Minggu, 21 Mei 2023

Olahraga di Gasibu

Sebagai warga Kota Bandung yang sudah terdaftar sejak tahun 2002, aku terbilang jarang banget olah raga di Gasibu. Selain karena jaraknya yang lumayan jauh dari rumah, Gasibu juga selalu menjadi lautan manusia setiap hari Minggu tiba, Kayaknya datang dari seluruh penjuru kota Bandung tuh, orang-orang. Bahkan mungkin juga dari sekeliiling, seperti Cimahi, Kabupaten Bandung ataupun Kab. Bandung Barat. Mungkin orang luar kota yang liburan juga ada.


Tetapi, akhir akhir ini aku suka menjadikan Lapangan Gasibu sebagai tempat janji temu. Jadi kalau janjian dengan teman yang lokasinya jauh dari Bandung Timur, ya udah pas banget deh di tengah sini. Aku pikir, dari pada ketemuan di tempat makan, pesan makanan, ngobrol-ngobrol terus pulang. Mendingan janjian di sini, olah raga bareng dan akhirnya ya makan makan juga sih.. tapi setidaknya sebelum masuk kalori baru udah ada kalori yang terbuang sebelumnya. Lumayan kan..





Biasanya olah raga yang kulakukan di sini ya cuman jalan kaki aja. Karena sejujurnya aku udah nggak kuat lari juga. Belum pernah coba lagi sih, cuman kalau sesekali lari entah mengejar angkot atau bis kota, habis itu rasanya engap banget. Jadi ya udahlah menyerah aja.. mengingat faktor usia yang udah nggak muda juga. 


Jalan kaki di Gasibu aku tetep memakai masker.  Orangnya itu banyak banget. Pokoknya kalau jalan di sini depan belakang kanan kiri full orang. Memakai masker juga melindungi aku dari kamera kamera yang bergentayangan. Di mana orang-orang  banyak yang membuat konten  juga, dan kadang tanpa permisi masukin kita ke dalam framenya. Sebagai penganut paham memblurkan orang di media sosial, sungguh aku nggak terima kalau aku masuk ke dalam frame orang tanpa izin. wkwkwk..


Selain lari dan jalan kaki, di sini bisa juga olah raga bulu tangkis. Di sekitar lapangan terdapat persewaan raket, tepatnya di jalan antara lapangan dengan Hotel Pullman. Main bulu tangkisnya di situ juga, tanpa lapangan. Jadi ya ala ala aja... Yang penting keringetan dan gembira..


Setelah lelah berolah raga, waktunya wisata kuliner... Tahun lalu sempat kelihatan banyak penjual di jalan samping pullman itu. Tapi hari ini tadi kulihat udah bersih. Bahkan di lokasi bekas jualan itu terlihat beberapa aparat sedang duduk istirahat. Tapi ada juga sih tukang dagang semacam tukang pecel gendong, tukang eskrim, arum manis, kopi panas, dll.. intinya mah yang bukan jualan pake gerobak masih bisa jualan di situ. 


Karena yang kucari kali ini adalah sate jando/gajih, aku dan temenku celingak celinguk.. Ketika melihat asap di kejauhan, aha.. pasti itu tuh.. kami pun berjalan ke arah taman Lansia. Ternyata tukang sate udah pindah ke situ.  Kami pun memesan 10 tusuk sate ayam dan 10 tusuk sate jando. Total harganya 70rb rupiah. Karena tempatnya penuh banget dan ditungguin antrian, kami makan sat set tanpa ngobrol ini itu. 



Setelah mengambil motor di Taman Lansia, kami pulang bersama setelah mengambil motor di Taman Lansia dengan biaya parkir 5 ribu rupiah

Sabtu, 20 Mei 2023

Edisi Mellow

Pernah suatu hari aku bertandang ke tetangga yang kebetulan putra putrinya sudah mentas semua, dan tinggal jauh di kota yang berbeda. Kemudian tanpa kuminta, Ibu itu bercerita tentang perasaaannya. Kata beliau, setiap kangen anaknya, beliau akan memandangi kamar yang sekarang hampa, dan air mata pun akan mengalir begitu saja.  Kupikir waktu itu ibu itu lebay amat yak.. cuman ditinggal anak nikah, lagipula itu kan hanya soal waktu. Masih dapat bertemu. Toh teknologi komunikasi juga sudah berkembang, bisa melakukan panggilan video setiap saat, ataupun kalau berkunjung transportasi juga sudah begitu mudah. Tapi aku cuman membatin ya.. nggak kubilang juga "ah, Ibu lebay.."

Hingga akupun melihat sendiri ketika anak pertama kami kuliah di luar kota. Jaraknya hanya sekitar 20km. Sebenarnya dapat ditempuh pulang pergi setiap hari, tapi kasian juga anaknya nanti capek. Belum kalau pas ada tugas, yang mengharuskan pulang malam, kamipun harus mempertimbangkan soal keamanan. Akhirnya anak pun dilepas ngekost. Kami berdua yang mengantar, mencarikan barang-barang yang dibutuhkan untuk melengkapi kamar kosnya. Awalnya sih aku nggak nyadar ya sama perubahan pak Su, yaitu sering berlama-lama sholat di kamar F1. Setelah sekian waktu berlalu, baru cerita, kalau sebenarnya ketika sholat di kamar itu beliau dalam posisi kangen.. Akupun gak bilang "Ah, Abi lebay". 

Ketika F2 kuliah di kabupaten sebelah dan ngekos juga, sedikit banyak udah lebih siap ya..  Karena doi kan anak laki. Sebenarnya bisa juga ditempuh PP, tapi kami belum memungkinkan untuk menambah kendaraan roda dua, jadi buat kelancararan kuliah di tahun pertama, F2 pun ngekos.  Alhamdulillah di tahun kedua adar rezeki, F2 pulang ke rumah, nggak ngekos lagi. Tapi senam jantung mulai episode baru. Pulang jelang tengah malam... bikin deg degan dan susah tidur. Akhirnya minta dia untuk selalu share loc kalau pas on the way pulang. Walaupun kadang umi tertidur juga sih... tapi masih banyak begadangnya.  Lama lama juga biasa...

Ketika F3 kuliah lebih jauh lagi, drama baru pun dimulai. Karena kebetulan umi yang mengantar dan mencarikan kost-an, jadi kebayang perjalanan kuliah-tempat kos seperti apa. Jadi setiap malam pun dipantau, lagi dimana, udah pulang belum... utamanya itu.. yang lain lain soal makan dan kesehatan otomatis aja ikutan. Tapi ya alhamdulillah nggak lebay.. menurutku sih biasa aja.. nggak tau ya kalau orang lain melihat mah..

Beda cerita pas F5 yang sekolah di luar kota ya.. udalah paling kecil, eh sekolahnya paling jauh pula. Si Umi yang paling melow ternyata. Gimana enggak ya.. Pas doi masih di rumah, setiap malam ada night routine, setelah sesi membaca buku bersama F5 selalu usap usap kepala Umi dan cium umi sebagai pengantar tidur . Kadang disertai kata-kata, "mimpi indah Umi... semoga Umi mimpi ketemu Rasulullah SAW, good night... yah semacam itu lah.. Kalau umi udah (pura-pura) tidur, dia baru naik ke kamarnya. Dan itu nggak ada yang menggantikannya melakukan itu semua.. Tapi kemudian sesama walsan saling mengingatkan, seorang ibu harus tenang, nanti anaknya juga ikut tenang. Kalau umi gelisah, kepikiran, anak pun di sana jadi nggak betah. Beneran TITIP-nya... (Tega, Ikhlash, Tawakal, Ikhtiar, Percaya).



Alhamdulillah mungkin memang sudah Allah siapkan skenarionya ya.. bersamaan dengan F5 lanjut sekolah itu, Umi pindah kerjaan baru yang cukup menyita waktu dan pikiran. Nggak lama sih, tiga bulan aja, tapi kayaknya itu jadi pengalaman kerja terberat sepanjang 30 tahun aku kerja... ini nggak lebay ya... asli. Jadi pas pulang ke rumah karena udah capek bisa segera tidur walaupun tanpa di ninabobo.

Dari beberapa peristiwa itu, sekarang aku jadi belajar  menahan diri, untuk tidak menggunakan kata "lebay" secara serius.  Soalnya kondisi orang itu beda beda kan.. kekuatannya juga beda-beda.. jangankan beda orang, beda waktu aja bisa jadi seseorang udah beda kekuatan... Sekian cerita soal mellow-mellow an. 

Jumat, 19 Mei 2023

Nongkrong di Warung Kopi

 Pekan lalu, aku nggak sengaja bisa nongki di warung kopi. Kok bisa ? Ceritanya ... aku dan F3 ada acara yang waktunya bersamaan. Berangkat dari rumah bareng, sama sama rapat tapi di tempat yang berbeda dan urusan yang berbeda. Kalau F3 rapat alias meeting ya mereka bilang, di warung kopi. Kalau umi ya cukup ketemuan dan ngumpul di salah satu rumah, lengkap dengan cemilan-cemilan, udah cukuplah buat teman ketawa ketiwi di sela-sela pembahasan. 

Aku nganterin F3 ke Mokopi yang di jalan IBrahim Adji, tepatnya di pojokan perempatan itu, dekat jalan layang.

Pas aku tanya kira-kira selesai jam berapa, katanya maghrib. Okelah... Umi bisa pergi ke dua lokasi, setelah peremuan bisa silaturahim dulu.

Kurang lebih jam 5 sore ketika aku pertama masuk Mokopi. Suasana masih relatif sepi. Tapi hampir semua meja indoor di lantai bawah udah keisi. Sebenernya ada lantai dua juga, tapi aku lagi malas naik tangga. Jadi aku memilih di area outdoor. Waktu itu habis hujan, jadi suasana syahdu-syahdu gimana gitu... 



Seperti di warung kopi lainnya ya.. alur pertama adalah pesan menu sekaligus bayar di kasir. Karena kupikir cuman sebentar, jadi aku cuman pesan kopi dan dimsum. Setelah bayar kita dikasih semacam alarm gitu.. alarm akan berkedip kedip sebagai penanda kalau makanan kita sudah siap, dan kita dapat mengambilnya, biasanya ya  di dekat kasir situlah. Nunggu kopi jadi sekitar 10 menit, terus tambah 10 menit lagi sampai dimsum siap. Mulailah aku jadi anak nongkrong. wkwkwk


Seperti yang pernah diajarkan sama anak nongkrong, minuman nggak boleh langsung dihabisin, tapi pelan pelan aja minumnya, dikit-dikit. Karena kita kan bakalan lama di situ. Karena nggak ada teman nongkrongnya, aku sih ada yang kukerjain, Milih milih foto untuk tempat yang belum sempat kurevieuw di Google Map, sambil foto-foto di lokasi buat menyiapkan reviewnya.


Mokopi ini tempatnya lumayan luas. Selain indoor di gedung utama, di belakang juga ada. Dan lantai duanya juga bukan hanya yang di belakang ternyata di atas gedung utama juga ada, cuman aku taunya pas mau pulang terus nengok ke atas. Yah telat deh ya..


Waktu terus berjalan, sampai adzan hampir berkumandang, si F3 belum ada tanda-tanda ngajak pulang. Pas adzan akhirnya dia keluar dari ruang rapat, dan ngabarin kalau itu baru break, tapi sesi dia udah selesai. Jadi boleh pulang duluan... whaaat... lama amat yak rapatnya.. Aku godain apa nggak rugi tuh si warung kopi kalian acara dari siang sampai malam hihi

Yaudalah ya.. itu urusan pemilik tempat, mungkin mereka juga udah mempertimbangkan, makanya bikin tempat seluas ini.


Karena aku asyik sendiri dengan kerjaanku, aku enggak sadar ternyata makin malam suasana makin rame. Meja-meja di sekitarku yang tadinya kosong mulai terisi rombongan-rombongan remaja. Sempat kepikiran aku mau nambah menu, eh tapi antrian di kasir udah mengular, dan kebayang dong kalau aku pesan lagi nunggunya berapa lama lagi. 


Akhirnya aku menuju toilet, toiletnya gabung L/P. Agak sempit sih menurutku. Tapi cukuplah. Aku sekalian wudhu untuk sholat maghrib. Lalu kutanyakan ke mas-nya mushola di sebelah mana, kemudian masnya menunjukkan, sembari berkata "tapi ada yang lagi sholat". Oke aku menuju mushola. Sampai lokasi aku baru ngeuh maksud dari mas mas yang tadi menunjukkan, ternyata musholanya memang cuman muat 2-3 orang posisi normal. Kalau dipepetin bisa kali 5 ya.. tapi ya harus laki sama laki, perempuan sama perempuan. Karena ruangannya kan ngepas, dan lokasi kiblat menyerong, jadi nggak bisa full ruangannya.

Tempat wudhu disamping mushola di bawah tangga, gelap. Kebayang kalau ada hewan kecil di tempat lembab seperti itu, nggak akan keliatan.  Untunglah aku udah wudhu di toilet.



Sambil nunggu F3 selesai, bergantian sholat eh.. sampai jam 7 baru beres semuanya.. Walhasil total aku nongkrong di warung kopi ini sekitar 90 menit.