Rabu, 26 Juni 2013

Aku dan Ika, Dari Dunia Maya ke Dunia Nyata

Pertama kali aku mendengar nama Ika Rahma aka Iko adalah dari Mak Sondang. Promosinya si Mak Iko ini masih muda belia, masih 17+. *penting. Akupun penasaran. Baca postingan-postingan dapur hangus yang mudah dipraktekkan, dan gaya bahasa yang kocak khas anak muda, membuatku penasaran seperti apa kiranya si Iko itu kok Sondang pun begitu gencarnya mempromosikan.

Akhirnya kami saling inbox di fb. Waktu itu Ika cerita mau ke bengkel depan kantor. Maka jadilah aku kopdar berdua Ika, eh bertiga ding, sama Vio. bahkan tanpa Sondang yang memperkenalkan.

Waktu itu kami makan berdua di sebrang kantorku, dengan kata lain di samping bengkel tempat Ika menservice motornya.
Dasar udah jodoh kali ya, di pertemuan pertama itu langsung nyambung aja. Cerita ngalor ngidul, gak kerasa dua jam berlalu. Bahkan si Vio yang selalu menjadi attachment Ika pun, langsung mau sama aku.

pertemuan pertama
Dan pertemuan pertama berlanjut dengan pertemuan pertemuan berikutnya. Bahkan ketika Ika Rahma menjadi salah satu finalis lomba blog majalah Sekar, dengan suka rela aku menjadi tim suksesnya. *jiah* terus dapat traktiran waktu dia ternyata menang.
Sayang aku belum bersedia menerima tawaran dia menjadi salah satu admin di grup dapur hangus. Hihi .. aku enggak punya jadwal online yang pasti. Maklum, emak emak rempong.
Kemudian sempat jalan berdua nganterin ramekin ke rumah Ayu Diah Respatih, salah satu food blogger yang tinggal di Ujungberung, aku jadi penunjuk jalan :D.

Aku jarang berkunjung ke blog Ika, dan demikian pula (kayaknya) sebaliknya *gak tau ya.. klo Ika diam diam jadi silent reader,   kami langsung berkomunikasi lewat japri. Lewat sms dan bbm-an. Kadang curhat curhatan. Kadang ya cuma ngobrol ngalor ngidul. Menceritakan dagangan, curhat curhatan, atau sekedar saling menggoda dan mengolok, ngomongin jadwal mudik, ngomongin kapan ketemuan lagi untuk ngasih oleh oleh, hehe asyik deh pokoknya. Usia yang terpaut hampir dua kali lipat tidak mempengaruhi cinta kami berdua. *lebay
Pas Ika ulang tahun ke 17+  *angka penting kemaren dia request kue tripple mousse .

kue ultah Ika *bikinnya nggak ngebayangin kerepotan gimana Ika bawa pulangnya

Dan terakhir kemaren ketemuan hari Kamis, pas aku lepas piket. Mau makan siang sore bareng karena kami sama sama belum makan siang.

bbm selisiban, aku udah jalan duluan, si Ika malah nyamperin aku ke kantor :P
Dan belum lama ini dengan terang terangan dia mempublish dooong status hubungan persahabatan kami :


publish status di face book

Naah.. kiranya tidak perlu aku tambahin lagi, sudah cukup kaan.. bukti bukti, berawal dari dunia maya, aku dan Ika bisa menjalin persahabatan di dunia nyata.

Cerita ini diikutsertakan dalam Giveaway Ikakoentjoro’s Blog dan Lieshadie’s Blog -Indahnya Persahabatan Blogger-”

Selasa, 25 Juni 2013

Tilang Pertama dan Lima Puluh Ribuan Terakhirku

Desember 2012

Siang itu aku berniat ke sekolah mbak Fathimah untuk mengambil raport. Aku berangkat dari kantor dengan motor pinjaman.Selembar limapuluh ribuan terakhir kubawa untuk berjaga-jaga.
Untuk menyingkat jarak dan waktu aku mengikuti jalur angkot, melewati jalan  pintas ke arah  Antapani melalui jalan Jakarta yang satu arah.  Sempat curiga juga kok enggak ada motor selain aku? Ketika melihat polisi bergerombol di  perempatan, sempat terpikir mau 'pura-pura' membeli kue di toko kue yang ada di dekat perempatan. Tapi ketika ingat bahwa uangku tinggal selembar, maka niat itu  aku urungkan.

Benar saja, seorang polisi segera berdiri menyambut ketika motorku makin mendekati mereka.Aku berhenti.
"Selamat siang, bu. Boleh lihat SIM nya ?" kata pak polisi sopan
Aku dengan pede mengeluarkan SIM, pak polisi mengamati.
"Maaf Bu, SIM Ibu sudah habis.
"Masa sih, Pak ? Bukannya masih tahun depan Pak?'. tanyaku kaget campur polos.
"Benar Ibu, silakan dilihat, sudah habis sejak 6 bulan yang lalu " kata pak polisi seraya mengembalikan SIM-ku.
"Aduuh maaf pak, saya tidak pernah mengeluarkan SIM dari dompet. Saya ingatnya baru habis tahun depan bersamaan dengan KTP saya. " Kataku sambil menyerahkan KTP ke pak polisi
"Ibu mengajar di mana ?" pak polisi menyelidik
"Saya ibu rumah tangga  sesuai KTP saya. *maaf, KTP-ku memang ibu rumah tangga.  Ini mau ambil rapot anak saya, Pak" belaku sambil ngebayangin bakal 'kena' berapa nih.
"Nah Ibu, Ibu melanggar dua peraturan ya bu.. pertama ibu mengemudi tanpa surat ijin yang sah, kedua ibu memasuki jalur yang dilarang. Boleh pinjam STNK- nya ?" kata-kata pak polisi bagaikan vonis bagiku.
Dueng dueng.. dengan berat hati aku keluarkan STNK motor pinjaman. Aku berdebar menunggu. Apa kelanjutan dari ini semua. Apakah seperti yang diceritakan teman-temanku ?

"Bu, pelanggaran ini mau di selesaikan di persidangan atau di sini ?" pak polisi menawarkan solusi yang aku sudah tahu kemana arahnya.

Aku berhitung cepat. Mengingat kerjaanku sebagai semacam customer service yang agak susah keluar *tepatnya enggak tega sama temen sebelah kalau sering sering ijin keluar * dan aku juga teringat kata bapakku dulu, kalau ditilang maka STNK akan ditahan. Aduh, gimana nih, ini kan motor pinjaman. Nanti aku bilang gimana sama pemilik motor. Setelah mempertimbangkan hal - hal tersebut,  akhirnya akupun memilih menyelesaikan di tempat.
Dengan berat hati kuserahkan  lima puluh ribuan terakhirku untuk menyelesaikan urusan agar aku bisa segera ke sekolah mbak dan segera balik kantor . *padahal kabarnya bisa minta kembalian yah *


*kisah nyata, 395 kata

Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Kinzihana

Senin, 24 Juni 2013

Menyemai Cinta : Pernikahan Tanpa Pacaran


foto nikah, masa'  suami istri foto berdua, yang  satu tangannya di depan, satu lagi tangannya di belakang punggung X_X

Aku menikah dengan Abi tanpa pacaran. Begitulah kenyataanya. Kami diperkenalkan oleh guru mengaji. Aku saat di Jakarta dulu aktif di sebuah yayasan . Suami ustadzah ketua yayasan adalah seorang ustadz terbang yang wilayah dakwahnya sampai ke Kupang-NTT kota penempatan pertama Abi setelah jadi PNS. Abi yang kemudian diklat ke  Jakarta, datang menemui ustadz mohon bantuan dicarikan jodoh. Targetnya selama 3 bulan diklat di Jakarta semua proses dapat dilalui mulai dari taaruf / kenalan sampai menikah.

Menurut cerita  Abi,  ketika itu dia dikasih 2 amplop tertutup yang berisi biodata akhwat. Pas minta dipilihkan, kata ustadz insya Allah dua duanya cocok dengan abi. Akhirnya Abi memilih yang ada di tangan kanan ustadz. Isinya ? Biodataku. :D
Si Abi pun shalat istikharah mau lanjut atau tidak setelah melihat data diriku. Ketika Abi memutuskan mau lanjut ta'aruf baru aku dikasih tahu sama ustadzah bahwa ada ikhwan yang siap ta'aruf. Awalnya aku sampaikan bahwa aku belum siap. Karena aku masih belum bisa masak dan masih males mandi *sampai sekarang.
Tapi ustazah menasehatiku bahwa kesiapan itu sangat relatif. Soal belum bisa masak itu bisa berlatih. Dan soal males mandi insya allah enggak bakalan males mandi lagi setelah nanti punya suami. Dan yang paling jleb adalah ketika ustazah membacakan hadis
“Apabila datang kepadamu seorang laki-laki (untuk meminang) yang engkau ridha terhadap agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul kerusakan yang merata di muka bumi.”
(HR At-Tirmidzi dan Ahmad)

Maka akupun takluk dan menuruti kata ustadzah. Aku menerima biodata Abi.

Awalnya agak minder. Melihat Abi yang 8 bersaudara kuliah semua pastilah dari keluarga berada. Sedangkan aku dari keluarga yang sangat sederhana, dari 7 bersaudara yang sampai bangku kuliah cuma baru dua orang. Kemudian perbedaan latar belakang budaya, Abi Sumatera dan aku dari Jawa, khawatir nanti menjadi kendala. Tapi sekali lagi ustazah menguatkan bahwa Islam akan menyatukan kami berdua insya allah. Akupun takluk sekali lagi untuk lanjut ke taaruf atau berkenalan langsung.

Taaruf saat itu tanggal 28 Oktober . Inget karena aku  pulang upacara Sumpah Pemuda. Saat ta'aruf itulah aku sekali lagi takluk melihat kemantapan dan komitmen abi utk melanjutkan proses. Maka dengan persiapan kilat lamaran pun dilakukan tanggal 10 November. Abi ke Cilacap diantar papa Echi.
Hari itu juga ditentukan tanggal pernikahan insya Allah 18 Desember 1996.
Alhamdulillah semua berjalan lancar. Tanggal 31 Des Abi berangkat ke Kupang. Aku ditinggal di Jakarta sambil mengurus proses pindah kantor. Dan setelah 3 bulan LDR-an,  Maret 1997 aku bisa menyusul abi ke sana.

Lalu mana cerita menyemai cintanya ?
Sabaaar yaaa ...kuceritakan itu semua supaya terbayang situasi dan kondisinya. Bahwa cinta itu ternyata bisa ditanam dan disemaikan  *macam biji ajah
Jadi apa doooong resep atau rahasia menyemai cinta itu ?

1. Ta'aruf lebih dalam melalui komunikasi yang intens. Tak kenal maka tak sayang ta'aruf. Hari-hari, bulan-bulan bahkan tahun pertama di Kupang, aku masih bercucuran air mata. Bisa dibilang ini adalah masa perkenalan yang sebenarnya. Karena 12 hari pertama setelah menikah dan sebelum Abi kembali ke Kupang itu cuma hari bersenang senang. Yang kami lakukan dalam proses perkenalan ini adalah saling membuka diri.. mengungkapkan apa yang disukai dan tidak disukai. Mengungkapkan keinginan dan mimpi- mimpi tentang sebuah kekuarga juga tentu saja bercerita tentang masa kecil . Saling mempelajari masa lalu akan memudahkan kita memahami kebiasaan pasangan di saat ini. Memang selama 3 bulanLDR an banyak diungkap lewat surat dan telepon. Tapi komunikasinya belum seintens setelah bertemu dan berkumpul langsung.

2. Saling memberi hadiah.
Tahaddu tahabbu. Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai. Itu adalah pesan Rasul saw. Dari hadiah kecil sampai hadiah besar. Dari hadiah bernilai sampai hadiah yang tak ternilai harganya semacam perhatian. atau ciuman selamat pagi /malam di kening pasangan.

3. Melakukan aneka aktivitas bersama. Waiting traisen because kulinten ..Pepatah Jawa witing tresna jalaran saka kulina (awal cinta karena berawal dari kebiaaan) itu ternyata benar adanya. Aku yang masih cuti sebulan banyak belajar mengerjakan pekerjaan rumah. Belanja ke pasar berdua. Makan berdua. Tidur berdua. yaeyalah... Kalau aku mencuci Abi membantu menjemurnya. Kebetulan di komplek kami air PAM mengalir 3 hari sekali, itupun keciiiil sekali sehingga enggak naik ke bak mandi. Maka kamipun kerja sama nampungin air. Kadang di pagi yang cerah atau di senja yang indah (cieeee puitis kali) kami ke pantai yang cuma tinggal nyebrang jalan depan komplek. Duduk duduk sambil ngobrol, jalan jalan di pasir sambil sambil pegangan tangan layaknya orang pacaran . Yaeyalah emang lagi pacaran. Pacaran ba'da nikah kata Ustadz Salim A Fillah, atau ATM  kata Ippho . Amati-taaruf-menikah. Kalau lagi males keluar rumah karena cuaca di Kupang memang sangat panas, kami duduk-duduk saja di rumah sambil baca buku dan saling merayu. Kamipun sering shalat berjamaah dan saling mrnyimak bacaan Al Qur'an
Dari aktivitas bersama inilah tumbuh kebiasaan tumbuh kesepahaman, akhirnya saling membantu dan saling menopang.

4. Saling mendoakan. Doa adalah kekuatan yang tak terkira. Doa pun dapat merubah takdir. Maka kamipun saling mendoakan. Mendoakan segala kebaikan untuk orang yang kita cintai. Karena kami menikah dalam rangka mencintai Allah dan untuk menyempurnakan ibadah pada-Nya, kamipun  selalu membaca doanya orang orang yang bersatu di jalan Allah. Sambil berdoa sambil membayangkan wajah orang yang didoakan. Antara lain adalah dengan membaca doa rabithah. Rabithah artinya ikatan. Agar selamanya, ikatan cinta pada ALlah dan ikatan Islam-lah yang menyatukan kami berdua.
Doa dicopy dari sini

artinya :
"Yaa Allah, sesungguhnya Engkau maha mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul dalam cinta kepada-Mu, bertemu dalam keta'atan pada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru (di jalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syari'at-Mu, maka kuatkanlah ikatannya...Yaa allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, dan penuhilah dengan nur cahaya-Mu yang tidak akan pernah padam. Lapangkanlah dadanya dengan keutamaan iman padaMu dan keindahan tawakkal pada-Mu, hidupkanlah dengan ma'rifat-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan pembela. Amin. Dan Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada Muhammad SAW, kepada keluarganya, dan kepada sahabat-sahabatnya... Allahumma Amiin."

5. Komitmen. Kemauan yang bukan sekedarnya, tapi kemauan yang kuat untuk menumbuhkan cinta. Tidak ada kata tidak bisa. Karena bagi Allah semua mudah adanya. Dia maha membolak balik hati. Benci jadi cinta, cinta jadi benci. Mungkin setelah sekian tahun bersama nanti ada rasa jenuh, kecewa, atau perasaan negatif lainnya. Maka komitmen inilah yang akan membingkai langkah pertama dst di atas yang itu teruuus berlangsung sepanjang hayat. Taaruf jalan terus. Kita berubah.pasangan berubah. kondisi berubah. Ada anak ada perbedaan sikap. Nambah harta atau kurang harta, semua bisa merubah seseorang. Maka kita harus teruus belajar mengenali pasangan.Saling memberi hadiah atau memberikan ucapan selamat atas keberhasilannya (tahniah), menjaga waktu-waktu istimewa berdua, dan saling mendoakan harus terus dilakukan sampai akhir hayat nanti.

Nah, teman teman, itulah yang kulakukan untuk menyemai cinta dalam pengalamanku selama hampir 17 tahun meniti bahtera rumah tangga, menikah dengan orang yang baru dikenal dan alhamdulillah sampai hari ini Allah masih menjaga ikatan kami berdua dan mengaruniai kami dengan 5 anak yang semoga menjadi anak sholeh dan shalihah. Dan berharap, semoga kebersamaan kami ini, kekal dunia dan akhirat. Amiiin.