Kamis, 22 Juni 2023

K I S S

Di keseharian kita, entah bersama anak-anak, suami, asisten rumah tangga, maupun rekan kerja,  terkadang ada yang namanya kebuntuan komunikasi. Atau dengan kata lain, komunikasi yang kita lakukan tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Apa yang kita maksudkan, tidak dapat dipahami oleh  pihak yang berkomunikasi dengan kita. Jadi inget salah satu pelajaran di kelas Ibu PRofesional yang telah lalu, ada sesi yang disebut sebagai Komunikasi Produktif atau kami biasa menyebutnya komprod.

Salah satu poin yang aku ingat dalam pembelajaran komunikasi produktif  ini adalah KIIS,

Keep Information Short and Simple.

KISS dalam komunikasi ini perlu dilatih, dan dibiasakan. Utamanya oleh kita sebagai pelaku, kita sebagai seorang ibu yang berkepentingan menjaga ketertiban dunia dan perdamaian abadi di wilayah teritorial kita. Iya kan kan kaaan..

Kita ambil contoh suasana di pagi hari. Di mana anak atau beberapa anak akan berangkat sekolah, kebayang kaan.. suasana rebutan kamar mandi, mogok makan, buku hilang atau seragam belum disetrika, yang mana mungkin itu akan menjadi pemicu ketegangan syaraf. Jangan ditambah dengan posisi televisi menyala ya.. nanti yang terjadi adalah kemageran yang hakiki.  Untung aja anak-anak udah mau libur ya.. pasti mamak-mamak sudah mulai santai. Eh atau mulai tegang ya.. soalnya bakal mikirin kegiatan anak selama liburan.

Maka yang perlu dilakukan oleh seorang ibu adalah mengomunikasikan. Pilih kata-kata sederhana yang sekiranya dapat dipahami oleh anak. Cukup satu kata satu kata. Hingga kata-kata tersebut melekat di benak anak. 

Misalkan anak sudah dibiasakan mandi sendiri, menyiapkan dan ganti baju sendiri, terus buku - buku pelajaran sudah  

ditata dalam tas sekolah.. kadang jeda dari satu kegiatan ke kegiatan kemudian itu bisa bikin emak murka. Rebahan dulu lah.. baca komik dulu lah.. atau kalau anak jaman sekarang  mungkin sudah ada yang sibuk mengecek pesan dan sosial media di gawainya.. begitu banyak tantangan ya bu ibuu..

Daripada emak ngomel atau merepet panjang lebar, coba pilih satu kata yang mewakili keinginan kita ..

contoh  : 

- sat set yuk Nak

- bergegas yuk

- dsb

setelah kita temukan, konsistenlah melatih menggunakan kata-kata tsb untuk menyampaikan kondisi yang kita kehendaki.

Atau misalnya ketika anak-anak bermain tapi meninggalkan mainannya begitu saja di ruang keluarga, atau di kamarnya. Dari pada merepet panjang lebar misalnya "kakak teh, ya.. udah umi bilangin berkali-kali, selalu lupa lagi lupa lagi. Apa umi bilang, kalau habis main itu, kembalikan lagi ke tempatnya. Jangan dibiarkan berantakan gini, nanti kalau terinjak gimana.. kalau mainannya rusak gimana.. nanti kalau ilang, nanyainnya ke umi umi juga.. "

Hadeeuh.. kebayang kan ya.. berapa banyak informasi yang masuk dan mungkin anak justru malah nggak merhatiin karena udah bete dengan marah-marahnya kita. So bisa dicoba untuk menemukan satu kata yang pas / mewakili perasaan kita

- Nak, kita RAPI kan yuk mainannya..

misalnya, Itu hanya contoh saja ya. Tentunya para mamak yang membaca tulisan ini dapat mencari dan memilih kata yang paling cocok buat anak anak kita di rumah

Selamat mencoba,,

Senin, 05 Juni 2023

Dikomplain Tukang Ojek

Long weekend kemarin aku sempat jalan sama temenku cari kado. Kado ini diperuntukkan buat salah seorang sahabat yang dulu bareng-bareng tugas di front office pas ngantor di dekat BEC. Sepulang mencari kado ini, aku dianterin pulang. Kebetulan di mulut gang yang menuju rumahku, ada warung bakso baru, jadi kami mampir makan bakso dulu. Hitung-hitung sebagai pengganti kalori yang kami keluarkan saat berkeliling dari toko ke toko tadi.

Usai makan bakso, aku melihat antrian tukang ojek yang sangat panjang. Iseng aku memberi kode ke antrian terdepan kalau aku mau naik. Sebenernya jarak dari depan ke rumahku ini tidak terlalu jauh. Tapi kupikir ya udahlah sesekali naik ojek. Toh udah lama juga aku nggak naik ojek pangkalan.


Nah pas aku turun terus aku bayar, aku kaget ya.. si Mang ojeknya marah.

"Saya rugi udah ngantri lama tapi ternyata nganternya dekat" katanya.

Whaaat ?

"Bapak rugi apa ?" tanyaku menahan diri.

"Ya rugi, kan antrinya lama, tapi nganternya cuman sebentar"  keukeuhnya

"Bukannya bapak untung ya, bensinnya keluar dikit, terus bisa segera balik dan mengantri lagi. Kan walaupun dekat saya bayarnya sesuai tarif yang jauh" kataku.

"Rugi, Bu.. nanti ngantrinya lama lagi. Kalau dekat mending jalan kaki aja" katanya sambil pergi.

Aku bengong nggak habis pikir, cara berhitungnya bapak itu gimana ya.. Tapi ya sudahlah.. mungkin memang cara berhitung kami berbeda. wkwkwk.

Itu kan aku turun di jalan ya.. karena aku mau belanja dulu. Usai belanja aku penasaran pengen tahu mindset tukang ojek yang lain gimana. Sengaja aku berdiri di pinggir jalan. Menunggu tukang ojek yang lewat. Tak lama kemudian ada tukang ojek yang mangkal di pinggir jalan menawariku. 

"Nggak papa saya naiknya dekat ?" 

"Oh ngga papa Bu.. mangga dijajap (Silakan, diantar) Kunaon kitu Bu "  Mangnya bertanya balik.

"Tadi  saya diomelin sama ojek yang sebelum Bapak, katanya rugi kalau saya naiknya cuman dekat aja. Padahal saya kan bayar sesuai tarif." curcolku.

"Waah.. yang mana orangnya Bu, Ibu nandain orangnya nggak ? atau motornya ?"  Oh iya bener ya, tadi nggak kepikiran nandain motornya..

"Nggak Pak, saya nggak inget yang mana motornya.." 

"Yah Bu.. memang ya begitulah yang di sana mah.. nggak tau kenapa, ribut terus ...


Lalu aku  lanjut wawancara Bapak Ojek.

"Bapak kenapa nggak mangkal di depan ?" tanyaku ingin tahu.

"Males ah Bu di sana, banyak banget orang. Apalagi libur gini, sepi, nggak ada anak sekolah" kata Bapaknya.

"Emang kalau bapak di tempat tadi, ada penumpang ?"

"Ya ada aja Bu...kalau udah rezeki mah, seperti Ibu ini.." (dalam hati aku salut sama Bapak yang sellow gini nih.. prinsipnya hampir mirip sama aku) 

"Iya si ya Pak..." aku menyepakati.

Tak lama kemudian aku sampai di rumah, Bapak ojek kubayar sesuai tarif, bilang makasihnya sampai beberapa kali.  Duh aku jadi dapat insight dari peristiwa tadi. 

Ternyata niat baik tidak selalu ditanggapi dengan baik. Niat aku menjadi 'penumpang' buat mang Ojek, biar bisa ngurangin antrian mereka, eh.. disikapi lain. Ya tarik nafas aja.. memang begitulah dunia nyata kali ya.

Kondisi fisik yang lelah dan jenuh, dapat memicu kemarahan. yang mungkin justru terlepas ke orang yang nggak tahu apa-apa kayak aku. 

Bersyukur.. dan pasrah.. membuat sellow dalam menyikapi dan menjalani tantangan kehidupan.

Sampai rumah aku cerita pengalamanku ke anak gadis. Malah dia kasih tips, "Ummi jangan naik dari pangkalan ojek yang itu, cari aja yang sebelum atau sesudahnya" Okey. akupun penasaran lihat google map. Oh ternyata yang kecewa bukan aku aja  haha



Minggu, 04 Juni 2023

Air oh Air

Hai kawan, yang aku mau ceritakan ini adalah kejadian yang aku alami sendiri tentang pengalamanku berinteraksi dengan air. Khususnya air bersih yang kita butuhkan dan kita pakai sehari-hari.

Masa kanak-kanak di Cilacap, aku dibentuk untuk menyediakan air sendiri. Jadi setiap mau mandi ya harus menimba air dulu. Mengisi bak mandi yang ukurannya memang kecil, kalau dipakai mandi seorang dua orang udah kosong lagi. Jadi semua yang mau mandi di kamar mandi ya harus mengisi dulu. Kalau yang malas mengisi, biasanya memilih mandi di luar, masih pakai celana pendek, langsung guyur air dari timba, sabun sabun ala kadarnya, guyur lagi, selesai deh.. Tapi kan buat anak gadis kadang mandi tuh semacam me time ya... keramas dulu, gosok dulu badan pakai batu, sikat kuku kaki pakai sikat gigi bekas.. belum acara cari kutu hihi.. dulu aku kecil kutuan soalnya... ya begitulah.. Saat itu usiaku sekitar 8-10 tahun. 

Kemudian kami pindah kontrakan dan nggak punya sumur. Kami numpang di sumur tetangga. Tentunya udah izin ya.. dan memang jamak kalau di kampung mah, satu sumur dipakai beberapa keluarga. Di sini Bapak minta tolong tetangga untuk menimba air, mengisi bak mandi sehari dua kali. pagi dan sore. Plus ada 2 drum air sebagai cadangan. Mulailah edisi berhitung air dimulai. Anak 7 eh tinggal  yang tinggal di rumah karena mas mas udah kerja di lain kota. Benar benar setiap tetes itu sangat berarti. Air bekas  wudhu ditampung buat nyiram halaman yang berdebu.  Air cucian beras buat nyiram tanaman. Air di dandang bekas ngukus nasi buat ngerendemin panci aron, dll intinya mah Bapak Ibu ngajarin supaya kita hemat air.  Nyuci pakaian sama mbak ART dilakukan di sumur.

Berlanjut ke masa-masa SMEA, ngekos juga seperti itu. Mandi dan cuci pakaian harus nimba sendiri. Ibu kos punya kran air, tapi itu khusus buat cuci piring dan untuk bak mandi keperluan ibu kos. Bak mani anak anak ya nimba sendiri. Kemudian di masa-masa mahasiswa, soal air ini tinggal puter kran ya.. tapi ternyata kepedulian sesama teman kadang ada yang ngeselin juga. Meski tinggal putar kran, kadang ada yang mandi sampai ngabisin air, terus bak mandinya ditinggalkan kosong. Yang antri berikutnya kan jadi nunggu lagi supaya airnya kembali terisi. 

Terus puncaknya soal air ini adalah saat aku tinggal di Kupang. Di sini aku belajar banyak. Keadaanlah yang memaksaku untuk itu. Tadinya kupikir pengalamanku dengan air di masa kecil udah cukuplah.. menempaku agar cukup bijak menggunakan air. Eh, ternyata belum cukup ya.. dan masih perlu ditambah lagi. 

Aku nyusul suami tinggal di Kupang - NTT setelah menikah dan mengajukan pindah ikut suami. yaitu dari awal tahun 1997 hingga akhir 2001. Kami tinggal di pinggiran kota, yakni di Jalan Pasir Panjang.  Di atas kami ada daerah Perumnas, di atasnya lagi ada daerah kantor Walikota. Entah kenapa ya.. waktu itu di daerah Pasir Panjang kebagian air PAM itu tiga hari sekali. Itupun mengalirnya hanya di waktu malam. Bayangin dulu aja ya.. stok air tiga hari sekali... Padahal di daerah kantorku di Jl Palapa atau kantor Abi di jalan Cak Doko air mengalir normal setiap hari. Bisa dibilang 24 jam malahan.  

Jadi triknya adalah kami memiliki 3 drum besar, setiap air mengalir kami akan mengisi tiga drum itu. Tapi tetep aja pakainya harus hemat-hemat, karena deg deg an juga apakah tiga hari lagi air bakal ngalir. Apalagi kalau tiba musim kemarau.  Ada masanya kami mengisi drum itu dengan cara mengumpulkan segayung demi segayung, kemudian ditampung ke ember, lalu dari ember baru masuk ke drum. Kenapa harus pakai gayung ? Karena airnya nggak bisa naik. Maklum rumah kami di komplek bagian paling belakang. Pasti di depan juga sedang melakukan hal yang sama. Jadi kami menyiasatinya adalah memiringkan tiang kran hingga setinggi gayung tadi.  Jangan tanya bak penampung bawah tanah ya... yang biasa dilakukan di Jawa, soalnya untuk menggali tanah di Kupang itu orang sana bilang "setengah mati'. Karena tanahnya berbatu/batu karang.

Kok bisa kondisi gitu punya anak tiga selama 5 tahun di sana ? Cuci popoknya gimana ?

Ya sama lah.. nyuci popok mah .. tapi tetap hemat air intinya ya.. Untuk baju bayi dan baju balita yang kena ompol dicuci setiap hari, kadang pagi kadang malam pulang kerja. Kemudian baju para dewasa dan baju anak yang kondisi kering, ya nyucinya tiga hari sekali pas air mengalir itulah. Nggak kebayang sih ya.. kalau sekarang melakukan lagi. Nyuci manual malam-malam, terus sambil momong balita karena no ART haha.. ya sekarang cerita udah bisa sambil ketawa. 

Ada masanya ketika musim kemarau, air benar benar nggak ngalir. Solusi ? pergi ke kota. Numpang mandi di kantor, dan numpang nyuci di hari libur. Kalau nggak ke kantor, kadang kita ke sebuah masjid di daerah Oebobo, aku lupa nama masjidnya. Tapi takmirnya baik banget, dan memang masjid itu menjadi tumpangan kita - kita yang sering nggak kebagian air. 

F1 dan F2 nyiram tanaman malam-malam

Itu sekelumit kisah ya.. yang mengajariku bagaimana untuk mensyukuri setiap tetes air yang Allah berikan, baik yang kudapat secara mudah maupun dengan usaha lebih. Sampai saat ini juga jadi terbiasa. Buka kran secukupnya aja, nggak usah besar-besar. Mandi ya diukur-ukur, nggak sekedar gebyar-gebyur. Ambil minum ya dihabiskan, jangan dibuang-buang. Menggosok kamar mandi pakai air bekas nyuci, dsb.. itu udah kayak reflek aja ya.. Meski di Bandung ini bisa dibilang air melimpah. Meskipun air ini termasuk energi yang terbarukan, gampangnya mah ada lagi ada lagi gitu ya.. tapi siapa yang tahu cadangan air tanah ini akan sampai kapan ? Dan seberapa banyak curah hujan 'isi ulang' ? Wallahu a'lam.  Itulah, makanya setidaknya aku tidak memboroskan air.  Sesimpel itu.