Orang yang sudah kenal lama sebelum menikah aja masih ada gesekan atau kesalahpahaman. Apalagi ini yang kenalnya baru sebentar. Cuma karena sejak awal sudah berkomitmen untuk membentuk keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, dan dalam niat ibadah mencari ridho Allah, maka gesekan-gesekan itu bukan menjadi masalah, tetapi itu menjadi tantangan yang harus dicari solusinya.  Kadang seorang istri terkaget-kaget ternyata suaminya tukang  ngorok #eh, atau ternyata kalau bicara keras seperti marah-marah. Sebaliknya si suami juga terkaget-kaget ternyata istrinya sangat manja dan kebluknya minta ampun, mesti nyalain petasan buat ngebangunin, misalnya... udah gitu enggak bisa masak pulak. *nyumputdibalikcelemek
Dan lain sebagainya ya... masing masing pasangan pasti punya kejutan yang berbeda. Itu baru ngomongin yang teknis ya.. belum ngomongin sifat, pola komunikasi, emosi, dsb yang enggak kelihatan tapi dirasakan.

Maka, pas aku baca status Mbak Mining, kakak kelas di STAN dulu .. yang sekarang memilih menjadi dosen di Universitas Terbuka, kok rasanya paaaaaassss banget ya....
Semoga kejutannya yang baik baik saja ya... dan kitapun selalu dapat memberikan kejutan manis buat suami (dan anak-anak ) kita tentunya. :)

Akhirnya.....

Setelah pengumuman lomba blog Restu Mande diumumkan, segera aja aku tukar nomor kontak dengan teh Lygia Nostalina, atau lebih tenarnya Teh Lygia Pecanduhujan.
Kemudian  kamipun membuat janji untuk ketemuan. Perkiraan sekitar  Kamis tanggal 2 Mei  sore atau Jumat pagi pada acara Ibu-ibu Doyan Nulis di RM Restu mande Ujungberung. Klo Jumat pagi jelas aku enggak bisa karena hari kerja. Maka keputusan lebih condong ke Kamis sore.
Sebenernya pas Rabu siang 1 Mei sempat ketemu teh Gya di Ciwalk, yaitu di acara openingnya Chocodot, waktu itu blogger-blogger Bandung diundang ke sana. Hanya saja karena keterbatasan waktu dan akupun datang terlambat, jadi enggak sempat ngobrol banyak. 
Ada yang lucu di saat Selasa malam aku chat sama teh Lygia, entah kenapa yaa rasanya udah kenal sejak lama, ya mungkin karena sejak aku gabung grup IIDN jadi berteman sama teh Gya di jejaring sosial dan  sering lihat statusnya.
Jadi weeee sudah asa kenal :)
Akhirnya setelah melalui perjuangan yang sedemikian rupa *jiaaaah lewat bb, lewat inbox fb sampai nanya no hp lewat twitter segalaaa* demi kepastian saat pengambilan hadiah, tepat menjelang maghrib ada telpon masuk dari teh Gya. Daaaan singkat cerita hadiah lomba pun berpindah tangan dari pihak Restu Mande yang diserahkan oleh bu Nenden selaku owner disaksikan teh Lygia selaku juri perlombaan.

Berdua Bu Nenden, owner RM Restu Mande
Berdua teh Lygia , salah satu juri

Rabu, 01 Mei 2013

Roller Coaster


Awalnya aku ikut lomba ini karena penasaran aja... secara si rumah makan Restu Mande itu dekaaaaattt banget sama rumahku. Masa' sih... enggak ikutan. Sekaligus mencoba apa  senggol senggolan sama SEO. Belum adaa target tertentu juga sebenernya, mau naikin PR buat apa, atau mau nurunin (hihi) Alexa juga buat apa..... wong tujuan awal ngeblog untuk mendokumentasikan peristiwa di sisa jatah waktu yang Allah berikan. Tapi kalau ibaratnya bisa memanen padi sambil memelihara lele, kenapa tidak.. toh menulis dan sejenisnya juga bagian dari peristiwa bersejarah buat hidupku.
Nah kemarin pas ada notifikasi tagging fb dari teh Gya... langsung deh aku meluncur ke TKP. Waaah... enggak nyangka... asli sampai berkaca kaca terharuu baca ini..


pengumuman di note fb teh Lygia Pecanduhujan
Terus terang, enggak nyangka, asli nggak nyangka bakal dapet juara 2, ngarepnya sih... dapat hadiah hiburan gituu.. Karena kalau baca - baca tulisan peserta lain waduuuh... pada sip markosip semuahnya, sedang punyaku meuni polos pisan. Tapi nggak tau ya.... 'selera' dewan yuri yang bagaimana... Alhamdulillah dapat juara dua.

Masih dalam suasana gembira ria, dan hiruk pikuk loket antrian di puncak hajatan, tiba tiba ada sms dari anakku.

SMS si mbak, mana ditanya nggak bales-bales
Gubrak enggak siih ?

Pas sambil makan siang aku telpon si Mbak. Dia bilang sih enggak papa, cuma lecet sedikit ajaa..
Dan saat itu posisi masih di rumah temannya.
Pas sorenya doooonggg... baru cerita edisi lengkapnya
Ternyata yang keserempet ada dua orang dari satu rombongan penyeberang jalan. Padahal semua kendaraan sudah diberhentikan pak polantas. Eh, ada motor nyelonooongg doong..
Langsung deh, si pelaku ditilang sama pak polisi. terus diminta buat pernyataan pertanggungjawaban.
Dan ternyata polisinya meminta mendatangkan orang tua, tapi berhubung pada kerja jadi yang datang orang tua temen mbak yang posisinya di Cikadut itu. Trus dua anak terserempet ini udah dibawa ke puskesmas (dekat lokasi memang ada puskesmas Mandalajati). Dapat obat (antibiotik dan asam mefenamat - kayak obat pas aku habis nglahirin).
Teruuusss..ternyata, di perut ada sedikit memar. Tidak terlihat tapi teraba, ada dua benjolan seperti nonong kalau di jidat gitu... Kata dokter puskesmas, kalau dalam 1x24 jam pub keluar darah atau nanti pas haid darah keluar terlalu banyak, maka harus dirontgent. Karena benjolan itu lokasinya di sekitar lambung. (Aku belum cari second opinion sih.. karena si Mbak Fathim juga masih tetep pecicilan seperti sedia kala.)

Langsung deeh.. inget kejadian si Abi beberapa bulan lalu. Bagian dada kiri sakit setelah terjatuh dari motor. Dan kerasa - kerasa udah hari ketiga. Sampai sakit buat nafas. Dan pas dirontgent dokternya bilang, kalau tulang rawan patah / retak enggak akan terdeteksi sinar X-ray.  Alhamdulillah.. si Abi enggak apa-apa dan sakit itu sembuh beberapa hari kemudian.

Semoga si mbak Fathim juga enggak kenapa-napa deh ya... Amiiinnn