Minggu, 18 Mei 2014

Tentang Memberi

Mumpung libur, sedikit bernostalgia tentang saat-saat awal aku diajak mentoring oleh kakak kelasku.
Di dalam mentoring, kami memang tidak menekuni ilmu tafsir atau ilmu al Qur'an secara khusus, tetapi lebih ke pemberian motivasi agar lebih sungguh-sungguh mempelajari agama. Silakan cari sumbernya. Waktu itu yang ngehits adalah belajar di Ma'had Al Hikmah jalan Bangka. (Sampai sekarang masih ada lhooo... hanya berubah nama).
Selain itu, kami pun belajar untuk mempraktekkan ayat-ayat al Qur'an dan sunnah  dalam kehidupan sehari-hari.
Aku semangat banget saat itu. Soalnya seperti dapat kakak yang baik hati. Namapun mahasiswa, jauh dari orang tua. Perhatian dari kakak mentor itu kadang terasa bagai tetesan air di padang tandus... *nggaklebaylho...

Aku yang saat itu sangat buta pelajaran agama, sedikit demi sedikit mulai terdorong untuk mempelajari dan membaca buku sendiri. Bahkan untuk menutupi biaya beli buku, pas tingkat dua aku 'buka cabang' toko buku secara konsinyasi. Jangan sangka toko itu besar ya...  ini cuma sebuah rak yang kusimpan di pojok rumah kontrakan. Ya alhamdulillah lah... ada aja akhwat yang beli.
Aku juga ingat uang rapelan gaji dulu aku belikan Tafsir Ibnu Katsir yang sampai sekarang masih nongkrong manis di rak bukuku.

Eh iya, cerita soal mraktekin ayat Al Qur'an ini aku jadi teringat satu peristiwa yang sampai sekarang selalu membuat hangat perasaanku.

Pada suatu ketika, ada seorang kakak mentor yang pakai kerudung baru. Sebagai cewek, biasalah kita komen komen 'iiih...... baguus, ih baguuss' gitu kaan.... dan beliau pun tersenyum sambil berucap alhamdulillah.
Beberapa hari kemudian, kakak mentor  itu berkunjung ke kontrakanku sambil memberikan sebuah bungkusan. Pas aku buka, isinya  adalah.... kerudung yang kubilang bagus itu!
Subhanallah....
Kejadian tersebut sangat berkesan bagiku. Sungguh aku mendapatkan pelajaran tentang keikhlasan dan tentang kecintaan terhadap saudara seiman. Kerasa banget bahwa dia memberikan itu dengan cinta. Sesuatu yang dia cintai, dia berikan dengan cinta. Akupun mendapat gambaran secara langsung bagaimana seseorang itu ternyata bisa, mencintai saudaranya lebih dari mereka mencintai dirinya sendiri. Bukan lagi melalui teori, tapi melalui praktek nyata.
Berlandaskan motivasi yang tinggi. Bukan untuk mendapatkan ucapan terima kasih atau sekedar balasan dari manusia. Pastilah dia mempunyai keyakinan yang jauh melampaui itu semua.
Makanya pas kemarin aku tilawah sampai ayat ini :

(لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ) [Surat
Ali Imran : 92]

"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya."

Langsung deh keinget sama mbak mentor itu.
Jazakillah khairon katsiron, sudah membangunkan pondasi yang kokoh untukku. Semoga aku bisa terus istikamah mempelajari dan mempraktekkan agama sampai akhir hidupku. Amiin

Rabu, 14 Mei 2014

Antara Assembly dan Olimpiade Sains

Kemarin udah berturut-turut cerita 3 anak terbesar, sekarang giliran Teteh dan Faiz.

Ceritanya, bersamaan dengan Faiz assembly -gambarnya udah uplod di IG dari kapan tau- Teteh ikutan semifinal olimpiade sains. Aku di sekolah nonton Faiz assembly. Teteh berangkat dan pulang semifinal bareng rombongan sekolah karena kebetulan tahun ini lokasi semifinalnya masih sama-sama di Arcamanik.
Hihi... ngomong ngomong soal olimpiade sains, mari kita menggosip sejenak. Ini pov-ku tentang si olimpiade.

Aku lupa sejarah perkenalanku dengan olimpiade ini gimana. Kalau nggak salah sih, awalnya ada yang nawarin komik sains ke sekolah, mendekati jadwal olimpiade gitu. Untuk nambah-nambah pengalaman anak-anak, maka sejak jaman Fathimah SD, setiap tahun anak-anakku selalu ikut. Alhamdulillah, 2 tahun terakhir, si Teteh terpilih jadi duta sekolah ke olimpiade, jadi aku gak perlu bayar uang pendaftarannya. *emakiritmodeon*

Sejujurnya aku tidak terlalu serius nyiapin anak-anak ikut ini. Hihi dan seperti pernah kubilang... aku emak yang rendah banget level achievement-nya.
Ya palingan mbeliin komiknya aja di salah satu bimbel terkemuka. Tahun ini lebih parah, aku gak beli komiknya sama sekali. Tapi alhamdulillah Teteh ada tambahan les menghadapi olimpiade. Dikasih gratis oleh guru - gurunya.
Makanya.... meski sejak jaman F1 sampai sekarang F4  anak-anak selalu masuk semi final aku nganggepnya biasa aja. Hihi ini semacam emak nggak tau diuntung nggak siih...
Atau mungkin karena aku menilainya dalam lingkup sempit kali ya... soalnya serombongan yang ndaftar dari sekolah anak-anak, hampir masuk semifinal semua.. paling yang gugur satu dualah....
Sebaliknya, belum ada satupun -ya belum ada satupun sejak jaman Fathimah- yang berhasil masuk final. jadi inilah penyebab aku berkesimpulan, apa istimewanya ? Hihi.. *dipentungkomiksegabruk*

Nah pas kemarin si mba Tri ngomongin gimana caranya supaya bisa masuk final, baru deh kepikiran olehku. #ketauanlemotnya.
Ini nih jelekku juga, kalau aku udah nganggep ketinggalan jauh, maka aku akan berhenti lari dan kemudian berjalan lambat. Jadi makin jauh aja ketinggalannya. Gitu juga targetanku ke anak-anak.
Kalau mbak Tri itu, selain rajin memasak, ke anak-anak juga rajin ngajarin pelajaran. Sampai sekarang ke anak pertamanya yang SMA pun. Terkait olimpiade sains ini, setiap anaknya pulang dari olimpiade, mereka ada sessi bahas soal. Rajiiiin kaaan ?
Kalau aku ya.... boro-boro. Udah gak nyambung ...
Akhirnya pertanyaan serius mbak Tri tentang gimana cara masuk final, kujawab iseng dengan kata-kata "kali harus ikut bimbel di sono mbaak".
Eh, malah mba Tri serius mikirnya. Ia seperti mendapatkan another POV aja tuuh... (lain ya... kalau orang SBM ITB maah). "Bisa jadi kali ya Mbak, di sana sering dibahas soal-soal macam soal olimpiade".
Tapi jangan tanya aku bagaimana macam soalnya ya... aku nggak baca sedikitpun.

Trus di kalangan ibu ibu  sudah ada semacam anggapan, yang masuk final dari Bandung mah anak SD tertentu. Seperti cerita teh Silvi  di salah satu komen IG-nya. Ya sebenernya nggak juga siih...
Selain dari SD terkemuka itu, selalu ada satu dua dari SD lain.
Aiiih... baru deh ini, kepikiran, sebenernya, bisa jadi kaaan... satu atau dua dari SD lain itu anak kita, anakku, anak mba Tri atau anak teh Silvi, atau anak mba Lidya dari Bekasi sana kaan kan ? Nah, sekarang mari kita amiiiiin-kan berjamah...
Jadi ? Jadi sebenernya masih bisa berlari ya...
(Oke Teteh, insya Allah kita kejar 2x lagi di level 3 ).

Alhamdulilah, untuk tahun ini memang hasil si Teteh agak lumayan. Agak-agak di atas gitu...lagi-lagi kata Mbak Tri. Soalnya dia duluan yang liat pengumuman di web. Haha.. Baru setelah aku di SMS mbak Tri, aku buka web dan nge-print buat Teteh.
Begitu datang dari semifinal, Teteh nemuin aku di arena assembly Faiz , kemudian dia curhat :
"Mi, lebar ya (bhs Sunda : sayang ya).. tahun ini yang 10 besar dapat tabungan"
"Kamu nomer berapa memangnya ?"
"Nomor 11, lebar ih... satu lagi"
"Kamu tahu dari siapa dapat tabungan, kan biasanya enggak pernah ?"
"Dari Attakwa ada yang dapat, anak level 2 juga. Dia nomer 4 apa nomer 6 gitu"
"Ya sudah... nggak papa. Itu namanya belum rejeki. Dan yang namanya rejeki bukan hanya uang, kamu sehat, kamu pinter, itu juga rejeki yang harus disyukuri. Masih ada kesempatan di level 3 nanti."
(see ? komen emak nrimo kaan ?)
Si Teteh manggut manggut.
Hadeeeuh... ini aku kok jadi merasa bersalah gini ya... jangan jangan aku sudah menularkan mental nrimo, gampang puas, gak mau usaha lebih dsb ke anak-anak. (Nggak bakat banget kan buat ngadepin anak very superior ? Qiqiqiqi dibahas lagi)
Ya Teh, mari kita lihat, apakah dari sepuluh finalis olimpiade ini ada dari Attakwa ?
Atau kamu salah satunya ? (aamiiin)
Semoga hasilnya membanggakan ya.. dan bisa 'membayar' jerih payah bapak dan ibu guru yang telah memberikan les dengan sukarela tanpa biaya apapun 3x dalam seminggu. (Amiiiin sekali lagi).

Kalau soal Faiz assembly singkat aja ya... lihat aja di foto-fotonya. Ini aku melihat dia mau naik panggung aja udah alhamdulillah... soalnya seminggu sebelum pentas, bu guru sms katanya Faiz gak mau latihan karena nggak mau naik panggung. Tapi pas kucerita ke bu guru betapa hebohnya dia memeragakan gerak dan lagu, bu guru pun berkata : ya syukurlah. Sudah saya kasihh tahu Bu, pokoknya semua nanti harus belajar naik panggung, meski di atas cuma diem. :p

Selfie dulu....eh itu balon milik tetangga belakang kursi lho.. kayak ada di tangan Faiz ya..

 
bergaya setelah ganti busana
tampil ramai ramai di panggung
Ini pas pementasan PG, lucu ya.. bu Guru PG-nya kasih instruksi di depan panggung, di barisan depan para penonton. Kebayang nggak sih.. perjuangan nglatih anak dibawah 4 tahun yang sekolahnya cuma seminggu 3x ? qiqiqi

ngantri pentas

Jumat, 09 Mei 2014

Operasi Kecil

Jiaaaah.... judulnya sok keren banget.
Ini bukan salah satu jenis operasi seperti yang kita kenal pada umumnya ya...
Tetapi lebih ke operasi mengeluarkan benda super keciiillll  haha

Ceritanya Bandung akhir akhir ini kan hampir selalu hujan di siang hari. Ketika hujan itu, halaman sekolah Ayuk selalu digenangi air. Juga jalan raya menuju tempat pemberhentian angkotnya.
Entah udah jadi semacam 'gaya' anak-anak  atau gimana, kalau ujan gitu semuanya rombongan lepas sepatu, nyeker daaaaannnn main air.
Ya ampuun... anak SMP gitu lho. Jangan jangan kurang panjang ya, masa masa mandi hujan saat mereka kecil. Hehe...
Pas jaman F1 sampai F3 sih perasaan sering kuberi kesempatan mandi hujan. Kalau F4 dan F5 yang jarang.
Ya tapi mungkin karena SMP itu masanya peer group jadi seneng aja kali, si Ayuk hujan hujanan ramai ramai gitu.
Nah, di hari Rabu pagi tiba tiba Ayuk bilang kakinya sakit. Sampai jinjit gitu jalannya.
Pas kuperiksa ada bintik hitam di telapak kakinya. Ini pasti kerikil. Karena dia kan suka pulang nyeker gituuu...
Hmmm aku tahu ini bakal agak sulit. Karena ambang nyeri anak ini rendah banget. Dikiiiit aja kena towel teriaknya segede apa.
Pas mau kuambil pakai pemotong kuku, dia udah nangis duluan.
'Ya udah, nanti malem ke klinik di depan'
'Nggak mau ke dokter.... ' malah tambah nangis.
'Hmmmm... kita lihat nanti sore ya...'
Ih, kalau buat bolang macam aku, itu sih keciiil... dulu pas kecil kan sering main ke kebon dan kena duri yang item-item segede jarum yaa...
Aih, tapi tantangan anak sekarang kan beda lagi.

Sore pas pulang kerja, Ayuk ngeluh kakinya tambah sakit. aku ajak ke dokter enggak mau. Eh, si mbak malah njahilin, katanya nanti kakinya infeksi dan diamputasi, Ayuk tambah nangis. Khawatir bakalan infeksi dan diamputasi. Hadeeeeuuuh... heran deeeh.
Karena tidak ada alternatif lain selain harus mengeluarkan kerikil tersebut, sedangkan dia enggak mau ke dokter, padahal udah kubilangin kalau ke dokter nanti kan disuntik matirasa,jadi gak bakal sakit, eh.. tetep aja gak mau.
Akhirnya .. karena makin malam makin nyeri,  Ayuk nyerah, ntar aja pas dia tidur, dia mau kerikilnya dikeluarin.
sedikit nekat siiih.... karena pas malem mendapatkan cutter baru, eh, nggak ada alkohol buat sterilisasi. Yaudin deh, bismillah aja. Pertama kaki Ayuk di kompres es batu biar sedikit baal. Trus setelah berkutat sekitar satu jam karena Ayuk meski tidur masih sedikit kerasa dan bentar bentar narik kakinya, alhamdulillah berhasil ngeluarin kerikil. Besarnya ? cuma sedikit lebih besar daripada ujung jarum.

kerikil di ujung jarum