Jumat, 30 Juni 2023

Pemurah



Ada satu pengalaman yang membuatku sangat terkesan.  Sebelum aku cerita lebih jauh, silakan cari posisi nyaman dulu ya.. buat ndengerin eh buat baca ceritaku nanti.  Jadi  begini... 

Di depan rumahku kan ada pasar kaget setiap pagi. Nggak pasar pasar amat sih.. soalnya cuman ada satu tukang ayam, satu tukang buah dan satu tukang sayur. 

Nah si tukang buah ini kita biasa panggil dengan sebutan Abah. Abah nih jualan utamanya adalah pisang. Pisangnya fresh banget dari petani. Selalu sih pisang ambon, kadang yang kuning kadang yang ambon lumut. Aku sering beli untuk di bawa ke kantor. Eh, ini bukan karena aku baik seperti Rehan ya.. tetapi karena aku pemegang uang kas ruangan, dan aku bertanggung jawab untuk beli camilan setiap harinya.  Nah seminggu sekali bisa dipastikan aku beli pisang.

Menurutku pisang jualan Abah harganya wajar terkendali. Sekilonya dihitung Rp. 10,000. Jadi kadang aku beli yang satu sisir seberat 2.5kg, kadang ada yang sampai 3.5 kg

Saking udah hafal di depan rumahku ada tukang pisang, seksi konsumsi panitia peringatan Idul Adha di kantor minta tolong aku beliin pisang. Oke, aku sanggupin ya.. timbang beli pisang ini.

Akupun pesan ke Abah, bahwa aku mau beli pisang hari Kamis sore karena Jumat mau dibawa ke kantor.  Kamis sore Abah datang bawa pisang. Pas dia antar, katanya semua ada 10kg. Terus harganya dia diskon dong, jadi 7rb/kg. Abah bilang total 70rb aja. Habis itu dia nyimpen lagi dua sisir kecil "ini untuk Neng nggak usah dibayar"  katanya.

Kaget dong aku.. dari harga aja udah didiskon, yang asalnya 10rb/kg  jadi 7rb/kg. Masih dikasih imbuhan / tambahan lagi dua sisir. Masya allah... otak dagangku langsung bergerak. Ya kalau Abah misalnya belanjanya hanya 5rb/kg, maka dengan menjual 10 kg Abah laba 20rb. Eh laba itu dikurangi 2 sisir yang dia tambahkan. Lalu laba bersih Abah berapa ? haha... ini masuk  literasi numerasi  nggak sih ?

Ya begitulah kalau hitung-hitungan sama manusia, matematikanya juga matematika manusia.  Tapi yang kulihat, para pedagang kecil ini, matematikanya  udah matematika langit. 

Seperti Abah yang jual pisang tadi. Tukang gorengan dekat rumah juga sama. Kalau beli minimal 10rb, pasti dapat tambahan minimal satu. Kalau beli 20rb, tambahannya bisa dua atau tiga buah gorengan. Masya allah..

Ini belum sama si tukang sayur ya.. kalau misalnya kita ambil bumbu-bumbu sekadarnya saja, misal daun salam dua lembar, sereh dua buah, pasti sama dia nggak akan dihitung harganya. "udah ngasih aja ini mah"

Aku jadi inget apa yang pernah diucapkan oleh seorang Ustazah dalam sebuah kajian. Memberi itu bukan perkara memiliki atau berlebih. Terkadang ada orang yang berlebih malah enggan memberi. Memberi itu perkara kebiasaan. Orang yang biasa memberi / berbagi, akan mudah berbagi. Kalau bahasa Jawa ada istilah "nyah nyoh" yang artinya kurang lebih mudah memberi. Dikit dikit, ngasih. Dikit dikit ngasih. 

Kalau diuangkan memang dua lembar daun salam dan dua batang sereh mungkin tidak material dalam hitungan akuntansi ya, tapi coba hitung kalau ada 5 orang aja pembeli macam aku yang kalau beli itu ya sebutuhnya aja, males nyetok, maka yang tadinya nggak ada harga itu, bakal bunyi juga. Minimal 5 rb lah. Hitung lagi 5 rb itu = laba menjual sekian ikat bayam. Lah ini matematika manusia lagi hahaha

Ya deh ya deh.. mungkin memang orang-orang pemurah itu level berbaginya udah level atas ya.. udah nggak itungan lagi. Karena mereka merasakan kebahagiaan justru saat berbagi, saat dapat membahagiakan orang lain. Dan mereka juga sudah merasakan sendiri bukti janji Pemilik Alam ini, kalau berbagi maka akan dibalas berlipat ganda. 

Semoga Allah karuniakan sifat pemurah bagi kita semua. 

Kamis, 29 Juni 2023

Waktu Terbaik untuk Menulis


Menulis.
Gampang diucapkan, perlu latihan untuk melakukan. Setuju ?

Ya, menurutku, menulis ini soal kebiasaan. Hanya perlu latihan. Karena aku yakin pada dasarnya setiap orang bisa kok menulis. Terbukti kan kalau kita ngobrol sama temen melalui aplikasi chating, maka obrolan tersebut dapat dilakukan panjang lebar. Nah sebenarnya topik yang dibicarakan itu kan dapat disajikan dalam bentuk tulisan. Di sinilah kebiasaan itu akan memengaruhi warna tulisan seseorang.

Jaman  sekitar tahun 80'an, sebelum dunia digital menyerbu, menulis diari banyak dilakukan untuk menyalurkan buah pikiran. Entah sedih, entah lucu, entah marah,  semua dituangkan ke dalam diari. Apalagi ketika jatuh cinta, diari menjelma bak rubrik puisi. Sementara itu, di toko buku dan alat tulis pun, dijual bermacam-macam diari. Dari yang murah hingga yang sedikit mahal. Dari yang polos hingga yang bergambar. Dari yang tanpa aroma hingga yang kertasnya wangi. Suatu kebahagiaan tersendiri saat dapat memiliki diari yang ada kunci. Ada yang samaan ? Fiks kita udah tua haha

Kemudian setelah menginjak remaja, diari digantikan oleh buku agenda. Memuat jadwal kegiatan kita sekaligus ada ruang untuk mencurahkan perasaan. Aku biasa mengisinya saat sendirian. Entah di rumah, entah di perpustakaan. Rasanya plong sekali kalau sudah menulis di buku tersebut. Aku masih menulis di buku hingga anak ketiga lahir. Yang tadinya lebih banyak menulis curhat galau ala remaja, agenda berubah isi menjadi catatan tumbuh kembang anak. Kapan anak sakit, ke dokter mana, dikasih obat apa, kapan anak belajar bicara bahkan sampai mencatat kosa kata yang diketahui mereka. Se-gabut rajin itu . 

Lalu datanglah masanya emak ini mengenal internet. Ucapkan selamat tinggal pada kertas, pena dan dunia corat coret.  
Pertama tahu dunia tulis menulis dapat dilakukan secara daring, ketika jamannya Multiply. Apa yang sebelumnya tertulis rahasia di diari, kemudian diolah menjadi cerita yang boleh dibaca dan dikomentari teman-teman. Maka, era sahabat pena pun beralih ke sahabat maya. Jalinan pertemanan terasa erat meskipun tanpa kopi darat. Bahkan kalau yang sering berkunjung blog / blog walking, akan saling hafal nama anak-anak sekaligus kisah tumbuh kembangnya. 
Karena waktu itu anak-anak masih kecil, biasanya aku menulis di malam hari ketika anak-anak sudah tidur dan blogwalking di siang hari saat istirahat kantor, sambil makan, sambil memerah ASI . Hingga tiba saat kiamat untuk multiply, menulis pun pindahan ke blogspot. Masih bertahan hingga sekarang.

Dari kebiasaan menulis diari sejak anak-anak hingga kini menulis di media sosial/blog, maka kalau ngobrolin kapan best time untuk menulis, aku bisa rangkum sebagai berikut :

1. Menulis saat kepala terasa penuh. 
Menulis itu seperti mengurai kegelisahan. Ketika kepala penuh oleh berbagai macam hal, mungkin kalau anak sekarang bilang 'over thingking' maka menuliskan apa yang ada di kepala kita itu menurutku akan menjadi saat terbaik untuk menulis. Rasanya akan sangat-sangat ringan setelah berhasil menuliskan. Aku menggambarkan  ini tuh seperti adegan Dumbledor mengambil  'isi kepala'nya menggunakan tongkat dan menyimpannya didalam kuali eh kuali apa guci ya.. ada yang inget adegan ini di Harry Potter seri berapa ? haha.. ya itu .. saat kepala penuh. Keluarkan dalam bentuk tulisan.

2. Menulis saat ada 'dead line'
Deadline apapun itu. Entah tugas menulis di kampus, tugas laporan di kantor, tulisan untuk lomba, termasuk juga tulisan tema yang diminta komunitas. Jadi komunitas itu memang support banget ya untuk kebiasaan menulis (ku).  Entah kenapa, kalau sudah mendekati deadline biasanya ide-ide mengalir deras. Sampai-sampai muncul istilah "the power of kepepet" dari kondisi seperti ini.

3. Menulis saat setelah mendapatkan pengalaman/pengetahuan baru.
Misalnya kita usai mengikuti suatu majelis ilmu, usai baca buku, menamatkan film ataupun berkunjung ke suatu tempat, maka menuliskan kembali apa yang kita dengar dan kita lihat sebelumnya, akan menjadi sebuah sajian yang bukan saja memperpanjang ingatan, tetapi bisa jadi akan menjadi kenangan atau bahkan data di masa depan. 
Yang aku alami pernah ya, di salah satu isian data pribadi anak, ditanya anak pernah sakit apa saja,dan kapan. pernah dirawat di RS apa enggak, nah ternyata jawabannya aku temukan di blog. Padahal waktu menuliskan itu, ya nggak sengaja buat dipakai nanti, tapi ternyata bermanfaat di kemudian hari.

4. Menulis saat mendapatkan hikmah dari suatu kejadian
Nah kalau ini sih semacam refleksi gitu ya.. ada kejadian apa, terus kita mendapatkan apa dari kejadian tersebut. Misal pernah berbuat kesalahan, pelajaran apa yang didapatkan dari kesalahan itu, dan next kita akan melakukan apa supaya tidak terulang lagi kesalahan tersebut. Hal ini kurasakan sebagai release emosi juga sih.. Menerima kenyataan bahwa kita tidak sempurna. Bahwa terkadang kita tidak baik-baik saja. Tapi memang gitu kan kodrat perjalanan manusia. Selalu akan ada ujian. 
Eh tapi ini gak melulu nulis kejadian yang sedih sedih ya..Momen keseruan bersama anak-anak atau tingkah lucu mereka, akan jadi kenangan indah saat mereka dewasa. Atau bisa juga kejadian yang menggembirakan. Pencapaian-pencapaian yang didapat dan apa yang telah dilakukan untuk itu. Siapa tahu ini akan menjadi ilmu tacit yang bermanfaat untuk orang lain. Ya kan ?

Kayaknya sih segitu dulu ya best time untuk menulis versi aku. Silakan teman-teman dapat menambahkan .. tentu aku akan senang hati menerimanya..


 

Selasa, 27 Juni 2023

Motivasi dan Konsistensi

 Sering ya... dalam hati sudah ada krenteg atau niat, tetapi kemudian suara hati yang lain bilang "nanti aja sih" atau malah bilang "jangan, buat apa".  Boleh boleh aja sih mau nurutin bisikan untuk menunda, ataupun untuk tidak melakukan, tetapi.. dalam hal apa dulu... Kalau itu dalam hal melakukan kebaikan.. sebaiknya ya sat set, bergegas melakukan supaya tidak timbul penyesalan di kemudian harii.


Padahal, kalau dilihat-lihat, saat ini teknologi sudah sangat memudahkan aktivitas kita. Hampir semua dapat dikerjakan hanya dengan menekan tombol atau mengeluarkan suara perintah untuk  teknologi tertentu. Saking mudahnya sehingga aktivitas tubuh kita semakin menurun. Saking udah gampang semuanya . Teknologi bukan sekedar memudahkan, ternyata bahkan sampai tahap memanjakan kita, jadi kitanya nggak perlu capek-capek. Memang ya...ini kalau lagi diperhatiin malah seperti ujian juga buat kita bagaimana memanfaatkan waktu yang ada.


Nah kalau bicara soal waktu, tentunya waktu luang ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mengerjakan hal-hal yang positif,  Hal yang kita sukai, hal yang bermanfaat buat diri sendiri sebagai bentuk self love kita. Apapun kegiatan positif itu, bisa lebih intensif dilakukan ketika kita membuat jadwal ini adalah semacam  komitmen di awal, bahwa kita akan melakukan itu sekarang dan seterusnya.. Kemudian konsistensi, konsistensi ini adalah hal yang dilakukan terus menerus, nggak usah ngoyo yang penting rutin. Selalu dikerjakan..


Berbincang  masalah konsistensi ini, kita akan merasa tidak mudah ketika misal berhadapan dengan anak-anak kita yang imut dan yang lucu.  Misal ketika anak bungsu kita minta disuapin. Di mana kita sudah pernah sounding sama dia bahwa dia tidak akan disuapin lagi.

Maka kita sebaiknya tetep konsisten dengan prinsip kita, bahwa tidak ada lagi acara nyuapin. Sebenernya anaknya sih fine fine aja, cuma cek cek ombak aja. Nah emaknya yang kadang enggak tegaan, enggak konsisten. Ini bener-bener tantangan kaaan..


Ketika kita konsisten melakukan suatu kebaikan, maka itu akan menjadi inspirasi kebaikan juga bagi orang lain. Terutama bagi anggota keluarga kita. Nah setelah kita kembali kepada Allah nanti, kita berharap kita inilah yang akan menjadi inspirator-inspiraor kebaikan buat anggota keluarga kita. Dan kebaikan ini akan kita estafetkan kepada beliau. 


Salah satu kebaikan yang kadang diabaikan misalnya olah raga. Olah raga ini kadang berupa mode aja untuk beberapa orang. Tetapi buat mereka yang sudah merasakan olah raga suatu kebutuhan, sudah merasakan manfaatnya, maka mereka akan meluangkan waktu untuk malakukan olah raga ini. Mereka bukan saja membuat jadwal, tetapi mengusahakan untuk melakukan jadwal tersebut secara rutin. Rutin inilah yang disebut konsisten. Big why nya tentu perlu kita ketahui. Ketika kita mempunyai suatu goal tertentu, pasti kita akan bersemangat melakukan secara rutin.