Senin, 20 Mei 2013
Nyunda Pisan
Misalnya aja , waktu itu si Abi pernah nyandain Faiz gini..
(Abi memegang perutnya, tampang kesakitan) Aduh aduh.. Abi sakit perut nih Iz, tolong cium dulu biar sembuh sakit perutnya...
Terus si Faiz berjalan mencium Abi, dan akhirnya mereka berdua ketawa. Aku sebenarnya tau adegan itu meski aku mondar mandir dapur - ruang makan.
Eh, pas aku di kamar, gantian doong Faiz yang nggodain aku
"Ummi ummi aku nyeri beuteung nih... tolong cium dulu biar sembuh" haha.. intinya sama, fotocopy kelakuan bapaknya, cuma kali ini versi bahasa Sundanya.
Dulu pertama dia diajak makan di luar setelah dia bisa bicara, pas milih milih menu gitu... eh milihnya nasi timbel. Kakak-kakaknya pada ngetawain. Habisan kan makan di luar itu ajang untuk nyicip menu baru, lah ini si Faiz malah memelihara tradisi leluhur.. hehe..
Trus kalau lagi maen maen gitu... dia lewat lewat, maka mengucap punteun lebih fasih daripada mengucap permisi dalam bahasa Indonesia. Nah kalau lagi bicara sama kakak-kakaknya dia juga jadi semacam 'satpam' agar kakaknya tidak bicara yang kurang sopan. Misal pas dia ngajak main apa gitu, kakaknya enggak mau dan menjawab "embung" (bahasa Sunda = enggak mau, tapi bahasa gaul sebaya gitu..) maka si Faiz bakal bilang "Ih, enggak boleh embang embung, nggak sopan tauuu..." kakaknya pasti ketawa dan malah sengaja.
Kalau F1 dan F2 kan memang teman-temannya banyak yang memakai bahasa Sunda sehari hari. Aku sih maklum kalau mereka enggak pakai bahasa halus/Sunda lemes, da enggak ada anak segitu yang nyarios Sunda lemes maaah... Kalau dengar F2 dan F3 ngobrol pake maneh-maneh (=kamu) Faiz juga bakal bilang "Ulah monah maneh, teu sopan".. hehe..
Aku sendiri enggak papa sih.. dia mau jadi orang Sunda atau mana, kayak aku sendiri udah hilang identitas assli karena pindah-pindah terus. Sebenernya sejak si F3 lahir kan Abi udah mengaku jadi orang Bandung. F1 dipanggil mbak karena menghormat Eyang kakung dari Jawa dan Bapak/Ibu dari Jateng. Trus F2 lahir di Lampung maka dipanggil kyai (panggilan bahasa Lampung). Trus F3 dipanggil ayuk karena ibu mertua dari Palembang. Nah si F4 dipanggil teteh karena lahir di Bandung. Sekarang F5 ini aja yang belum punya panggilan khas, karena dia sendiri gonta ganti mau dipanggil apa, kadang Aa, akang, abang, dede, atau justru Mas Bejo... (yang ini mah enggak nyunda yah..)
Kamis, 09 Mei 2013
I'm not an achiever
Pas awal awal Sondang masuk SBM dia cerita di acara semacam pengenalan kampus gitu kalii yaa, ada sesi di mana dia dan teman teman seangkatannya 'dilepas' begitu saja di alun alun Sukabumi tanpa dikasih uang saku dan diminta mencari cara gimana caranya untuk bisa pulang ke Bandung. Terus Sondang ceritalah apa yang dilakukan anak anak SBM itu, ada yang ngajar, ada yang bikinin program di sebuah BPR, ada yang nawarin jasa mbersihin got, dsb. Aku malah lupa apa yang dilakuin Sondang saat itu, yang kuingat cuma episode dia sakit di alun alun itu. #peace ya Ndang.....
Sebagai orang jadul yang sangat awam maka akupun bertanya sama Sondang, apa maksud dan tujuan sesi itu. "Achievement More" kata Sondang.
Cerita tadi begitu membekas dalam benakku, pantesan orang orang sukses itu makin sukses karena jiwa achievement more-nya itu diasah terus menerus. Dari the gank makan siang aja aku dah belajar banyak hal. Gak usah lah sampai ke tahap ngelmu akademik yang pastinya aku gak akan sampai, dari sehari hari aja urusan masak memasak aku dah ketinggalan jauh. Tri kalau nyobain resep itu begitu telaten sampai menghasilkan masakan yang 'sempurna'. Enggak heran kalau kukis dan kue kue buatan dia udah mulai banyak yang pesen :) *aku pesan gratisan aja yaaa....
Sondang juga demikian, aku masih inget pas dia belajar bikin perkedel dulu masih nanya itu mbuletinnya pake tangan apa pake sendok, kujawab suka suka kita lah mau pake tangan atau pakai dua sendok sampai akhirnya si Iko meracuni bahwa untuk mencetak perkedel yang necis itu cukup menggunakan skop es krim :p
Berharap barang sedikit dari semangat achiever mereka itu menular kepadaku. Kayaknya musti memperbanyak pergaulan sama mereka nih, semoga ntar klo Sondang lulus SBM *selesaiin tesismu Mak eh dapat ART dulu* trus jadi kasi humas aku ditarik jadi anak buahnya, kan bisa coaching, biar bisa belajar banyak dan lebih sering ditraktir :p
Kembali pada diriku sendiri kenapa sampai berkesimpulan seperti itu, kalau kuingat-ingat jaman SD aku leading di pelajaran, juara kelas, maklum tinggal di kampung. Sekampung apakah ? Jangan bayangkan laskar pelangi ya.. Gambaran aja, enggak sampai 2/3 teman SD ku melanjutkan SMP dan lebih sedikit lagi yang kemudian sampai SMA. Bahkan rival terberatku di SD, malah gak ke SMP karena langsung ijabsah gak lama setelah menerima ijasah.
Kemudian aku lanjut SMP ke kecamatan sebelah, ketemulah aku dengan anak-anak pinter dari SD di beberapa kecamatan. Saat aku menyadari bahwa aku 'tidak mungkin' dapat menyalip kepandaian mereka maka akupun menyerah berjalan dalam speed aku saat itu. Aku sampai lupa aku juara berapa saat SMP yang jelas targetnya hanya cukup 10 besar di kelas ( di kelas yaaaa bukan di angkatan ).
Pas aku SMEA kembali aku menemukan lawan yang 'seimbang'. Aku milih SMEA saat itu karena memang aku ingin langsung bekerja setelah lulus. Apa saja lah semacam pekerjaan klerikal gitu. Selain itu, sebagai anak PNS yang tujuh bersaudara aku sadar bahwa bapak dan ibu pasti akan lebih sulit mengatur keuangan kalau aku kuliah. Kemudian setelah bekerja aku akan segera menikah dan punya anak. (Lihat, cita cita saja aku tak punya ).
Maka di SMEA ini kami bersaing di dalam radiusku . Maksudnya aku enggak perlu belajar jauh lebih keras. Hasilnya waktu itu aku meraih NEM tertinggi, dan sainganku itu kedua. Sebaliknya dia meraih nilai ijasah tertinggi dan aku kedua. Atau sebaliknya, sudah lupa. Maklum itu sudah 22 tahun lalu *masya Allah.... sudah setua itukah aku saat ini?
Trus kenapa nyasar sampe STAN ?
Itupun kudapat tanpa perjuangan yang berarti karena memang sudah rejeki. Trus mungkin karena aku ujian juga tanpa target, jadi ngerjainnya soal ujiannya yaah....biasa aja...... no stress. Lagipula saat itu masuk stan tidak sekeren sekarang, persaingannya ketat sekali.
Awalnya di STAN lumayan pede berdampingan sama anak SMA ngerjain akuntansi. Tapi setelah ketemu dengan intermediate, advance, akpem, maka akupun menyerah. Ibaratnya IP aku di stan itu 3,2,1 dari tingkat satu sampai tiga. Lulus ? Ya enggaklaaaahhh.....
So bagaimana aku menjalani hidup tanpa target gitu ? Alhamdulillah Allah kasih kreatifitas padaku. Aku selalu percaya ada cara lain. Selalu percaya ada alternatif. Maka buatku tak masalah itu atau ini tidak tercapai, karena aku akan segera menemukan penghiburan lain atau pencapaian di bidang lain. Tapi itu some time enggak baik juga. Klo misalnya sekedar gak laku dagangan ini insya allah bakal laku dagangan itu mah masih enggak masalah, tapi kalau mau ikut ustadz Yusuf Mansur one day one ayat kemudian aku punya alternatif one week one ayat kan jadi berabee x_x
Nah yang bikin aku kepikiran adalah pas kemaren sebelum UN si F3 bilang gini 'ummi klo aku gak masuk smp 17 (klaster 2) gimana?' Reflek doooong aku menjawab 'nggak papa.... masih ada smp 50 (klaster 3)'.
"Aiih si ummi mah .... bukannya, menyemangati malah bilang gituuu" F3 sewot.
"Yaa abis bagaimana lagi ? Masuk kemana kemana itu kan tergantung NEM kamu. Ummi kan hanya menawarkan alternatif solusi :p" * asli jawaban ngeles.
Nah itu, I'm not an achiever mungkin gak terlalu jadi masalah buatku. Tapi kalau aku kemudian enggak bisa menyuntikkan pada anak-anakku semangat untuk berprestasi lebih tinggi , untuk meraih cita cita yang diimpikan, itu baru masalah yaaaa....
Ah kudu belajar achieve more nih.
Helpppp...............,.
Rabu, 08 Mei 2013
Hadiah buat Abi
Dulu pas anak-anak kecil, sempat bilang kalau kue ulang tahun hanya sampai usia 12. Setelah itu enggak ada lagi kue ultah. Seiring waktu berjalan dan enggak kerasa pas Mbak Fathim ultah ke 15 tahun lalu, dan pengen bawa kue buat ke sekolah, malah Abi yang 'ribeut' nyariin tempat buat bawa.
Kemudian pas Fikri ultah ke 14 Februari kemaren, Abi juga diem-diem aja waktu aku bikin kuee...
Eh tahun lalu, pas bu Endang -temen kantor- ngucapin selamat ulang tahun, malah dianya ngambek gitu. Btw jangan heran ya... kok bu Endang sampai tahu hari ulang tahun suamiku, bukan apa apa, karena tanggal lahirnya sama di 24 April :). Bagaimana bisa tahu ? karena dulu barengan di kepegawaian, pasti lah sedikit banyak bakalan ngebukain berkas - berkas pegawai. Meskipun jaman tahun 2002-2006 belum jaman kepo, tapi kan perilaku kepo itu sudah ada sejak jaman dahulu kala kaliii...
Ya begitulah ...
Berhubung kesibukan bulan Maret dan April yang subhanallah, allahu akbar banget nget sampai sampai postingan blog-ku aja bisa dihitung dengan jari, maka ada
Teringat lagi pas baca postingan galau Baginda Ratu dan postingan Sondang yang bikin meleleh.
Awal April, Fikri dah bisik bisik mau ngambil uang tabungan.
Aku bertanya "buat apa?".
"Mau beliin kado buat Abi"
"Halaah.. ultahnya kan masih lama", kataku.
"Ntar klo dikasih pas ultah, Abi
"Yaa terserah kamu laah, kan duit kamu" aku menyerah
"Lagian aku punya firasat, Mi"... suara Fikri menggantung
"Firasat apaan ? "
"Kayaknya ajalku sudah semakin dekat"
"Ya iyalah, setiap kamu bangun pagi itu berarti jatah umurmu udah berkurang sehari alias sudah semakin dekat dengan ajal" aku komen berusaha biasa aja.
(jangan heran kalau Fikri ngomong gitu dan akupun menjawab demikian. Bahkan kami telah mengobrolkan tentang kematian mendadak dan nanti mau dikubur di mana , dan mau berbuat baik ketika ingat siapa tahu ini hari terakhir saudaranya )
Fikri diam sejenak kemudian menyambung :
"Beliin apa ya Mi, biar dipake sama Abi"
"Beli aja kaos dalam celana dalam, pasti dipake" *jawaban ngasal tapi benar
FYI, air di tempat aku tinggal berwarna coklat, jadi yang namanya kaos dalam, celana dalam itu cepat sekali berubah jadi kucel dan penuh bercak kecoklatan
"Ah, si Ummi mah" protes Fikri
Akhirnya tanpa campur tanganku, F2 memutuskan untuk membeli jam tangan. Trus nanya kira kira Abi mau make enggak ya... Aku bilang aja, dulu pas awal-awal nikah mah Abi pernah pake jam tangan dari Eyang. Aku hanya menunjukkan untuk membeli di toko dekat sekolahnya yang kebetulan samping-sampingan sama pasar Ujungberung.
![]() |
| jam tangan pilihan Fikri |
Jadi, apakah jam tangan itu dipakai atau tidak ? Pas awal awal sih kelihatan dipakai waktu Abi mau ke kantor. Sekarang ? Ihh... mana sempaatlaah aku perhatiaan :DDD
Aku aja pake kerudung tanpa ngaca, sampai kantor baru dirapiin :p
